Part 1 - Aktor vs Me
"Siapa yang menyangka bahwa Aktor yang dijuluki The Best Kisser oleh penggemar ini memiliki keinginan menikah di usia 27 tahun?" Seorang host membaca headline news itu dengan wajah berseri-seri. "Wow, judulnya menarik sekali, ya, pemirsa. Nah, mari kita dengarkan langsung tanggapan The Best Kisser kita ini."
Seorang laki-laki mengenakan kemeja biru laut terlihat tertawa pelan.
"Secara pribadi saya akan mempertimbangkannya ketika saya sudah bertemu dengan orang yang saya cintai. Jadi, ya, tidak ada yang salah dengan berita itu."
Lyrae memutar bola mata malas, lagu lama aktor ketika menampik gosip. Ngomong-ngomong, menunggu mobil jemputan membuatnya terjebak bersama beberapa orang penggemar aktor The Best Kisser itu, terbukti saat mereka menatap layar seperti ingin menelannya.
Lyrae ingin mengatakan bahwa Aktor yang mereka puja itu tidak sesempurna wajahnya. Namun, ia takut setelah ini akan menjadi trending topik di Twitter, dan harus mengucapkan selamat tinggal pada dunia.
"Woi, Lyrae. Ayo, masuk!"
Melihat wajah di balik kemudi yang menatapnya kesal, Lyrae menghampirinya sambil tersenyum lebar.
"Gimana Buk, enak ngelamunnya?" sindir Luna.
"Emosi banget, Lun. Bos lo berulah lagi, ya?" tebak Lyrae sambil memasang sabuk pengaman. Dia melepas topinya, kemudian melepas masker.
"Biasalah. Ck! Kurang kerjaan banget bikin gue emosi setiap hari," decak Luna.
"Kali ini lo disuruh ngikutin siapa lagi?" tanya Lyrae. Dia hampir hapal dengan job description sahabatnya yang kadang tidak masuk akal.
"Bukan ngikutin, sih. Tapi disuruh nyari informasi yang bahkan mustahil bagi gue!"
"Siapa? Kali aja gue bisa bantu." Lyrae tidak asal bicara, walaupun dia tidak memiliki nama di dunia entertainment, tapi setidaknya lingkaran pertemanannya di bidang itu cukup luas.
"Prince Aric."
Lyrae bergeming.
"Lo pasti tau lah, ya, sama gosip yang lagi ramai itu. Katanya Prince akan menikah tahun ini, tapi menurut lo masuk akal nggak, sih, nyari informasi yang berkaitan sama keluarga dia? Lo pasti paham maksud gue, Ly."
Lyrae sangat paham. Baik keluarga Prince maupun keluarganya sangat ketat menjaga privasi keluarganya. Hanya saja kenapa berita ini bisa tercium oleh media sebelum ada statement dari pihak terkait? Seingat Lyrae, rencana pernikahan Prince dan Myndi memang sudah direncakan, ya walaupun dia hanya mendengar obrolan singkat dari orang tuanya dan orang tua Prince.
Jadi inikah alasan ibunya terus memintanya pulang?
"Nah, kan. Melamun lagi. Ih, jangan dipikirin, gue nggak bakal nyuruh lo mendadak jadi paparazi kok, walaupun gue tau lo kenal sama keluarganya." Luna menghela napas.
"Kira-kira lo tau nggak mempelai ceweknya siapa?" tanya Lyrae.
Gelengan lemah menjawabnya.
"Susah Ly. Akhir-akhir ini Prince terlalu banyak digosipkan sama artis. Mana gue sempat baper lihat interaksi dia sama Jingga, lo tau Jingga, kan?"
Lyrae mengerjap kaku, lalu mengangguk.
"Nah, shipper Prince Jingga paling banyak fansnya. Tapi gue kurang yakin, sih. Gue pernah lihat Prince nyuekin Jingga di belakang stage, tapi setelah itu gue lihat mereka pelukan." Tepat saat lampu merah Luna langsung menyodorkan ponselnya ke arah Lyrae, menunjukkan sebuah video.
"Apa, nih?" Lyrae mengernyit geli melihat pelukan intens antara Prince dan Jingga di ruang ganti.
"Seorang pacar yang sedang menenangkan kekasihnya. Keren, kan? Rencananya artikel ini bakal gue publish malam ini, tapi bos gila gue malah nyuruh nyari informasi nggak jelas itu."
"Lo ngerekam ini sendirian?"
Luna menoleh sekilas, lalu mengangguk.
"Lo ngerasa nggak kalau ini terlalu mudah, Lun." Lyrae menggaruk pelipisnya, dia cukup tau sepak terjang Prince di dunia entertainment. Dia tidak akan semudah itu mengumbar sesuatu yang bersifat pribadi.
"Maksud lo?"
"Prince nggak akan semudah itu ngumbar kemesraan di ruang publik, apa lagi pintu ruang ganti ini nggak tertutup rapat.
Mereka terdiam beberapa saat sambil saling pandang.
"Damn it! Ternyata gimmick," umpat Luna.
*
"Congratulations my beautiful sister." Lyrae menghambur ke pelukan Myndi setelah Luna pamit pulang.
"Nih buat kakak terbaik aku yang bentar lagi nikah."
Lyrae menyodorkan sebuah totebag ke pelukan Myndi. Perempuan itu tertegun beberapa saat.
"Jadi kamu belum tau, ya," gumam Myndi kemudian menaruh totebag itu ke meja. Dia menatap Lyrae dengan tatapan prihatin.
"Tentang pernikahan kalian? Sejujurnya iya, tapi aku udah tau kalau kalian bakal nikah. Aku nggak sengaja nguping, sih. Sorry," kata Lyrae. Dia tersenyum lebar meski sisa-sisa perjalanan tercetak jelas di wajahnya.
"It's okey. Sekarang kamu istirahat aja dulu. Nanti kita bicarain."
"Wait, bicarain apa?"
Terdiam sejenak, kemudian Myndi menggeleng pelan.
"Terjadi sesuatu?" tebak Lyrae. Perasaannya mulai tidak enak saat Mama menghampirinya sambil tersenyum lebar. Tidak seperti biasanya.
"Mama keasikan bikin daftar tamu sampai nggak sadar calon pengantin kita udah pulang. Gimana perjalanannya, sayang?"
"Calon pengantin? Aku? Maksud Mama apa, sih?" Lyrae tertawa sambil melepaskan tangan mama dari wajahnya.
Senyum mama perlahan luntur. Dia melirik Myndi yang terdiam, lalu menghela napas.
"Mama belum ceritain ini ke Lyrae ternyata," ujar Myndi tetap tenang.
"Ceritain apa, sih, Ma, Kak?"
"Soal wasiat kakek kamu, tentang perjodohan keluarga kita dan keluarga Aric."
Lyrae menghela napas. Mulai paham arah pembicaraan ini. Ternyata dia salah mengambil kesimpulan.
"Jadi Kak Myndi dijodohkan dengan laki-laki itu, terus kakak nolak, dan akhirnya dilempar ke aku, gitu?" tebak Lyrae, mulai terpancing emosi.
"Jangan mengada-ada. Makanya dengerin dulu penjelasan Mama sama Kakak kamu."
"Ma ...."
"Dari awal memang kamu yang dijodohin kok," kata mama. Tidak ada raut bersalah di wajahnya setelah menyembunyikan rahasia ini dari putri bungsunya.
"Aku berhak menolak." Lyrae berdiri, menyorot Myndi dengan tatapan kecewa.
Lyrae selalu terbuka dengan kakaknya, selalu menjadikan dia sebagai berbagi cerita suka maupun duka. Lyrae pikir dengan begitu tak ada rahasia di antara mereka, nyatanya dia salah.
"Prince punya masa depan yang cerah. Menikah dengan dia masa depan kamu terjamin, jadi bisa jelasin ke mama kenapa kamu menolak?" tanya Mama. Berhasil menjeda langkah Lyrae.
"Aku juga punya masa depan tanpa harus menikah dengan dia, Ma."
"Dengan menjadi penulis?"
"Ma, stop." Myndi menggeleng, menahan Mama. Namun wanita paruh baya itu tidak menggubris.
"Mama tanya deh, kira-kira sampai kapan kamu bisa bertahan hidup dengan jadi penulis?" tanya Mama lagi. Seolah belum puas membuat Lyrae mencengkram telapak tangannya hingga terasa perih.
"Mama secara nggak langsung udah ngerendahin profesi penulis. Di luar sana banyak kok penulis yang sukses, karir menulis nggak seburuk yang mama bayangkan. Dan aku yakin bisa menjadi salah satu dari mereka tanpa harus menikah dengan dia."
Jika ditanya apa yang paling menyakitkan di dunia ini maka Lyrae akan menjawab direndahkan oleh Ibu adalah jawabannya.
Langkah Lyrae tergesa-gesa memasuki kamar, mengemas barang yang dibutuhkan untuk dibawa pergi. Menurutnya tidak ada alasan lagi untuk bertahan di rumah ini. Bahkan dia tidak sadar ada seseorang memasuki kamar dan tengah mengulurkan tangan menyentuh bahunya.
Reflek, Lyrae melayangkan novel setebal lima ratus halaman yang tengah dia pegang ke wajah orang di belakangnya hingga terdengar suara ringisan.
Lyrae menoleh terkejut, kemudian memasang ekspresi datar begitu melihat orangnya. Seharusnya refleknya lebih bertenaga dibanding tadi.
"We're getting married." Prince mengusap hidungnya yang nyeri. Mungkin maksudnya dia menyayangkan tindakan Lyrae di saat mereka akan menjadi suami istri.
Lyrae mual membayangkannya.
"Lo aja. Gue nggak." Mendadak isi lemari lebih menarik untuk dipandang daripada melihat wajah Prince yang selalu dia temui di mana-mana.
"Lo bisa gagalin pernikahan ini."
Lyrae menoleh, lalu menjentikkan jarinya.
"Solusinya?"
"Datengin kakek lo dan kakek gue, minta mereka narik perjanjian konyol itu." Prince mengedikkan bahu santai.
Dia duduk di ujung ranjang sambil bersidekap, mengabaikan tatapan Lyrae yang ingin membunuhnya. Mendatangi kakek sama dengan datang ke kuburan. Lalu bagaimana caranya meminta orang yang sudah meninggal menarik ucapannya? Prince gila.
Tolong ingatkan Lyrae membuat artikel tentang Prince si laki-laki gila, setres, dan tidak bermartabat.
Sekali lagi Lyrae hampir melayangkan novel ke wajah Prince. Dengan sengaja.
"Lo juga ngga menginginkan perjodohan ini, kan?" tanya Lyrae, menatap Prince penuh harap. Pasti berat di posisi Prince meninggalkan kekasih-kekasihnya itu demi Lyrae yang bukan siapa-siapa. Begitulah kira-kira perkiraannya.
Prince menatap Lyrae beberapa saat, kemudian dia memutus kontak mata mereka, kemudian berdiri seraya memasukkan tangan ke saku celana.
Lyrae harus repot-repot mendongak menanti jawabannya.
"Nggak."
Prince menoleh terkejut mendengar helaan napas Lyrae yang tanpa perlu dia tutup-tutupi.
"Di saat semua orang pengen nikah sama gue, tapi lo malah sebaliknya."
"Simpel, you're not my type."
"Not a surprise." Diam beberapa saat. "Pernikahan kita dua minggu lagi. Lo kabarin gue aja kalau butuh tempat kabur." Prince melirik arlojinya, kemudian menatap Lyrae, seperti ingin mengatakan sesuatu.
Lyrae terhenyak beberapa saat, baru tersadar saat Prince menyentuh gagang pintu kamarnya.
Ucapan mama kembali terngiang di kepalanya. Sebelum Prince benar-benar keluar, Lyrae langsung menarik ujung jas laki-laki itu dengan napas memburu, tanpa berpikir panjang.
Satu alis Prince terangkat melihat Lyrae yang mengesot di lantai.
"Rumornya lo punya rumah pribadi, bener nggak?"
Kening Prince mengerut dalam, tapi dia tetap mengangguk.
"Kalau gue nikah sama lo, apa gue bisa tinggal di sana?"
Meski bingung, Prince lagi-lagi mengangguk.
"So what?"
"Oke, ayo nikah," kata Lyrae bersemangat.
Prince menatap Lyrae dengan sorot tak mengerti. Seolah baru saja melihat wanita bodoh satu-satunya di dunia ini.
Namun, alih-alih bertanya, Prince malah mengangguk. Kemudian keluar dari kamar Lyrae, setengah jam lagi dia ada jadwal syuting.
Sayup-sayup terdengar pertanyaan mengenai hidungnya yang berdarah.
"Abis diseruduk banteng," jawabnya.
Mungkin ini adalah keputusan terbodoh yang pernah dibuat Lyrae. Namun, akan lebih bodoh saat dia keluar dari rumah ini tanpa merencanakan apa pun untuk masa depan menulisnya.