Bab 6 - Selalu Membangkang

1611 Kata
Benturan antar sendok dan garpu yang tengah beradu menciptakan suara dentingan yang begitu terngiang di ruang makan yang nampak begitu sepi. Hanya ada dua insan yang tengah duduk berhadapan. Kedua mata elang milik Dedrick menatap April dengan sorot menelisik, hingga tatapannya beralih ke arah piring yang masih penuh oleh makanan yang belum April sentuh sama sekali. “Kenapa hanya diam saja?” Dedrick mengehntikan kegiatan makannya, kemudian menatap April penuh. “Cepat makan dan habiskan.” Dedrick terus memperhatikan April yang hanya diam. Gadis itu nampak menyorot lurus kearah piring makanannya yang masih terisi penuh. Melipat kedua tangannya di d**a, sorotan mata itu nampak kosong. Bahkan Dedrick menduga jika April tidak mendengarkan ucapannya, gadis iytu tenggelam dlam pemikirannya sendiri. “Apa kau tidak suka menunya? Kau ingin menggantinya? Baby?” tanya Dedrick sekali lagi. Namun, lagi-lagi April tidak mengacuhkannya. Hingga membuat Dedrick menghela napasnya lelah. Harus dengan cara apalagi ia menyikapi sikap April yang selalu membangkang dan tidak memperdulikannya. Dengan cara kasar sudah ia lakukan, dan itu tidak mempan. Apalagi jika menggunakkan cara halus, April pasti akan bersikap ngelunjak dan tidak mau menurutinya. Dedrick mengangguk pelan, meletakkan sendok dan juga garpunya. “Baiklah, ku anggap kau tidak menyukai menunya. Aku akan memecat koki yang telah membuat sarapan pagi ini. Berani sekali dia memasak menu yang tidak kau sukai.” “Apa?” atensi April sedikit teralihkan ketika ia mendengar kata memecat. Siapa yang akan dipecat? Dan kenapa harus dipecat? Jujur saja April terlalu larut dengan pemikirannya sehingga ia tidak mendengarkan apa yang telah Dedrick ucapkan, dan ia belum bernafsu untuk memakan makananya padahal sudah tersaji di depan matanya. Tak mengacuhkan pertanyaan April, Dedrick memanggil seorang pelayan menggunakan jemari telunjuknya, hingga pelayang itu mendekat dan berdiri disamping Dedrick dengan sedikit menunduk. “Panggilkan koki yang memasak sarapan pagi ini.” Ucapnya dingin. Pelayan itu mengangguk pelan, “Baik Tuan.” “Kenapa kau memangil kokinya?” tanya April dengan raut bingung. Sedangkan Dedrick, wajahnya nampak dingin dan datar. tidak sehangat yang biasa April lihat. Ada apa ini? Apa April melewatkan sesuatu? “Kau akan melihatnya nanti.” Pelayan tadi kembali, bersama dengan seorang pria yang berpakaian khas seperti juru masak didalam restoran pada umunya. Dengan kepala yang menunduk, pria itu melirik takut kearah Dedrick dan setelahnya berkata, “Permisi Tuan, ada apa anda memanggil saya? Apakah masakannya tidak enak?” “Kau lihat? Istriku tidak mau memakan masakanmu.” Dedrick berkata pelan. Ia berbicara tanpa melihat orang yang ia ajak bicara, namun, justru menatap kea rah April yang menatapnya bingung. “Dia tidak menyukainya. Kau, dipecat!” Koki itu tersentak, hingga membuatnya refleks menunduk dalam meminta ampuan dari Dedrick. “Maafkan saya Tuan, saya akan memasak masakan kesukaan nyonya, tolong jangan pecat saya.” Pelayan itu takut, tentu saja. Tidak hanya dipecat dari rumah Dedrick, namun karirnya juga akan hancur. Ia tidak akan bisa lagi bekerja sebagi koki di tempat mana pun karean Dedrick pasti akan memblokir aksesnya. “Dedrick, kau tidak bisa melakukan itu!” April menatap nyalang ke arah Dedrick. Apa-apaan pria itu? Dengan seenaknya ia memecat pelayan yang tidak bersalah dengan alasan ia tidak menyukai menu makananya. Yang benar saja? Bahkan April belum mencoba makanan tersebut karena tenggelam dalam lamunannya. “Kenapa tidak Baby? Dia tidak berguna!” “Dia sangat berguna! Lihat, dia memasak semua ini.” April menunjuk semua menu makanan yang berada di atas meja. Dapat April hitung, jika ada lima menu makanan pagi ini, dan itu sangat banyak. Siapa yang akan menghabiskan semuanya? Dedrick menggeleng pelan, wajahnya masih saja terlihat dingin. “Tapi kau tidak mau memakannya. Maka ku anggap dia gagal.” “Tidak, jangan pecat dia. Aku akan makan.” Dengan terburu April mengambil sesendok nasi dan menyuapkannya ke dalam mulitnya sendiri. “Lihat? Aku memakannya dan ini enak.” Lanjut April seraya mengunyak makanannya pelan. Lalu kemudian matanya menatap ke arah pria –yang April ketahui adalah seorang koki— masih berdiri disamping Dedrick dengan kepala menunduk. “Kau, tidak jadi di pecat, kembalilah.” Entah mendapat keberanian dari mana, namun, april menyuruh pria itu untuk pergi sebelum Dedrick benar-benar memecatnya. Namun, jika dilihat lagi, April nampak seperti nyonya di rumah itu. Ia juga memiliki wewenang untuk mengatur keadaan rumah. April terus memakan makanannya, menyendokkan sesuap nasi ke dalam mulutnya secara teratur. Hingga matanya menatap ke arah Dedrick. Pria itu tengah tersenyum seraya menatap ke arahnya. Sedikit memincingkan matanya, April menghentikan kegiatannya.“Kenapa kau tersenyum?” tanyanya kemudian. Dedrick menggeleng pelan, namun dengan bibir yang masih tersenyum tipis. Ia senang melihat April yang nampak begitu lahap menyantap sarapannya. “Tidak,” jawabnya pelan, “habiskan saja sarapanmu. Dan setelah itu aku berangkat bekerja.”                          April sedikit membetulkan duduknya, ia merasa sedikit tidak nyaman, apalagi jika Dedrick terus memperhatikannya seperti ini. Ia merasa sedikit risih. “Kenapa kau begitu peduli padaku?” “Karena kau adalah istriku.” Menghela napasnya pelan, April kembali melanjutkan makannya. Ia bingung harus menjawab apa atas jawaban Dedrick yang mengatakan bahwa dia adalah istri pria itu. April ingin menyangkal, namun bukti itu sudah sangat jelas. Dan lagi pula, ada rasa tidak ikhlas di dalam hatinya ketika ia harus menerima kenyataan bahwa telah menikah. April masih remaja dan ia ingin melanjutkan kuliahnya seperti teman-teman sebayanya. Mereka terdiam cukup lama. Hingga terdengar bunyi sendok yang berdenting kareana April yang meletakkan sendoknya dengan sedikit keras. Makanannya sedikit lagi akan habis. Namun, nafsu makannya tiba-tiba saja menghilang entah kemana. April melirik Dedrick ragu. “Aku ingin pulang Dedrick—” “Cukup April!” ucap Dedrick membentak hingga membuat April sedikit terlonjak dalam duduknya. Dengan wajah yang memerah menahan amarah, Dedrick bediri dari duduknya dan menatap pril tajam. “Berhenti membangkang, dan turuti saja semua perkataanku!” “Aku tidak mau!” April berkata lantang. Beranjak dari duduknya, April ikut berdiri, menghadap menantang ke arah Dedrick. April tidak boleh takut, ia harus berani melawan Dedrick, ia tidak boleh lemah! “Memang apa susahnya menuruti semua ucapanku? Itu semua demi kebaikanmu—” “Kebaikanku? Benarkah?” April tersenyum mengejek, memotong ucapan Dedrick. “omong kosong Dedrick! Ini semua hanya demi kepuasanmu semata!” Dedrick menggeleng pelan. Ia lelah jika harus bertengkar dengan April setiap hari. Kapan gadis itu akan menurut dan mematuhi ucapannya? “Aku tidak peduli dengan semua opinimu. Terserah kau mau menganggapnya apa. Yang jelas, ini semua aku lakukan untukmu, untuk kebaikanmu.” “Bullshit,” ucap April pelan, matanya enggan untuk menatap ke arah Dedrick yang juga menatapnya tajam. Napas April nampak memburu menahan amarah. Dedrick menatap April datar. Moodnya tengah dalam mode yang buruk akibat pertengkarannya dengan April. Padahal, tadi ia sudah merasa sedikit baik ketika melihat April makan dengan lahap. Namun, justru berakhir buruk karena harus berdebat dengan April lagi. “Lagipula, apa salahnya mematuhi perintah suami? Menuruti semua ucapannya? Kau istriku sekarang, ingat itu!” April menggeleng seraya tersenyum sinis. “Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai suamiku! Pernikahan ini tidak sah! Aku tidak menginginkannya!” “Terserah apa katamu. Turuti saja apa mauku dan berhentilah membangkang!” Dedrick melenggang pergi dari sana, meninggalkan April yang menatapnya tajam. Hingga sedetik kemudian, sebuah isakan lirih terdenga dari bibir mungil tersebut. Menyeka air matanya kasar, April berlari kecil menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Hatinya sakit, sakit karena ia tidak bisa pulang dan sakit karena Dedrick membentaknya seperti tadi. “Kenapa dia begitu memaksa? Memang apa salahku?!” sebelah tangan April mengepal, meninju sebuah bantal coklat tua berbentuk kepala beruang. Bibirnya mengerucut, menandakan ia tengan dirundung rasa kesal. Sendirian, kesepian, tanpa kontak dengan dunia luar, membuat April terasa terkurung dalam sebuah istana emas, dengan rajanya yang begitu menyebalkan namun tampan. Ah ya, jangan lupakan juga sikap pemaksanya itu, membuat April ingin menendang bokongnya. “Dia bilang, dia mencintaiku! Menganggapku istrinya! Tapi apa? Dia justru bersikap kasar dan selalu memaksakan kehendaknya! Apa-apaan itu!” April menggerutu, merutuki sikap Dedrick yang menurutnya begitu menyebalkan. Kedua tangannya sibuk meremas, mencubit, dan menarik-narik kasar telinga bantal beruangnya. “Kalau dia benar-benar mencintaiku, seharusnya dia menggunakan cara pendekatan yang normal! Bukan anti mainstream seperti ini! Menculik di hari ulang tahunku, dan tiba-tiba berkata bahwa dia adalah suamiku, yang benar saja!” Menurut April, cara yang Dedick gunakan untuk memilikinya adalah cara yang begitu tidak wajar. Seharusnya pria itu menggunakan cara normal yang biasa pria lain gunakan. Mendekatinya, mengajaknya berkenalan, mengobrol lebih dekat melalui aplikasi chatting, mengajaknya berkencan, hingga nantinya mereka membicarakan pernikahan setelah dia menyelesaikan kuliahnya. Namun, tidak dengan Dedrick! Pria itu menggunakan cara yang sangat instan untuk menikahinya. Dasar, pria menyebalkan! “Arghhhh!” April menggeram kesal, bahkan geramannya tersebut terbilang cukup keras. “Aku membenci pria itu! Kenapa aku terus saja memikirkannya?!” memukul-mukul bantal beruangnya kesal, kemudian melemparnya asal, hingga bantal itu terjatuh dari atas ranjang dan terguling dan membentur rak buku yang berada disudut ruangan. “April bodoh! Berhenti memikirkannya! Kau itu membencinya! Jadi jangan terus pikirkan dia bodoh!” April terus merutuki dirinya. Kakinya melangkah keluar kamar, ia membutuhkan suasana yang cukup tenang, agar ia dapat berpikir dengan jernih dan berhenti memikirkan suami menyebalkannya itu. Tunggu, suami? Apa dia sudah mengakuinya? Tidak-tidak! Ia tidak boleh melakukan hal itu! April harus mengenyahkan pemikiran bodohnya itu. Menganggap Dedrick suaminya itu sama saja menyerahkan hidupnya kepada pria itu, dan April tidak boleh uluh begitu saja. Dan lebih baik sekarang ia menenangkan dirinya saja. Dan sepertinya, kolam ikan di halaman samping adalah tujuan yang pas. April akan memberi makan ikan-ikan kecil itu, memikirkannya saja sudah membuat April menarik sebuah senyuman, melihat ikan-ikan itu saling berlarian, mengejar satu sama lain untuk mendapatkan makanan.  Namun, sekali lagi, sepertinya April tidak menyadari, jika benci dan cinta adalah suatu hal yang berbeda, namun, perbedaannya tidakalah setebal benang. Ya, benang merah yang telah mengikat mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN