••
Maria berulang kali hembus nafasnya. Berulang kali pula natap wallpaper ponselnya. Fotonya bersama Abeen. Dia akan selalu kayak gitu kalo kantuk belum mulai menyerang. Setahun ini dia mengidap insomnia. Dia baru tadi sore denger kabar dari Nora dan Rino, kalo Abeen akan ngelanjutin S2-nya. Padahal mereka baru menjelang wisuda. Maria ikut senang. Bersyukur Abeen-nya nggak melulu terpatok pada dirinya.
Bibirnya menipis. Lalu mengangguk. Sekali lagi airmatanya merembes nggak tahu diri. Maria kembali terisak. Ngebenamin wajahnya di atas bantal. Mengusak pedih yang dirasanya makin hari makin ngebelit hatinya. Sakit.
"Been..." lirihnya. "Kangen..."
Sejurus kemudian lamunannya mengelana ke beberapa waktu lalu.
Saat itu kebetulan Anna, Mama Maria, ada di rumah. Bertepatan datangnya surat dari pengadilan yang disampaikan pengacara keluarga Lubis.
"Apa ini? Maksudnya, orang itu menggugat kembali? Kok bisa?" cecar Anna.
"Ada apa Ma?" tanya Marvel.
"Ini loh, kok pihak keluarga anaknya yang pernah ketabrak Maria menggugat lagi? Kan sesuai surat perjanjian waktu itu...."
"Ya udah Ma, biar ini Marvel sama Om Prima yang urus ya? Mama nggak usah banyak pikiran," sela Marvel cepat.
Dahinya ia lihat berkerut heran dengan perlakuan Nyak Romlah ini seudah Marvel baca surat tersebut. Ingin bertanya lebih jauh sama Abeen kayaknya sahabatnya itu pun nggak tahu apa-apa. Karena kalo sampai tahu, Abeen pasti udah datang ngelabrak.
"Bang, ini seriusan Nyak Romlah?" tanya Maria.
"Iya,"
Maria nggak habis pikir tapi ia pun nggak serta merta nyalahin Nyak Romlah dengan gugatannya. Mau gimana lagi? Mungkin ini caranya dia dan Abeen harus berpisah. Tapi apa Maria akan sanggup?
Ternyata setidak suka itu Nyak Romlah pada dirinya. Maria memeluk dirinya sendiri. Netranya menatap bingkai jendela, yang saat itu kacanya memburam karena uap embun dari dinginnya guyuran air hujan diluar sana.
"Dek," Marvel mengusak rambut adiknya.
Maria menoleh, tersenyum miris, menyedihkan. Tangan Marvel mengulur di bahu sang adik. Lalu kepala Maria menyandar nyaman di sana.
"Nyak se-nggak suka itu sama gue ya, Bang?" lirihnya terdengar pilu.
"Sssttt... Dah, jangan sedih. Lo masih ada gue. Gue yakin Abeen kalo tahu pasti mencak-mencak nih!"
Kalimat Marvel membuat Maria mendongak mastiin kalo hal itu nggak akan terjadi.
"Jangan sampe, Bang. Gue bakal merasa bersalah banget. Gue nggak mau Abeen sama Nyak saling benci. Nggak lucu amat anak sama Nyaknya gontok-gontokan, bukan jamannya lagi." Maria ngeratin cekalan tangannya di lengan Marvel.
"Tapi ini juga udah kelewatan, Ya. Nggak bener ini kalo Nyak Romlah sampai gugat ulang," bantah Marvel sewot.
"Gue nggak apa-apa,"
"Hei, ini masih bisa di atasi Ya. Gue bakal urus semua sama Om Prima. Tenang aja," Marvel mengusap bahu Maria.
"Lebih baik gue pergi. Gue nggak mau jadi alasan Abeen durhaka sama Nyak,"
"Ya?"
Ponselnya berdering, menginterupsi sisa lamunannya. Sengaja nggak diangkat. Cuma dua kali. Lalu setelahnya terdengar notifikasi pesan, Maria baru membalas chatt dari Marvel. Ada senyum tipis di bibirnya.
Abang sayang
|Dia masih aja sedih, Dek. Apa nggak keterlaluan lo ninggalin dia kek gini?
Maria menggeleng.
Abang sayang
|Malem ini harusnya briefing. Dia nggak ikut. Selama Abang titipin cafe, Han bilang Abeen sangat kompeten, bener-bener kek owner cafe. Dasar tuh ikan pesut!
Maria tersenyum. Abeen-nya memang se-bertanggung-jawab itu. Makanya ia yakin Abeen pasti mengikuti apa mau Maria. Abeen pasti mau nikahin Sari kayak pinta Nyak Romlah pada dirinya.
Abang sayang
|Dek, Abang harus gimana?
Adek
|Abang nggak usah ngapa-ngapain
Abang sayang
|Kapan ke cafe?
Adek
|Pas lagi nggak ada Abeen
Setelah itu Maria matiin ponselnya. Dia nggak mau diganggu. Dia pengen nangis. Dia pengen sendiri. Dia lagi kangen. Kangennya nggak bisa dibendung. Akhirnya bikin kesel dan insomnianya makin parah. Dia sengaja ambil cuti kuliah. Saat ini yang ia butuhkan adalah healing.
"Pengen tidur, Been... Capek," isaknya lagi.
Perlahan ia beringsut ke arah jendela. Membukanya, menghirup udara malam yang untuk sebagian orang sangat dingin. Tapi nggak buat Maria. Menatapi gang kecil dan benteng berundak itu. Jaraknya nggak seberapa untuk kesana. Tapi rasanya kayak bermil-mil jauhnya.
"Oh, jauh sekali rumahmu
Kangen, rindu...
Semua ada, selalu ada
Untukmu kekasih..
Kuingin menikmati sepenggal malam ini
Ku tak tau adakah dayaku...
Seandainya... Aku bisa terbang
Kan kujelang engkau kekasih...
Seandainya...aku bisa terbang
Kan kugapai engkau kekasih dan kupeluk engkau sungguh
Untuk selamanya..."
(source : Kahitna - Andai aku bisa terbang)
Maria menggumam, melantunkan kangennya. Berharap si penerima rindu mendengarnya, merasakannya.
Tanpa ia tahu, dari kejauhan, dari balik pohon mangga berbatas benteng, Abeen menikmati kangen yang di embuskan padanya. Sebersit senyum mampir di bibirnya.
"Aku juga kangen, Ya..."
•
Abeen udah hampir setengah jalan menuju kampus saat ban motornya gembos. Mana hari ini dia ngikutin kuliahnya dosen Irfan, yang menurut temen-temennya dosen itu juteknya lebih dari juteknya dosen cewek. Dia males aja kalo harus berurusan lama-lama sama sang dosen.
Dia nggak tahu lagi harus gimana. Ninggalin motornya di bengkel, sama aja cari mati. Nungguin di bengkel, nilainya terancam. Abeen duduk dengan gelisah. Sebentar-sebentar melirik jam tangannya.
"Bang, kenapa motornya?"
Abeen kaget. Seorang cowok dengan rambut pirang menghampirinya. Felix. Matanya menyipit, menandakan waspada. Dia nggak mau kecolongan kayak waktu itu.
"Nggak segitunya juga kali, Bang. Takut banget gue grepe," cetusnya sambil ikut duduk di bangku yang sama.
Abeen menggeser duduknya. Felix terkikik.
"Bang Abeen lucu."
Abeen melotot,"Jangan sampe lo macem-macem di sini. Gue tereakin lo homreng, abis."
Felix terkikik lagi,"Jahat banget sih lo Bang sampe ada pikiran kayak gitu. Udah, tuh motor gue pake. Bukannya mau kuliah ya? Biar motor lo gue jagain deh,"
Abeen diem mandangin motor Felix.
"Nih kuncinya lengkap sama STNK," Felix mengulurkan kunci motornya.
Pandangannya beralih pada kunci yang disodorkan Felix di depan wajahnya.
"Cepetan, keburu telat." Felix agak mendorong tubuh Abeen.
Akhirnya tanpa kata Abeen menerima kunci itu lalu menyambar helmnya.
"Bang! Ntar ketemuan aja di cafe. Oke?"
"Yo! Gue ganti ntar bensinnya."
Abeen cepat memacu motor Felix menuju kampus. Dia tahu Felix anak baik, sayang aja punya kebiasaan nyimpang. Abeen mendengkus. Tapi itu bukan urusannya, bukan? Selama Felix nggak berniat mengganggunya. Dan nggak keterlaluan.
"Yes! Gotcha!"
Felix mengangkat sebelah tangannya yang mengepal, dengan senyum penuh kemenangan.
"Sebentar lagi Bang lo pasti jadi milik gue," gumam Felix.
Sedang Abeen sudah sampai dengan selamat sentosa di kampus tercinta. Dia bergegas setengah lari menuju ruang Pak Dosen. Dia nggak mau kena damprat yang berimbas ke tugasnya nanti. Apalagi tugas personalnya juga masih banyak.
Dosen Irfan benar saja baru masuk ruangannya ketika Abeen juga baru mendaratkan bokongnya di bangku.
"Selamat siang, class..."
Abeen bersyukur dalam hati sepanjang kuliahnya tadi, dosen itu nggak seceriwis dan segalak biasanya. Itu komentar teman-teman sekelasnya.
Beres kelas dia harus cepat ke cafe dan balikin motor Felix. Tapi di lorong kelas, di perempatan jalan menuju gedung fakultas lain, matanya menangkap sosok yang amat dikenalnya.
"Maria..." gumamnya.
Saat bibirnya akan menyeru nama gadis itu, lidahnya mendadak kelu demi melihat adegan yang membuat jantungnya teremas kuat, sakit. Maria cipika-cipiki dengan seseorang, cowok. Dan, hei!
