Suara alunan musik yang berasal dari DJ yang tengah menari di atas panggung berdentum dengan begitu keras, mengguncang flour dance yang kian terasa memanas. Hari telah semakin larut, namun, hal itu justru tidak melunturkan semangat para pedansa.
Mereka menari, bergoyang ke kanan dan ke kiri, tanpa tahu malu dan aturan. Bahkan dengan tanpa malunya, beberapa pasang dari mereka tengah berciuman dengan begitu panasnya. Mungkin karena pengaruh alkohol yang mereka minum, membuat akal sehatnya hampir melayang dan urat malunya hampir terputus.
Lain halnya dengan seorang pria yang tengah terduduk di salah satu kursi yang berada tepat di depan meja bartreder. Tubuhnya nampak tenang dengan segelas martini di genggamannya. Tanpa merasa terusik oleh keadaan sekitar, pria itu nampak menegak martini nya dengan santai.
"Mau tambah lagi bung?" tanya seorang pria yang nampak begitu tampan dengan kasus hitam tanpa lengan yang tengah dikenakannya.
"Ya, kau bisa menambahnya." jawab pria itu seraya mengulurkan gelas yang digenggamnya untuk memasok lagi isinya.
Sergio menatap pria itu sekilas, kemudian mengalihkan padangannya untuk menatap Dedrick yang tengah murung. “Sampai kapan kau akan terus berada di sini Dedrick?” Sergio, pria itu berkata dengan nada yang sedikit tinggi, efek dari suara music yang terus berdentum, Sergio harus meninggikan suaranya agar dapat terdengar.
“Hingga aku tenang mungkin,” Dedrick menjawab seadanya.
“Ayolah, apa kau akan mabuk-mabukan?”
“Maybe,” jawab Dedrick tak acuh.
“Jangan bodoh! Kemarin kau sudah berhenti minum ketika aku datang ke rumahmu, dan sekarang kau akan mabuk-mabukan hanya karena seorang gadis? Come on!”
“Dan seorang gadis itu adalah istriku Sergio,”
“Maka kau harus pulang dalam keadaan sadar, karena jika tidak, aku akan dimarahi oleh istrimu karena membawamu pulang dalam keadaan mabuk!”
“Dia tidak akan peduli!”
“Hah, baiklah! Terserah kau saja!” Sergio mengehela napasnya pasrah, ia menatap Dedrick malas. “Kalau begitu, aku akan mencari wanita malam ini, dan jangan ganggu aku!”
Dedrick memalingkan kepalanya, mengikuti gerak tubuh Sergio yang mulai melangkah menjauh darinya. “Hei, kau di sini untuk menemaniku bodoh!”
Ya, memang benar, tujuannya di sini memang untuk menemani Dedrick karena pria itu yang meminta. Mungkin ia akan mendapatkan pelepasannya sebentar lagi jika saja telepon dari Dedrick tidak mengganggu kegiatannya terus menerus. Dan dengan terpaksa ia harus menyudahi kegiatannya dan mengangkat telepon sialan itu. Dan di sinilah mereka berakhir, di sebuah club malam elite yang berada di Manhattan.
“I don’t care!”
“Ini minumanmu,” ucap bartender itu seraya menyerahkan segelas penuh martini. Yang kemudian diterima oleh Dedrick dengan senang hati.
“Thanks.”
"Ada masalah apa?” tanyanya, setelah melihat Dedrick yang menegak minumannya hingga tinggal setengah. “Kau bisa bercerita padaku Dedrick,"
"Ah, istriku, dia mencoba melarikan diri dariku Dev,"
Devide, pria itu nampak antusias dengan ke mana arah pembicaraan pria yang merupakan sahabatnya saat sekolah menengah atas itu. "Jadi, aku baru tahu bahwa kau telah menikah."
Dedrick terkekeh pelan, "ya, hanya keluargaku yang tahu tentang pernikahanku."
"Kenapa? Apa ini perjodohan? Dan kenapa istrimu ingin kabur?" tanya Devide seraya melayani beberapa tamu yang datang.
"Bukan, ini memang murni kemauanku, bukan karena perjodohan." jawab Dedrick seraya menenggak kembali martini nya yang tinggal setengah.
"Hai tampan, kau sendirian?" Goda seorang wanita dengan pakaian merah terang yang begitu pas membalut tubuh seksinya. Rambut hitam bergelombangnya nampak begitu menggoda. Dengan polesan listrik sewarna dengan dress yang ia kenakan. Wanita itu berkata dengan begitu s*****l, "Mau ku temani tampan?"
"Tidak." jawab Dedrick dingin seraya menepis tangan wanita itu dari bajunya.
"Ouh, kau kasar sekali, tapi aku suka." Goda wanita itu seraya menggigit bibirnya s*****l. Berharap Dedrick akan tergoda dengan aksinya itu.
"Hei nona, dia telah menikah," ucap Devide bermaksud untuk membantu Dedrick dari godaan wanita di sampingnya itu. Devide tahu siapa wanita itu, dia adalah Ellena, wanita cantik yang begitu menggoda, dan ia memang biasa berada di bar ini. Dan yang Devide tahu, tidak ada pria manapun yang bisa menolak pesonanya. "Jadi, tolong jangan ganggu dia."
"Oh Dev, kau manis malam ini, tapi pria beristri ini lebih menggoda," ucap Ellena seraya menatap Dedrick genit.
Dan sedetik kemudian, Ellena nampak mendekat kearah Dedrick dan mengusap pundak itu seduktif. "Dan setahuku, pria beristri itu lebih berpengalaman, benarkan tampan?" Bisiknya pelan.
Dan ketika Ellena hendak menggoda Dedrick dengan duduk diatas pangkuannya, dengan cepat Dedrick berdiri dari duduknya, hingga menyebabkan Ellena terjatuh di lantai begitu saja.
Sontak saja, hal tersebut membuat Devide tidak dapat menahan tawanya. Baru kali ini ia melihat Ellena dipermalukan. Dan tanpa memperdulikan Ellena yang menatapnya murka dengan wajah yang memerah menahan malu, Dedrick berlalu begitu saja.
"Aku pergi dulu Dev."
"Tentu, Hati-hati dijalan!" ucap Devide seraya melambaikan tangannya kearah Dedrick.
Dan Ellena, wanita itu bersumpah akan membuat Dedrick bertekuk lutut padanya karena telah mempermalukannya.
*****
Malam semakin larut, hingga fajar hampir menyingsing. Namun, April belum dapat memejamkan matanya. Rasa kantuknya sirna ketika mengingat kejadian pagi tadi. Hatinya merasa bimbang, ia ingin pergi namun tidak bisa.
Dengan sedikit kasar April menutup majalah yang sedari tadi ia baca, berharap bisa mendatangkan rasa kantuk. Namun, sepertinya itu percuma, karena nyatanya matanya masih sejernih embun di pagi hari.
Dengan pelan jemari April menyibak selimut yang menutupi kakinya. Hingga setelahnya beranjak turun dari ranjang. Ia haus, dan air yang berada di meja nakasnya habis. Jadi ia memilih untuk pergi ke dapur daripada menyuruh pelayan untuk mengambilkannya.
Suasana lantai dua begitu sepi dan sunyi ketika April membuka pintu kamarnya. Kemana semua bodyguard yang diperintahkan Dedrick untuk menjaganya? Atau mereka tengah berjaga di lantai satu?
Mengendikkan bahunya tak acuh, April memilih untuk melanjutkan langkahnya. Namun hal itu terhenti ketika matanya menangkap silluet seseorang yang begitu ia kenal.
Itu Dedrick! Sedang apa dia di sana?
Haruskah April menyapa pria itu? Atau membiarkannya begitu saja? Menghela nafasnya pelan, April memanggil Dedrick dengan ragu. "Dedrick?"
Suara lembut itu mengalun indah menyapa indra pendengaran Dedrick. Dengan tatapan mata yang sedikit sayu, kepala Dedrick menoleh untuk menatap sosok gadis yang ia cintai dengan senyuman tipis. Dengan langkah yang sedikit tertatih, Dedrick berjalan menghampiri April, tentu saja dengan sebuah senyuman yang masih terpatri di bibirnya.
"Hai Baby?" senyum aneh itu masih ada, ditambah dengan sebuah tatapan sayu.
April menatap Dedrick heran. Dahinya mengernyit dalam, "Kamu kenapa?" mata April kembali menatap Dedrick dengan penuh selidik. "Kamu mabuk ya?"
Dedrick nampak mengangguk pelan, "Ya, aku mabuk Baby, mabuk cintamu!"
Racau Dedrick seraya membuat sebuah gerakan flying kiss dari bibirnya. Membuat April menatap Dedrick ngeri. Entah kenapa, rasa hausnya tiba-tiba saja menghilang saat menatap Dedrick tadi.
April menatap Dedrick ragu sekaligus bingung, harus ia apakan pria di depannya ini. "Ba-baiklah, ayo, ku bantu kau ke kamarmu."
Baru saja April akan mengambil tangan Dedrick dan menuntunnya. Namun, pria itu justru menepisnya pelan seraya menggeleng, membuat April semakin bingung menghadapi situasi ini.
"Tidak Baby, aku tidak ingin ke kamarku. Aku ingin bersamamu, tidur denganmu," ucap Dedrick yang semakin ngelantur. April harus segera mengamankan Dedrick sebelum pria itu semakin parah.
"Tapi Dedrick, kau harus-" ucapan April terhenti karena tiba-tiba saja Dedrick menjatuhkan tubuhnya pada d**a April. Tubuh April sedikit terhuyung ke belakang karena tidak siap menerima beban. Tapi untung saja dengan sigap ia menangkap tubuh berat Dedrick, karena jika tidak, mungkin Dedrick telah jatuh tersungkur ke lantai.
"Jangan tinggalkan aku Baby!" kepala Dedrick menggeleng pelan dalam pelukan April.
Dedrick semakin meracau tak jelas. Namun, setelah ucapan terakhirnya, Dedrick tak lagi bersuara. Mungkin ia telah tertidur karena mabuk.
"Bagaimana ini?" April masih berdiri di depan pintu dengan Dedrick yang tertidur dalam pelukannya. April ingin membawa Dedrick ke dalam kamarnya sendiri, namun itu tidak mungkin, karena jarak kamar Dedrick yang terlalu jauh. Dan juga, berat badan Dedrick yang cukup berat membuat April dilema.
Tidak ada pilihan lain. Dengan langkah yang sedikit terseret, April membawa tubuh Dedrick masuk ke dalam kamarnya. Dengan langkah tertatih, April memapah tubuh Dedrick yang lebih tinggi dan besar dari tubuhnya. Mungkin April harus mengalah kali ini, karena ia juga tidak bisa membiarkan Dedrick tertidur di depan pintu kamarnya.
'Bruk'
Dengan pelan April menjatuhkan tubuh Dedrick ke atas ranjangnya. April menghela nafas lega saat tubuh Dedrick telah tidur dengan benar di atas ranjang. Dan sekarang, giliran April yang merasa kebingungan. Ia harus tidur di mana? Tidak mungkin ia tidur di sebelah Dedrick. Cukup dua kali saja!
Mata April menangkap sebuah sofa yang lumayan panjang di sudut kamarnya, mungkin ia bisa tidur di sana. Dan ketika April hendak mengambil bantal yang tidak terpakai di samping Dedrick, tiba-tiba saja sebuah tangan menarik tubuhnya. Karena dalam keadaan yang tidak siap, tubuh April terhuyung ke depan dan terjatuh menimpa tubuh Dedrick.
Mata April terbelalak lebar ketika menyadari posisinya yang sepenuhnya menimpa tubuh Dedrick. Ia hendak bangkit dari sana, jika saja tidak ada sebuah tangan yang kekar melilit pinggangnya hingga ia tak dapat berkutik.
Deg deg deg
“Dedrick, lepaskan aku,” April berbisik pelan, berharap Dedrick akan melepaskannya. Namun, bukannya melepaskan, Dedrick justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Kyaaa!"
April memekik kaget ketika Dedrick dengan tiba-tiba menggulingkan tubuhnya. Sehingga posisi mereka tidur miring bersebelahan dengan Dedrick yang memeluknya erat.
Huft,
April menghembuskan napasnya lelah. Bagaimana tidak? Pria itu tak mau melepaskannya. Dan juga, sepertinya sekarang April harus mengalah. Karena rasa kantuk pun telah menyerbu dirinya, membuatnya tak sanggup untuk membuat matanya selalu terjaga.