Es Batu Yang Mencair

1167 Kata

Malam ini udara begitu panas, aku beranjak duduk di depan TV. Pukul 21.00 orang rumah sudah pada tidur. Namun, Mama ke luar dari kamarnya. Usianya kini sudah mulai menua, tetapi dia semakin cantik di mataku. Mama, dia yang menjadi semangatku untuk menjadi seperti sekarang. Pengorbanannya, dan semua yang telah kami alami selama ini. Perjalanan hidup kami yang begitu terseok-seok, sampai bertemu dengan Om Hendri. Mama bahagia dengannya, semoga saja mereka berjodoh sampai akhir nanti. “Ka, belum tidur?” Mama menyapa sambil duduk di sampingku. “Belum, lagi kegerahan.” “Emang AC enggak nyala?” Aku tersenyum kecil, benar kata Mama, AC bisa menyegarkan. Kali ini bukan tubuh yang panas, tapi perasaan terasa gundah. Memikirkan undangan Papa untuk makan malam. “Enggak usah bohong, kenapa? C

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN