“Selva … mau tinggal sama Ibu.” Duuuarrr! Kalimat yang diucapkan Selva dengan lirih itu bagaikan petir yang menyambar. Meluluhlantakkan perasaan tiga orang yang akhir-akhir ini mendiamkannya. Bukan hanya mereka, dua wanita yang ada di dapur pun sama terkejutnya. Waktu seakan berhenti saat itu juga. Semua mata yang semula enggan menatap gadis yang berdiri sambil menunduk, kini beralih menatapnya lekat. Seolah tidak ada objek lain yang bisa di lihat. Dalam sekejap, raut kesal Belva berubah. Mata yang semula menyorot tajam kini membeliak. Menatap tak percaya pada sang kembaran dengan mulut sedikit terbuka. Jantung berdetak lebih kencang. Seperti ada bongkahan yang menyumbat tenggorokan. Ia tak menyangka, saudara yang pernah berbagi ruang di rahim seorang wanita yang membawa petaka akan m

