EX FIANCE | 3

1794 Kata
    Adelia melangkah masuk ke dalam gedung pencakar langit tempatnya bekerja, tepat pukul tujuh pagi. Dia sudah berpakaian sewajarnya. Rok span hitam di padukan dengan blouse biru langit, high hells setinggi 7 cm dan rambut panjangnya di kucir kuda. Adelia Whalen terlihat sangat sempurna di pagi hari yang cerah ini namun tidak dengan keadaan perut Adelia. Gadis itu melewatkan sarapan paginya karena terlalu malas untuk menyiapkan segalanya. Dulu selalu ada Lucas yang menyiapkannya setiap pagi namun sekarang—napas Adelia lagi-lagi tercekat.     Tidak akan pernah ada Lucas lagi. Luke-nya tidak akan pernah kembali lagi.     Keadaan kantor masih sangat sepi. Hanya ada beberapa orang yang datang dan menempati ruang-ruang tertentu. Adelia jelas menyadari. Wajah-wajah itu terlihat sangat stress. Beban pekerjaan memang tidak pernah main-main. Ketika kalian berpikir semua pekerjaan rumah akan terhenti ketika kalian lulus sekolah atau lulus kuliah, kalian salah besar. Justru ketika sudah bekerja, kalian akan mendapatkan tugas lebih. Mengejar deadline. Kalau kalian tidak bisa memenuhinya mungkin gaji kalian akan di potong atau justru di pecat. Dunia kerja itu tidak seindah yang terlihat dalam sinetron. Semua lebih dari itu.     Saat lift berhenti di lantai 30, Adelia langsung melangkah keluar. Setiap langkah Adelia terlihat penuh perhitungan. Tidak ada keraguan apapun dari sorot matanya. Manajer keuangan baru Levine grup itu tampak sangat sempurna. Bahkan beberapa rekannya yang sudah datang menatap Adelia penuh kekaguman. Mereka tersenyum ramah yang di balas tidak kalah ramah oleh Adelia.     Tubuh Adelia mendadak kaku, tangannya yang baru saja hendak mendorong pintu kaca di hadapannya langsung terhenti. Suara itu. Kenapa suara itu masih memberikan efek yang sama pada Adelia? Ayolah, ini sudah delapan tahun berlalu. Adelia seharusnya tidak melakukan hal bodoh seperti ini lagi.     Adelia memejamkan matanya, menarik napas secara perlahan. Di rasa keadaannya mulai membaik Adelia memutar tubuhnya. Tatapannya langsung bertemu dengan tatapan tajam milik Aiden berbanding terbalik dengan bibir pria itu yang tersenyum ramah. Adelia langsung berpikir jika atasannya ini terlalu perpura-pura. Bukannya dulu pria ini suka bertindak semaunya?     “Selamat pagi, mbak Whalen, bagaimana dengan ruangannya? Suka?” tanya sosok yang tampak jauh lebih sempurna pagi ini. Setelan jas mahal itu membalut tubuh tinggi tegapnya dengan sangat pas. Adelia mengusahakan senyum terbaiknya, walau sebenarnya Adelia masih sangat bingung dengan keadaan yang dia alami. Seharusnya Aiden tidak bertingkah seperti ini. Sifat ramah pria di hadapannya ini bukan membuat Adelia merasa tersanjung justru Adelia merasa sebaliknya. Adelia merasa sangat terganggu dan entahlah—Aiden yang berdiri di hadapannya sekarang tidak seperti Aiden yang dia kenal dulu. Adelia tahu, waktu delapan tahun bukanlah waktu yang singkat. Mungkin semua setan yang menggerogoti tubuh Aiden sudah di PHK sejak lama.     “Suka, Pak, saya merasa ruangan itu seolah memang di desain untuk saja. Saya memang tidak salah memilih tempat untuk bekerja,” ucap Adelia ramah.     “Mau saya temani berkeliling? Saya pikir kamu masih sangat asing dengan gedung ini,” ucap Aiden. Adelia hampir saja menyerukan bahwa dia sudah sangat mengenal seluk beluk gedung tempatnya bekerja. Bahkan dulu. Dulu sekali. Adelia memiliki kenangan indah di puncak tertinggi gedung ini.     “Suatu kehormatan bagi saya, Pak. Tapi mohon maaf sekali. Bisakah waktu berkelilingnya kita undur setelah makan siang? Perkerjaan saya sangat menumpuk,” ucap Adelia sembari melirik meja kerjanya yang sudah di penuhi berkas-berkas.        “Tentu saja mbak Whalen. Sekretaris saya akan menghubungi anda setelah ini,” ucap Aiden kemudian berlalu begitu saja. Dia tidak melangkah ke arah lift melainkan ke arah tangga darurat. Mungkin ini alasan mengapa lift kantor sudah mati tepat pukul enam sore. Pemimpinnya tidak suka menggunakan benda persegi panjang itu. Tangga darurat selalu menjadi pilihan Aiden. Ketika waktu yang dia punya masih cukup untuk menggunkan tangga darurat.     “Setannya benar-benar sudah di PHK semua,” gumam Adelia sembari menggelengkan kepalanya. Setelah punggung Aiden hilang dari penglihatannya barulah Adelia memasuki ruangannya. Laporan keuangan sudah banyak sekali. Minta di sayang dan di perhatikan dengan sangat teliti. Kurang nol satu sama saja seperti malapetaka. Berbahaya.     ***     Kepala Adelia mendadak pusing. Banyak hal yang harus dia pelajari hari ini. Bahkan Adelia melewatkan makan siangnya. Sekretaris Aiden sudah menghubunginya. Bahwa Aiden tidak bisa menemaninya berkeliling perusahaan. Pria itu sedang ada urusan di luar.     Adelia menatap berbagai angka yang tertera di layar komputernya. Banyak sekali kesalahan yang dia temukan dan Adelia harus segera memperbaikinya sebelum menyerahkan laporan itu pada Ainden besok pagi.     “Kelamaan di manja. Otak gue mendadak beku,” keluh Adelia. Wanita itu beranjak ke arah sofa. Dia melirik jam tangan. Sudah hampir waktu pulang kerja. Adelia langsung membereskan barang-barangnya ke dalam tas. Semua pekerjaan yang belum selesai akan di lanjutkan nanti malam. Adelia butuh sedikit waktu untuk menenangkan diri. Dia cukup kaget. Walau ini bukan pengalaman kerja pertamanya namun Adelia sudah bertahun-tahun berhenti dari perkerjaannya.     Rekan kerjanya cukup menyenangkan. Adelia tidak merasakan masalah apapun dengan mereka. Mereka semua bisa di ajak bekerja sama dengan baik. Dan Adelia sangat mensyukuri itu.     Baru ingin menekan tombol lift ke lantai bawah namun gagal. Adelia justru menekan lantai teratas gedung ini. Entah kenapa Adelia tiba-tiba merindukan tempat itu. Apakah sudah berubah atau justru masih sama. Sama seperti delapan tahun yang lalu.     Baru ingin mendorong pintu menuju rooftop, Adelia tiba-tiba meruntuki kebodohannya. Roaftop ini hanya bisa di akses oleh orang-orang tertentu saja. Bahkan Adelia ingat betul, yang memiliki kunci rooftop hanya Daffa, adik Adelia. Lemos, adik Aiden dan Aiden sendiri. Dengan langkah berat Adelia memutar tubuhnya. Dia sudah berharap banyak bisa menikmati sore Jakarta dari atas. Namun, sepertinya Adelia tidak akan pernah lagi bisa mengakses tempat itu. Jika dia sudah bukan siapa-siapa lagi. Adelia sudah tidak memiliki hak.     Dengan langkah gontai Adelia melangkah menuju lift. Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti. Tubuhnya di tarik paksa ke arah tangga darurat. Adelia tersentak. Adelia bahkan nyaris kehilangan keseimbangan tubuhnya ketika Aiden mendorongnya ke tembok.     “Pak,” ucap Adelia tergagap. Sarafnya seolah lumpuh. Mata Adelia bertemu dengan bola mata hitam legam milik Aiden. Pria itu tampak sangat kusut. Adelia lagi-lagi dibuat terpaku. Wajah tampan itu tampak muram. Entah apa yang membuat Aiden seberantakan ini padahal pagi tadi pria itu tampak baik-baik saja. Bertengkar dengan istrinya kah? Dulu Lucas juga sama, ketika mereka bertengkar, pria itu akan kacau dan berakhir bermanja-manja dengan Adelia sepanjang hari.     “Bapak, kenapa?” tanya Adelia lagi ketika Aiden masih diam. Pria itu menyorot Adelia sebentar sebelum menyandarkan keningnya di bahu Adelia. Napas Adelia terkcekat. Posisinya dan Aiden terlalu intim.     “Kamu siapa?” pertanyaan Aiden terdengar seperti gumamam. Adelia sudah berusaha keras untuk kembali ke alam sadarnya. Adelia bahkan sudah menyusun berbagai rencana di otaknya untuk menyingkirkan Aiden dari hadapannya namun gagal. Adelia masih terpaku. Matanya mengerjap pelan. Berusaha mencerna apa yang terjadi.     “Kamu siapa, Adelia?” tanya Aiden lagi. Adelia masih terdiam kaku. Saat alarm di bawah sadarnya menyala. Adelia langsung mendorong tubuh tegap Aiden sampai lengan pria itu terbentur besi pembatas tangga. Adelia menatap sebentar sebelum berlari dan masuk ke dalam lift. Sudah tidak seharusnya. Aiden tiba-tiba terlihat menyeramkan di mata Adelia. Sampai kapanpun Adelia tidak akan pernah bisa memaafkan apapun yang sudah pria itu lakukan padanya.     “Dia pernah nyakitin lo dulu, Del!” ***     Tidak ada Stephani. Sepupunya sudah berangkat ke Bandung sejak tadi pagi bersama Daniel. Hari semakin beranjak malam. Adelia baru selesai dengan kegiatan rutinnya. Menyambangi tempat Gym sepulang bekerja. Namun, tidak ada hal yang menyenangkan yang di temukan Adelia di tempat itu. Semua mendadak senyap. Tempat itu membawa Adelia ke masa lalu. Tawa Lucas terus-menerus berputar dalam ingatannya. Adelia bahkan sempat salah menyebut nama ketika dia meminta bantuan pada seorang di sana. Biasanya Adelia selalu melakukannya dengan Lucas. Bahkan Adelia mendadak kehilangan semangatnya untuk kembali ke tempat itu. Adelia kembali menggeleng. Suara Lucas lagi-lagi terdengar, “olahraga itu bagus, Sayang. Kau harus selalu melakukannya. Aku tidak ingin melihatmu sakit.”     Beranjak dari kenangannya bersama Lucas, Adelia melangkah keluar dari tempat Gym. Adelia ingin mencari makan malam. Semenjak kembali ke Indonesia, Adelia belum mencicipi masakan Indonesia sama sekali. Andai saja Ivana, bunda-nya ada di sini. Mungkin wanita itu sudah memasakan berbagai menu untuk Adelia. Namun, kenyataannya, Ivana dan Hans sekarang menetap di Amerika.     Jakarta masih sama. Kota ini seolah tidak pernah mati. Semakin malam jusrtu semakin ramai. Pedagang semakin banyak. Outfit yang sering dia gunakan untuk berolahraga  masih membalut tubuh. Kali ini Adelia memakai emma top untuk atasan dan Leeging serta sepatu sport untuk bawahan. Adelia bahkan mengabaikan angin malam yang menyapa kulit punggung, lengan dan wajahnya. Adelia tidak peduli apapun tanggapan orang padanya. Dia selalu pulang dengan pakaian ini dulu. Ketika di Manhattan. Jadi apa yang harus di ubah ketika semua masih bisa sama.     Dari sekian banyak yang berubah namun Adelia menyadari sesuatu. Ada yang tetap bertahan di posisinya. Seperti warung tenda di hadapannya. Warung tenda yang sering dia kunjungi semasa SMA. Masakan khas Jawa di sajikan di sini. Bahkan pembelinya di perbolehkan untuk mengambil makannya sendiri. Dengan penuh semangat Adelia melangkah masuk. Dia akan memakan apapun malam ini. Adelia ingin menyenangkan diri. Menghilangkan stress dan mengusir wajah sialan Aiden f*****g Levine.     “Mbak Whalen,” panggil seseorang membuat Adelia yang sedang mencari tempat duduk langsung menghentikan langkah. Adelia mencari sumber suara dan seorang yang sedang melambai di ujung sana membuat Adelia menarik napasnya dengan kasar. Kenapa pria itu ada di mana-mana?     Adelia mengabaikan. Dia tidak ingin berurusan dengan Aiden selain tentang pekerjaan. Terlalu dekat akan membuat hari Adelia berantakan. Adelia tidak mau rencana yang sudah dia buat sedemikian rupa harus gagal karena satu orang.     Baru di suapan ketiga, seorang bergabung di meja yang di tempati Adelia. Warung ini menyediakan meja untuk duduk lesehan. Adelia menatap malas orang di hadapannya.     “Ngapain, Bapak, ke sini?” tanya Adelia.     “Menemani manajer keuangan saya yang baru,” jawab Aiden dengan santai. Pria itu kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda karena pindah meja. Adelia nyaris tertawa mendengar jawaban konyol Aiden.     “Sejujurnya saya merasa terganggu dengan keberadaan Bapak di sini. Jadi, bisa tolong pindah meja?” tanya Adelia. Dia tidak mau orang-orang berpikir macam-macam tentangnya. Cukup dulu hubungannya yang di rusak. Adelia tidak akan melakukan hal yang sama.     “Kenapa? Nggak ada larangan apapun di sini. Orang bebas duduk di manapun yang mereka mau,” jawab Aiden. Adelian menarik napasnya yang mendadak terasa berat.     “Saya nggak mau makan sama suami orang!” seru Adelia. Gadis itu menyudahi kegiatan makannya. Walau masakan ini sangat enak namun Adelia sudah keburu tidak memiliki berselera untuk makan.     “Saya masih sendiri, Del, belum menikah,” jawab Aiden sambil terkekeh geli. Adelia mendengus. Tapi kenyataan sepertinya benar. Tidak ada cincin yang melingkari jari manis Aiden.     “Tapi saya yang sudah menikah,” jawab Adelia sambil mengangkat tangannya yang di lingkari cincin di jari manis. Aiden menatap Adelia. Tatapan itu seolah sedang mengejeknya dan Adelia sangat membenci itu.     “Lebih tepatnya, janda mbak Whalen,” ucap Aiden dengan nada geli kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Adelia dengan segala sumpah separahnya.     “Aiden sialan!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN