EX FIANCE | 4

1233 Kata
    Menyelesaikan apa yang sudah di tinggalkan memang sulit. Adelia sedang menghadapi itu sekarang. Banyak sekali laporan yang harus dia periksa dan selesaikan. Pekerjaan itu selalu datang seolah tidak ada habisnya. Sesekali Adelia memijat keningnya. Entah sudah berapa lama Adelia berkutat di hadapan komputer. Matanya juga terasa sangat lelah namun Aiden mengatakan bahwa dia segera membutuhkan laporan keuangan itu.     Mata Adelia nyaris terpejam kalau seorang tidak masuk ke dalam ruangannya tanpa izin. Adelia menatap malas orang itu. Sudah hampir seminggu bekerja dis ini. Aiden seolah memang merencanakan sesuatu. Setiap hari pria itu akan masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi sambil membawa makan siang. Syukur kalau makan siangnya bawa dua porsi, tapi kenyataannya Aiden membawa makan siang hanya satu porsi. Hanya untuk pria itu sendiri.     “Kenapa Bapak selalu makan siang di ruangan saya? Saya merasa terganggu,” ucap Adelia tanpa takut. Ruangannya adalah hak miliknya. Siapaun yang masuk ke sini harus memiliki izin darinya. Adelia tidak peduli seberapa tinggi kedudukan Aiden di kantor ini. Adelia berhak untuk menegur jika seorang sedang mencoba mengusik privasinya.     Aiden menatap Adelia sebentar lalu kembali melanjutkan makan siangnya. Merasa di abaikan Adelia memukul mejanya dengan kedua tangan. Tidak terlalu keras namun Adelia bisa merasakan rasa panas tiba-tiba mengalir di kedua telapak tangannya. Seolah sia-sia. Aiden masih duduk damai dan menikmati makan siangnya penuh hikmat. Emosi Adelia semakin menggebu. Wanita itu bangkit dari kursinya lalu melangkah dengan kesal ke arah Aiden.     “Saya tahu betul siapa Bapak di perusahaan ini. Tapi saya sebagai karyawan juga butuh privasi. Saya tidak suka dengan tindakan Bapak yang seenaknya,” ucap Adelia dengan emosi yang semakin naik ke kepala. Dia berdiri tepat di samping Aiden yang masih menikmati makanannya.     Napas Adelia nyaris berhenti ketika Aiden tiba-tiba menarik Adelia ke pangkuannya. Ya, Adelia duduk di pangkuan Aiden Narendra Levine. Bos-nya yang entah mengapa semakin lama semakin tidak Adelia sukai.     “Ba…” ucapan Adelia langsung terhenti ketika Aidan melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping milik Adelia. Menarik tubuh Adelia semakin dekat. Pria itu menatap Adelia dengan lekat. Wajah mereka nyaris tidak berjarak. Tubuh Adelia benar-benar kaku bagaikan patung. Matanya terpaku pada mata hitam legam milik Aiden yang seolah sedang menarik seluruh kehidupan Adelia.     “Jika sudah tahu kenapa harus protes mbak Whalen. Ini gedung milik saya. Saya bebas melakukan apapun yang saya mau. Termasuk menarik anda ke ranjang saya,” suara serak itu mengalun. Satu sudut bibir Aiden terangkat. Senyum itu seolah membakar seluruh tubuh Adelia. Adelia menyerah. Apapun yang akan di lakukan Aiden. Adelia tidak akan peduli lagi.     “Terse...,” lagi-lagi ucapan Adelia terpotong. Aiden menciumnya, tepat di bibir. Mata Adelia membola sempurna. Ingin melayangkan protes namun Aiden semakin merapatkan tubuh mereka. Bibirnya melumat bibir Adelia dengan lembut. Tidak ada nafsu apapun di sana. Hanya ciuman lembut yang menyesatkan. Otak Adelia mendadak kosong dan entah sejak kapan kedua tangan Adelia sudah mengalung di leher Aiden. Adelia benar-benar tidak menyangka. Ternyata rasanya masih tetap sama. Ciuman Aiden masih sama. Adelia masih ingat ciuman ini masih sama dengan ciuman pertama mereka. Saat kelulusan SMA dulu.     Ciuman itu terlepas saat ponsel yang ada di saku celana Aiden bergetar. Aiden mengangkat tubuh Adelia lalu mendudukan Adelia di sampingnya. Napas mereka masih sama-sama memburu. Tatapan mereka juga menggelap.     “Tunggu sebentar, kamu jangan ke mana-mana. Aku segera ke sana,” ucap Aiden. Pria itu melirik Adelia sebentar.     “…”      “Love you too, Sayang,” ucap Aiden lalu menutup sambungan telpon. Aiden berdiri. Merapikan jasnya yang sedikit kusut lalu melangkah keluar dari ruangan Adelia begitu saja. Tanpa kata. Adelia lagi-lagi merasa di campakkan. Merasa di buang dan tidak berharga. Aiden lagi-lagi menggoreskan luka. ***     Senyum Aiden langsung merekah sempurna ketika melihat seorang yang hampir seminggu tidak dia temui. Mereka sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing. Anggita Plasmana. Tunangan Aiden Narendra Levine sejak enam bulan yang lalu.     Aiden merentangkan tangannya. Anggita yang mengerti langsung menghambur ke dalam pelukan lelaki yang sangat dia cintai. Aiden—nya. Selamanya. Aiden akan menjadi miliknya.     “Kangen,” ucap Anggita. Wanita cantik keturunan ningrat itu menatap Aiden dengan senyum. Aiden mengecup singkat bibir Anggita lalu ikut tersenyum. Wanitanya. Satu-satunya perempuan yang berhasil membuat Aiden tunduk di bawah perintahnya. Aiden tidak pernah menolak permintaan Anggita. Apapun yang Anggita inginkan pasti Aiden akan mengabulkannya. Tanpa tapi.     “Aku juga kangen, kamu terlalu sibuk sampai lupa dengan tunanganmu sendiri. Aku menderita, Sayang. Banyak hal yang tidak bisa aku lepaskan. Sesak itu menyakitiku,” keluh Aiden dengan manja. Anggita terkekeh pelan. Dia selalu mencintai Aiden-nya yang sekarang. Aiden-nya yang manis. Aiden-nya yang penurut. Aiden-nya yang selalu memperlakukan Anggita bagaikan ratu.     “Jadi apa yang harus kita lakukan untuk melepas rindu, Tuan?” tanya Anggita dengan tatapan menggoda. Anggita mengalungkan tangannya di leher Aiden. Wanita itu berjinjit hingga wajahnya dan Aiden saling berhadapan. Keduanya tersenyum penuh arti. Seolah sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Wajah mereka kian mendekat. Jarak di antara keduanya semakin menipis dan berakhir dengan kecupan-kecupan penuh hasrat yang menggebu. Aiden mendorong Anggita ke sofa dan keduanya sama-sama mengerang. Sama-sama mencari kenikmatan dan berakhir dengan desahan panjang yang mengartikan keduanya sudah mencapai puncak. Mereka melakukannya berkali-kali. Bahkan mereka tidak menyadari keberadaan seorang di ujung pintu. Wajahnya tampak memerah namun bibirnya memucat. Adegan dua orang yang sedang bergelut di sofa, saling mencari kenikmatan membuatnya merasa di bawa ke masa lalu. Dia tidak menyesali dulu pernah lari sebelum mendengar penjelasan. Semua keraguannya terjawab sudah, membenci Aiden Narendra Levine adalah keputusan paling tepat yang pernah dia ambil sepanjang hidupnya. ***     Suara dentuman musik keras menyambut Adelia. Pikirannya mendadak kacau dan kalut. Semua mendadak terasa rumit. Sepulang dari tempat Gym dia langsung datang ke club malam. Masih dengan pakaian olahraga kesayangannya bahkan kali ini lebih terbuka lagi. Sport bra dan legging hitam panjang. Adelia tampak benar-benar menggiurkan. Bahkan sedari tadi banyak pria yang diam-diam mencuri pandang kearah Adelia.     Wanita itu duduk di depan meja bar. Kepalanya tertunduk. Adelia tidak berniat untuk minum namun dia sedang membutuhkan itu sekarang. Adelia ingin melupakan apa yang dia lihat di kantor ketika waktu menjelang sore, Adelia bahkan mengupati laporan keuangan yang sudah dia selesaikan dengan sangat rapi. Apa mereka tidak punya tempat lain? Kenapa harus di sofa?     “Melva?” panggil seseorang yang berdiri di balik meja bar dengan sebotol minuman di tangannya. Kening Adelia berkerut. Dia menatap seorang di hadapannya dengan bingung.     “Jangan bilang lo lupa sama gue. Gue Alexander, Mel. Teman kuliah lo sebelum lo pindah ke Amrik,” ucap Alex sembari menuangkan whiskey ke dalam gelas lalu memberikannya pada Adelia.     “Adelia, please,” ucap Adelia. Dia ingat siapa pria yang berdiri di hadapannya malam ini. Alexander. Sahabat Aiden semasa kuliah bahkan mungkin sampai sekarang.     “Sorry, gue mungkin nggak tahu banyak hal. Tapi setelah lo pergi semua nggak baik-baik aja, Mel. Gue merasa kehilangan dia,” ucap Alex. Adelia menatap pria di hadapannya dengan malas. Dia tidak pernah menyukai panggilan itu lagi.     “Adelia, please ! Melva yang lo kenal sudah lama mati. Gue Adelia Whalen. Dan gue sudah menikah sejak tiga tahun yang lalu. Jadi apapun yang lo tahu tentang dia bukan urusan gue lagi. Dia bukan siapa-siapa. Bajingann itu akan selalu menjadi bajingann di mata gue,” ucap Adelia. Wanita itu meneguk minumannya. Bahkan Adelia sudah merasakan kepalanya berdenyut. Semakin banyak dia meneguk minumannya semakin Adelia kehilangan kesadaran.     “Alex, teman lo brengsekk. Dia brengsekk!” ucap Adelia sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya di pelukan seseorang yang sedang menatap bingung ke arah Alexander. Meminta penjelasan.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN