Belum selesai rasa penasaran Tara, tiba-tiba Evan datang dan duduk di depannya membuat Celia bertanya kepadanya.
"Eh, tunggu! Papa, bisa jelasin gak ke Celia. Minimal itu dulu deh, Pa." Celia yang sudah duduk di sebelah Tara tidak tenang menunggu jawaban.
“Permisi, maaf, Pak. Agak lamaan.” Evan tergesa-gesa duduk di sebelah Roy. Ia sama terkejutnya melihat Celia duduk di sebelah Tara. “Eh, ucil! Ngapain duduk disini. Saya mau meeting, ketemunya masih nanti malam.”
Roy yang melihat pemandangan seru itu hanya menahan tawanya karena merasa takdir sedang berpihak kepada atasannya. “Sepertinya memang sudah jodoh,” gumam Roy dalam hati.
“Lo yang ngapain? Ini Bokap gue, itu Om jangan ketawa-ketawa! Gak ada yang lucu kali.” Celia kesal melihat Roy yang seperti tertawa mengejeknya.
Roy yang merasa tersindir tetap santai dengan peringatan yang diberikan Celia padanya. Ia berpura-pura sibuk dengan menjawab pesan singkat dari ayah Evan yang mempertanyakan pertemuan anaknya dengan Tara.
“Waduh, ada apa ini? Ada yang bisa jelasin ke Papa? Celia, Lala?”
“Mohon maaf, Pak. Pak Evan adalah pemilik koper yang tertukar dengan milik Nona Celia di bandara tadi pagi,” kata Lala berusaha menjelaskan.
“Owwhh … udah ketemu sebelumnya?” tanya Tara dan Vano bersamaan sambil menahan senyumnya.
“Kebetulan,” jawab Evan dan Celia bersamaan.
“Oke, karena udah ketemu. Disini Papa cuma mau kasih kenalan sebenarnya. Berhubung udah, jadi langsung saja.”
“Maksud Papa apa? Langsung saja apanya?” Jantung Celia seakan berhenti berdetak. Pikirannya melayang kemana-mana. Apa iya, Papanya tega menjodohkan dirinya yang muda belia itu dengan Roy yang seusia Vano. Atau Evan yang membuat harinya berantakan.
"Minggu ini acara perkenalan keluarga dulu. Seperti yang sudah Papa sampaikan sayang. Keluarga Evan akan datang memperkenalkan diri ke kita." Tara mengusap punggung Celia untuk menenangkan anak gadisnya itu.
"Oohh, jadi dia yang Papa maksud?" Celia menunjukkan ekspresi wajahnya yang datar.
"Oke, kamu sama Evan pesan makan dulu. Papa mau call Bunda dulu." Tara berpamitan kepada Celia dengan menyeret Vano. Ia masih belum mengerti, mengapa Celia bisa mengenali Evan.
"Apaan sih? Lo nyeret-nyeret gue kayak nyeret kambing!" Vano memprotes tindakan Tara yang semaunya.
"Aduh, gimana ini? Celia kok bisa kenal sama Evan? Lo pikir dong?" Tara uring-uringan tidak jelas.
“Lo maunya apa, nyet! Bagus kalau mereka udah saling kenal. Walaupun perantaranya koper. Mau call Rara juga buat apaan sih, berisik Lo!”
“Eh, iya juga ya. Dahlah balik lagi aja. Gue takut Celia kabur, lagian itu anak lemot juga, ya kali papanya yang keren ini kasih jodoh kakek-kakek. Yang jelas kudu ganteng orang dan dompetnya lah, minimal kayak papanya. Penyayang,” kata Tara mulai narsis.
“Asli, gue pengen nabok Lo! Sabar banget Rara sama Lo, heran gue!” Vano tak kalah galak menjawab ocehan Tara kali ini.
Sedangkan Evan dan Celia memperhatikan Tara dan Vano seperti berdebat kecil, lalu keduanya kembali ke tempat duduk mereka.
“Jadi, gimana sayang?” Tara secepat kilat merubah cara bicaranya dengan Celia, lembut dan tenang.
“Celia terserah Papa, tapi si sombong itu ngatain Celia agak kurang. Gimana tuh, Pa?”
“Eh, bukan begitu ucil! Duh, ngadu juga dia ternyata. Mau saya bongkar yang tadi?” Evan mendapatkan ide untuk mengerem tuduhan Celia kepadanya.
“Tidak! Udah, jadi kapan mau datang ke Jakarta?” tanya Celia merubah topik.
“Sabar dulu bocil! Orang tua Evan baru balik tiga hari lagi, kita balik Jakarta dulu, bantu Bundamu persiapan, oke?” Vano terkikik dalam hati, ia melihat Tara versi perempuan di dalam diri Celia.
“Kata Papa, lebih cepat lebih baik. Niat baik tidak boleh ditunda, iya kan, Pa?”
“Iya sayangku,” jawab Tara tersenyum lebar. Dalam hati, ia juga penasaran apa pembicaraan Celia dan Evan ketika keduanya saling mengembalikan koper.
“Ya udah, ada lagi tidak? Celia mau ngemall, Pa? Udah janjian sama Nenek,” ucap Celia mengingatkan Tara pada budhe Nena dan Asih, kerabat dekat Rara di Malang.
“Gak ada sayang, baik-baik dan salam buat mereka yah,” jawab Tara kepada anaknya. Ia memberi kode kepada Lala untuk segera membawa Celia pergi.
“Aneh, Bapak sama anak sebelas dua belas. Sama-sama tak terduga, gue harus banyak stok sabar dan obat hipertensi kayaknya,” gumam Lala mensejajari langkah Celia yang sudah kembali ceria.
“Buset ucil! Tadi aja nawarin duit ratusan juta buat jadi pacar gadungan dia, sekarang kayak gak terjadi apa-apa. Mana mukanya bercahaya, kalah lampu neon taman.” Evan berbisik di telinga Roy, asisten pribadinya.
“Ehem.” Tara samar-samar mendengar Evan membicarakan Celia dengan Roy.
“Eh, Pak. Maaf neh, sudah yakin tidak akan terjadi apa-apa untuk kedepannya?” tanya Evan serius.
“Saya yakin, anak saya Celia termasuk penurut kok. Anak itu manis dan pintar seperti Bundanya. Rara mendidiknya gak sembarangan kok, disiplin tapi dengan kasih sayang,” jawab Tara. Ia sekaligus mempromosikan anaknya dengan cara dia sendiri.
“Ini bon cabe, dikira anaknya dagangan kali. Rara pasti ngamuk kalau cara dia kek gini,” gumam Vano geleng-geleng kepala.
“Gak usah di promoin begitu, Pak. Atasan saya ini udah suka pas pertama ketemu kok, dijamin gak nolak,” sahut Roy buka suara.
“Lemes,” bisik Evan di telinga Roy. Saking kesalnya, Evan menginjak kaki asistennya kuat-kuat. Roy hanya meringis menahan ngilu di kakinya.
Tara yang melihat interaksi Evan dan Roy menahan tawanya. Tapi, kali ini ia lega karena Celia tidak memprotes seleranya. “Itu artinya, tidak akan ada drama ngambek berhari-hari, syukurlah,” ucap Tara dalam hati.
Seolah Tuhan sudah ikut merestui keduanya, Evan dan Celia memiliki selera yang sama mengenai tempat pertemuan yang akan dipakai kedua keluarga untuk acara minggu depan.
“Oke, kebetulan Celia juga suka tempat itu. Saya kasih bocoran kesukaan Celia, Vano dan Lala akan kirim ke kamu. Setidaknya bantu saya memberikan kebahagiaan, kamu tahu sejarah ibu kandungnya, bukan? Saya harap ini bukan jadi halangan menikahi anak saya,” ucap Tara menahan kesedihannya.
Bukan tanpa alasan Tara berkata seperti itu, karena beberapa kali ia mendapatkan penolakan dari rekannya yang ingin menjodohkan dengan Celia, tentu saja dengan alasan masa lalu Sarah.
“Tidak, Pak. Bukannya, orang tua saya menyukai Celia sejak masih SD,” jawab Evan menahan senyumnya mengingat pertemuan pertamanya dengan gadis itu.
“Ah iya, aku baru ingat soal itu,” jawab Tara ikut tersenyum.
“Mungkin Celia lupa, nanti kalau ketemu saya coba ingatkan,” kata Evan kepada Tara.
“Ya sudah, pokoknya saya titip Celia. Kalau dia ada salah-salahnya, ingatkan saja, tidak usah ragu. Dia tidak bisa dikerasin, pasti kabur. Jadi, kamu sabar-sabar yah.” Pesan Tara sebagai seorang ayah kepada Evan, calon menantunya itu.
“Sepertinya ucil benar-benar dimanjakan keluarganya,” gumam Evan dalam hati.