Lima Ratus Juta
“Sial, bagaimana bisa koperku ketuker begini, astaga!” Celia menatap nanar koper berwarna merah milik orang lain yang terbawa olehnya.
“Maafin yah, aku beneran gak cek namanya dulu.” Lala, asisten pribadi Celia memberikan air mineral agar atasannya itu tenang.
“Hubungi maskapai aja, Mbak. Minta kontak yang punya koper itu, siapa itu namanya gak tau. Minta maaf aja koperku juga gak bakal balik sendiri!”
Lala secepat kilat menghubungi maskapai dimana Celia dan dirinya terbang dari Jakarta menuju Surabaya, setelah mendapatkan kontak pemilik asli koper yang Celia bawa, keduanya bergegas menemui pria bernama Evan itu.
“Evan Mahendra Putra, nama yang bagus. Semoga dia baik dan gak macam-macam dengan koperku. Bayangkan Mbak Lala, kalau dia pegang barang pribadiku, oh tidak!” Celia histeris di dalam mobil sepanjang perjalanan menuju salah satu resto di daerah Surabaya Barat.
“Tidak mungkin bisa dibuka, kan ada pin. Kecuali dia bongkar paksa kopernya, Nona.” Lala menenangkan majikannya.
“Huft, bisa-bisanya Mbak Lala setenang itu!”
“Yang penting udah ketemu sama siapa, Nona. Jadi, kecilkan masalah ini, oke?”
“Ish, aku belum tenang jika belum bersama koper itu. Tahu gak sih, itu pemberian Bunda,” kata Celia berapi-api.
“Iya saya tahu, kita sebentar lagi sampai kok.” Lala sudah terbiasa dengan sikap Celia yang berapi-api, ia sudah mempelajari sikap gadis itu sejak dua belas tahun yang lalu.
Celia iseng melihat foto profil Evan di aplikasi w******p miliknya, setelah menimbang-nimbang muncullah ide untuk mengatasi masalah perjodohannya.
“Nona, sebaiknya pastikan dulu orangnya, takutnya dia pria tidak baik.” Pendapat Lala ada benarnya, ia harus memastikan pria yang akan ia tawarkan kerjasama untuk menggagalkan perjodohannya.
“Nanti kasih pendapat yah, aku juga gak mau sembarangan. Papa juga gak akan semudah itu terima orang baru,” kata Celia lemas.
“Sabar yah, Nona. Kita pikirkan masalah itu setelah mengambil koper,” jawab Lala dengan tenang, ia turun dari mobil terlebih dahulu lalu membukakan pintu untuk atasannya itu.
“Gue bisa sendiri, Mbak Lala!”
“Prosedur, Nona. Maafkan saya,” jawab Lala sambil menahan tawanya.
Celia tidak menjawab ucapan asisten pribadinya, ia melenggang masuk ke restoran untuk menemui pria yang membawa kopernya.
“Meja nomor 8, Mbak,” jawab Celia ketika ditanya pegawai restoran dengan ramah.
“Silahkan, Kak. Ada di sebelah kanan,” kata pegawai tersebut mengarahkan Celia. Ia melihat dua orang pria duduk di meja tersebut, membalikkan tubuhnya, ia mencari keberadaan Lala yang tertinggal di belakang.
“Lho, orangnya belum datang?” tanya Lala kepada Celia.
“Dua orang, yang satu lumayan ganteng, satunya udah om-om. Kayaknya setua Om Vano,” bisik Celia di telinga asistennya.
“Kita temui mereka dulu, Nona.” Lala yang mengerti bahasa tubuh Celia tetap tenang dan ingin segera menyelesaikan kekacauan ini.
“Selamat siang, apa betul dengan Bapak Evan?” sapa Lala kepada dua pria di depannya, sedangkan Celia hanya mengekor di belakang wanita itu.
“Silahkan duduk, saya Roy, asisten Pak Evan,” jawab Roy menjabat tangan Lala untuk berkenalan.
“Terima kasih, mohon maaf jika kami sedikit terlambat,” kata Lala basa-basi.
“Oh, tidak masalah. Ini koper Bu Celia,” kata Evan memberikan koper milik gadis cantik di depannya itu.
“Terima kasih, ini koper Pak Evan.” Ketika Lala akan memberikan koper milik Evan, Celia mencegahnya.
“Ada apa, Nona? Bukanlah itu koper miliknya?”
“Tunggu dulu, karena dia sudah mengacaukan agendaku hari ini. Sebagai gantinya dia harus mau ikut aku temui Papa,” kata Celia dengan nada juteknya.
“Lah, apa urusannya? Kita hanya ketuker koper, gak saling kenal apalagi pacaran. Urusannya apa sampai harus seperti ini?” Evan memprotes permintaan Celia.
“Urusannya, Lo udah bikin kacau kerjaan gue, ya ini konsekuensinya, Pak Evan.” Celia duduk di depannya menarik koper milik Evan kembali.
“Astaga, apalagi ini? Nona, kau kan sudah mendapatkan kopermu, kau tidak bisa meminta ini itu seenaknya padaku,” jawab Evan menatap nanar kopernya yang sengaja Celia letakkan di sebelahnya, Evan tidak berani mengambilnya langsung karena takut bersentuhan dengan gadis itu dan dianggap tidak sopan.
“Oke, kalau gue kasih kompensasi dua ratus juta, gimana?” Celia menawarkan sejumlah uang kepada Evan sebagai tanda kesepakatan.
“Hah? Apa maksudnya?” Evan mengangkat kedua tangannya tidak paham maksud Celia.
“Duh, lambat betul! Gue ada masalah, gue dijodohkan sama orang yang gak gue kenal. Apesnya gue baru putus sama pacar gue, oke, kan?” Celia memainkan kedua aslinya menggoda Evan.
“Gak, gak oke. Pernikahan itu sakral Nona. Kau tidak bisa mempermainkan seperti membuat kesepakatan bisnis,” jawab Evan menolak mentah-mentah penawaran Celia.
“Nggak selamanya, lagian gue juga gak mau sama Lo. Cuma sebentar, paling lama satu tahun, setelah itu bebas.”
“Apalagi seperti itu, bukan hanya mempermainkan tapi membohongi lembaga pernikahan, tidak bisa!”
“Tiga ratus juta?” Celia menaikkan nilai penawarannya.
“Nona, ini bukan judi,” bisik Lala di telinganya.
“Diam Lo! Mbak Lala juga ga bisa bantu apa-apa, kan?”
Evan dengan tenang menggeleng tidak mau dengan penawaran gila Celia. Pria itu bahkan sempat menikmati kopi latte nya sambil menunggu Celia menyerah. Sedangkan Roy, ia berinisiatif memesankan minum untuk Celia dan Lala.
“Bukan seperti itu, Nona. Kau bahkan tidak mengenalku, mana bisa seperti ini,” kata Evan menahan tawanya. Gadis cantik di depannya itu begitu menggemaskan di matanya. Ia masih betah menikmati kepanikan Celia yang ia sendiri pun penasaran.
“Makanya kenalan, setidaknya tadi sudah tahu nama. Lalu mau tahu apalagi?”
“Banyak, umur, asalmu dan siapa namamu. Mungkin tempat kamu bekerja, apapun mengenai identitasmu,” jawab Evan setelah menyesap kopinya.
“Celia Destyana Zahra, dua puluh satu tahun, Dirgantara Group. Tinggal di perumahan Kemang,” jawab Celia dengan wajah berbinar.
“Dengan adikku saja, kau masih terlalu muda. Celia, kau masih bisa melanjutkan karir daripada membuat perjanjian konyol denganku,” kata Evan yang ternyata tetap menolaknya.
“Masalahnya, Bokap gue udah tentukan tanggal dimana gue harus menikah dengan om-om yang gak jelas, yang gue gak kenal. Bentuk mukanya aja gue gak tau,” jawab Celia mulai putus asa.
“Bicaralah baik-baik dengan orang tuamu, aku yakin mereka akan memaklumi, percaya padaku,” ucap Evan sambil menahan senyumnya.
“Bagaimana jika lima ratus juta?” tawaran Celia kepada pria bernama Evan itu.
“Nona, kau cantik dan bukan orang sembarangan, tapi sayang tingkahmu rada gila. Kembalikan koperku dan urusan kita selesai,” kata Evan menolak tawaran gila Celia.
“Please, aku gak mau nikah dengan om-om genit seusia Papaku, ayolah.” Celia berhasil meraih tangan Evan dan menunjukkan wajah melasnya. Dengan mata berkaca-kaca, ia tampak putus asa mencari cara.
“Astaga, aku harus apa, Tuhan!” Evan meng
hela nafasnya berusaha mengatur nada bicaranya agar tidak emosi di depan gadis manis itu.