Bagaimana juga dia memang Papaku. Benar kata Mama, tidak ada bekas anak. Aku benci dalam posisi seperti ini. Membuat aku harus memutuskan bagaimana harus bersikap. “Argh!” Berteriak pun tidak akan bisa membuat semua kembali. Gemuruh dalam d**a membuat kembali diri ini sesak. Untuk apa dia datang lagi? Seperti luka yang sudah kering, kini menganga kembali. s**l, hidupku mengapa harus seperti ini. “Kamu kenapa, Ka?” tanya Mama menghampiri aku di kamar. “Raka tidak apa-apa. Hanya saja banyak yang membuat hati mengganjal. Untuk apa mereka kembali mengganggu aku?” “Siapa? Papamu?” tanya Mama. “Iya.” “Ka, dia hanya ingin berdamai dengan kamu. Maaf dari kamu sangat berharga baginya. Ia sudah mendapatkan balasan atas kesalahannya. Lumpuh permanen.” Aku bukan Mama yang mudah memberikan maaf

