“Raka.” Raka menoleh saat suara yang ia kenal terdengar memanggil. Raka bangkit, dan langsung mencium takzim Bude Arni. Tidak menyangka bisa bertemu di tempat makan ini, pikir Raka. “Bude gabung sini,” ujar Luna. “Boleh, Bude juga lagi nggak ada urusan.” Bude Arni duduk di samping Raka. Sejenak Raka terdiam, jujur saja ia tidak begitu suka berlama-lama bersama sang Bude karena pasti nanti akan membahas masalah sang ayah, sudah pasti sekali. Walaupun keberatan, Raka harus tetap bersikap ramah. Bagaimanapun Budenya adalah orang tua. “Kamu sama Mama sehat, Ka?” tanya wanita yang sudah terlihat menua itu. “Sehat, Bude.” Sejenak mereka terdiam dalam pikiran masing-masing. Setelah itu, Luna lebih dahulu pamit karena jam makan siangnya sudah hampir habis. Raka sedikit kecewa karena asik s

