Adelia mengerang pelan. Cahaya yang masuk dari celah tirai sangat mengganggu tidurnya. Adelia mengubah posisi tidurnya. Mencoba membelakangi cahaya namun mata wanita itu langsung melotot ketika keningnya terbentur dengan d**a bidang seseorang yang shirtless. Dengan perlahan Adelia mengangkat kepalanya. Wanita itu semakin melotot. Adelia bahkan langsung terduduk. Memeriksa pakaian yang dia pakai dan berakhir Adelia menghela napas lega. Pakaiannya masih lengkap. Mata Adelia menelusuri setiap jengkal wajah Aiden. Mata pria itu masih terpejam dengan lelap, hidung bangir, rahang tegas, bibir yang hampir saja membuat Adelia kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan lengan kokoh yang dulu pernah mendekapnya dengan hangat. Sempurna. Sedari dulu Aiden memang sudah sempurna. Sekarang tubuh pria itu benar-benar lebih terlihat sempurna. Otot-ototnya terbentuk dengan sangat indah.
Ketika mengingat apa yang sudah di lakukan pria ini padanya, Adelia buru-buru turun dari kasur. Dia harus segera pergi. Adelia tidak ingin berurusan lagi dengan pria ini namun baru saja kaki Adelia menginjak lantai. Seorang menariknya lalu memeluk tubuh Adelia erat-erat bagaikan guling bahkan Adelia jadi kesulitan bernapas.
“Tidur dulu mbak Whalen, kamu semalam terlalu banyak minum,” ucap Aiden dengan suara serak. Adelia sudah kembali bergelut dengan pikirannya sendiri. Kenapa dia terus-menerus terjebak dengan orang yang selalu dia hindari? Kenapa seolah dunianya dan dunia Aiden bergerak di poros yang sama. Adelia nyaris terpejam. Aroma tubuh Aiden tidak berubah. Masih mampu mengantarkan rasa nyaman yang membuat otot-otot tubuh Adelia melemas. Dia merasa tenang sekaligus terlindungi. Adelia tahu ini kesalahan. Tidak seharusnya Adelia tidur dalam pelukan pria yang sudah memiliki tunangan.
Namun semakin lama mata Adelia semakin berat. Dia kembali terlelap bahkan tanpa sadar Adelia merapatkan tubuhnya dengan tubuh Aiden. Menjadikan lengan pria itu sebagai bantal dan wajahnya tersembunyi di d**a bidang shirtless milik Aiden.
Aiden terdiam. Dia sangat menikmati apapun yang terjadi padanya sejak semalam. Dia mengamati wajah cantik yang kini tersembunyi di d**a bidangnya. Aiden tidak mengerti kenapa dia bisa menahan dirinya sejak semalam. Biasanya Aiden tidak bisa jika tidak menyentuh seorang wanita sebelum beranjak tidur. Namun kemarin dia tidak melakukan apapun pada Adelia. Dia hanya mengamati wajah lelap Adelia sepanjang malam. Karena pada kenyataannya Aiden tidak pernah tertidur yang benar-benar tidur. Dia selalu di hantui mimpi buruk. Entah karena alasan apa. Sejak bertemu dengan Adelia di tangga darurat di sore hari waktu itu. Aiden tidak pernah bisa melupakan wajah Adelia. Wanita ini sudah menarik perhatiannya sejak awal. Aiden merasa mengenal Adelia namun seberapa keraspun dia berusaha mengingat. Nyatanya tidak ada yang membekas dalam ingatannya tentang wanita ini. Kecuali sejak mereka bertemu di tangga darurat.
Hari-hari Aiden sedikit kacau bahkan dia hanya beberapa kali datang ke club untuk menikmati malamnya. Adelia banyak mendominasi pikirannya. Bahkan Aiden merasa bersalah pada Anggita. Mendadak wanita yang sudah menemaninya sejak lama itu tidak menarik lagi. Ciuman Anggita tidak seenak ciuman Adelia. Lagi dan lagi Aiden ingin merasakan bibir Adelia.
Tangan Aiden mengusap pelan perut Adelia yang memang sudah terbuka sejak dia temukan di club semalam. Entah apa yang ada di otak manajer keuangannya ini. Sejak awal Adelia memang sedikit konyol. Pertama kali bertemu Adelia, wanita ini juga memakai baju olahraga ke kantor. Waktu mereka tidak sengaja bertemu di warung tenda Adelia juga memakai baju yang sama. Semalam dia juga menemukan Adelia memakai baju terkutuknya bahkan lebih terbuka dari yang terakhir Aiden lihat. Secinta itu kah Adelia Whalen terhadap pakaian terkutuk itu? Tidak sadarkah wanita itu jika banyak pasang mata yang menatapnya dengan lapar? Aiden mengeram pelan. Rasanya dia ingin membakar seluruh pakaian kecintaan Adelia. Aiden lebih suka melihat Adelia memakai daster sepanjang hari dan Aiden akan mengurungnya di dalam kamarnya lalu bergelut di atas ranjang. Sungguh itu kenikmatan yang tidak akan pernah Aiden lupakan jika sampai terjadi.
Entah sudah berapa lamanya Aiden mengamati wajah lelap Adelia, napas wanita itu tampak teratur. Aiden menelusuri setiap jengkal wajah Adelia. Semua tampak sempurna. Tidak ada cela sama sekali. Adelia bahkan nyaris seperti orang keturunan luar di bandingkan keturunan Indonesia. Namun dari data yang dia dapat. Adelia Whalen, asli orang Indonesia. Tidak ada darah campuran sama sekali. Namun bisa saja kakek atau neneknya adalah orang luar negeri. Mengingat Adelia juga lama menetap disana.
Merasa sudah puas menatap wajah Adelia, Aiden menggeser tubuhnya pelan. Dia butuh mandi. Matahari juga mulai naik. Sebelum benar-benar berlalu ke kamar mandi. Aiden menarik selimut dan menutupi tubuh Adelia sampai dadaa. Dia kembali mengamati wajah itu. Dan beranjak ke kamar mandi dengan langkah lebih ringan.
Entahlah, Aiden hanya merasa hari liburnya terasa lebih menyenangkan.
***
Aiden mendorong pintu kamarnya. Posisi Adelia tidak berubah sama sekali. Wanita itu masih terlelap dengan damai. Jika tadi Aiden menyuruh Adelia untuk tidur lebih lama namun sekarang Aiden menepuk lengan Adelia pelan. Berusaha membangunkan tukang tidur ini.
“Mbak Whalen. Bangun!” seru Aiden. Adelia bergumam pelan. Dia bergerak lalu mengubah posisinya jadi memunggungi Aiden. Aiden menyeringai pelan. Dia mendekat lalu meniup telinga Adelia.
“Mau sampai kapan kamu tidur di kasur saya atau jangan-jangan kamu ingin sekali saya tiduri?” bisik Aiden pelan di telingga Adelia. Seolah alarm bawah sadarnya menyala, mata Adelia langsng terbuka lebar. Bahkan dia langsung terduduk membuat kepalanya pusing. Dia menatap Aiden dengan horor.
“Mesuum!” seru Adelia dengan wajah kesal. Aiden terkekeh pelan. Dia menatap Adelia dari atas sampai bawah. Rambut awut-awutan, mata sayu dan ada jejak lipatan bantal di pipi kirinya. Namun, di balik semua itu. Adelia Whalen justru terlihat semakin menggoda ketika baru bangun tidur.
“Segera bereskan dirimu, saya sudah menyiapkan pakaian kamu di situ,” ucap Aiden sambil menunjuk paper bag yang ada di meja rias. Tanpa menunggu jawaban Adelia, Aiden langsung keluar dari kamar.
“Segera mbak Whalen. Kasihan cacing-cacing kamu. Mereka juga butuh asupan untuk bertahan hidup,” ucap Aidan sebelum benar-benar hilang di balik pintu.
Adelia nyaris mengupat dan meneriaki Aiden, namun kepalanya lagi-lagi terasa berdenyut. Mungkin ini efek karena dia terlalu banyak minum dan juga stress karena pekerjaannya yang baru.
Adelia mengambil paper bag yang ada di meja rias lalu masuk ke dalam kamar mandi. Mungkin dengan berendam air hangat akan membuat tubuh Adelia lebih releks nantinya.
Tiga puluh menit lebih Adelia menghabiskan waktunya di kamar mandi. Namun, ketika melihat isi paper bag-nya. Mata Adelia melotot sempurna. Giginya bergemeretak kesal. Bagaiman bisa Aiden membelikannya daster? Dia pikir Adelia adalah ibu-ibu yang senang bergosip dengan tetangga?”
“AIDEN SIALAN! KENAPA HARUS DASTER?!” teriak Adelia untuk menyalurkan rasa kesalnya. Wanita itu misuh-misuh namun Adelia tetap memakai daster bermotif bunga itu. Adelia sudah tidak memiliki pilihan. Memakai daster jauh lebih baik di bandingkan hanya memakai celana dalam dan bra.
Dengan langkah menghentak-hentak ke lantai, Adelia segera keluar dari kamar milik Aiden. Wanita itu menelusuri setiap sudut Apartemen dengan mata jeli. Namun dia tidak menemukan orang yang sudah mencari masalah dengannya. Jika sampai dia menemukan pria itu. Adelia berjanji. Dia akan menarik rambut Aiden kuat-kuat sampai pria itu memohon untuk di lepaskan.
“Wow, mbak Whalen. Anda terlihat sangat sempurna dengan pakaian seperti itu,” ucap Aiden dengan senyum yang terlihat sangat menyebalkan di mata Adelia. Adelia mendekat ke arah Aiden dengan langkah lebar-lebar. Adelia benar-benar sedang di kuasai oleh emosinya. Kekesalannya pada Aiden harus dia luapkan segera mungkin.
Tanpa berpikir dua kali Adelia langsung menjambak rambut Aiden. Tingginya yang hampir sama dengan pria itu semakin memudahkan Adelia untuk melakukan aksinya.
“Bos sialan! Sedari awal berani-beraninya anda mencari masalah dengan saya? Ada pikir, anda ini dewa sekali hah?!” ucap Adelia. Dia semakin menjambak rambut Aiden dengan sekuat tenaga.
“ADELIA STOP!” Seru Aiden. Namun Adelia seolah tidak mendengar apapun. Bahkan wanita itu mengigit lengan Aiden dengan keras.
“AIDEN SIALAN! KENAPA HARUS DASTER? BAPAK PIKIR SAYA IBU-IBU? SAYA MASIH TERLALU MUDA UNTUK MENJADI IBU-IBU!” Seru Adelia. Napasnya terengah-engah. Adelia termasuk orang yang jarang berbicara dengan suara keras. Wanita itu lebih senang menggerutu karena itu tidak banyak menguras tenaganya.
Merasa lelah Adelia duduk di kursi meja makan. Dia masih menatap Aiden penuh permsuhan. Dia tidak peduli dengan Aiden yang tampak mengenaskan. Rambut acak-acakan. Lengan yang tampak memerah bahkan mengeluarkan darah akibat gigitannya.
“Saya jadi percaya, ibu-ibu yang mengenakkan daster ternyata lebih seram dari gerombolan pereman,” ucap Aiden. Pria itu duduk di kursi sebelah Adelia. Adelia mendengus kesal namun dia langsung meringis ketika melihat lengan Aiden yang tadi dia gigit ternyata mengeluarkan darah. Apa dia sudah keterlaluan?
“Pak,” panggil Adelia hati-hati. Dia tidak ingin kehilangan pekerjaan beserta berbagai makanan yang tersaji di meja makan yang sialnya—rata-rata dari makanan yang ada di sana adalah favoritnya karena telah melakukan kekerasan pada bosnya sendiri.
“Kenapa?” tanya Aiden setelah menyendokkan nasi ke piring Adelia.
“Jangan pecat saya,” ucap Adelia, dia memasang wajah seperti anak anjing yang minta di kasihani. Mata nya mengerjap pelan.
“Kenapa?” tanya Aiden. Jujur saya, jambakan Adelia berhasil membuat kepalanya pusing dan lengannya terasa perih. Sepertinya bermain-main sedikit dengan Adelia akan menyenangkan.
Adelia mengigit bibir bawahnya dengan gugup. Tangannya terangkat lalu menyentuh bekas gigitannya di lengan Aiden, “kayaknya saya udah melakukan kekerasan dan menyakiti lengan Bapak yang sebenarnya nggak sekekar lengan suami saya. Tapi ini bukan salah saya sepenuhnya. Bapak nyebelin banget,” ucap Adelia. Dia menatap Aiden yang sedari tadi menatapnya, “Bapak niat nggak sih beliin baju buat saya? Kenapa harus daster? Bapak kekurangan uang? Kalau iya bilang dong, uang saya banyak, saya nggak mungkin bisa naik ojek online kalau pakai daster seperti ini,” lanjut Adelia. Aiden nyaris tertatawa. Namun dia berusaha untuk memasang wajah datarnya. Mimik wajah Adelia saat ini terlihat sangat lucu. Rasanya Aiden ingin menarik perempuan itu ke dalam pelukannya.
“Saya lapar. Kita bisa bicara lagi nanti,” ucap Aiden. Adelia diam-diam menghela napas berat. Apakah dia akan di pecat? Ayolah dia baru saja seminggu bekerja.
***
“Mbak Whalen, sakit,” keluh Aiden entah untuk ke yang berapa kali. Adelia terus saja menggerutu kesal. Entah apa yang membuat pria yang duduk di sebelah nya ini menjadi sangat lebay padahal hanya luka ringan namun Aiden terus saja mengeluh ketika kapas yang sudah di beri alkohol menyentuh lengan kekarnya. Aiden benar-benar sukses mengacaukan hari libur Adelia.
“Obati aja sendiri,” kesal Adelia. Dia memberikan kapas yang sedari tadi dia pegang pada Aiden. “Sebenarnya saya nggak suka ada di sekitar, Bapak. Bapak terlalu nyebelin untuk saya yang terlalu kalem,” ucap Adelia. Dia berdiri dari sofa. Hari juga sudah beranjak sore. Aiden sialan itu benar-benar menjebak Adelia. Tidak mengizinkan Adelia meninggalkan meja makan sebelum pria itu selesai makan. Setelah makan Aiden dengan seenaknya menyuruh Adelia mencuci piring dan yang paling parah. Pria itu mengeluh sakit kepala karena tidak tidur semalaman karena menjaga Adelia yang mabuk berat dan sepanjang siang setelah makan Aiden tidur berbantal paha Adelia. Benar-benar menguji kesabaran.
“Saya mau pulang,” ucap Adelia. “Hari libur yang sangat berharga milik saya mendadak jadi nggak berharga gara-gara tingkah nyebelin, Bapak. Kalau Bapak mau manja-manja silahkan aja sama pacarnya atau wanita-wanita di night club,” ucap Adelia dengan kesal. Wanita ini melirik Aiden dengan sengit namun tangannya sibuk merapikan barang-barangnya ke dalam tas. “Lagian Bapak berani bayar saya berapa memangnya? Waktu adalah uang, kalau Bapak lupa,” lanjutnya. Aiden masih diam. Mengamati Adelia yang terus-terusan mengomel. Perempuan itu memang sangat pantas memakai daster di bandingkan baju ‘terkutuk’ ataupun pakaian formal.
“Memang kamu mau saya bayar berapa? Sebutin aja,” jawab Aiden santai. Dia mengambil kunci mobil yang ada di atas meja tamu. Adelia semakin menatap Aiden dengan sengit. “Alah perusahaan warisan orangtua aja kok bangga,” jawab Adelia, Aiden menaikan sebelah alisnya. Levine Grup memang di rintis oleh Papi dan sahabat papinya namun Levine Grup bisa sejaya sekarang akibat kerja keras Aiden, “bahkan uang saya lebih banyak dari uang, Bapak. Jadi terimakasih,” lanjut Adelia. Wanita itu mengambil ponselnya. Hendak memesan taksi online namun sebelum itu benar-benar terjadi Aiden sudah lebih dulu mengambil ponsel milik Adelia dan memasukkannya ke dalam saku celana.
“Saya yang antar,” ucap Aiden dengan santai. Pria itu berlalu ke arah pintu. Adelia melotot galak. Kenapa Aiden senang sekali membuatnya kesal? Dengan langkah seribu Adelia menyusul Aiden. Memegang lengan pria itu hingga Aiden menghentikan langkahnya.
“Setelah membawa saya ke Apartemen Bapak dan mengacaukan hari libur saya. Bapak sekarang mau mata-matain saya? Bapak mau sok baik nganterin saya ke Apartemen saya supaya tahu alamat saya? Wah main bersih sekali,” ucap Adelia. Dia tidak tahu kenapa dia jadi menggebu-gebu seperti ini. Setiap melihat wajah Aiden emosi Adelia selalu tersulut. Dia tidak ingin kalah dari Aiden.
“Pikiran kamu negative banget sama saya,” jawab Aiden sambil menggenggam tangan kanan Adelia.
“Wajah Bapak mirip penjahat soalnya. Penjahat kelamin,” ucap Adelia lalu melangkah keluar lebih dulu dari apartemen Aiden. Aiden yang meihat tingkah Adelia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Adelia dan daster memang sangat cocok. Lucu dan mengerikan di waktu bersamaan.
Bibir Aiden berkedut saat dia menyadari Adelia memakai high hells sebagai alas kaki. Wanita itu terlihat tambah konyol. Daster yang di padukan dengan heels bukanlah sesuatu yang tepat. Di sepanjang lorong menuju basement apartemen Adelia terus-menerus menggerutu. Aiden mengikuti wanita itu dengan santai dari belakang.
“Kamu beneran pernah tinggal di New York nggak sih? Setahu saya negara itu cukup terkenal dengan fashion-nya,” ucap Aiden. Adelia menghentikan langkahnya. Dia menatap Aiden penuh perhitungan. Dia menghentakkan kakinya ke lantai yang membuat Adelia hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya namun wanita itu dengan cepat kembali berdiri tegak, dia menatap Aiden penuh permusuhan, “nggak usah nanya-nanya. Sok kenal banget Bapak sama saya. Hahaha lucu lo,” ucap Adelia.
“Del, saya baru tahu kamu secerewet ini,” ucap Aiden sembari membukakan pintu mobil untuk Adelia.
“Sebahagia Bapak deh. Jujur saya capek ngomong dari tadi,” ucap Adelia. Aiden yang sudah terlampau gemas mengacak rambut Adelia yang di cepol asal. Kemudian Aiden menuntun Adelia untuk masuk ke dalam mobil. Adelia bersungut-sungut karena merasa di perlakukan seperti nenek-nenek namun Adelia tetap melakukannya.
Sepanjang jalan Adelia terus berdebat dengan Aiden. Mulai dari rute yang akan mereka pilih sampai dengan lagu yang sedang di putar di mobil. Semuanya dan Adelia benar-benar butuh tidur yang panjang.
“Besok-besok Bapak nggak usah dekat-dekat saya lagi. Ifeel saya sama Bapak,” ucap Adelia dan membanting pintu mobil Aiden.
“Salam perpisahan yang mantap mbak Whalen.”