Suasana malam itu terasa khidmat, namun tidak menampik ada ketegangan yang juga menyeruak di antara orang-orang yang berada di sana. Salah satunya terlihat pada sosok Noel, yang duduk di hadapan Gibran dengan uluran tangan yang saling menjabat. “Gimana Pak Gibran? Sudah siap?” Tanya seorang pemuka agama yang dihadirkan malam itu untuk membimbing jalannya ijab-qobul. Gibran mengangguk, mengembalikan tatapannya pada Noel yang juga mengangguk ketika ditanya apakah dirinya sudah siap atau belum. Detik selanjutnya, suara Gibran terdengar nyaring, menyebutkan nama putrinya dan menyerahkan tanggungjawab atas putrinya itu pada pria di hadapannya. “Saya terima nikah dan kawinnya Arandia Hermawan binti Gibran Hermawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!” Timpal Noel dengan suara lantang dala

