Mata Juan fokus terhadap orang yang sedang memayunginya. Seseorang dengan mata indah, paras yang cantik dan hati yang tulus, yang tidak pernah lelah untuk berada di sampingnya meskipun selama ini dia tidak terlalu dianggap keberadaannya oleh Juan. Katakan itu terlihat sangat lembut, untuk Juan yang sangat egois.
Seharusnya dia tidak mendapatkan hal itu, rasanya sangat tidak pantas. Namun sepertinya tidak berlaku untuk wanita baik itu. Dia tidak pernah membenci Juan, seperti lelaki itu yang terus menghindarinya. Membuat jarak diantara mereka agar tidak semakin dekat. Dia selalu berusaha agar wanita itu tidak mencintainya lagi. Meskipun dia belum tahu pasti apakah wanita tersebut mencintainya atau tidak.
Namun dari segala perlakuan terhadapnya, dia cukup yakin bahwa wanita itu ada rasa lebih terhadap Dia. Banyak hal yang tidak perlu diungkapkan dengan kata namun bisa dirasakan. Seperti itulah kira-kira yang terjadi. Juan malu sendiri terhadap apa yang sudah dia perbuat terhadap wanita itu.
Setelah lama saling berpandangan, akhirnya Juan angkat bicara.
"Makasih Laura."
"Iya, sama-sama Mas. Kenapa masih di sini? Jangan hujan-hujanan, nanti sakit. Bukannya akhir-akhir ini Mas kelihatan murung banget."
Juan terdiam, dia melihat Laura sangat khawatir kepadanya. Jika kembali diingat, dia lebih dulu kenal wanita ini. Wanita ini juga yang sudah berkorban banyak hal untuknya. Namun mengapa dia malah lebih dekat dengan Riri. Hatinya, mudah merasa nyaman dengan wanita itu. Seharusnya dia bisa berterima kasih dengan baik.
"Terima kasih."
Juan tidak menanggapi ucapan wanita itu, dia hanya bilang makasih karena merasa itu hal yang lebih penting dibanding harus menjawab pertanyaan yang datang kepadanya. Dia masih berada di fase bingung saat ini. Antara senang dan sedih menjadi satu. Dia sangat bingung dengan semua yang terjadi.
Menentukan sikap sebagai seorang lelaki dengan kondisi seperti ini bukanlah hal yang mudah. Dia harus bisa menempatkan posisi sebagai orang yang dicintai dan juga yang mencintai. Dia tidak bangga karena dicintai oleh banyak orang, dia merasa lebih bangga ketika ketika dia mencintai orang itu dan orang itu mencintainya. Namun hidup tidak semudah yang dibayangkan, dan itu memang benar.
"Kenapa? Cerita aja. Jangan sungkan."
Lagi Dan lagi Laura tidak berhenti peduli kepadanya. Kini mereka sedang duduk di tangga, dan bersandar ke tembok karena hanya tempat ini yang tidak dijangkau oleh air hujan. Meskipun termasuk kantor yang elit genangan air tetap menjangkau depan kantornya. Dia membutuhkan daratan yang lebih tinggi agar tidak terkena banjir.
"Hujan deras, kantor jadi banjir. Besok gimana ya? Ini airnya gak masuk kan?"
Tanya Juan mengalihkan pembicaraan.
Laura tersenyum simpul, seakan mengerti apa yang dipikirkan lelaki itu.
"Curang. Emang gak menganggap aku temen lagi, sampai males buat cerita."
"Enggak kenapa-kenapa Laura. Tenang saja, semuanya aman. Kamu tahu sendiri. Aku orangnya gimana, lemah."
"Kata siapa? Kamu itu misterius. Kalau di film-film ya Mas Juan itu tipikal orang yang beruntung deh."
Dia menjelaskan dengan sangat antusias. Kini giliran Juan yang tersenyum, dia merasa lucu dengan yang dikatakan perempuan itu.
"Itu kan di film. Aslinya gak sesuai ekspektasi."
"Tapi, menurutku. Kamu beruntung kok, setidaknya Kamu beruntung memilikiku di sampingmu."
"Kamu receh sekali. Haha."
Juan tidak bisa berkata-kata mendengar gombalan seperti itu, dia tidak menyangka jika wanita yang ada dihadapannya sangat berani. Biasanya Laura hanya akan malu-malu terhadapnya.
"Enggak apa-apa yang penting Mas ketawa."
"Makasih ya, Kamu sudah menghibur Saya."
"Apa sih, Saya. Aku Kamu aja. Jadi, udah bisa curhat belum nih? Aku masih punya banyak waktu loh buat dengerin. Hujan juga masih awet."
