Ranjang itu nampak bergerak seiring bergeraknya insan yang tengah menidurinya. Membuka matanya cepat, April tak dapat terlelap dengan tenang dalam tidurnya. Mengambil langkah pasti, gadis itu beranjak dari ranjang. Mengayunkan kakinya cepat, April berjalan terburu menuju pintu kamar yang telah tertutup rapat. Ia harus pergi dari sana, bagaimanapun caranya!
Namanya Aprillia Dwipangga. Seorang gadis cantik yang telah genap berumur delapan belas tahun. Dan di umur itu juga, ia harus di hadapkan kepada sebuah kenyataan yang membuatnya terkurung dalam belenggu seorang pria yang terobsesi kepadanya.
Bibir tipisnya menyunggingkan sebuah senyuman, ketika mendapatkan bahwa suasana rumah tersebut tengah dalam keadaan sepi. Itu berarti rencananya untuk kabur dari rumah ini dapat terealisasikan. Langkahnya semakin pasti untuk berpijak, hingga ia berhenti tepat di depan pintu utama kediaman Northman. Satu langkah lagi, dan April akan bebas!
‘DORRR'
Sebuah tembakan meluncur dengan sempurna, mendarat tepat di samping kepalanya. Mengenai daun pintu berukir yang berada tepat di depannya. Tembakan itu meluncur tepat ketika tangan April hendak meraih gagang pintu tersebut.
"Kyaaa!"
April berteriak dengan begitu kencangnya, menyuarakan rasa terkejut yang baru saja ia terima. Dan sedetik kemudian lampu utama rumah tersebut menyala dengan begitu terang. Bahkan sepasang sandal yang tadi ia jinjing pun ikut terjatuh dengan sempurna.
Meneguk salivanya kaku, mata April menatap horror ke arah lubang di mana tempat peluru itu bersarang. Meleset sedikit saja, mungkin peluru tersebut akan menembus kepalanya dengan apik.
"You can't run away from me, Baby!"
Suara itu terdengar begitu rendah dan mencengkam. Membuat April berdiri kaku ditempatnya.
Pria itu mendekat, semakin dekat, hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa centi saja. April dapat merasakan deruan napas yang memburu berasal dari pria di depannya, menandakan jika ia tengah menahan sebuah emosi yang begitu mendalam. Sebuah usapan lembut mendarat pada pipi kanan April, dan ia dapat merasakannya, sebuah tangan besar, dan juga dingin.
"Mencoba kabur dariku Baby?" Nada itu terdengar begitu rendah dan dalam. April tahu, sangat tahu, bahwa kini pria di depannya tengah menahan sebuah kemarahan, dan itu karena dirinya. "Kamu tahu kan, bahwa aku tidak suka sebuah bantahan. Dan kamu telah membantahku saat ini. Kau, mencoba lari dariku!"
Tubuh April berjingkat kaget sekaligus takut ketika mendengar suara bentakan sekaligus geraman dari sosok pria di depannya. Ia seperti singa yang tengah kelaparan dan siap untuk menerkam mangsanya kapan saja. April takut, bahkan untuk menelan salivanya saja ia merasa kesusahan.
"Apa kau takut?"
Tubuh pria itu semakin mendekat hingga tidak tersisa jarak di antara mereka. April semakin memejamkan matanya ketika tangan besar itu beranjak merambat menuju tengkuknya, mengusapnya perlahan lalu sedikit mencengkeramnya kasar. Mendongakkan kepala April hingga gadis itu menatap ke arahnya. April sudah tidak tahan untuk menahan air matanya yang kini tengah membendung di pelupuk matanya. Lalu setelahnya, bersama dengan menetesnya air mata itu, sebuah isakan meluncur dari bibir tipis April.
Mendengar hal tersebut, pemilik tangan besar itu melepaskan cengkeramannya dari tengkuk April, lalu bergerak untuk mengusap pipi putih milik April yang basah akibat lelehan air mata gadis itu sendiri.
"Jangan menangis, aku tidak suka melihatnya," bisiknya dengan begitu pelan, tepat di sebelah telinga April, membuat bulu roma gadis itu meremang seketika.
