Juan seperti bahagia

1040 Kata
"Baiknya," ujar Juan meledek Riri yang membawakan minuman untuknya. Kini, dia sudah berada di teras rumah wanita itu. "Kenapa pindah?" tanya Riri. Dia tidak menanggapi ledekan lelaki itu. "Anginnya seger banget di sini." "Musim kemarau, air juga sudah hampir surut." "Asal jangan harapan aja yang surut." "Gak jelas." Riri kesal sendiri, sedari tadi Juan sangat lah receh. Akhir-akhir ini, dia merasakan hal lain dari lelaki itu. Terlihat jelas, bagaimana Juan yang awalnya sangat cuek, malah jadi perhatian dan lebih banyak bercanda. Dia tidak langsung menyimpulkan bahwa lelaki ini suka padanya, tidak. Hanya saja, Riri merasa Juan mulai menunjukan sifat aslinya. Sebenarnya tidak masalah, tapi. "Besok ada waktu gak? Jalan yuk!" Hal-hal seperti ini, yang membuatnya rentan salam paham. Dia yakin, Juan hanya menganggapnya teman, tapi kenapa lelaki itu selalu berusaha mengajaknya jalan-jalan, padahal dia yakin, Juan memiliki banyak teman lain. "Kamu jangan tanya waktu sama pengangguran, ini sangat sakit." Riri tidak serius, dia hanya tidak ingin langsung menjawab iya. "Ya udah, maaf. Kamu bosan tidak di rumah? Jalan mau gak?" Tanya Juan dengan manisnya. "Ke mana?" "Kamu ada tempat yang mau dikunjungi gak?" "Enggak ada." "Serius?" "Iya." "Kamu gak lagi berencana nolak dengan kata-kata yang halus kan?" "Enggak Juan. Emang lagi gak pengen pergi aja." Alasan. Sebenarnya dia juga ingin pergi, tapi sadar diri, harus menghemat. Sekarang, banyak sekali pengeluaran. Adiknya sebentar lagi mau kelulusan. Jadi, dia harus mempersiapkan biayanya juga. Sebenarnya, Riri sudah mencoba melamar kerja, tapi belum mendapatkan panggilan satupun. "Kenapa?" tanya Juan. Dia melihat ada raut wajah kebingungan dari wanita itu. "Enggak apa-apa. Pengen di rumah aja." "Kalau besok, aku ajak Kamu ke rumah bapak mau gak?" "Bapak? Bukannya Kamu..." "Bapak angkat." "Hmm, boleh." Riri malah semakin deg-degan. Untuk apa Juan mengajaknya pergi ke tempat bapak angkatnya. Dia tidak banyak bertanya. "Tapi, kalau Kamu gak mau, jangan dipaksakan." "Labil," cibir wanita itu. Dia heran, di umur yang tidak muda lagi, lelaki itu masih saja bertingkah begitu. "Bukan begitu, Aku bukan orang yang suka maksa." "Siapa juga yang terpaksa?" "Takutnya, Kamu memang pengen di rumah saja." "Enggak apa-apa. Kamu sudah makan?" "Belum," jawab Juan dengan cepat. Dia memang jujur. "Mau makan gak?" "Mie instan ada?" "Kamu meragukan Aku bisa masak?" Tanyanya sembari membulatkan mata, seolah merasa tersinggung. Sebenernya Juan tahu, wanita itu memiliki bakat memasak yang baik. "Enggak, kata orang. Mie instan itu, enaknya kalau orang lain yang masak." "Jangan percaya, itu hanya pepatah orang malas." "Lah, cocok sih. Aku juga kan malas," ujarnya sembari nyengir, memperlihatkan deretan giginya yang rapih dan juga bersih. Riri tersenyum, lalu mereka pergi ke dapur. "Ngapain ngikutin, tunggu saja di luar. Nanti kalau sudah matang diantar." "Hanya memastikan, siapa tahu kalau sendiri. Kamu malah nyuruh mamah buat masakin." "Juan, pintu keluar tinggal lewatin ruang tamu loh." "Aduh, gemes banget sih." Kebiasaan! Lelaki itu senang sekali mengusap kepalanya. Dan membuat jantung Riri tidak karuan. "Ish apa sih, udah tunggu aja di sana duduk yang tenang." "Kamu sejak kapan bisa masak?" "Enggak bisa. Orang cuma bisa bikin mie instan doang." "Enggak apa-apa, yang penting cantik." Juan berniat memuji, tapi yang ditangkap oleh Riri itu seperti sebuah kata sindiran. "Iya, cantik. Kalau gak bisa masak, nanti kamu mau emang makan telur gosong?" "Ya, tinggal beli." "Kalau tengah malem lapar?" "Ya tinggal minta buatin sama Aku." "Kalau Kamu kerja terus, amit-amit sakit, gak bisa menghasilkan uang. Mau beli pakai apa coba?" Juan terdiam sebentar, wanita ini pintar juga pikirannya. "Tapi, Aku selalu berprinsip, gak boleh buat istri kelelahan, jangan perlakukan seolah asisten rumah tangga. Jadi, gak wajib bisa masak, ataupun berbenah. Aku butuhnya teman hidup, bukan tukang bantu-bantu." Juan mengatakan dengan jujur. "Tetep saja, Kalau Kamu mikirnya gitu, berarti Kamu mah pilih kasih, mending kalau dia cantik, kalau enggak?" "Cantik atau enggak, itu kan gimana cara kita melihat." "Iya, terserah. Untung Aku gak cantik." "Cantik kok, kalau mau jadi istriku juga gak apa-apa." "Bilang apa tadi?" "Bercanda. Gitu saja marah, emang gak mau jadi istri Aku?" "Juannn, berhenti becandain Aku." "Kenapa? Kalau sudah mau kepala 3 biasanya sensitif yaa." "Enggak. Sebelum akhirnya Kamu sering ledekin. Aku jadi overthingking." "Kenapa?" "Ya, orang lain udah pada nikah, punya anak, karirnya juga bagus, pada lulus S3. Lah Aku? Malah jadi sampah masyarakat." "Loh, kenapa gitu. Emang Kamu minta makan sama orang?" "Ya enggak. Tapi kan, secara sosial. Harusnya Aku tuh lagi menikmati sesuatu di umur segini." "Makanya, kayaknya kita nikah aja deh." "Nih mienya udah jadi, jangan halusinasi mulu." Meskipun mereka bicara, tapi Riri tetap masak. Dia mengambilkan air bening di gelas. "Kamu gak makan?" "Mie? No. Kemarin udah." "Padahal enak," ujar Juan jujur. "Iya lah, Aku bakat banget masak. Sayang banget, Kamu sukanya yang cantik, bukan yang pinter masak." "Loh, kok gitu. Kan Aku bilang tadi," "Makan dulu habiskan, kebiasaan." Juan menyelesaikan kunyahannya dengan terburu-buru dia ingin sekali menyangkal ucapan Riri. "Aku bilang, kamu cantik. Jadi, masih bisa loh, jadi kriteria. Apalagi, jago masak, bisa buat tubuhku yang kurus kering ini, jadi berisi. Pasti, nanti orang mengira, kalau Kamu berhasil buat Aku bahagia." "Geli banget dengernya.' "Haha, topik bahasan kita malah jadi nikah melulu ya. Padahal bercanda," ujar Juan dengan entengnya, kemudian menyeruput mie kembali. Riri mendengar dengan jelas ucapan terakhir lelaki itu, ketika dia bilang 'padahal bercanda.' meskipun dia sudah tahu, tapi tetap saja, jika keluar dari mulut Juan langsung, rasanya sesak nafas. "Besok, Aku jemput pukul 8." "Apa enggak kepagian?" "Jam berapa maunya?" "Terserah sih, jam segitu juga ayo. Sebenarnya, kan Kamu yang sudah bangun bukan aku." "Ya, bangun makanya." "Jangan mulai lah, udah pulang sana. Enek banget liat Kamu terus." "Nanti kangen." "Huss sana." "Emang aku kucing? Tega banget, ya sudah aku pulang dulu. Nanti, kalau udah sampai kostan di kabarin." Wanita itu hanya mengangguk, dan melambaikan tangannya seiring dengan perginya motor Juan dari pekarangan. Riri tidak minta hal seperti itu, Juan lah yang mengerti dengan sendirinya, ketika sampai lelaki itu langsung mengabarinya. Begitu mereka bertukar nomor ponsel. Ini seperti halnya ada hikmah dibalik cobaan. Dia kehilangan teman yang jahat, tapi sekarang mendapatkan yang seperti Juan. Baik, penyayang, perhatian, dan royal. Hidup memang adil, dikala dia membutuhkan seorang teman, dikirimkan Juan si manusia baik hati. Dia hanya mencoba untuk tidak terbawa suasana dengan segala perlakukan lelaki itu padanya. Bisa saja, Juan hanya kesepian dan butuh teman. Bukan karena menyukainya. Lelaki itu pasti punya banyak pilihan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN