Part 06
Setelah mengantarkan Rian ke kamar dan menidurkannya, diam-diam Rina mengintip Ali yang tengah mengobrol dengan Sinta di ruang keluarga. Dalam hati, Rina berpikir kenapa Sinta tidak pulang padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun di balik keheranannya itu, tidak ada yang bisa Rina lakukan selain menatap kedekatan mereka.
Sebagai seorang istri yang tidak pernah dihargai perasaannya, tentu saja Rina semakin merasa sakit dengan sikap suaminya yang mulai terang-terangan menunjukkan perselingkuhannya. Rina sendiri sadar bila dirinya bukan wanita kuat, yang mampu menahan semua rasa sakitnya sendirian, namun ia selalu yakin bisa menghadapi semuanya demi anak dan bundanya. Namun perselingkuhan Ali membuat Rina sadar, bila hatinya kini berada di titik terendahnya.
Rina ingin menyerah, ia ingin meninggalkan Ali dan hidup tenang bersama dengan keluarganya yang tersisa. Namun ia dibuat bimbang dengan janjinya sendiri untuk selalu setia dan sabar menghadapi sikap Ali, terutama pada janjinya dengan mertua lelakinya, untuk selalu berada di samping Ali apapun yang terjadi.
Saat menyanggupi janjinya itu, Rina hanya percaya satu hal bila dirinya akan kuat dan bertahan sampai Ali sadar dan mau mencintainya suatu saat nanti. Namun sekarang rasanya itu cukup mustahil, bila di hati lelaki itu sudah ada wanita lain yang lebih menarik.
Rina bergelut dengan pemikirannya sendiri, sampai ia tersadar saat mendengar suara tapakan kaki berjalan. Rina kembali memerhatikan ruang tamu dari balkon tempatnya berdiri saat ini, di saat itu lah ia mulai panik setelah tahu Ali dan Sinta berjalan ke arah tangga. Dengan cepat, Rina bersembunyi ke tempat yang tidak akan diketahui oleh mereka.
"Memangnya enggak apa-apa kalau aku menginap di sini, Mas?" tanya Sinta yang samar-samar bisa Rina dengar.
"Enggak apa-apa lah. Memangnya kenapa?" tanya Ali dengan kalimat lembutnya, suatu sikap yang tidak pernah lelaki itu berikan pada Rina.
"Ya aku takut aja kalau nanti istrimu marah, bagaimana?" Sinta menjawab dengan nada manjanya, namun Ali justru tersenyum mendengarnya, tanpa tahu bagaimana Rina yang bersembunyi dan melihat semuanya.
"Memangnya kenapa kalau dia marah? Aku juga bisa marah, aku bahkan bisa membuatnya lebih menderita."
"Kok kamu gitu? Memangnya kamu enggak kasihan apa sama istri kamu itu?"
"Buat apa kasihan sama dia? Aku juga enggak pernah peduli sama dia." Ali menjawab tak habis pikir, yang tentu saja mendapatkan senyuman dari bibir Sinta yang kian manja di dekatnya.
"Oh ya? Aku enggak percaya."
"Kenapa kamu enggak percaya?"
"Ya enggak percaya, karena aku yakin kamu pasti punya perasaan dengan istri kamu itu meskipun cuma sedikit."
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"
"Buktinya kamu sama dia bisa punya anak, berarti kamu pernah cinta sama dia atau mungkin kamu masih mencintainya sampai sekarang." Sinta memicingkan matanya seolah ingin menatap Ali dengan tatapan curiga, namun yang lelaki itu lakukan justru tersenyum semringah.
"Sok tahu kamu. Aku itu enggak pernah punya perasaan cinta atau apapun itu ke Rina, aku bisa punya anak dari dia ya karena aku menganggapnya sebagai pelampiasan nafsuku aja. Kamu tahu kan laki-laki bisa melakukannya dengan wanita manapun, meskipun dia enggak memiliki perasaan apapun ke wanita itu, makanya banyak laki-laki yang mau membeli tanpa mau memiliki. Semacam itu lah, aku yakin kamu pasti paham maksudku."
"Maksud kamu p*****r?"
"Iya." Ali mengangguk mantap.
"Jadi kamu menyamakan istri kamu itu dengan p*****r?" tanya Sinta dengan tersenyum tak percaya.
"Kalau iya, memangnya kenapa? Setiap bulan aku kasih dia uang untuk kebutuhan rumah ini, kebutuhan dia, dan juga bundanya. Lalu kenapa aku enggak bisa menyamakan dia dengan p*****r?" Ali menjawab santai, ucapannya seolah tak memiliki salah sedikit pun, membuat Sinta kian tertawa mendengar jawaban jujurnya.
"Kasihan ya istri kamu, selain dia dianggap pembantu di rumah ini, dia juga dianggap p*****r juga."
"Ya semacam itu lah, lagian untuk apa kita membahasnya? Enggak penting juga kan," ujar Ali yang diangguki mengerti oleh Sinta kali ini.
"Ya, aku tahu itu. Aku cuma merasa penasaran aja, kenapa kamu bisa punya anak dari dia? Aku pikir kalian menikah cuma untuk status palsu."
"Aku menikahinya memang untuk status di depan orang tuaku, aku enggak benar-benar bisa menerimanya sebagai istriku. Kalau untuk masalah anak, aku sengaja membuatnya hamil dan punya anak dari darah dagingku supaya Papaku juga percaya dengan pernikahan ini, dengan begitu aku bisa mendapatkan warisannya lebih cepat." Ali tersenyum licik yang ditanggapi sama oleh Sinta saat ini.
"Wah, ternyata kamu pintar juga ya, Mas? Aku bangga sama kamu. Tapi apa nanti kamu akan menceraikannya?" tanya Sinta yang langsung diangguki oleh Ali.
"Tentu saja. Tunggu sampai saat aku mendapatkan semuanya, akan aku pastikan dia pergi dari kehidupan aku selamanya." Ali menjawab yakin dan penuh percaya diri, seolah rencana itu sudah ia rancang sejak lama.
"Setelah kamu menceraikannya, apa kamu akan menikahiku?" Sinta merengkuh perut Ali dan membelainya secara perlahan seolah ingin menggodanya, membuat lelaki itu tersenyum dan mengangguki pertanyaannya.
"Tentu saja, kamu kan satu-satunya wanita yang aku cintai. Setelah semuanya berjalan dengan seperti yang aku inginkan, aku pasti akan menikahi kamu nanti." Ali menjawab mantap yang disenyumi oleh Sinta.
"Apa sekarang wanita itu ada di kamar kamu?" bisik Sinta yang langsung Ali gelengi kepala.
"Dia enggak akan berani masuk ke kamarku tanpa seizinku, mungkin sekarang dia sudah tidur dengan Rian. Kenapa? Apa kamu mau kita tidur bersama di kamarku?" tawar Ali genit.
"Memangnya boleh aku menginap di sini?" Sinta bertanya dengan nada menggoda.
"Tentu saja. Kamu bahkan boleh tinggal di sini selama yang kamu mau." Ali merengkuh pinggang Sinta yang tersenyum malu, lalu menggiringnya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Ali dan Sinta sudah masuk ke dalam kamar, keduanya bahkan tidak sadar bagaimana Rina menahan tangisnya di tempat persembunyiannya sekarang. Mulut yang ingin berteriak marah itu Rina bekap dengan kedua tangannya, berusaha untuk tidak mengeluarkan rasa sakit di hatinya.
Setelah mendengar pembicaraan Sinta dan suaminya, Rina merasa tidak bisa diam saja, ia ingin marah dan meminta penjelasan Ali akan ucapannya, namun tidak ada yang bisa Rina lakukan kecuali menangis sekarang. Ia sadar, apa yang diucapkannya nanti tidak akan berpengaruh apapun dengan sikap suaminya. Lelaki itu tidak akan meminta maaf ataupun berubah sikap, bahkan mungkin yang terjadi justru sebaliknya, sikapnya akan semakin kasar padanya dan lebih semena-mena.
Rina merasa bingung sekarang, merasa tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi untuk menghadap suaminya dan bertahan di sisinya. Perasaan ingin menyerah kini muncul di benaknya dan semakin kuat setelah mendengar pengakuan suaminya, yang hanya menganggapnya sebagai pembantu yang mau melayaninya bak p*****r.
Sebagai seorang wanita, tentu saja Rina merasa sangat kecewa dan marah, harga dirinya serasa diinjak-injak dengan kerasnya. Namun lagi-lagi ia dibuat dilema dengan keputusan apa yang harus ia ambil sekarang, karena menyerah dan bercerai juga bukan lah rencana yang bagus, yang hanya akan menguntungkan Ali dan selingkuhannya nanti.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Rina lirih sembari menyentuh perutnya, ia ingat di sana ada calon bayinya yang harus ia jaga dan pertahankan, kalau ia memilih menyerah itu sama saja membiarkan anaknya lahir tanpa status dari seorang ayah.
***
Keesokan paginya, seperti biasa Rina menyiapkan sarapan untuk putra dan suaminya, ia juga membuatkan mereka bekal makan siang. Di tengah aktivitasnya mencuci sayuran, tiba-tiba ia mendengar seseorang membuka kulkas, saat menatap ke asal suara, Rina melihat Sinta tengah meminum air dingin di sana.
Rina hampir lupa bila wanita itu menginap di rumah ini tadi malam, mengingatkannya pada ucapan Ali yang begitu menyakitkan. Namun Rina berpikir untuk tetap tenang, ia tidak ingin terpancing emosi setidaknya untuk sekarang. Ia akan membiarkan wanita itu melakukan apapun yang dia inginkan, tanpa harus menggubrisnya sedikitpun.
"Pagi," sapa Sinta sembari menyunggingkan senyumnya, Rina yang mendengarnya sempat meliriknya sekilas dan bisa menyadari bagaimana wanita itu menatapnya dengan tatapan meremehkan.
"Pagi," jawab Rina tenang, untuk sekarang ini ia hanya perlu bersikap tenang dan tidak bersikap berlebihan.
"Lagi masak apa, Mbak?" Sinta bertanya dengan nada yang sama, seolah ingin berbasa-basi namun justru terdengar ingin mengejeknya.
"Ayam," jawab Rina singkat.
"Ada sayuran dan buah enggak, Mbak? Aku kalau pagi enggak bisa makan yang terlalu berprotein."
"Ada. Ambil aja di kulkas!" Rina menjawab dengan nada yang sama, singkat dan cepat.
"Enggak ah. Mbak aja yang ambil, dan tolong buatkan aku salad ya Mbak?" Sinta menyunggingkan senyuman angkuhnya, yang tentu saja tidak bisa Rina terima.
"Kenapa aku? Kamu punya dua tangan kan? Semuanya bisa berfungsi dengan baik, jadi buat saja sendiri!" Rina menjawab tegas, ia tidak suka saat wanita itu memerintah bantuannya.
"Kamu kok gitu sih, Mbak? Kan Mbak lagi buat sarapan, apa salahnya kalau aku minta buatkan salad juga?" jawab Sinta dengan santainya, yang tentu saja membuat Rina geram.
"Aku enggak mau, kamu buat saja sendiri." Rina menatap tegas ke arah Sinta yang tampak tidak takut atau semacamnya.
"Ada apa ini?" Suara Ali tiba-tiba terdengar dari pintu masuk dapur, di depan sana lelaki itu berdiri menatap Rina dan Sinta yang tengah mendebatkan sesuatu hal.
"Ini Mas, aku kan mau sarapan salad, jadi aku mau minta tolong ke Mbak Rina, tapi Mbak Rina enggak mau padahal kan dia juga lagi masak." Sinta berjalan ke arah Ali dan merengkuh lengannya dengan manja, membuat Rina tak bisa berbuat apa-apa selain diam meskipun hatinya merasa sangat geram.
"Aku sibuk membuat sarapan buat kamu dan Rian, Mas. Jadi aku menolak permintaannya, karena aku yakin dia bisa membuat salad sendiri." Rina berusaha membela diri, karena ia juga tidak ingin disalahkan dalam hal ini.
"Mas, kamu tahu kan aku lagi kecapean, tadi malam kamu mengajakku sampai pagi. Jadi aku minta bantuan Mbak Rina, masa enggak boleh sih, Mas?" Sinta tampak cemberut dengan ekspresi kesedihan yang terpampang di wajahnya, membuat Rina yang tengah geram semakin dibuat sakit hati setelah mendengar rengekan Sinta.
"Iya, Sayang. Aku paham kok maksud kamu." Ali mengusap tangan Sinta dengan tersenyum lembut, lalu menatap ke arah Rina dengan ekspresi berbeda.
"Apa sih susahnya buat salad? Cuma potong-potong buah dan sayur kan? Kamu bisa melakukannya di sela-sela memasak."
"Tapi, Mas aku kan juga harus membantu Rian ...." Belum Rina melanjutkan ucapannya, Ali sudah memotongnya.
"Aku enggak mau tahu, kamu buatkan Sinta salad untuk dia sarapan, kalau enggak, kamu akan tahu akibatnya." Ali mengancam serius sembari menunjuk ke arah wajah Rina yang tidak bisa berbuat apa-apa, sedangkan Sinta hanya tersenyum puas di sampingnya.
"Iya, Mas." Rina menjawab terpaksa.
"Ayo, Mas. Kita mandi dulu, setelah itu kita sarapan." Sinta menggandeng lengan Ali lalu pergi dari sana, meninggalkan Rina yang lagi-lagi menangis di tempatnya.