"Apa kau takut Baby?" tanyanya dengan suara yang masih rendah. Dan tanpa sadar, April menganggukkan kepalanya pelan. "Jangan takut Baby, aku tidak akan menyakitimu." Bisiknya dengan amat pelan, "selama kau menuruti ucapanku, hem?" Lanjutnya dengan suara mengancam.
Dengan pelan April menggelengkan kepalanya, bibir tipis itu mulai terisak pelan, namun ia mencoba menahannya dengan menggigit bibir bawahnya hingga memerah.
Tangan besar itu kembali berpindah, dan kini bergantian untuk mengusap dagu milik April secara perlahan. Lalu setelahnya, menyentuh bibir tipis yang telah memerah bahkan hampir berdarah itu secara seduktif. "Jangan gigit bibirmu Baby, aku tidak suka."
Dahi pria itu nampak berkerut sebentar, memiringkan sedikit kepalanya untuk mengamati hal di depannya. "Kau menodainya Baby." Kepala pria itu mendekat, secara perlahan, hingga bibir mereka hampir saja bersentuhan. "Bukan kamu, tapi aku. Aku yang seharusnya menggigit bibir manis ini."
Isak tangis April semakin menjadi ketika ia merasakan sebuah kecupan seringan kapas menyentuh permukaan bibirnya yang terdapat perih.
"Cup cup cup, jangan menangis." Pria itu menepuk pipi April secara perlahan, sedikit menggoda gadis didepannya.
“Hiks" April semakin terisak, air matanya semakin banyak menetes. "Aku mohon Dedrick, jangan sakiti aku..."
Kepala pria yang dipanggil Dedrick itu menggeleng perlahan, sorot matanya menatap iba ke arah April yang nampak tak berdaya. "Tidak Baby, aku tidak menyakitimu. Bagaimana mungkin aku menyakiti orang yang aku cintai?"
“Ka-kau, menakuti ku. Bah-kan peluru itu, hampir membunuhku!" April terisak pelan, suaranya terdengar tak beraturan dan sedikit tercekat secara bersamaan. Dengan cepat Dedrick menarik tubuh ramping April dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Jangan ulangi lagi Baby." Nada itu terdengar tegas, namun sorot matanya menatap April dengan lembut. Hendak saja Dedrick mencium puncak kepala April, namun gadis itu lebih dulu melepaskan pelukannya.
Tidak ada lagi air mata di sana, yang terlihat hanyalah sebuah kemarahan yang terpendam. Tatapan mata tajam yang menyorotkan sebuah kebencian. Ya, April membenci pria di depannya ini.
"Aku mau pulang!" teriak April dengan lantang. Entah darimana ia mendapatkan kekuatan itu. Baru saja ia menunduk takut di depan Dedrick karena ancaman pria itu, dan kini ia telah berani berteriak dengan begitu lantang.
Mengabaikan pria itu, hendak saja April akan pergi dari sana, tapi sebuah tangan tiba-tiba saja mencekal tangannya sehingga membuat langkahnya terhenti seketika. Sorot mata April menatap ke arah seseorang yang tengah menahannya dengan pandangan membunuh. Ia tidak boleh lemah, ia tidak boleh takut terhadap Dedrick. April tidak peduli jika nanti pria itu akan menembakinya lagi.
Karena yang penting sekarang adalah, ia dapat pergi dari sana dan menghindari Dedrick.
"Lepaskan aku!" April mencoba melepaskan cekalan Dedrick, memberontak sekuat tenaga. Namun apa daya, tenaganya tidaklah sebanding dibandingkan Dedrick yang lebih besar darinya.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskan mu Baby, karena kau adalah milikku!" ucap Dedrick dengan penuh ketegasan.
Mata April kembali menatap Dedrick dengan garang, lalu bibir tipis itu menyunggingkan sebuah senyuman miring. "Jangan pernah bermimpi! Aku bukan milikmu! Aku bukan barang yang bisa kau milikki semaumu! Akh-" April meringis nyeri merasakan cengkeraman tangan yang semakin kuat mencengkram tangannya. Bahkan April merasa tangannya akan remuk saat itu juga jika Dedrick tidak melepaskannya.
