“Mama sudah pulang?” tanya Belva pada Mbok Yah yang sedang menyapu halaman. Gadis dengan setelan basket berwarna biru-kuning tersebut duduk di kursi rotan yang ada di teras rumah. Melepaskan sepatu olahraga berharga fantastis, hadiah dari Oma Astika. “Belum, Mbak. Mungkin nanti malam,” jawab wanita berdaster batik tanpa menoleh. Fokus pada daun-daun kering yang berserakan di atas rumput. Belva mendengkus kecewa. Padahal, ia berharap malam ini bisa menikmati masakan ibu sambungnya. "Masa malam ini numpang makan tempat Mbok Yah lagi." Gadis itu bangkit dan melangkah memasuki rumah sambil menenteng sepatu. Suasana sepi dan senyap langsung terasa saat kakinya melewati pintu utama. Tidak ada suara televisi dan aroma masakan. Gadis bertubuh langsing itu menatap ruang keluarga dengan sorot l