Lelaki itu seperti memiliki kesempatan yang bagus untuk menanyakan beberapa hal kepada perempuan di sampingnya.
"Kalau Aku yang dengerin cerita Kamu boleh?"
"Kok Aku? Kenapa?"
"Kamu sejak kapan suka sama Aku?" Pertanyaan yang sangat menggelikan. Namun, tetap dia tanyakan. Karena dia membutuhkan beberapa jawaban untuk mendapat hasil yang memuaskan. Laura terlihat gelagapan mendapatkan pertanyaan ini.
"Aku? Enggak. Itu cuma anak-anak aja yang iseng, dulu kan juga pernah bilang. Aku cuma bercanda. Pengen aja, punya temen kayak Mas Juan. Dingin tapi perhatian."
Wanita itu berbicara, dengan sangat santai. Padahal, pipinya memerah dan jantungnya berdebar kencang.
"Boleh jawaban yang jujur gak." Dia meminta agar wanita itu menjawab dengan jujur.
"Memangnya kamu sudah siap aku menjawab dengan jujur. Janji ya setelah ini nggak ada istilah menghindar atau sejenisnya. Maaf banget ya udah buat kamu nggak nyaman Mas."
"Aku bukan tidak nyaman, tapi bingung harus bersikap bagaimana. Sementara untuk membalas perasaan seseorang itu bukan hal yang mudah. Aku juga pria dengan riwayat patah hati terparah. Tidak mudah untuk bisa membuka hati dengan wanita lain. Karena itu akan sangat menyakitkan untuk wanita tersebut. Dan pria tidak boleh menyakiti hati perempuannya. Itu namanya pengecut."
Juan merasa ada yang aneh dari kata-katanya, Dia seolah menjelaskan tentang dirinya sendiri. Namun dia tetap menyelesaikan kalimat tersebut.
"Nggak perlu dibales Mas, kamu punya pilihan. Emangnya selama ini aku memaksa? Enggak kan. Aku membiarkanmu untuk memilih, Aku hanya ingin diberi kesempatan untuk berjuang."
"Tapi, wanita itu tidak ditakdirkan untuk berjuang. Apalagi hanya untuk cinta dari seorang laki-laki sepertiku."
"Laki-laki sepertimu gimana? Memangnya hati bisa memilih? Kadang juga bingung, kenapa sukanya sama kamu yang nggak suka sama Aku. Padahal banyak hati yang mungkin bisa disinggahi. Setidaknya, yang tidak akan menyakiti seperti saat ini."
"Kamu pasti tertekan ya? Maaf."
"Lemah. Gitu aja langsung kasian. Kalau Kamu kayak gini, nanti malah capek sendiri. Kamu tuh nggak perlu tanggung jawab dengan perasaanku."
"Terus harus bagaimana?"
"Biarkan semua berjalan dengan biasa aja, sampai Kamu menemukan jawaban sendiri. Ingat Mas nggak ada yang memaksa, kita sudah sama-sama dewasa. Kalau Kamu nggak suka, tinggal bilang nggak, kalau suka, harus mengungkapkan. Ketakutan yang ada di dalam diri Kamu itu cuma penghalang kami membangun sebuah hubungan. Trauma itu susah sembuhnya, apalagi jika tidak diusahakan. Sama seperti minum obat, harus ada perjuangannya dulu. Kamu harus bisa menolong semua hal yang menjadi ketakutan ketakutan. Mencintai sama dengan risiko, ketika wanita itu tidak mencintaimu bukan berarti dunia berhenti sampai di situ. Semisalnya Aku, sekarang sedang berjuang. Namun ketika masanya sudah habis, ya aku tidak akan memaksa, tidak akan merasa sia-sia, setidaknya pernah berusaha dan mencoba."
"Kamu wanita yang hebat."
"Memang. Makanya orang kantor bilang, minta aku jauhi Kamu."
"Aku sependapat sama mereka."
"Kenapa? takut Kamu jatuh cinta, karena terus aku kejar."
"Kamu seharusnya sudah mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku, tapi waktunya habis terbuang karena memperjuangkan orang sepertiku."
"Lelaki yang lebih baik yang seperti apa?"
"Baik, bisa sayang, menjaga, dan memperhatikanmu."
"Memangnya Mas gak bisa?"
"Aku?"
"Iya, gak bisa emang?"
"Gak tahu."
"Kita coba."
"Hah?"
"Rencana kita dulu gagal kan? Gara-gara Mas jauhi aku terus."
"Rencana apa?" Tanyanya penasaran, tapi belum Laura menjawab. Lelaki itu sudah ingat duluan.
"Deal."