Bab 8

470 Kata
Hari yang paling mendebarkan akhirnya datang juga. Dimana semua siswa siswi kelas III akan mengikuti Ujian Nasional (UN). Ujian ini sangat menentukan kelulusanku. Bila tak lulus ujian ini, maka akan dinyatakan untuk mengulang ditahun depan. Aku tak mau itu terjadi, sia-sia perjuanganku selama ini bila harus mengulang lagi tahun depan. Aku fokuskan diriku untuk belajar mati-matian dalam menghadapi UN ini. Entah hari keberapa tepatnya, aku sudah duluan keluar dari ruang ujian. Aku duduk-duduk didepan ruangan ujianku sembari mereview hasil ujianku tadi. Sebagian ada soal yang begitu sangat ku kenal. ‘Beruntung aku belajar’, pikirku. Disampingku sudah ada laki-laki itu dengan senyuman khasnya. Aku tak bisa berpaling dari memandanginya. Entah dia sadar atau bagaimana saat ku pandang seperti tadi. Diapun balas menatapku, dan bertanya, “kenapa? Ada yang salah ?”, ucapannya membuyarkan lamunanku dan meruntuhkan senyuman manisku. ‘Apa yang ku lakukan? Aku benar-benar teledor’, pikirku. Karena malu, aku pun pura-pura bertanya, “Gimana ujian tadi, lancar kan?,”, ini salah satu caraku untuk mengatasi rasa malu dan rasa gugupku. Jantungku berdetak sangat kencang. Aku takut aku tak bisa mengatur irama jantungku lagi. Kalau aku kabur, sangat jelas ketahuan apa yang kurasa. Makanya dengan cara ini, akan membuatku sedikit lebih tenang. “Lancar kok.”, katanya. Dari jawabannya sudah bisa kupastikan dia tak ada kesulitan dalam hal ini. Akhirnya UN sudah selesai diselenggarakan. Hari ini adalah hari dimana kelulusanku akan diumumkan. Aku deg-degan rasanya, walau aku yakin aku akan lulus tapi menantikan pengumuman kelulusan membuat jantung berdebar juga. Tak seperti debaran saat bertemu dia. Tapi lebih ke.…. ah tak tau lah, tak dapat kujelaskan. Yang pernah ada diposisiku saat ini pasti sangat tau apa yang aku rasakan. Entah kenapa, tiba-tiba ada rasa sesak didadaku. Bukan aku tak lulus, aku lulus dengan nilai yang cukup. Namun tak dapat membuatku senang. Aku tau setelah ini, aku harus melanjutkan sekolah ke SMA. Tapi ada sesuatu yang membuatku begitu sedih meninggalkan sekolah ini. Tak kupungkiri, dua tahun terakhir ini aku tertarik kepada lawan jenis, namun tak bisa aku ungkapkan. Sampai saat kelulusankupun, aku masih tetap memendam rasa ini. Entah sampai kapan aku bisa memendamnya, aku pun tak tau. Satu yang pasti dan akan kupastikan, nama itu akan tetap abadi dihatiku. Aku bodoh? Memang iya. Karena rasa takutku mengalahkan perasaanku, yang sampai saat ini belum aku ketahui namanya. Aku akan tetap menjaga rasaku ini, hanya satu nama di hati ini dan nama itu Indra Hardianto. Nama yang telah mengisi semua hatiku dan tak ada tempat lagi untuk nama lain. Akan kupastikan debaran ini hanya kurasakan saat aku bersama kamu. Orang yang mampu membuat jantungku berdebar. Aku berharap, ini bukanlah perpisahan kita. Namun, ini adalah awal kehidupan baru kita. Jalan kita masih panjang. Percayalah, hati ini hanya ada namamu hari ini, esok dan untuk selamanya.   ---------------------------------------ooooooo--------------------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN