Bab 8 - Kencan?

1822 Kata
Tubuh kekar milik pria itu menggeliat lemah di atas ranjang berwarna merah muda. Sebelah tangannya terulur untuk menyentuh kepalanya yang terasa begitu menusuk. Salahnya juga terlalu banyak meneguk martini semalam. “Ah, sakit sekali.” “Sudah bangun?” suara itu mengalun indah, matanya menatap objek di depannya dengan sedikit terkejut. Ah, ternyata yang semalam adalah kenyataan, Dedrick kira ia tengah bermimpi tidur seraya mendekap April erat. “Baby?” Mata April memincing menatap Dedrick yang mencoba bangun dari tidurnya. “Melupakan sesuatu?” Dedrick menggeleng pelan. “Tidak juga,” kini posisinya telah duduk di atas ranjang. Matanya menatap April yang duduk dengan sebelah kaki yang dilipat angkuh di atas sofa disudut ruangan.  “Kau mabuk semalam dan aku membawamu ke kamarku.” April melipat kedua lengannya dan kemudian duduk menyandar pada sofa. “Karena terpaksa.” imbuhnya cepat. Dedrick tersenyum tipis, setelahnya mengendikkan bahunya tak acuh. “Setidaknya aku bisa tidur denganmu lagi semalam.” “Terpaksa! Dengar?” April menatap Dedrick garang. Ia kesal dengan Dedrick— tidak, ia benci dengan pria itu. Pria menyebalkan yang selalu membuat emosinya naik ke permukaan. Dedrick mengangguk-angguk kecil. “Ya, tak apa, aku sudah senang.” April mendengus, membuang wajahnya kesal. “Aku masih membencimu Dedrick, sebelum kau memulangkanku.” “Haruskah kau membahas hal itu sepagi ini?” Dedrrick membuang napasnya malas, lalu menatap April lelah. Haruskah April selalu membahas masalah ini lagi? Ia kira semuanya telah selesai karena sikap April yang mulai perhatian dengannya. Namun, ternyata belum selesai dan April selalu mengungkitnya lagi dan lagi. “Ya,” April mengangguk, menjawab cepat. Namun, setelahnya berbisik pelan, “mungkin.” Ia merasa bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini. “Kepalaku pusing Baby, dan kau membuatnya semakin pusing.” Bibir April merengut mendengar kalimat yang Dedrick ucapkan. Jadi selama ini ia adalah beban ya? Lalu kenapa tidak dilepaskan saja! “Kalau aku memusingkanmu, kau bisa melepaskan aku. Itu pilihan yang mudah Dedrick,” Entahlah, ada apa dengannya, kenapa ia merasa kesal karena mengetahui fakta bahwa ia hanya beban bagi Dedrick. Jika memang dari awal ia hanya memusingkan Dedrick kenapa ia harus dibawa kemari? Kenapa Dedrick tidak membiarkannya pergi saja? Kenapa Dedrick menahannya? Kenapa, kenapa dan kenapa, pertanyaan it uterus berputar di kepala April. “Melepaskanmu, adalah hal terakhir yang tidak akan pernah aku lakukan ingat itu!” “Pria menyebalkan!” ucap April ketus. Namun, tanpa sadar ia menarik bibirnya, ada sedikit rasa senang mendengar kalimat posesif itu. “Ya, dan pria menyebalkan ini suamimu,” “Terserah! Lebih baik sekarang kau mandi, bau! Bahkan seprai ku ikut bau alkohol karenamu!” Dedrick tersenyum simpul, lihatlah, walaupun tadi April membuatnya pusing, namun kini istrinya itu membuatnya tersenyum. Karena tanpa sadar ia telah memperlihatkan rasa perhatiannya. Ah, kapan April akan mulai menyadarinya. “Tapi kau nyaman kan tidur dalam pelukanku?” “Hentikan itu dan cepat pergi!” Dedrick terkekeh, ternyata menyenangkan dapat menggoda April seperti ini. Dan ia akan mencobanya lagi lain waktu, ah tidak, ia akan terus menggoda April. “Hei, calm down Baby, aku akan mandi oke? Tidak perlu marah seperti itu nyonya besar.” Setelahnya Dedrick melangkah menuju kamar mandi yang berada di kamar April, tanpa merasa repot untuk menuju kamar mandi miliknya. Baginya sama saja, dan sesekali tak apa kan jika memakai  parfum yang sama dengan April, lagi pula Dedrick menyukai baunya. Sekali lagi April menghela napasnya. Tingkah Dedrick semakin hari semakin menyebalkan saja. Dan juga, kenapa April selalu memikirkan pria itu? “Dasar pria menyebalkan, dan kenapa aku harus peduli padanya?! Haishh!” ***** Tubuh April membatu, melihat pemandangan indah yang tersaji di depannya. Jarang-jarang ia melihat situasi seperti ini secara live, karena biasanya ia hanya melihat melalui timeline i********: atau pun twitter dari seseorang yang ia ikuti. Dedrick, pria itu berdiri di sana, di depan pintu kamar mandi milik April dan hanya mengenakan selembar handuk putih yang melilit pinggangnya. Dan jangan lupakan rambut Dedrick yang masih basah, menyebabkan beberapa bulir air yang menetes jatuh ke atas d**a bidangnya yang berotot. Dan tanpa sadar, April meneguk salivanya kasar. “Kenapa kau memandangku seperti itu?” mata Dedrick memincing menatap April yang menatapnya tanpa berkedip. Namu, sedetik kemudian ia tersenyum geli karena menyadari ke mana arah pandangan April. “Tutup mulutmu Baby, sebelum air liur itu menetes.” Dedrick tertawa terbahak melihat reaksi April yang sangat menggemaskan. Bagaiman tidak? Jika dengan cepat April mengalihkan pandangannya dan membungkam mulutnya dan mengusapnya pelan, takut jika apa yang Dedrick katakan adalah benar. April menatap Dedrick tajam, matanya berkilat, ada rasa marah dan juga malu yang menerpa dirinya. Dedrick keterlaluan! “Hentikan tawamu itu Dedrick! Atau aku kan membunuhmu!” ancam April yang justru membuat Dedrick semakin mengeraskan tawanya. “Dedrick! Hentikan!” Bukannya berhenti, Dedrick semakin gencar menggoda April, jujur saja ini adalah hobinya sekarang, menggoda April adalah hal yang tidak boleh dilewatkan. Tapi, tawanya sedikit mereda ketika ia melihat mata April yang mulai berkaca-kaca. Upss, tidak! Dedrick tidak boleh membuat April menangis di pagi yang indah ini. “Ba-baiklah, aku berhenti. Jangan menangis, oke? Maafkan aku,” ucap Dedrick cepat. Kakinya melangkah menghampiri April yang masih duduk di sofa matanya semakin berkaca-kaca dan mungkin sedikit lagi akan meneteskan air matanya. Dedrick berlutut di sana, tepat dihadapan April, menatap gadis itu dengan tatapan memohon. “Baby, maafkan aku, aku hanya bercanda,” pinta Dedrick, tangannya memegang lutut April, namun sedetik kemudian ditepis oleh pemiliknya. “Jangan sentuh aku!” ucap April ketus, mengganti posisi tubuhnya menjadi miring, April enggan untuk menatap Dedrick. Ia marah, tidak, lebih tepatnya ia malu, sangat malu karena kedapatan memperhatikan Dedrick dengan tatapan memuja. “Aku hanya bercanda, maafkan aku Baby,” Dedrick semakin memelas, menatap April dengan pandangan was-was. “Tidak, aku membencimu!” “Iya aku tahu, kau membenciku, maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi,” “Kau menyebalkan Dedrick!” Dedrick menggigit bibirnya pelan, mencoba mencari kata yang pas agar April tidak lagi marah padanya. Namun, ia harus tetap meminta maaf bukan. “Maafkan aku, aku hanya menggodamu karena kau sangat lucu—” “Jadi maksudmu aku adalah bahan lelucon begitu?” potong April cepat, matanya semakin berkilat menatap Dedrick yang semakin kelabakan menghadapinya. Kedua alis April menekuk tajam, siap untuk membunuh Dedrick. “Tidak!” Dedrick menggeleng cepat, mengangkat kedua tangannya seperti pencuri yang tertangkap. “Aku tidak mengatakan itu Baby,” lanjutnya. “Huh!” April membuang wajahnya asal, ia marah, kesal dan malu di saat yang bersamaan. Ia marah karena Dedrick begitu menyebalkan. Kesal karena Dedrick yang terus menggodanya dan malu karena ia ketahuan memandangi pria tampan itu. Apa? tampan? Tidak! Tidak! Dia jelek! Ya, jelek! April mencoba untuk mendoktrin pemikirannya sendiri, menganggap Dedrick adalah orang yang jelek, padahal hal itu adalah kebalikannya. “Ayolah, maafkan aku ya?” Dedrick terus memohon kepada April. memang salahnya juga menggoda April, dan ia juga sedikit keterlaluan, Dedrick akui itu, tapi jujur saja menggoda April adalah hal yang sangat menyenangkan, menciptakan warna tersendiri didalam hidupnya yang sepi. Dedrick menghela napasnya pelan, kemudian menunduk pelan, matanya menatap kosong ke arah beberapa buku yang berjajar rapi di rak paling bawah. “Kau, boleh melihatnya sesuka hatimu, ini adalah milikmu juga, karena aku adalah suamimu. Kau boleh memandangnya hingga kau puas, tapi jangan bosan,” ucap Dedrick pelan, ia hanya mengungkapkan apa yang ada didalam pikirannya tanpa memikirkan akibatnya. Kepalanya mendongak, menatap April yang hanya diam saja. “Em, Baby?” Dedrick terus memperhatikan April yang tidak meresponya sedikit pun. Diperhatikan wajah cantik itu dengan seksama, “wajahmu… memerah,” lanjutnya, namun, sedetik kemudian,  “Dedrick!” dan juga sebuah pukulan tepat di bahu kokohnya. “Iya iya, aku salah!” dengan cepat Dedrick merangkul lutut April dan menyembunyikan kepalanya di sana. Ternyata sesusah ini ya memahami pemikiran seorang wanita. Pantas saja jika banyak orang yang bilang, pria selalu salah dan wanita selalu benar, dan jika wanita yang salah, makan sang pria harus mengalah. Dedrick mulai mendongakkan kepalanya perlahan, ketika ia merasa jika April sudah mulai tenang, dan untung saja April juga tidak menepis tubuhnya. “aku tidak akan mengulanginya lagi, maafkan aku, ya?” “Isshh!” “Maafkan aku, please,” Dedrick akan terus memohon hingga April mau memaafkannya. Hubungannya dengan April belum bisa dikatakan baik, dan jika karena masalah ini mereka akan semakin renggang, makan Dedrick akan merutuki kebodohannya sendiri karena terlalu terlena dengan keasyikkan menggoda April. “Hem,” “Thanks,” senyuman itu terbit di bibir Dedrick, walaupun hanya gumaman tanpa makna, namun, Dedrick menganggap itu sebagai jawaban iya. Karena April sendiri tidak menyangkal ketika ia mengucapkan terima kasih. Mereka hanya diam, terjebak dalam suasana hening yang tidak mengenakkan. Sedikit takut, Dedrick mencoba untuk menarik atensi April, mengusap lututnya secara pelan dan juga halus. “Em, Baby?” panggilnya pelan dan hanya dijawab oleh April dengan lirikkan mata belaka, tanpa repot untuk berucap. Merasa mendapat respon dari April, —yang berupa lirikkan mata, Dedrick kembali melanjutkan ucapannya, “maukah kau pergi jalan-jalan denganku?” April masih menatap Dedrick, ketika kata jalan-jalan meluncur dari mulutnya. “Jalan-jalan?” Dedrick mengangguk. “Kemana?” “Kemana saja, ke tempat yang ingin kau kunjungi.” “Indonesia?” tanya April dengan sebuah senyum miring, dan, “Kecuali itu.” Sudah April duga, jika Dedrick akan menjawab seperti itu. “Why? Apa salahnya ke Indonesia? Aku hanya ingin bertemu orang tuaku Dedrick,” “Ya, kau pasti akan bertemu dengan mereka Baby, tapi nanti, oke?” April berdecak, “Menyebalkan.” Dedrick memang begitu menyebalkan. Memang apa salahnya jika mereka pergi ke Indonesia? Di sana juga banyak destinasi wisata yang tidak kalah bagus dari luar negeri. “Jadi,” Dedrick berucap pelan, “kau masih mau ‘kan, pergi jalan-jalan denganku? Keliling Manhattan mungkin?” April mengehela napasnya pelan, kemudian menatap Dedrick malas, “Apa aku bisa menolak?” “Tidak,” jawab Dedrick cepat dengan sebuah senyuman lebar, hingga memperlihatkan beberapa deret giginya. “Lalu kenapa kau harus bertanya jika aku tidak bisa menolak huh?” “Ayolah, sekali saja turuti apa keinginanku dan jangan membantah, ya?” April bergumam pelan sebagai jawaban. “Baiklah,” Dedrick berdiri dari posisi berlututnya, “kalau begitu kau harus bersiap! Dan aku akan kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Karena sepertinya aku mulai kedinginan jika terus bertelanjang d**a seperti ini, kecuali..” Dedrick menjeda ucapannya, “kau memberiku kehangatan Baby.” lanjut Dedrick seraya berlari menjauh setelah sebelumnya mencubit pipi April dengan sedikit gemas. Sudah sejak lama ia ingin melakukan hal tersebut, dan baru sekarang ia bisa melakukannya. Bagaimana mungkin ia mau melakukannya, jika April segarang singa betina yang kelaparan. “Dedrick!” benarkan? Dedrick tertawa keras sebagai respon, sangat menyenangkan bisa bercanda, dan tertawa lepas seperti ini. Hal yang sedari dulu Dedrick inginkan. Ia sudah membayangkannya, dan akhirnya sekarang dapat terwujud. Dan Dedrick harap, kebersamaan ini tidaklah pernah berakhir. April termenung dalam duduknya, Dedrick telah keluar dari kamarnya. Ajakan Dedrick untuk jalan-jalan tadi, apakah mereka akan berkencan? Oh tidak! Pipi April memerah memikirkan hal tersebut!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN