Riri merasa bersalah

1085 Kata
Setelah adegan menanggung malu, Riri sudah tidak mau lagi menonton di bioskop. Dia meminta untuk segera pulang ke rumah. Dengan wajah yang masih ditekuk, Dia memberi salam. "Kenapa? Gak dapat bajunya?" Tanya ibunya, karena melihat anaknya sedang kesel. "Dapat. Aku ke kamar dulu ya." Dia berkata sembari berjalan ke arah kamar. "Iya, eh ini Juan nya kok ditinggal?" Tanya ibunya, saat menyadari bahwa Riri tidak pamitan pada lelaki itu dan langsung masuk ke dalam kamarnya. "Biarin. Suruh pulang aja!" Teriak Riri sebelum masuk ke dalam kamar. "Kenapa Mas?" tanya ibunya. Dia memang memanggil pemuda itu kadang-kadang dengan sebutan Mas, atau Nak. "Biasa, dia kesal aku ledekin." Juan jawab dengan jujur, sembari tersenyum. Dia yakin Ibu Riri tidak akan marah. Seperti dugaannya mereka malah tertawa bersama. Tidak jahat, justru merasa lucu dengan tingkah anak pertama di keluarga ini. "Dia sekarang jadi sangat manja loh Mas, setelah datangnya Kamu di hidupnya." Kini ibunya Riri justru curhat kepada Juan. Mengenai perubahan sang putri yang baru-baru ini mereka rasakan. Bagaimana wanita tangguh itu, sekarang sudah berani merengek. Mereka saja sebagai orangtua rasanya sudah sangat lama tidak mendapat rengekan Riri. "Manja gimana Bu?" Juan ikut penasaran, dengan kata-kata yang disebutkan oleh wanita paruh baya yang ada di hadapannya. "Iya, dia itu anti banget ngeluarin ekspresinya. Misalnya dia lagi capek, dia tetap diam. Kesal juga diam, bahkan dia marah pun dia nggak akan pernah mau tunjukkin ke kami. Riri di tahun-tahun sebelumnya wanita yang yang merasa bisa menanggung semuanya sendirian. Bahkan kami sebagai orangtua merasa tidak berguna. Karena kami memang menggantungkan hidup dengan tanggung jawab dia." Ada rasa lega yang terlihat dari wajah Ibunya Riri, tapi terlihat juga adanya kesedihan yang sangat mendalam. Sama seperti anaknya, keluarga ini memiliki kesedihan yang mendalam. Namun selalu berhasil ditutup. Juan yang awalnya merasa bahagia berada di tengah-tengah keluarga ini. Menjadi sadar bahwa, tidak ada keluarga yang benar-benar bahagia. Karena yang ada adalah keluarga yang berusaha untuk bahagia meskipun dengan keadaan paling sulit. Mereka mampu untuk tetap menerima keadaan dengan sangat baik. Sebenarnya itulah poin yang paling penting. Sebesar apapun harta yang dimiliki, sesempurna apapun keluarga. Allah pasti akan memberikan ujian, entah berupa kenikmatan atau mungkin kesakitan. Karena dunia adalah tempat manusia diberi ujian. Selama ini, dia menganggap. Hidup akan bahagia dengan keluarga lengkap, tapi ketika melihat kondisi seperti yang dialami Riri. Dia jadi berpikir, Allah maha baik. Tidak memberikannya keluarga, mungkin karena dia mampu menjalani hidup ini sendirian. "Bedanya dengan sekarang apa?" tanya Juan lagi, dia penasaran. Apa begitu besar pengaruhnya terhadap wanita itu sehingga dia bisa berubah, dan perubahan tersebut dirasakan oleh keluarganya. "Dia tuh sekarang lebih ekspresif, kalau marah, capek, kesel, bahkan ketika dia sedang pusing memikirkan sesuatu pasti dia bilang. Jika kamu kenal dia yang sebelum jadi seperti sekarang, pasti tidak akan percaya. Betapa dinginnya Riri kala itu." Juan terdiam. Dia berpikir, mungkinkah ini semua terjadi, karena dirinya yang terlalu sering meledek Riri. "Maafin Juan ya. Mungkin karena sering diledekin. Jadi, Riri sikapnya berubah." "Enggak dong Nak. Mamah justru berterima kasih. Kami jujur saja sangat senang. Dengan kondisi anak Kami yang sekarang. Setidaknya, dia jadi lebih hidup." "Syukur, kalau memang hal ini tidak mengganggu. Juan takut, dengan kehadiran ini justru membuat perubahan kearah yang tidak baik." "Mama tuh seneng banget loh, malah mikirnya gini kenapa nggak dari dulu aja kenal kamu. Senangnya tuh karena Riri ada yang jagain, punya temen buat ke mana-mana. Dulu suka sendirian terus, ada sih satu teman perempuannya. Namun sekarang sudah tidak pernah ke sini lagi, mungkin karena sudah tidak bekerja." Orang tua mana yang tidak sedih anaknya tidak memiliki teman, padahal mereka membebaskan wanita itu untuk berteman dengan siapa saja. Khawatirnya justru anaknya yang merasa minder atau tidak percaya diri untuk bisa berteman dengan orang lain. "Juan juga senang, bisa diterima di keluarga ini. Jujur saja, sejak lama memang Juan ingin sekali memiliki keluarga seperti ini. Sayangnya tidak bisa." "Tenang, kita kan sudah jadi keluarga sekarang.. makanya cepat resmikan, biar kamu coba bisa tinggal di rumah ini." Pemuda itu sedikit kebingungan, tapi mencoba untuk biasa saja. Dia berpikir itu hanyalah guyonan semata. Mana mungkin mereka membiarkan anak menikah dengan dia yang sering sekali mengusili Riri. "Hehe iya Bu." "Kamu sudah makan belum?" "Sudah tadi bareng Riri." Sebelum pulang, dia memaksa wanita itu untuk menemaninya makan. Sehingga, dia terbujuk untuk ikut makan juga. "Kamu besok jadi ikut?" "Jadi dong Bu." "Beneran mau ambil cuti? Sayang banget loh padahal." "Enggak apa-apa. Jatah cuti numpuk. Soalnya jarang digunain." "Kita gak keberatan Mas. Hanya kasian aja sama Kamu." "Juan ikut seneng. Lihat Galaksi lulus. Besok, Juan akan sewa mobil, biar kita naik mobil saja berangkatnya." "Gak usah Mas. Taksi online aja padahal. Lebih murah." "Enggak. Biar nyewa aja. Sama kok, sekarang pada murah." "Makasih ya. Kamu selalu perduli dengan keluarga ini. Mamah gak tahu lagi harus bilang apa sama Kamu. "Iya, Sama-sama. Aku juga makasih udah diterima di keluarga ini." "Serius banget, lagi ngobrolin apa?" Tanya seseorang yang entah dimana sudah ada di samping Juan. "Ngomongin Kamu." "Aku? Kenapa emangnya?" "Kak. Ini mau bawain makanan dulu buat Bapak. Kamu temani Juan dulu di sini." "Suruh pulang aja. Aku lagi kesel sama dia," ujarnya sembari menunjuk ke arah lelaki dengan dagunya. "Hush. Gak boleh begitu. Jangan bersikap tidak sopan. Nak Juan, duluan ya." "Iya Bu," "Belain aja terus. Gak tahu aja. Orangnya nyebelin abis." Riri mengomel tidak terima. "Jangan marah-marah Mulu, nanti cepet tua. Besok berangkat jam 7 kan?" "Iya. Kamu padahal kerja aja sih." "Kamu gak suka banget Aku ikut?" Kini, Juan sedikit mulai kesal. Karena wanita itu terus memintanya untuk tidak ikut. "Bukan gitu." Dia jadi tidak enak hati sekarang. "Tenang aja, Aku gak akan gangguin Kamu kalau emang mau cari jodoh di sana. Aku pulang." Tanpa menunggu jawaban Riri. Juan langsung pergi begitu saja. Membuat wanita itu jadi merasa bersalah. "Juan! Tunggu!" Teriaknya sembari mengejar lelaki itu sebelum benar-benar pergi. "Tunggu ih!" Sentak Riri. Ketika Juan tetap jalan, padahal dia sudah memanggilnya dari tadi. "Apa lagi? Kan jelas tadi." Juan beneran marah kali ini, dia tersinggung dengan sikap wanita itu. Entahlah, dia juga tidak mengerti. Mungkin saja perasaan ini sebenarnya ke arah lain. Dia tidak rela, jika wanita itu tebar pesona. Padahal, Riri bukan miliknya. Namun, dia seperti mengklaim wanita itu sebagai miliknya yang tidak boleh dilirik orang lain. Meskipun dia juga belum sepenuhnya sadar. Karena, rasa yang ada untuk wanita itu sampai saat ini adalah perasaan sayang kepada seorang teman, tidak lebih. Ternyata memang sulit, mencoba untuk jatuh cinta pada orang baru. Mungkin juga karena interaksi mereka lebih pada pertemanan, sehingga sulit untuk menembus pertahanan ego masing-masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN