Esok hari, Juan benar-benar datang ke rumah wanita itu. Dia sudah rapi dan juga wangi. Benar-benar datang di jam yang sudah dijanjikan.
"Mau ke mana emang Mas?" tanya Mamahnya Riri. Wanita paruh baya itu lah yang membukakan pintu, dan menyambutnya. Riri sedang sibuk siap-siap.
"Mau ke rumah Bapak Bu," jawab Juan jujur. Dia memang akan mengajak Riri bertemu dengan bapaknya.
"Kenapa dadakan? Kalau tahu begitu, Ibu buatkan kue dulu."
"Tidak perlu repot-repot Bu, nanti Juan beli saja di jalan. Ibu juga kasihan, takut kelelahan."
Juan tersenyum, dia seperti menyimpan sesuatu.
"Baiknya Kamu Nak, kalau begitu tunggu dulu ya. Kalau mau masuk ke dalam, tinggal masuk saja. Ibu mau masak dulu."
"Iya Bu, makasih. Saya tunggu di sini saja."
Ibu itu mengangguk, lalu pergi masuk ke dalam. Tak lama, keluar seseorang dari balik pintu, Juan pikir adalah Riri ternyata adiknya.
"Mau kemana Bang? Tumben masih pagi udah rapi?" tanya adiknya Riri.
"Mau ke rumah bapak, mau ikut?" Ajaknya pada remaja laki-laki itu. Meskipun mereka tidak terlalu dekat, tapi Juan dan adiknya Riri sering bertegur sapa. Mereka saling menghormati satu sama lain.
"Ogah. Nanti malah ganggu kalian."
"Iya, ngapain juga ikut. Dia rewel, baru datang nanti minta pulang."
Riri menyambung, wanita itu baru selesai dandan. Memakai pakaian santai, tapi sopan.
"Dih, emang anak kecil," ujarnya tidak terima dengan ucapan sang kakak.
"Malah berantem, Kamu mau ke mana emang?"
"Mau ke rumah temen. Bosen di rumah. Soalnya, ada monster nyuruh belajar mulu."
"Ngapain lirik-lirik?" Tanya Riri dengan galak, karena sang adik memang meliriknya ketika mengatakan monster.
Juan hanya mampu tersenyum. Hal sederhana seperti ini, tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Ketika melihat interaksi mereka, Juan sangat bahagia. Dia merasa jika mempunyai adik, mungkin akan seperti mereka. Ribut terus, tapi sebenarnya saling sayang.
"Sudah, jangan berantem terus. Ini buat jajan ya," ujar Juan. Dia mengeluarkan uang selembar berwarna biru.
"Juan, apaan sih. Jangan!"
Tolak Riri, dia tidak suka. Lelaki itu terlalu memanjakan adiknya.
"Iya Bang, Aku juga punya uang kok."
"Ambil, siapa tahu. Kamu mau traktir pacar." Juan memberikan uang tersebut, langsung memasukkan ke dalam kantong baju anak laki-laki itu.
"Hush, enak aja kalau ngomong. Gak ada ya, pacaran. Awas saja, kalau sampai ketahuan."
"Tenang, nanti Abang kasih tahu caranya supaya tidak ketahuan."
Juan malah ikut meledek Riri. Wanita itu sudah memajukan bibirnya beberapa senti.
"Sip."
"Juan! Adik Aku jangan Kamu ajarin yang gak bener."
Riri benar-benar dibuat kesal dengan tingkah mereka berdua.
Setelah adiknya pergi, mereka juga hendak pergi.
"Sudah jangan cemberut terus. Aku kan cuma bercanda."
"Lagian, bercandanya gak lucu."
"Anak muda jangan terlalu dikekang, nanti malah semakin menjadi."
"Aku gak mau masa depan dia rusak, karena pacaran."
"Masa depan gak ada yang tahu Ri, kamu saja yang sudah bersungguh-sungguh, masih saja kecolongan. Semua sudah ada garisnya. Aku yakin, adik Kamu gak akan melakukan hal yang membuatnya merugi. Dia terlihat sangat tanggung jawab."
"Kamu gak tahu aja, dia tuh ngeselin. Kerjaannya ledekin aku mulu, suruh belajarnya susah banget."
"Kamu juga males belajar kata mamah."
"Weh, Kamu sama mamah suka ngomongin aku?" Tanya sembari memicingkan matanya.
"Enggak sengaja."
"Mamah cerita apa saja?"
"Banyak. Sudahlah, ayo berangkat keburu siang."
"Ish, kasih tahu dulu apa?"
"Nanti, kalau ingat. Aku beneran lupa soalnya."
"Juan! Ayolah, ceritain."
"Sttt.."
Juan tidak bicara lagi, dia langsung memakaikan helm kepada wanita itu. Dan mengajak Riri segera pergi.
"Kamu sudah sarapan belum?" tanya Juan, ketika mereka sedang di perjalanan.
Riri enggan menjawab, dia masih sangat dongkol sekali. Bagaimanapun juga, dia ingin tahu. Takutnya, mamahnya itu malah membeberkan banyak aib dirinya. Dia benar-benar malu sekali.
"Kamu marah? Kalau iya. Sebaiknya kita tidak jadi ke rumah Bapak ya?"
Beberapa detik, wanita itu juga belum mau menjawab. Dia kesal, kenapa Juan begitu mudahnya mengetahui banyak hal tentang dirinya. Padahal, mereka hanya sebatas teman.
"Kok belok?" Tanya Riri spontan.
"Aku antar Kamu pulang."
"Kenapa?" Tanyanya tidak mengerti.
"Ya, karena Kamu marah."
"Marah kenapa? Jangan aneh-aneh deh, orang aku diam aja tuh males ladenin Kamu."
Ketusnya, sebal.
"Kenapa?"
"Pakai tanya, siapa coba tadi yang mulai duluan."
"Ya ampun, mamah Kamu tuh gak ada ngomongin yang aneh-aneh. Mamah bilang, kamu tuh baik, pekerja keras, hatinya lembut. Minta tolong ke aku. Supaya bantu jagain Kamu."
"Kenapa harus minta bantuan Kamu, emang aku anak kecil?"
"Aku yakin, Kamu juga paham."
"Enggak."
Juan menghela nafas, dia kemudian mencari tempat yang sekiranya mereka bisa mengobrol. Di depan ruko-ruko mereka berhenti.
"Kamu sedang tidak enak hati ya? Kok sepertinya marah-marah terus. Maafin ya, Aku sudah paksa Kamu ke rumah bapak."
Riri terdiam, ternyata Juan adalah orang yang peka. Buktinya, lelaki itu langsung menyadari perubahan sikapnya.
Pagi ini, dia merasa sangat bimbang. Entahlah, bertemu dengan bapak Juan. Bukan dia tidak ingin. Hanya saja, mereka bukan siapa-siapa. Dia tidak memiliki hubungan dengan Juan, berteman pun baru. Rasanya belum siap. Apalagi, dia adalah seorang wanita dewasa. Apa yang ada dipikiran orang tua, saat melihat anaknya yang dewasa membawa wanita dewasa juga?
"Aku gak maksa lagi kok. Maafin ya, aduh jangan nangis dong Ri. Aku salah apa lagi?"
"Kalau Kamu kayak gini, aku kayak orang jahat tahu!"
"Enggak kok. Aku maklum. Mungkin, Kamu belum mau."
"Enggak. Bukan gitu, Kamu beneran gak malu. Bawa aku ke hadapan orangtua Kamu?"
"Iya, gak apa-apa dong. Kamu mikirin apa sih?"
"Kalau nanti aku ditanya kerja apa. Terus aku jawab pengangguran, apa kata bapak Kamu."
"Aku juga dulunya pengangguran, jangan negatif thinking dulu deh. Kamu belum liat, beliau orang baik."
"Aku tuh malu Juan. Kamu paham gak sih? Aku gak cantik, gak kerja, bukan orang dengan status sosial yang bagus, belum lagi orangtua juga sakit dan gak kerja. Nanti, kalau ditanya-tanya. Aku takut, bapak kamu ngira kalau manfaatin anaknya."
Riri akhirnya mengeluarkan unek-uneknya. Dia tidak bisa menahan ini sendirian. Daripada dia terlanjur malu, sebaiknya dia bicara lebih dulu. Semalam saja, dia tidak bisa tidur. Meskipun Juan tidak memaksa dia untuk ikut, tapi sudah terlanjur bilang iya.
Lelaki itu tidak habis pikir, dengan otak perempuan yang berdiri di hadapannya. Kenapa pikirannya sangat jauh sekali.
"Kamu percaya aja sama aku. Kita kan hanya teman. Bapak juga gak akan mikir macam-macam."
Kata-kata hanya teman, membuat Riri seakan tertampar oleh kenyataan, meskipun itu benar adanya. Dia sekarang sadar, kebaikan Juan karena lelaki itu melihatnya sebagai teman. Bukan seorang wanita.
"Iya, aku salah. Kenapa juga harus takut. Kita kan hanya teman, haha."
Suara tawa yang sumbang itu, mewakili hampa perasaan Riri yang ikut menguap begitu saja, bersama dengan udara yang dia keluarkan.
Dia yang salah. Bukan Juan dan kebaikannya