Part 02

1454 Kata
Part 02 Rina menghembuskan nafasnya saking gugupnya ia saat ini, sedangkan posisinya sekarang sudah berada di kursi klinik setelah sempat turun dari ranjang milik dokter kehamilan. Rina sendiri baru saja diperiksa perutnya, untuk mengetahui apa ia benar-benar sedang hamil sekarang. "Bagaimana, Dok? Apa saya benar-benar sedang hamil sekarang?" tanya Rina setelah dokter yang memeriksanya duduk di kursinya. "Iya, Bu. Anda memang sedang hamil sekarang, selamat ya," jawab dokter perempuan tersebut, yang seketika disenyumi oleh Rina dengan perasaan bahagia. "Iya, Dok. Terima kasih." "Ini saya kasih obat untuk satu bulan ke depan dan sebaiknya Anda minum secara rutin ya? Jangan terlalu setres, kelelahan, dan juga jangan lupa setiap bulannya Anda harus periksa kandungan, supaya kita tahu perkembangannya." "Iya, Dok. Sekali lagi terima kasih. Kalau begitu saya permisi dulu." Rina menyunggingkan senyumnya sembari mendirikan tubuhnya, yang diangguki mengerti oleh sang dokter. "Iya." Rina keluar dari klinik tersebut lalu menghampiri putranya yang tengah duduk di kursi luar. Rina yang melihat putranya begitu anteng dan dengan sabar mau menunggunya, seketika kembali tersenyum lalu duduk di sampingnya sembari memeluknya dengan hangat. "Sudah ya, Ma?" "Iya, sayang." "Kata dokter apa, Ma? Mama enggak sakit parah kan?" "Enggak kok, Mama kan juga sudah bilang kalau Mama enggak sakit." "Kalau enggak sakit kenapa harus ke dokter?" tanyanya polos yang lagi-lagi disenyumi oleh Rina. "Mama ke dokter, karena Mama sedang hamil sekarang." "Hamil? Penyakit apa itu, Ma? Bahaya enggak?" tanya Rian khawatir yang kali ini ditertawai oleh Rina, yang merasa tak menyangka dengan pertanyaan putranya. "Enggak bahaya kok. Hamil itu Mama akan punya anak lagi, jadi di sini, di perut Mama akan ada bayi." Rina mengarahkan tangan putranya ke arah perutnya, ia berusaha menjelaskan dengan caranya. "Bayi di dalam perut?" "Iya, jadi nanti perut Mama akan membesar terus Mama melahirkan bayi, dan bayi itu akan menjadi adik kamu." "Apa? Jadi Rian akan punya adik, Ma?" tanya bocah itu yang mulai mengerti meskipun sebenarnya ia tak terlalu paham dengan maksud dari bayi yang bisa berada di dalam perut, namun satu hal yang pasti, ia akan memiliki seorang adik. "Iya. Kamu senang enggak kalau punya adik?" "Senang dong, Ma. Kan itu keinginan aku dari dulu. Dedek bayi baik-baik ya di sana, nanti kita ketemu kalau kamu sudah keluar." Rian mengelus purut rata Rina, yang saat ini tengah tersenyum melihat tingkah laku putranya. "Mama harap, saat Mama memberitahu Papa tentang kabar baik ini, Papa juga merasa bahagia seperti kamu, Sayang." Rina bergumam dalam hati, dengan harapan yang begitu besar di sana. Walau sebenarnya ada saja ketakutan yang terselip, mengingat sikap dan watak suaminya yang kasar. *** Malam harinya, Rina menunggu kedatangan suaminya di ruang keluarga, sedangkan putranya baru saja ia tidurkan di kamar. Saat ini Rina ingin memberitahukan kabar kehamilannya pada Ali, itu lah kenapa ia berada di tempatnya saat ini. Biasanya, suaminya akan datang pukul jam sembilan malam, itu artinya sebentar lagi laki-laki itu akan sampai. Dan itu benar, karena tak lama Rina menunggu, suara mobil terparkir terdengar di depan halaman rumah. Rina yang mendengarnya langsung berjalan ke arah pintu untuk menyambut suaminya tersebut, lalu ia akan membawakan tas dan jasnya, semua itu sudah biasa Rina lakukan setiap malamnya. Bisa dilihat dari caranya menyunggingkan senyumnya setelah membuka pintunya, sedangkan suaminya tengah berjalan ke arahnya lalu melemparkan tas, jas, dan bahkan dasinya dengan seenaknya. Rina yang biasa diperlakukan seperti itu hanya bisa memunguti barang-barang itu dengan sabar, lalu kembali mendirikan tubuhnya dan berjalan di belakang Ali, suaminya. Di dalam hati, Rina dibuat dilema dengan apa yang akan dikatakannya, namun ia berusaha percaya bila semua akan baik-baik saja. "Mas," panggil Rina hati-hati yang tak menghentikan langkah suaminya. "Hm," sahutnya tak acuh. "Aku mau berbicara sebentar sama kamu, Mas." Rina merapatkan bibirnya, ia begitu takut sekarang terlebih lagi saat Ali mulai membalikkan tubuhnya sembari menatap dingin ke arahnya. "Berbicara apa?" tanyanya terdengar enggan. "Aku ... hamil, Mas." Rina menyunggingkan senyumnya, namun tidak dengan suaminya yang tampak terkejut mendengarnya. "Apa kamu bilang? Kamu hamil lagi?" tanya Ali terdengar tak percaya, meskipun tidak menggunakan nada tinggi, namun Rina yakin bila suaminya itu tidak suka dengan kabar yang diberitahukannya. "I-iya, Mas ...." Rina seketika menundukkan wajahnya, tangannya mulai bergetar dan menggosok satu sama lain saking takutnya ia saat ini. "Apa kamu sudah gila? Kenapa kamu bisa hamil lagi? Memangnya kamu enggak minum pil KB selama ini?" Ali merengkuh kuat lengan atas Rina, membuat wanita itu kesakitan dengan ulahnya. "Aku minum, Mas. Tapi waktu itu aku sempat lupa, makanya aku ...." "PEREMPUAN g****k?!" sentak Ali sembari menampar pipi Rina dengan sangat keras, yang berhasil menumbangkannya ke lantai. "Sakit, Mas ...." Rina merintih kesakitan sembari menyentuh pipinya yang terasa panas, sedangkan tubuhnya berusaha ia bangunkan. Namun tak lama tangan Ali kembali datang mendekatinya lalu menyentuh hijab Rina dan menariknya hingga rambutnya serasa dijambak. "Akhh," keluh Rina sembari menahan rasa sakit saat tangan Ali begitu kuat menarik hijab beserta rambutnya. "BANGUN KAMU!" pinta Ali geram, sedangkan Rina langsung mendirikan tubuhnya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya. "Iya, Mas. Tapi tolong lepas tangan kamu, ini sakit." Rina menitikkan air matanya. Meskipun ia sudah terbiasa diperlakukan buruk, namun tetap saja ia tidak bisa melawan dan hanya bisa pasrah dengan harapan suaminya segera menghentikan perlakuan buruknya. "Siapa yang menyuruh kamu hamil lagi, hm? SIAPA?" sentak Ali di akhir kalimatnya, sedangkan Rina hanya bisa bungkam di tempatnya. "Maaf, Mas. Aku memang salah, tapi apa salahnya kalau aku hamil lagi? Bukannya ini rezeki buat kita?" Rina berusaha menjawab menurut argumennya, ia juga harus membela janin yang di kandungannya. "MASALAHNYA AKU ENGGAK MAU LAGI PUNYA ANAK DARI KAMU, DAN SEHARUSNYA JUGA KAMU ITU SADAR DIRI! KITA MENIKAH ITU KARENA TERPAKSA, JADI UNTUK APA ANAK KEDUA?" teriak Ali yang kian membuat Rina sakit hati terlebih lagi saat lelaki itu mengingatkannya dengan alasan pernikahan mereka Bukannya Rina tidak ingin mengingatnya, hanya saja ia sendiri sudah cukup sulit untuk menerima pernikahannya dan selama ini ia berusaha menjalaninya dengan rasa terpaksa. Kalau bukan karena bundanya, mungkin Rina tidak akan bertahan sampai sekarang. "Aku kasihan dengan Rian kalau nantinya dia enggak punya saudara, Mas. Bukankah lebih baik kalau kita memberinya adik untuk menjadi temannya di keluarga ini?" Rina kembali memberanikan diri untuk menjawab, karena ia yakin dan percaya kalau suaminya itu akan menerima kehamilannya. "Apa kamu berpikir kalau pernikahan kita ini akan berlangsung sampai kita tua?" tanya Ali dengan nada sinisnya, yang tentu saja mendapatkan tatapan bingung dari mata Rina. "Maksud Mas apa?" "Kamu jangan berpura-pura bodoh! Aku menikahi kamu karena warisan, kalau bukan karena itu, kita enggak akan ada di pernikahan ini. Jadi jangan berpikir kalau kita akan menjadi keluarga selamanya," ujar Ali serius. "Aku tahu itu, Mas. Tapi aku yakin suatu saat nanti kamu akan berubah pikiran." Rina menjawab yakin seolah harapan itu benar-benar ada di pikiran dan hatinya. Namun Ali justru tersenyum sinis mendengarnya, karena apa yang dikatakan Rina sangat mustahil baginya. "Jangan mimpi! Aku enggak akan pernah mau menerima pernikahan ini apalagi sampai mencintai kamu dan memiliki keluarga bersama kamu. Satu hal yang harus kamu ingat, semua ini hanya sementara, tunggu sampai aku mendapatkan warisanku, akan aku pastikan kamu akan aku ceraikan." Ali menjawab kian serius yang kian membuat Rina merasa sakit mendengar setiap perkataan pedas yang keluar dari mulut suaminya. "Untuk anak ini aku enggak akan peduli lagi, terserah kamu mau mempertahankannya atau mau mengugurkannya. Tapi ingat, jangan pernah menyuruhku atau memintaku melakukan hal-hal yang berhubungan dengan keinginan kamu! Kamu yang menginginkan bayi itu, jadi kamu juga yang harus menjalaninya sendiri tanpa aku." Ali menunjuk perut Rina yang masih rata, sedangkan empunya hanya mengangguki ucapannya. "Iya, Mas. Aku tahu apa yang aku pilih, jadi Mas enggak perlu khawatir akan direpotkan nantinya, karena aku akan melakukan semuanya sendirian." Rina menjawab mantap yang diangguki setuju oleh suaminya. "Bagus," jawabnya lalu pergi dari sana, meninggalkan Rina yang menangis dengan sikapnya. Di dalam hatinya, Rina sempat merasa ragu untuk menyetujui ucapan Ali, mengingat ia akan menjalani kehamilannya sendiri dan ditambah ia juga harus merawat putranya yang masih kecil. Namun Rina yakin, ia bisa melakukannya karena sebelumnya pun Ali juga tidak pernah ada untuknya, termasuk saat ia hamil putra pertamanya. Rina menjalani kehamilannya itu sendirian, hanya bundanya yang bisa ia mintai pendapat tentang bagaimana ia harus menjaga janinnya saat itu. Semua Rina jalani sendiri termasuk saat ia periksa ke dokter, USG, dan bahkan saat ia melahirkan di rumah sakit. Sekarang, Rina berpikir kalau ia pasti bisa menjalani semua itu lagi, karena sebelumnya ia sudah pernah merasakannya dan ia berhasil melewatinya dengan baik. "Maafkan Papa ya, Sayang? Enggak seharusnya kamu mendengar kata-kata kasarnya. Tapi kamu jangan sedih ya, Mama dan Kak Rian sangat menyayangi kamu, jadilah anak yang kuat untuk Mama dan Kakak!" Rina mengelus perut ratanya dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya. Secara fisik dan batin, sebenarnya Rina merasa tidak kuat, namun Bunda dan anak-anaknya yang membuatnya tetap bersemangat dan bertahan sampai sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN