"Bukankah dia cacat?" Edgar bertanya sinis. Pandangannya tertuju pada gambar Alan yang menunjukkan goresan luka. "Kenapa jika cacat? Apakah itu menjadi suatu faktor bagi seseorang untuk tak layak dicintai?" Lynelle menatap Edgar dengan berani. Meskipun Alan hanya tunangan 'fiktif' belaka, ada rasa solidaritas yang Lynelle miliki untuknya. Memang Alan tidak sempurna, dia memiliki bekas luka yang akan dibawa ke mana pun. Bukan karena Alan tak ingin berobat, medis sudah menyerah mengobati lukanya. Alan dulu pernah disiksa secara mengenaskan dengan disayat dan diberi semacam zat keras. Luka memanjang bekas goresan yang ia derita saat ini hanya sepersepuluh dari luka sesungguhnya. Alan pernah membuat pengakuan, lukanya dulu lebih mengerikan berkali-kali lipat. Tuhan sudah berbaik hati den

