Kata-kata Marco masih terngiang di kepalaku. Aku sama sekali tidak berniat merebut hati Angel. Apalagi menjadi pebinor. Tidak akan pernah. Reuni tadi sangat berkesan. Saat wajah cantik itu terlihat begitu bahagia bersama sang suami, aku hanya bisa menatap dengan luka. Kalau saja aku tidak datang, mungkin rasa ini tidak akan ada. Suntuk memang rasanya. Aku ke luar kamar untuk mencari angin. Luna menatap layar TV dengan serius. Tumben sekali dia sudah pulang kerja. Tidak seperti biasa, suka minta jemput malam hari. “Ka, mau ke mana?” tanya Luna. “Cari angin.” “Angin dicari. Istri cari kenapa. Jomblo nggak enak tahu,” ejek Luna. Aku tersenyum mendengar perkataan adik tiriku. Menggurui orang bisa, dia sendiri saja tidak memiliki pacar. Dasar labil. “Melati mana?” Tiba-tiba saja mulut

