"To-long, Shh … kasih a-ku waktu. Argh!" Sinta mengerang kesakitan. Tangannya berusaha menahan rambutnya agar tidak ditarik semakin kuat. Perih menjalar. Sinta merasa kulit kepalanya seperti akan terkoyak. Lehernya pun terasa nyeri akibat terlalu lama mendongak. "Ampun, Gung! Ampun! Kasih aku waktu. A-aku akan usahakan uang yang kamu— ARGH! Sakit, Gung!" "Om, sudah, Om! Sudah. Kasihani Ibu. Hiks … hiks …. Aku mohon." Selva memohon sedetik setelah jeritan ibunya kembali terdengar. "Jangan, Om! Jangan sakiti Ibu! Hiks … hiks …. Aku mohon. Cukup! Cukup!" raung gadis itu memohon. Dengan sisa tenaga Selva menahan tangan Agung yang semakin kuat menarik rambut sang ibu. Ia yakin puluhan helai telah tercabut. Sementara, Sinta tidak bisa menahan laju air matanya. Kali ini bukan karena rasa s