Bukankah itu Pak Irfan?!
Mata sipit Abeen tiba-tiba membulat. Adegan itu direkamnya jelas di ingatannya. Maria menggelayutkan tangannya di lengan Irfan. Berjalan menjauh dengan wajah semringah. Abeen terus mengikuti pergerakan keduanya dengan penasaran. Sesekali tangan Irfan dilihatnya mengusak kepala Maria. Hal itu bikin hati Abeen sesak dan rahangnya makin mengetat.
Sungguhkah ini? Maria beneran pengen kita udahan? Inikah alasan sebenarnya?
"Sialan!"
Abeen menghentakkan kakinya lalu putar balik menuju arah jalan pintas menuju parkiran. Dia nggak mau bikin hatinya sakit lebih lama karena liat adegan mesra.
Akhirnya cuma sampe sini ya, Ya...
Abeen menatap jalan yang udah dilaluinya barusan. Jalan yang beri dia ingatan sesak. Abis ini kayaknya dia bakal minta ganti kelas ke TU. Mending ikut kelasnya Bu dosen tercerewet di kampusnya ini. Abeen menggaungkan suara knalpotnya. Dan berlalu...
•
Saat pentas Abeen nggak konsentrasi banget. Banyak part dan chorus yang ia lewatkan. Hingga Marvel yang ngambil alih partnya.
Usai pentas, Abeen langsung naik ke ruangannya. Ternyata Marvel menyusul.
BRAKKK!
"Lo kenapa? Bilang kalo lo nggak becus! Malu-maluin, tahu nggak?!" hardik Marvel tiba-tiba.
"Bisa lo diem Bang?" Abeen mengusap wajahnya kasar.
"Cih! Kenapa, hah?! Cemen banget sih lo jadi cowok? Apa-apa dipikirin, dipendam sendiri. Ngomong Been, kalo udah nggak sanggup bilang! Bukan kayak gini. t*i!"
Sekali hentak Abeen ngedorong Marvel sampai tembok.
"Gue gini gegara adek lo! For your info," dengus Abeen sambil ngedeketin wajahnya.
Marvel mengerling. Sahabatnya ini emang bucin abis, ternyata. Di satu sisi Marvel seneng, sahabatnya selama ditinggal Maria, nggak pernah macem-macem. Walau banyak juga yang ngode keras pengen jadi pacar Abeen. Tapi ia pun sebagai owner cafe dan leader dari grup bandnya, nggak bisa segampang itu meloloskan kesalahan fatal yang dibuat salah satu kru-nya itu.
"Gue nggak sangka adek lo nikam gue dari belakang. Oke, fine, kalo Maria pengen bener-bener putus dari gue dan lupain semua, gue kasih apa yang dia mau. Permisi,"
Marvel melotot.
Apa maksudnya?
Abeen turun, saat ketemu Han di tangga pun Abeen bersikap cuek. Sampai cowok bermata bening itu mengernyit nggak paham.
"Been!" Panggil Marvel.
Terlambat. Abeen udah pergi. Han natap Marvel minta penjelasan. Yang ditatap cuma menggeleng.
"Ada apaan? Kalian ribut?" tanya Han.
"Gue omeli soal pentas kita tadi, eh dia baper dan nyangkut-pautin sama Maria. Cemen banget kan? Nyalahin orang seenak jidat!" sahut Marvel.
"Bang, ini kayaknya ada hubungannya sama kejadian tadi sore. Pulang kuliah," sela Jae tiba-tiba nongol di situ.
"Gue nggak pernah liat dia se-sengak itu," imbuh Han.
"Ya itu dia. Dia liat Maria sama dosennya di kampus," ujar Jae.
"Gue panggilin, nggak denger dia, kayak marah gitu."
"Tar, liat Maria? Adek gue nggak bilang mau ke kampus sih," Marvel menggaruk tengkuknya.
Diambil ponselnya lalu nelpon Maria.
"Dek, lo siang ini ke kampus?"
"...."
Mata Marvel menyipit,"Abeen kayaknya liat lo."
"...."
Sambungan pun diputus sepihak.
"Hallo? Dek! Dek!"
"Aish!" Marvel ninju udara, kesal.
"Gimana?" Han mandang Marvel kuatir.
"Kayaknya masalahnya jadi panjang. Maria pasti nyamperin Abeen,"
"Kita susul yok," ajak Han.
"Iya kalo dia pulang ke rumah? Selama ini dia tidur di sini kelesss, atau di kosannya Awang."
Han mukul jidatnya sendiri. Dia pun hubungi Awang secepat kilat.
"Wang, ntar kalo Abeen kesitu, kasih tau gue, demi apa pun! Ok?"
Kini mereka cuma nunggu kabar dari Maria atau Awang. Berharap dua mantan sejoli itu sanggup nuntasin salah paham ini.
"Been, Been ... kadar bucin lo nggak robah. Lo salah kalo ngira Maria jalan sama Irfan," Marvel geleng-geleng kepala.
••
tbc