Tatapan Riri

1078 Kata
Seiring berjalannya waktu. Juan sedikit mulai terbiasa untuk tidak bertemu Riri. Dia bisa juga tidak perlu diam-diam memperhatikan rumah Lara dari kejauhan. Dia sekarang sibuk bersama Laura. Wanita itu ternyata asik dan tidak mendewakannya. Sehingga, dia sedikit lebih nyaman dari sebelumnya. Hubungan mereka saja banyak dicurigai oleh orang kantor. Namun, mereka tetap cuek saja. Keduanya tampak asik bermain peran satu sama lain. Tidak ada yang terburu-buru untuk saling memaksakan diri. "Sudah makan?" tanya Laura. Dia seperti memilik bayi besar. Jika makan harus diingatkan. "Belum, ayo makan bersama." "Di ruko sebelah aja ya. Jangan jauh-jauh." "Iya, siap-siap dulu. Aku mau selesaikan ini lima menit lagi." "Ya sudah. Aku tunggu di luar saja." "Oke." Begitulah kira-kira percakapan rencana makan siang mereka. Karena memang selalu diawali dengan Laura yang mengajak. Jujur saja, wanita itu bahagia. Ketika Juan sedikit lunak. Namun, dia juga terluka. Takut jika ini hanyalah sebuah drama. Karena keduanya sedang bermain peran. Mau senatural apapun, suatu saat pasti ketahuan. "Lagi nunggu Mas Juan Neng?" tanya satpam. "Iya Pak. Lama banget nih, bilangnya 5 menit." "Mungkin lagi banyak kerjaan. Neng Laura sekarang udah gak cinta sendirian lagi ya. Mas Juanya sudah luluh. Benar kata orang, meskipun dia sangat dingin, kalau tiap hari diberi perhatian terus. Maka akan luluh." "Enggak Pak. Kami temenan." Laura selalu bersembunyi dalam sebuah ikatan pertemanan. Dia sekarang tidak mau terlalu terbawa perasaan. Dari pengalaman sebelumnya sudah belajar tentang banyak hal. Meskipun, jika dengan Juan. Dia suka hilang akal dan jelas-jelas tidak ada yang bisa diharapkan. Masih saja bersikukuh bisa mendapatkan. "Ayo Lau, sorry nunggu lama." Juan sudah berada di sampingnya. "Ayo, duluan Pak." "Iya, hati-hati di jalan. Makan yang banyak biar kuat mengahadapi ghosting." "Maksudnya?" Tanya Juan yang memang kudet. Dia tidak tahu banyak mengenai kata-kata yang timbul seiring berjalannya waktu. Karena dia tidak banyak memiliki akun media sosial. Juga tidak memainkannya dengan sering. "Bukan apa-apa, ayo jalan." Lelaki itu pun mengangguk dan tidak mempermasalahkan mengenai hal tersebut. Dia tidak cukup ingin tahu. Perutnya sudah sangat lapar, dan dia ini segera makan. "Mari Pak." Petugas keamanan itupun mengangguk, lalu mereka pergi bersama ke tempat makan yang sudah direncanakan. Dari tempat yang tidak jauh, ada sepasang mata melihat semua kegiatan Juan. Orang itupun meneteskan air matanya. Karena dia pikir, lelaki itu sama seperti dirinya. Namun dia salah, Juan sepertinya sudah bahagia tanpa dia. Terlihat dari senyumnya yang tidak pudar bersama wanita itu. Kini, dia mengikuti ke mana perginya sang pria. Namun, dengan jarak yang cukup jauh, sehingga tidak akan terasa oleh orang yang diikutinya. Meskipun terlihat aneh, dia tetap melakukannya. Semakin penasaran dengan Juan, dan tingkah lakunya. Dia berharap, dengan begini bisa lebih cepat melupakan lelaki itu. Karena selama ini, yang dipikirannya Juan sama sekali tidak ada cacat, jika dia kehilangan lelaki itu maka dia akan menyesal. "Ini gak apa-apa jalan?" Tanya Juan, dia sudah bertanya kesekian kalinya. Karena takut Laura merasa kepanasan. Wanita itu, bukan orang susah. Tidak biasa terkena terik matahari. Pulang pergi menggunakan mobil, kecuali saat bersama Juan. Dia rela naik motor. Kulitnya yang putih bersih, pasti akan merasa kepanasan. Karena ini jam-jam matahari panas terik. "Enggak, jangan terlalu khawatir Mas. Lihat, masih bisa senyum kan?" "Bisa saja Kamu." "Iya dong, Laura." Wanita itu terlampau bahagia, dia mana mungkin merasa kepanasan. Meskipun, memang