Selva bangkit. Melangkah gontai dengan pandangan yang kosong. Meninggalkan sang ibu yang masih tersandar mengatur napas, meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi kekosongan paru-paru. Ia membungkuk, memungut tas ransel yang tergeletak di lantai, tepat di dekat kaki meja. Lalu, berjalan menuju kamar dengan air mata yang terus berlinang. Lelah. Ia lelah menjalani kehidupan seperti ini. Setiap hari dihantui dengan bayang-bayang Agung yang selalu datang tiba-tiba dan membuat keributan. Ditambah lagi ia harus menahan rindu pada Papa, Mama dan dua saudaranya. Selva merasa kehidupannya saat ini lebih buruk daripada tiga tahun lalu, sebelum Kirana datang mengubah segalanya. Saat itu, ia memang hidup seperti anak yatim-piatu. Namun, tidak pernah mengalami hal mengerikan seperti ini. Jika

