"Juan, maaf," ujarnya dengan penuh rasa bersalah.
Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Riri, begitu mereka sampai di tempat tujuan. Dia kehabisan kata-kata. Seperti tidak ada yang harus lelaki itu jelaskan lagi. Pantas saja, Juan terlihat santai saat membeli bunga, awalnya Riri berpikir mungkin memang hubungan mereka sangat harmonis.
Wanita itu memberanikan diri menggenggam jemari Juan. Seolah menguatkan, bahwa dia akan selalu untuknya. Meskipun, pertemuan mereka masih sangat baru.
"Berdoa Yuk!" Ajak Juan, dia tidak mau larut dalam kesedihan. Karena ayah angkatnya sudah tenang, dan hanya butuh doa saja.
Dia tidak lupa, menaburkan bunga. Riri mengangguk, kemudian mereka menadahkan tangan, lalu berdoa bersama.
"Aamiin."
"Ayo kita pulang."
Riri mengangguk setuju. Sedari tadi dia bingung harus bilang apa. Karena selain malu, dia juga prihatin pada sosok yang ada di hadapannya saat ini.
"Gimana? Sudah merasa lebih beruntung?"
Riri menggerakkan kepalanya, dia juga tidak sanggup membendung air matanya. Meskipun dia tangguh, tapi masih seperti kebanyakan perempuan yang sangat peka terhadap perasaan. Dia sensitif, mudah menangis.
Juan terkekeh, lalu dia menarik wanita itu dalam pelukannya.
"Sudah, jangan cengeng. Aku baik-baik saja."
Juan tidak paham, kenapa dia harus memeluk Riri, ini seperti naluri saja. Wanita itu sepertinya butuh ditenangkan.
"Aku gak suka dikasihani. Berhenti menangis ya, hidup memang akan begini bukan. Datang, lalu pergi untuk selamanya. Kita semua akan mengalaminya. Hanya tinggal tunggu waktunya saja, dan juga butuh waktu untuk menerima semua ini."
Juan tidak langsung tegar begini, dia sempat sedih, dan berada di titik terendah. Kehilangan banyak kesempatan dan orang-orang yang sangat dicintai bukan hal biasa. Semua kepahitan itu yang membentuk dirinya seperti saat ini. Namun, segala ujian adalah pelajaran hidup. Dia selalu mencoba menerima semua dengan lapang d**a.
"Maaf ya, Aku banyak drama. Kenapa gak bilang dari awal sih?"
Selain dia merasa sedih, Riri juga kesal dan merasa dibohongi, lelaki itu tidak jujur, bahwa ayah angkatnya sudah tiada.
Juan tersenyum. Dia mengusap bahu Riri yang masih bergetar. Lucu sekali wanita ini. Kenapa dia yang malah marah dan nangis.
"Aku pengen aja ajak Kamu ke sini. Karena, hanya bapak yang aku punya. Meskipun, sudah tiada. Setidaknya, masih bisa ke makam ini. Karena makam ayah dan ibuku jauh."
"Aku paling gak bisa begini. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Berjuang bertahun-tahun supaya keluarga tetap bahagia, bukan hal yang mudah. Aku selalu berharap ayah sehat selalu, tapi ketika dia sakit. Aku jauh lebih terluka. Ketakutan-ketakutan yang akhirnya membuatku menjadi kuat untuk bekerja keras. Tidak masalah, jika Aku harus banting tulang, lupa istirahat bahkan makan. Asalkan, Ayah dan ibu masih setia menemaniku. Sudah rela, melepaskan masa mudaku. Tapi, gak kebayang rasanya kalau satu persatu dari mereka pergi ninggalin Aku, kami. Aku gak mau, gak bisa."
"Jangan begitu, semua punya waktunya Ri. Tidak mudah melewatinya, tapi tidak akan sulit jika kita bisa menerimanya. Maaf, sudah membuatmu overthingking."
"Enggak Juan. Aku malah berpikir ini seperti pelajaran untukku. Sekali lagi, Aku harus banyak bersyukur. Meskipun mereka tidak seperti orangtua lain, tapi mereka selalu memberikan hal baik ke Aku. Harus kuat, berani, mandiri. Semua tidak bisa didapatkan begitu saja. Mereka yang sabar mengajarkannya."
"Nah begitu dong, melihat sesuatu dari sudut pandang lain."
"Aku sebenarnya malu sama Kamu."
"Malu kenapa?" Tanya Juan, sembari terus berjalan ke parkiran.
"Maksudnya, Aku tuh malu kalau harus ketemu ayahmu."
"Kenapa?"
"Iya, malu aja. Takutnya, tidak seperti wanita lain yang Kamu kenalkan. Secara, Kamu pasti sebelumnya punya banyak wanita."
Riri memang tidak atau bukan yang masuk ke dalam list keinginan Juan, wanita itu berbeda. Namun, segala sikap dan perilakunya. Malah mengingatkan pada Lara. Meskipun mereka berbanding terbalik juga. Tapi, ketika melihat Riri, dia seakan sedang melihat Lara.
Rasanya sama, meskipun orangnya berbeda. Mungkin, seperti itu lah kira-kira. Ini mungkin terjadi, dia masih terbayang-bayang Lara, makanya seperti ini. Meskipun sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menganggap mereka sama, tapi ada beberapa hal yang menurutnya berdekatan dengan Riri, senyaman dekat dengan Lara.
Beruntung wanita itu tidak mengetahuinya, karena jika dia tahu, bisa dipastikan. Wanita itu langsung kabur. Juan sudah terlanjur nyaman. Dia merasa memiliki seorang teman. Meskipun banyak yang bilang, pertemanan wanita dan laki-laki tidak akan berhasil. Dia rasa, pertemanannya dengan Riri akan berhasil.
"Kenapa kesannya kayak aku playboy ya?" Tanyanya sembari menarik turunkan alis.
"Haha. Tapi, bisa saja kan? Aku mana tahu."
Riri tertawa. Karena melihat ekspresi berlebihan dari Juan.
"Kamu tuh ngeliat aku tuh gimana sih?" Tanyanya sedikit kesal.
"Enggak tahu, Kamu abu-abu."
"Gimana maksudnya Riri, aku gak paham."
"Kamu baik."
"Terus?" tanyanya sembari menaikkan satu alisnya.
Juan sangat tidak sabaran, menunggu kelanjutan dari ucapan wanita itu. Karena sepertinya, dia sengaja menggantungkan kalimat. Mana mungkin, hanya selesai di kata baik saja.
"Kamu gak bisa ditebak. Kadang baik, perhatian, tapi nanti tiba-tiba cuek. Kamu juga sayang keluargaku. Tapi, kenapa secepat ini?"
"Memangnya, ada larangan orang berbuat kebaikan?"
"Kamu gak ngelakuin semua itu, karena kasihan sama aku kan? Kalau iya, tolong berhenti."
Pletak
"Aduh, sakit. Main pukul aja jidat orang."
Riri mengadu kesakitan, karena ulah Juan. Meskipun sebenarnya tidak terlalu sakit.
"Ya habisnya, mikirnya kejauhan. Kamu kenapa sih, negatif terus pikirannya. Apa yang harus aku kasihan dari Kamu?"
"Iya, banyak. Aku pengangguran, jomblo, miskin."
Pletak
"Juan!"
"Sengaja, biar kamu sadar."
"Ini kdrt namanya."
"Kita kan belum nikah."
"Kekerasan dalam ruang teman."
"Bisa banget ngelesnya," ujarnya gemas, lalu memencet hidung Riri.
"Udah lah, malas. Mulai sekarang kita musuhan aja."
"Ya udah, pulang sendiri ya?"
"Gak masalah, tinggal bilang mamah kalau udah sampe. Kamu jahat, gak mau nganterin Aku pulang."
"Yee, tukang ngadu."
"Biarin, biar gak dibukain pintu kalau Kamu ke rumahku."
"Nanti kangen, kalau aku gak main."
"Enggak mungkin. Lagipula, emang penting banget kamu di hidupku?" Tanya Riri meledek Juan.
"Oh, jadi gitu. Gak penting nih? Ya udah."
"Haha. Kenapa kita malah alay begini sih."
"Kamu yang mulai."
"Kamu lah."
"Oke stop. Setelah ini, mau ke mana?"
"Pulang."
"Main yuk, Aku punya tempat bagus."
"Gak, pulang aja."
"Hari masih panjang loh."
"Ya udah, kalau maksa."
"Ya udah. Gak jadi, siapa juga yang maksa."
Juan mungkin tidak sadar, dia juga berubah banyak. Ketika bersama Riri. Dia lebih bebas, menjadi apa yang dirinya inginkan, tidak ada yang ditahan-tahan.
Juan berbeda, dengan dirinya saat di kantor, maupun di kostan. Dia seperti kembali ke masa sebelum bertemu dengan cintanya yang tidak terbalas dengan baik.
Dia kembali, Juan memang sebenarnya sangat receh, dan juga ceria. Jika Kevin dan Riko melihat ini, mereka akan sangat senang sekali, teman mereka sudah kembali seperti dulu lagi.
Jiwa dan raganya sudah kembali utuh, hanya tinggal menunggu waktu saja untuk menyadarinya. Butuh proses yang panjang, jika dalam pikirannya masih dipenuhi oleh Lara dan obsesi mendapatkan wanita itu yang tidak dapat terlaksana