kulitnya terasa seperti terbakar. "Laura, kulit kamu merah." Juan panik sendiri, begitu melihat kulit putih bersih itu mulai memerah. Dia berusaha merubah posisi, sehingga Laura bisa terjaga dari sinar matahari. "Gak apa-apa kok." "Enggak apa-apa gimana. Ini kok keringetan banget. Aduh, kenapa gak bilang. Kamu ada alergi ya?" "Tidak." Juan menatap dengan tajam. Dia kesal dengan wanita yang sok hebat dan kuat. Padahal, aslinya lemah. Mengingatkannya pada Riri. Wanita itu senang sekali menutupi kesedihan, meskipun faktanya sudah jelas. Membuatnya ingin sekali mengumpat. "Lain kali, bilang. Jangan bikin orang khawatir begini. Gak kasihan emang sama aku. Kalau nanti Kamu kenapa-kenapa, aku yang merasa bersalah." Juan langsung menceramahi Laura, begitu mereka diam di depan kedai yang ingin didatangi. Beruntung tidak jauh, jadi tidak terlalu lama berjalan. Sehingga, Laura masih tetap bisa aman. "Maaf Mas. Tapi, enggak kenapa-kenapa kok nantinya ilang sendiri." "Bandel banget sih Kamu. Ya sudah, ayo masuk." Sebelum masuk. Ada adegan yang membuat wanita di ujung sana merasa sesak melihatnya. Juan mengacak-acak rambut Laura, dan hati Riri yang berantakan. Karena hal itu yang biasa dilakukan Juan padanya. Bahkan hampir setiap hari, karena katanya dia gemas. Ternyata gemasnya pada semua wanita. Bisa-bisanya dulu Riri sangat merasa beruntung. Iya, wanita itu Riri. Dia berniat mendatangi Juan untuk meminta maaf, karena sudah berbohong menggunakan namanya untuk menyelamatkan diri dari perjodohan. Pantas saja, Juan marah. Mungkin ini jawabannya. Riri berjalan, masuk ke dalam kedai tersebut. Tanpa merasa takut ketahuan oleh Juan lagi. Dia sekarang tidak perduli, sekalipun Juan melihatnya. "Mau pesan apa? Biar Aku yang pesankan." "Apa saja, yang penting enak." "Jangan gitu, Aku kan gak tahu selera Kamu." "Ya, yang kaya Kamu Mas." "Hah? Hmm. Masih sempet aja, cepetan mau makan apa?" "Mie goreng aja." "Kalau mau makan mie goreng doang mah. Gak perlu ke sini kali, di kantor juga banyak." "Ya udah. Nasi aja sama ayam panggang." "Minumnya?" "Lemon tea." "Mau cemilan gak? Biar sekalian pesen." "Enggak. Itu juga belum tentu habis. Kita kan istirahatnya sebentar." Juan mengangguk, dia paham. "Ya udah, tunggu. Aku pesankan dulu." Juan meninggalkan Laura. Dia tidak melihat Riri datang dan duduk dekat meja mereka bahkan bisa dibilang bersebelahan. Sehingga, nanti Juan bisa melihat Riri, karena wanita itu duduk di belakang Laura. Moment yang sangat langka. Dia sudah memesan duluan ketika masuk. Jadi tinggal menunggu pesanannya datang saja. Sembari menunggu, Riri memainkan ponselnya. "Tunggu ya, pesanannya lagi dibuat-" belum sempat kata itu selesai Juan ucapkan. Dia sudah lebih dulu menatap seseorang yang sedang dia hindari. Dia rindu pada wanita itu, tapi sulit untuk mengalah. Riri mendengar suara Juan, maka dari itu dia mengambil kesempatan dengan melihat ke arah lelaki tersebut. Sembari tersenyum penuh arti. Dia sengaja melakukan itu, ingin melihat ekspresi wajah Juan yang mungkin terkejut. Dan benar saja, dia sampai tidak sanggup melanjutkan perkataannya pada wanita itu. Hanya karena melihat Riri. "Kenapa Mas? Kok diam?" Laura juga melihat ke arah yang sama dengan yang dilihat Juan. Namun, Riri terlalu peka. Dia langsung menunduk saja. Agar wanita itu tidak curiga, bahwa Juan sebenarnya telah menatap dia. "Lihat apa sih? perasaan gak ada apa-apa." "Enggak kok. Itu pesanannya sudah dibuatkan. Tinggal tunggu saja sebentar." "Oh iya, kirain ada apa." Juan masih mengintip dengan melirik-lirik ke arah Riri, tapi wanita itu biasa saja. Seperti tidak ada masalah serius di antara keduanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN