••
Kedatangan Marvel kembali tentu saja disambut gembira oleh semua pegawai cafe, anak D'day dan The Prince. Walau pun The Prince baru mengenal sang majikan tapi nggak urung mereka ikut senang. Han, Yongky dan Abeen yang menjemput Marvel. Dan sejak tadi pula Abeen terlihat kuyu, nggak b*******h. Marvel merasa iba melihatnya. Dia udah tahu akan keputusan adiknya itu. Cukup kaget Marvel dengernya. Tapi Marvel pun nggak bisa omong banyak, toh yang ngejalaninnya mereka.
"Been, fighting oke? Kalo lo merasa berat, lepasin aja semua. Gue nggak pa-pa. Siapa tahu lo merasa nggak nyaman,"kata Marvel.
"Nggak apa, gue milih tetap di sini Bang. Gue milih jalani sakit ini bareng-bareng sama Maria," balas Abeen.
"Nggak usah, Been. Mending lo lupain Maria. Jangan kepala batu!" seloroh Marvel yang diamini Abeen dengan cengiran mirisnya.
"Kenapa, Bang? Lo setuju sama alasan nggak masuk akalnya itu? Sia-sia kayaknya cinta gue sama adek lo," pancing cowok pendek itu.
"Gue bilang gini, karena gue nggak mau sahabat gue lebih terpuruk. Lagian ini salah satu amanat Maria juga, jadi nggak ada salahnya."
Satu-satunya yang harusnya mendukung hubungannya dengan Maria, malah kandas.
"Yang ada gue makin terpuruk dan tersesat, juga terjebak dalam dilema antara Nyak dan Maria. Nyak terus aja nyuruh gue ngelamar Sari. Muak tahu nggak?" curhatnya.
"Apapun pilihan orangtua itu biasanya yang terbaik, Been," sahut Marvel.
"Nggak selalu. Hei, lo malah dukung gue nikahin Sari bukannya Maria?"" Abeen berkacak pinggang.
Marvel terkekeh, lucu sekali melihat sahabatnya itu saat kaget. Mata sipitnya berusaha membola, kesannya jadi lucu.
"Kalo ntar emang lo jodohnya sama Sari, mau gimana?"
"Doa loh itu, Bang. Nggak mau banget gue jadi ipar lo," sungutnya.
"Nggak usah dipikirin, Been. Mau Sari kek, Maria kek. Gue tetep bahagia buat lo," ucapnya tulus.
Abeen tersenyum, asem sih.
"Semaumu-lah, Bang."
"Bang, selamat datang kembali ke Cafe Gadis! Semoga kita bisa lanjutin kerjasama ini," ucap Ayen yang tiba-tiba datang.
"Oh iya, senang mengenal kalian..."
"Bang gue ke belakang dulu ya?" pamit Abeen.
Ke belakang itu maksudnya Abeen mau rebahan dulu di lantai atas, soalnya ada kamar kecil di situ. Abeen naik dengan lesu dan pikiran yang berkecamuk.
Terbiasa tidur dalam keadaan shirtless, Abeen mulai melepas t-shirt nya.
"Eh, ada orang. Maaf, Bang."
Felix berniat menutup kembali pintunya.
"Nggak pa-pa. Lo mau ganti baju atau apa?" tanya Abeen.
"Aku mau ambil tasku, yang itu."
"Ohh..."
Felix pun masuk. Abeen sih cuek aja. Dia lalu rebahan, karena sumpah dia merasa lelah banget. Perlahan dia mulai mejamin matanya. Rasa sejuk dari AC membuatnya cepat terlelap.
Felix tertegun, menatap Abeen yang tidur tanpa aturan, terlentang begitu aja tanpa atasan. Enam kotak roti sobek yang kebentuk menggoda Felix menyentuhnya. Lama Felix mandangi cowok yang tengah pulas bertelanjang d**a itu. Sudut bibirnya terangkat begitu menatap bibir Abeen yang dirasanya begitu menarik. Kuncup. Mungil.
Felix mendekat. Perlahan tapi pasti. Matanya berbinar. Dia seneng. Abeen, si Waria yang sempat dikenalnya dulu. Yang udah berbaik hati ngasih nasi bungkus waktu itu. Sayang, Abeen lupa padanya.
"Semakin cantik," pujinya setengah berbisik.
Dewa batinnya melirih, memuja cowok di depannya. Felix makin deket, deket dan deket. Dikecupnya bibir mungil itu.
Nyuri ciuman nggak pa-pa kan?
Tapi nyatanya Felix mulai serakah. Dia pengen lebih. Dari kecupan biasa, dia mulai mencecap dan melumat.
Gotcha!
Felix seneng banget Abeen membalas ciumannya. Hingga ciuman Felix makin menuntut.
"b*****t! Ngapain lo?! Mau perkosa gue?!"
Felix terhenyak kaget karena Abeen mendorongnya hingga terjerembab. Keduanya terengah dengan wajah memerah. Abeen berasa kecolongan, dia bermimpi m***m memang, tapi sama Maria bukan sama bocah berambut blonde ini. Abeen menyumpah dalam hati. Nggak lagi-lagi dia bakal tidur siang. Tolong ingatkan dia.
"M-maaf," cicit Felix.
"Lo suka sejenis?" Abeen beringsut menjauh.
Felix lihat mimik jijik dari raut cowok bermata sipit itu saat ia menyeka bibirnya yang basah. Felix ngerasa sakit hati. Apa semenjijikan itu?, pikirnya.
Abeen pake lagi kaosnya dan menenteng jaketnya lalu keluar. Namun sebelumnya,
"Gue bakal tutup mulut. Tapi kalo lo coba-coba jamah gue lagi, nggak cuma gue depak dari cafe atau grup band, yang ada nama baik lo gue ancurin. Paham?"
Felix diam. Kedua tangannya mengepal kuat.
"Lo nggak tahu apa-apa Bang," gumamnya.
Abeen turun dengan rasa dongkol dan sesak. Nggak nyangka sama sekali bocah seber-talenta macam Felix belok kayak gitu.
"Apa tadi gue keterlaluan ya? Ah, bodo!"
"Itu muka pengen ditabok ya? Masya Alloh sekali sih, Been." Han menunjuk tepat di muka cowok mata sipit yang baru turun itu.
"Bete gue. Han, kalo Marvel nyariin, bilang gue keluar dulu."
Abeen nyambar kunci motornya dengan muka tetap ditekuk. Han menggelengkan kepalanya, seolah paham akan pasang-surutnya emosi sahabatnya itu. Udah kayak cewek PMS, uring-uringan mulu.
"Iye! Tapi ntar lo balik lagi kan? Soalnya ntar ada briefing. Woy! k*****t!" Han sampai mau mengejar Abeen yang cuek berlalu begitu saja.
"Sialan lo! Patah hati sih patah hati aja, nggak usah bawa-bawa emosi 'napa?" dengusnya masih kesal.
"Nah, lo lagi kenapa Tong?" serobotnya begitu liat Felix turun juga dari kamar atas.
"Nggak pa-pa, Bang."
"Eh, lo berantem sama si Abeen? Dia ngapain lo, bilang gue."
Felix menggeleng,"Nggak. Tadi gue pikir di sana nggak ada orang. Jadi tadi kita rebutan tempat tidur gitu,"
"Halah, kirain apaan. Ya udah, jangan dulu balik ntar ada briefing. "
"Ya Bang," sahut Felix sambil ngeloyor ke depan.
"Ada something nih," Han mengusap-usap dagunya.
Baru aja Abeen menstater motornya, sosok itu udah datang nyamperin. Abeen terpaksa matiin motornya. Dia masih nangkring di atas motor lengkap sama helmnya.
"Apa?"
"Maafin gue ya Bang? Gue..."
"Been..."
Keduanya nengok, Abeen mendengkus. Felix bisa lihat kalo Abeen nggak suka akan kedatangan cewek itu.
"Ada apa? Nyak kenapa lagi?" todong Abeen.
Sari menggeleng,"Nggak. Aku cuma pengen ngomong,"
"Ya ngomong aja."
Sari mendesah, diremasnya ujung kerudungnya. Abeen makin gusar dan Felix ngerasain itu. Felix mendekat, berbekal asumsinya dia nekad mengecup pipi Abeen.
Abeen dan Sari terbelalak. Felix tersenyum, pipinya memerah.
"Pulang aja dulu, istirahat. Biar gue bilang sama Bang Han kalo lo absen briefing. Ya?" cetus Felix.
Drama queen...
Abeen cuma ngangguk. Pikirannya udah sesek, nggak lagi mau debat. Bodo amat!
"Tempat ini nggak baik buat kamu. Mana udah malem lagi. Ya udah, aku antar pulang." Abeen kembali menstater motornya.
Sari manut walau ia masih terkejut dengan aksi cowok berambut blonde di depannya barusan. Dia mengambil helm satunya lagi. Lalu naik ke boncengan tanpa memegang Abeen.
Sepanjang jalan mereka diam. Sari udah nggak tahan tapi Abeen jenis spesies yang kuat nggak ngomong alias bisu dadakan kalo emang nggak mau.
"Been,"
"Nanti aja ngomongnya. Lagi di jalan," serunya.
Sari ngangguk. Dia tahu Abeen nggak setuju perjodohan ini. Dia juga tahu hati Abeen cuma milik Maria. Tapi boleh dong dia egois, mempertahankan perjodohannya, cintanya sama cowok pendek dengan mata sipit itu? Lagian nanti Abeen pasti luluh juga, apalagi dengan dukungan dari Nyak Romlah yang sayang banget sama dirinya.
Lalu sekarang ada apa? Nggak mungkin cowok yang cinta mati sama Maria ini tiba-tiba jadi belok? Tapi dengan liat adegan tadi, bikin Sari berpikir ulang.
Sedahsyat itu pengaruh Maria? Abeen lebih milih belok daripada ngelamar aku?
Abeen berhenti di sebuah kedai jus.
"Aku haus, kamu mau minum nggak?"
Sari ngangguk, dia pikir ini satu langkah besar, Abeen mau berinteraksi menawarinya minum. Biasanya jutek.
"Bikin strawberry satu, kamu mau apa?"
"Samain aja."
"Strawberry satu, terong belanda satu."
Abeen sengaja nggak mau sama.
"Kamu bukannya nggak suka strawberry ya, Been?"
"Maria yang suka," sahutnya ketus
Sebenarnya dia nggak mau jutek-jutek gini, apalagi sama cewek. Tapi apa daya, dia lagi kesal, dan dia nggak suka sama Sari. Dia pikir cewek ini licik. Pinter manfaatin keadaan diri dan Nyaknya.
"Kamu mau ngomongin apa? Jauh-jauh ke cafe, mestinya penting kan?"
"Been, Ayah--"
"Sar, sering aku bilang, hati aku belum bisa nerima. Bisa nggak maksa aku? Aku nggak mau nyakitin kamu, tapi kalo gini caranya, aku bisa khilaf ngasarin kamu. Dan itu pasti bikin Nyak murka, jadi anak durhaka gue! Puas lo?"
"Gimana lagi, kita kan dijodohin Been. Terus, bukannya kamu udah janji sama Nyak?"
Abeen mendengkus kasar, hilang kata. Muka tembok bener nih cewek. Gue kasarin malah kesenangan dia!
"Aku denger kamu jarang pulang," cicitnya.
"Aku sibuk di Cafe, rencana ngejar S2, bikin makalah, nugas. Lagian, kita belum nikah. Kamu bukan istri aku, kalo aku jarang pulang emang apa urusannya?"
"Tapi jangan hukum Nyak kayak gini, Been."
"Sifat kami sama, sama-sama keras kepala. Jadi nggak akan mungkin ada yang ngalah. Ya caranya kayak gini," tukas Abeen keberatan Sari ikut campur.
Obrolan mereka terjeda karena si mbak kedai memberikan pesanan mereka.
"Nggak bisakah kita kayak dulu? Kayak sebelum kamu kenal Maria?" Sari menatap cowok di depannya lekat.
Abeen mengerjap lalu memalingkan mukanya. Rahangnya mengatup keras.
"Kita jalani aja kayak gini. Ini yang kamu mau kan?"
Sari menggeleng,"Nggak. Bukan gini, Been. Aku pengen kamu yang dulu, yang hangat, ceria, nyenengin, nggak nyebelin kayak sekarang."
"Andai kamu dan Nyak nggak maksa, aku nggak akan kayak gini Sar. Lagian dari dulu pun aku nganggap kamu sebagai teman, nggak lebih." Dia menyeruput jus strawberrynya.
"Kita main jujur-jujuran aja. Aku tahu kamu manfaatin keadaan Nyak dan kekeruhan yang terjadi antara Nyak dan Maria. Aku juga tahu kamu suka ngomporin Nyak soal Maria yang beginilah, yang begitulah. Lagian, aku kenal Maria udah lama dari yang kamu kira. Nyak juga kenal Maria udah lama," terang Abeen.
Sari diam. Apa yang dipaparkan Abeen benar adanya. Semua itu adalah usahanya mempertahankan Abeen untuk tetap di sisinya. Salahkah itu?
•
Felix mandang langit-langit kamar di kosannya. Mengingat kejadian gila tadi. Ternyata dia yang kata orang pemalu ini bisa nekad kalo akal sehatnya terampit rasa suka, kagum dan sayang berlebihan. Bibirnya melengkungkan senyum yang nggak ada abisnya dari tadi.
"Ternyata namanya cowok banget, Zabidin. Heh, nggak nyambung panggilannya malah Abeen. Nggak sangka gue ketemu dia lagi. Waria baik hati yang ngasih gue nasi bungkus ... padahal dianya sendiri laper," monolognya.
"Tapi cewek tadi siapa ya? Abeen keliatan nggak suka gitu. Beda kalo lagi bahas Maria..." jemarinya ngelus dagunya yang runcing.
"Saingan gue cuma Maria. Ck, tapi sampe detik ini gue belum ketemu sama bentukannya tuh cewek," imbuhnya lagi.
••
tbc