"Good morning Baby," sebuah sapaan yang terdengar begitu lembut mengalun indah di telinga April ketika gadis itu membuka matanya untuk pertama kali.
Secercah cahaya matahari masuk menembus bola mata kecoklatan miliknya. Kedua mata itu mengerjap pelan, hingga matanya menangkap sebuah ciptaan Tuhan yang terpahat dengan sempura tengah duduk di sisi ranjang. Dan dengan senyum manis menatap kearahnya lembut.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanyanya dengan senyum yang masih mengembang manis. "Kau bahkan tidak bergerak seinchi pun dalam dekapanku," jelasnya seraya tersenyum simpul, atau mungkin tersenyum geli.
Semburat merah tercetak jelas pada kedua pipi April, menimbulkan sebuah polesan blush on alami di pagi hari, dan itu karena ucapan seseorang di depannya. Menelaah ucapannya barusan, memang benar jika semalam mereka tidur dengan posisi berpelukan. Dan itu adalah keinginan Dedrick, bukan dirinya. April menolaknya, tentu saja. Namun Dedrick lebih berseri keras memaksanya, bahkan sedikit mengancamnya.
Dedrick bilang, jika April tidak mau tidur dengannya malam itu, maka Dedrick akan memasang borgol pada kedua lengan April dan menghubungkan dengan kepala ranjang, membuat April terus berada pada ranjang tanpa bisa pergi kemanapun. Dan tentu saja April tidak mau jika hal itu terjadi. Maka dengan terpaksa ia menyetujui keinginan Dedrick.
Dedrick Agler Northman, pria dewasa berdarah campuran Belanda-Amerika itu mempunyai sifat yang manis, namun juga menakutkan di saat-saat tertentu. Pertamakali bertemu, Dedrick adalah pria yang humble dan April menyukai kepribadiannya itu walaupun Dedrick juga menyebalkan. Namun, di saat itu jugalah April mulai membenci Dedrick. Karena di saat pertemuan pertama mereka, Dedrick memberitahunya bahwa ia adalah pria yang berstatus sebagai suaminya. Pria yang telah memisahkannya dari kedua orang tuanya.
Pikiran April melayang ke satu minggu yang lalu. Hari dimana ia berulang tahun, genap delapan belas tahun. Dan sehari setelah hari ulang tahunnya itu, ia harus dikejutkan ketika terbangun di sebuah tempat antah berantah yang ia sendiri tidak tahu.
Lebih terkejut? Tentu saja, ketika seorang pelayan di rumah itu memberitahunya bahwa ia tengah berada di Manhattan, sebuah kota yang tidak pernah tidur yang berada di daratan Amerika Serikat. Dan sebuah kenyataan bahwa ia telah menikah semakin membuatnya kaget bukan kepalang. Dan kini, pria yang berada di depannya lah yang merupakan suami sahnya. April tidak ingin mengakuinya, karena ia sendiri pun tidak tahu kapan pria itu menikahinya. Namun, dokumen pernikahan itu membuktikan segalanya.
"Baby, kenapa hanya diam saja? Apa kamu sakit?" sebuah suara yang terdengar begitu lembut membangunkan April dari lamunan panjangnya.
Ditatapnya bola mata berwarna biru langit tersebut, tersirat sebuah kasih sayang yang amat begitu mendalam. Namun, tidak! April tidak boleh luluh begitu saja, karena bagaimanpun juga, pria di depannya inilah yang membuatnya terjebak dan berada jauh dari kedua orang tuanya.
"Aku," April nampak berpikir pelan, pikirannya berkecamuk, haruskah ia mengatakannya sekarang? Tapi, bagaimana jika pria di depannya ini murka lagi terhadapnya? Namun jika tidak, kapan lagi ia akan bersuara?
"Boleh aku meminta sesuatu?"
Dengan senyuman, Dedrick menganggukkan kepalanya, ayolah kapan lagi April meminta sesuatu padanya? Tidak pernah, sejak saat itu. "Katakana saja Baby, tidak perlu canggung seperti itu."
Tangan Dedrick bergerak untuk mengusap rambut April, merapikan beberapa helai rambut yang sedikit berantakan, kemudian menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu. Lihatlah, April nampak begitu menggemaskan dengan wajah bangun tidurnya. Membuat Dedrick ingin mengecupnya mesra. Namun ia mengurungkan hal itu, takut jika April akan kembali marah padanya.
"Aku ingin pulang Dedrick."
Raut wajah itu nampak berubah seketika. Wajah yang tadinya nampak begitu bahagia dan berseri-seri kini terlihat muram. Rahang kokohnya nampak mengeras menahan sebuah amarah.
"Kenapa kau membahas hal itu lagi? Sudah ku katakan berulang kali padamu, tidak!" Dedrick menghembuskan napasnya frustrasi, pria itu nampak sedikit kacau. Mengusap wajahnya kasar, Dedrick kembali menatap April tajam.
"Ini rumahmu Baby, rumah kita, kemana lagi kau akan pulang?" tanyanya sedikit menggeram. Jujur saja, Dedrick muak dan benci ketika April berkata padanya ingin pulang. Mau kemana lagi gadis itu pulang? Sedangkan ini adalah rumahnya.
Kepala April menggeleng pelan, mengabaikan tatapan tajam yang Dedrick berikan kepadanya. "Tapi aku ingin bertemu dengan Papa dan Mama. Aku merindukan mereka." jawabnya lirih.
"Tidak Baby, kamu milikku, dan kamu tidak boleh pergi kemanapun tanpa seizin ku." Tangan besar milik Dedrick kembali bergerak untuk mengusap pipi April dengan lembut. Sedangkan gadis itu, ia nampak menundukkan kepalanya dalam.
"Kalau begitu izinkan aku Dedrick. Kita bisa pergi kesana bersama, kau bisa ikut." April menatap Dedrick penuh harap, berharap pria itu akan mengabulkan permintaannya. Karena Dedrick pernah bilang, ia akan mengabulkan semua keinginan April, kecuali untuk meninggalkan pria itu.
Kepala Dedrick menggeleng. "Ya, namun tidak sekarang."
"Lalu kapan? Aku rindu Papa, Mama dan juga teman-temanku. Aku merindukan mereka, aku rindu Bandung."
Mungkin sebentar lagi air mata April akan menetes, "Kau pernah bilang akan mengabulkan semua permintaanku. Kecuali untuk meninggalkanmu."
"Ya, tentu saja."
April mendongak, menatap Dedrick sendu. "Dan sekarang hanya itu permintaanku Dedrick, dan lagi pula aku tidak meninggalkanmu kan? Aku bahkan mengajakmu juga, kita bisa pergi bersama."
Dedrick nampak menggeserkan tubuhnya dan mendekat ke arah April. Direngkuhnya gadis itu ke dalam dekapan hangatnya. "Ya Baby, aku tahu. Tapi tidak sekarang, tidak saat ini. Kita akan menemui mereka ketika kau sudah siap, jadi jangan bersedih lagi, oke?"
"Tapi Dedrick-" Dengan pelan Dedrick menutup mulut April dengan jemari telunjuknya.
"Ssttt, jangan membantah lagi, aku tidak suka dibantah. Kamu tahu kan Baby?" Dedrick tersenyum manis namun juga tegas.
April menghela nafasnya pelan. Ya, ia tahu jika Dedrick tidak suka sebuah bantahan. Namun ia tidak bisa selamanya tunduk dan mengalah pada pria itu. April juga mempunyai hak, ia berhak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
"Sekarang, lebih baik kita sarapan." Kepala April kembali mendongak menatap Dedrick. "Kau harus makan Baby. Kau terlihat lebih kurus dari pertamakali aku membawamu kerumah ini."
Tangan Dedrick bergerak untuk membelai lembut pipi April yang semakin hari terlihat semakin tirus. Ia tidak suka jika April semakin kurus, ia lebih suka April yang berisi.
"Kau harus gemuk, aku tidak suka istriku terlihat kurus." Dedrick tersenyum dengan begitu manis. Namun April tidak terpengaruh akan hal itu.
"Aku tidak mau jika orang-orang mengira bahwa aku tidak merawat istriku dengan baik sehingga ia menjadi kurus. Jadi, kau harus makan yang banyak Baby."
Kepala gadis itu menunduk. Memang benar, April juga merasakannya. Ia menjadi lebih kurus dari pertama kali Dedrick membawanya ke rumah ini. Bukan karena makanan di sini tidak enak atau pun tidak sesuai seleranya. Namun karena memang ia tidak nafsu makan sama sekali, apalagi ketika mendapati sebuah kenyataan yang tidak semestinya anak seumurnya dapatkan.
Seharusnya, di usianya yang saat ini, ia masih bisa kuliah, dan bermain bersama teman-temannya, menghabiskan masa mudanya dengan hal-hal yang semestinya dilakukan oleh gadis seusianya. Bukannya terjebak di sebuah rumah mewah bersama seorang pria bule dewasa yang mengaku sebagai suaminya.
"Baby, ada apa? Kenapa kau menundukkan kepalamu?" jemari Dedrick bergerak untuk mengambil dagu mungil milik April lalu sedikit mengangkatnya, hingga gadis itu mendongak menatapnya.
"Ayo kita turun, kau harus makan."
April menggeleng pelan, "Tidak. Aku tidak lapar."
"Jangan membantahku Baby, kau harus makan. Harus dipaksa walaupun tidak lapar."
"Tapi melakukan sesuatu karena terpaksa itu tidak enak Dedrick!"
Dedrick mengendikkan bahunya tak acuh, mengabaikan kalimat terakhir April yang sedikit membentaknya tadi. "Aku tidak peduli. Walaupun terpaksa, nanti lama-kelamaan akan terbiasa."
"Aku tidak mau!" bentak April yang masih keukeuh pada pendiriannya. Bahkan gadis itu kini nampak melipat kedua lengannya.
"Ayolah Baby, jangan kerasa kepala, atau kau mau aku berbuat kasar terlebih dulu agar kau menurut padaku hem?"
Dahi April sedikit mengerut, bahkan gadis itu sedikit mengangkat alisnya ketika melihat Dedrick yang semakin mendekatkan tubuhnya kearahnya. Hingga dengan reflex April mulai memundurkan tubuhnya. Dan bruk, ia terjatuh terlentang di atas kasur dengan Dedrick yang terus mendekat padanya. Hingga kini posisi Dedrcik hampir menindih tubuhnya jika saja pria itu tidak bertopang pada kedua lengannya yang kekar.
"A-apa yang kau lakukan?" ucap April sedikit terbata. Matanya melirik Dedrick takut dan malu, Ia merasa canggung jika berada sedekat ini dengan Dedrick. Apalagi ketika Dedrick semakin memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
"Tentu saja membujuk mu agar kau mau makan Baby," bisik Dedrick dengan senyum mencurigakan.
Kepala April menggeleng pasti. "Tidak Dedrcik, aku tidak mau makan. Aku tidak lapar."
Dedrick nampak menaikkan sebelah alisnya. "Apa kau ingin aku benar-benar menggunakan cara yang sedikit nikmat untuk membuatmu makan?" ucapnya dengan sebuah senyuman jahil.
Dahi April mengerut dalam, sedikit nikmat? Apa maksud Dedrick? Apa pria itu akan berbuat macam-macam terhadapanya. Tiba-tiba saja bulu kuduk April sedikit meremang ketika membayangkan hal apa yang akan Dedrick lakukan kepadanya. Apa pria itu akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya?
"Apa maksudmu dengan sedikit nikmat?"
Dedrick tersenyum simpul, dan mata biru langit itu nampak berkilat jahil. Dan semua itu tidak luput dari perhatian April. April ingin tahu, hal apa yang akan Dedrick lakukan selanjutnya? Apakah itu hal hal ada dipikirannya saat ini?
Memang apa yang ada didalam pikiranmu April? Iner April berbisik jahil.
"Aku akan menyuruh pelayan untuk membawa makanan itu kemari. Lalu aku akan menyuapimu menggunakan bibirku. Bagaimana?" ucap Dedrick dengan suara bisikan yang begitu menakutkan. Dan benar, April dibuat bergidik ngeri karena Dedrick berbicara tepat di samping telinganya. Membuat sebuah rangsangan yang mengalir melewati impulsnya.
"Ti-tidak! Aku tidak mau!" bentak April seraya mendorong d**a bidang Dedrick dengan kuat. Dan gotcha! Ia berhasil, walaupun Dedrick hanya bergeser sedikit dari tubuhnya.
"Kalau begitu, makan." ucapnya tegas.
Lalu dapat April lihat jika kini Dedrick mulai beranjak dari duduknya, kemudian berjalan sedikit menjauh. "Aku akan berangkat kerja setelah ini," ucapnya menjeda. “dan jangan mencoba kabur dariku Baby, karena akan ada dua bodyguard yang siap menjagamu.”