"Apa yang kau lakukan Dedrick!" April menggeliat, mencoba melepaskan cengkraman itu. Namun hasilnya nihil, karena bukannya terlepas, cengkeraman itu semakin mengerat, dan tentu saja membuat pergelangan tangannya semakin terasa sakit dan meninggalkan bekas kebiruan nantinya. "Lepaskan tanganku Dedrick! Sakit~"
Dedrick tak bergeming, karena pria itu justru menatapnya dengan tatapan membunuh yang begitu tajam menusuk. Membuat tubuh April sedikit bergidik ngeri. Jika saja tadi April nampak berani membangkang ucapan Dedrick, maka kini nyalinya sedikit menciut mendapati tatapan tajam dari netra biru langit di depannya.
Kepala April menunduk, nyalinya mulai menghilang. "Aku mohon, lepaskan aku Dedrick," ucapnya dengan nada memelas, berharap Dedrick akan luluh dan mau melepaskannya. "Aku hanya ingin pulang Dedrick, tolong lepaskan aku."
Dedrick menggeleng tegas. "Kau milikku Baby, dan aku tidak akan pernah melepaskan mu. Dan juga, ini adalah rumahmu."
Kepala April menggeleng cepat, ia menatap Dedrick dengan lelehan air mata yang entah sejak kapan mulai membasahi pipinya lagi. "Tidak, ini bukan rumahku, ini rumah mu! Aku mau pulang ke rumah Papa!"
"Tidak!" bentak Dedrick tepat di depan muka April. "Kau tidak boleh kesana! Kau tidak boleh pergi kemanapun! Karena terhitung sejak hari itu, kau adalah milikku!"
Amarah Dedrick mungkin akan meledak sebentar lagi jika saja ia tidak mencoba untuk mempertahankan emosinya. Mungkin ia marah dan kecewa, tapi ia harus menahannya agar tidak menyakiti April lebih jauh lagi.
"Aku mohon Dedrick, aku hanya ingin pulang, aku merindukan orangtuaku. Aku mohon~ hiks..." April menatap Dedrick dengan pandangan memohon, berharap agar pria itu mau melepaskan dirinya dan memulangkannya ke Indonesia.
Namun, di luar dugaannya, bukannya melepaskannya, Dedrick justru membawa April ke dalam pelukan pria itu. Memeluknya erat dengan begitu erat seakan takut untuk kehilangan. Dan April, ia dapat merasakan debaran jantung yang begitu memburu berasal dari pria yang tengah memeluknya itu.
Ada apa? Apa Dedrick takut? Namun, apa yang pria itu takutkan?
"Akan aku kabulkan apapun yang kau inginkan Baby, namun jangan memintaku untuk melepaskan mu." Apapun akan Dedrick berikan untuk gadis yang ia cintai itu, bahkan jika April menginginkan nyawanya, maka Dedrick akan memberikannya. Tapi tidak untuk melepaskannya, karena gadis itu adalah miliknya.
"Apapun untukmu, akan aku lakukan Baby, namun jangan pernah tinggalkan aku. Karena aku tidak akan sanggup."
Kedua mata Dedrck menatap April dengan sendu. Telah lama ia menunggu saat di mana ia dapat berdua dan bersama dengan April. dan ketika hal itu tiba, kenapa ia harus melepaskannya begitu saja? Tidak, April adalah miliknya, dan Dedrick tidak akan pernah melepaskan gadisnya itu.
Dedrick percaya bahwa April diciptakan Tuhan untuk menjadi miliknya, untuk ia miliki, untuk ia cintai, dan untuk ia sayangi. Tuhan menciptakan April untuk berasa dekat di sisinya, bukan orang lain. Dan Dedrick tidak akan pernah melepaskan April.
Dedrick kembali membawa tubuh April ke dalam dekapannya, dan kali ini memeluknya lebih erat. "Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku Baby. Apalagi mencoba melarikan diri lagi seperti tadi. Aku tidak menyukainya, aku membencinya. Don't leave me, because you are mine Baby!"
'You are mine Baby..... '
'You are mine Baby.... '
'You are mine Baby.....'
Kalimat terakhir yang Dedrick ucapkan terus terngiang-ngiang dalam pikiran dan pendengaran April. Bulu kuduknya meremang seketika. Itu adalah kalimat mutlak yang telah Dedick ucapkan untuknya. Yang benar saja? Bahkan sekarang April merasa takut berada didekat Dedrick, karena pria itu sangat berbahaya.