Jalan Berdua

1083 Kata
"Mau nonton film apa?" tanya Juan kepada Riri setelah mereka sampai di gedung bioskop kenamaan. Mereka sengaja meluangkan waktu untuk menonton film. Ini adalah alasan, kenapa Juan tidak bisa bertamu ke rumah Laura. Dia pergi bersama Riri. Sepulang kerja, hanya mandi dan ganti baju di kosan kemudian Langsung pergi ke rumah wanita ini. Itupun sedikit telat, karena macet di jalan. "Terserah Kamu saja," jawab Riri jujur. Dia memang tidak mengikuti apa yang sedang tenar. Seperti film yang sedang naik rating, atau baru rilis. Dia benar-benar tidak mengerti. Jarang sekali membuka sosial media untuk mencari tahu hal seperti itu. "Katanya tadi mau diajak nonton." Juan pun sama, mereka tidak terlalu mengerti film. Jadi, biasanya film apa saja tetap mereka nikmati. "Iya, mau. Kirain Kamu udah ada rekomendasi." "Aku kira Kamu sudah punya. Soalnya, aku kurang ngerti." Juan jujur, dia tersenyum malu. Mengajak orang tanpa persiapan. "Ya udah, mending kita sekarang beli baju dulu. Kamu besok jadi ikut?" Juan tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya, dia setuju dengan usul wanita itu. Sejujurnya, dia penasaran. Film apa yang bisa membangun suasana untuk mereka berdua. Setidaknya, untuk menghibur wanita di sampingnya itu. Sekarang, dia seperti punya kewajiban untuk selalu membuat Riri bahagia. Aneh, tapi selalu dilakukan. "Jadi, ya udah kita cari baju dulu." Mereka berjalan ke salah satu toko yang menurut penelusuran di internet, bahwa toko tersebut memiliki banyak koleksi yang bagus. "Ini kan bener tokonya?" tanya Juan memastikan. Karena banyak sekali toko pakaian. "Harusnya sih iya, soalnya gambarnya juga sama." "Ayo masuk." Juan menggandeng tangan Riri untuk segera masuk ke dalam toko tersebut. Riri bukan tidak yakin akan tokonya, tapi dia tidak yakin dengan harganya. Kenapa tokonya terlihat mewah sekali dan berada di tengah pusat pembelanjaan. "Juan. Kita beli di toko lain aja yuk!" Ajaknya, kala mereka satu langkah lagi masuk ke dalam. "Udah di sini aja. Aku yang bayar." "Enggak. Di tempat lain aja." Riri masih tetap pada pendiriannya, dia tidak mau masuk. "Ada yang bisa dibantu Bu, Pak." "Ini, istri saya gak mau masuk Mas." Juan sengaja mengatakan itu, dia ingin menjahili Riri. Sedangkan yang disebut sebagai istri, kini menatap tajam ke arah yang berbicara. "Tidak perlu khawatir Bu, koleksi kami lengkap kok. Silakan masuk dulu untuk lihat-lihat." "Iya Pak." Riri yang kesal pun, akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam toko tersebut. Diikuti oleh Juan dibelakangnya. "Terjangkau ternyata harganya," ujarnya pelan. Benar-benar menipu. Padahal harganya murah-murah, kualitasnya juga bagus. Dia pikir mahal, ternyata murah. Jika tahu begini, dia tidak perlu drama dulu di depan toko. "Kamu pernah ke sini?" tanya Riri, merasa heran dengan tingkah Juan yang begitu santa. "Lumayan." "Lumayan apa?" "Sering." "Pantes, percaya diri banget. Bawa masuk ke sini." "Iya dong. Ayo pilih, aku yang bayar." "Siapa juga yang mau dibayarin. Aku bisa bayar sendiri." "Ya sudah, bayarin punyaku yaa." "Boleh, kalau gak punya harga diri." "Jahatnya." Juan berpura-pura sedih, dia tahu wanita itu bercanda, jadi tidak menganggapnya serius. Riri sibuk memilih beberapa baju untuk dicoba. "Jangan yang itu, terlalu membentuk di badan." "Siapa juga yang minta pendapatmu. Biarin aja, di sana banyak yang ganteng kata Galaksi." "Mau ngapain kalau ada yang ganteng?" tanya Juan kesal. Entah kenapa, mendengar Riri mengatakan itu, membuat kupingnya panas. Padahal, pendingin di ruangan ini berfungsi dengan baik. "Siapa tahu jodoh." "Jodoh apaan. Gak boleh!" Juan ngedumel, dia tidak suka Riri mengatakan hal itu. Dia tidak mau Riri menjadi bahan tontonan gratis. "Iri aja Masnya. Kalau mau, yaa pakai aja bajunya." "Ogah. Pokonya gak boleh." "Aku gak minta pendapatmu. Cuma minta temenin aja." "Ya sudah. Besok aku gak jadi ikut." "Bagus dong. Biar bebas haha." Juan melongo tidak percaya. "Enggak. Aku ikut!" "Kenapa sih Juan. Jangan posesif banget jadi cowok. Kita kan temen, nanti aku sulit dapet pacar. Udah berapa bulan ini, usahaku Kamu gagalkan terus." "Usaha apaan? Aneh semua. Chatting, ngedate online, tebar pesona sana sini. Murah banget." Riri tidak marah disebut murah banget, dia malah terkekeh dan mengingat ide konyol itu, semua selalu digagalkan oleh Juan. "Ya gimana lagi, Aku minta dijodohin aja kali ya?" "Enggak ya enggak." Tanpa alasan, Juan meninggalkan Riri. Dia memilih mencari bajunya sendiri. Meladeni wanita itu bicara hanya akan membuatnya naik darah. "Itu sih tandanya Mas itu suka sama Mbak." Seseorang berbicara di samping Riri. Dia adalah pegawai toko ini, yang menyaksikan perdebatan keduanya. Karena terlihat seru dan menarik. Dia pun ikut berkomentar. "Dia temen saya mbak." "Gak masalah. Semua juga berawal dari teman. Lagi pula, Aku lihat dia tulus loh." "Dia emang baik. Tapi, ke semua orang." Riri tidak mau terlalu berharap. Dia bingung, karena Juan cepat sekali berubah-ubah. "Ini aja." Satu setelan baju dress berwarna peach diberikan pada wanita itu oleh Juan. Dia tidak mau ide Riri terlaksana. "Enggak. Aku mau yang tadi aja. Emang beneran gak bagus ya? Padahal, Aku suka banget sama bahannya." "Enggak bagus sama sekali. Kasian lemak di tubuh kamu gak bisa tertutupi." Asli, Juan tidak bermaksud menghina. Dia hanya ingin, Riri tidak suka dengan baju itu. Karena dengan merasa tidak percaya diri, maka wanita itu tidak akan mau memakainya. "Biarin. Aku kan harus keren. Berani tampil beda kan bagus." "Sekalian pakai karung goni aja kalau gitu." "Mbak, tapi baju kembaran itu juga bagus loh. Terlihat serasi sepertinya jika dipakai kalian. Ini juga desain terbaru dan limited di butik kami." Dia baru sadar. Jika baju ini adalah baju untuk pasangan. "Jangan yang ini. Nanti dikira kita pasangan." "Biarin. Cepet ganti bajunya. Bilny udah dibayar. Takutnya gak muat itu, makanya dijajal dulu." "Iya, sabar kenapa. Bawel banget." Dia pun mengalah, dan memakai baju tersebut. Ternyata setelah dipakai, dia merasa ini sangat bagus. Memang selera Juan itu tinggi. "Nah kan cantik." lelaki itu memuji dengan nada bicara yang cepat. "Apa?" Tanya Riri, dia memastikan apa yang didengarnya tidak salah. "Cepet keluar dari butik." "Perasaan tadi gak sepanjang itu kalimatnya." "Terus?" Tanyanya sembari menarik turunkan alisnya. Menatap Riri penuh dengan jenaka. "Juan please, sehari gak buat emosi bisa?" Ekpresi wanita itu sangat amat kesal, jika tahu jawabannya akan seperti itu. Dia memilih untuk tidak bertanya saja. "Enggak. Soalnya, Kamu lucu kalau lagi marah." "Terserah." "Ya udah. Maaf deh, cantik." Kali ini, Juan mengatakannya dengan nada bicara yang cukup jelas, bahkan dia menekankan kata terakhir itu. Sehingga, tidak hanya Riri yang mendengarkannya tapi orang-orang di sekitar juga ikut mendengar. Bukan senang, Riri malah ingin menenggelamkan wajahnya saat itu juga. Bermain-main dengan Juan memang bukan hal baik untuk kesehatan mental dan juga fisiknya. Jalan dengan Juan, sama dengan harus siap menanggung malu. Juan jika bercanda tidak kenal tempat, dia juga senang sekali membuat orang lain berpikir bahwa mereka itu sepasang kekasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN