Bab 7

1118 Kata
Niat di dalam hati itu layaknya sebuah surat. Bila kau salah menuliskan alamat, maka salah jua tujuan diakhirnya. Berulang kali Wahid mengucapkan alhamdulillah di dalam hatinya saat membaca pesan masuk ke dalam ponsel pintarnya itu. Dia yakin perempuan itu pasti akan berhasil dengan segala niat tulusnya untuk bisa membahagiakan orangtuanya. Dan di sini Wahid hanya bisa membantunya dalam doa. Tanpa gadis itu ketahui. Bahkan dia tidak tanggung-tanggung, doanya itu pun didukung dengan kegiatannya berpuasa agar semakin melancarkan keinginan dari perempuan yang sedikit banyak sudah mencuri perhatiannya. Alhamdulillah. Semoga ini jalan terbaik yang lo inginkan. Balas Wahid singkat. Dia sama sekali tidak mau membuat Kiki semakin berharap kepadanya. Bukannya ia tidak tahu dengan segala sikap yang Kiki tunjukkan selama ini. Tetapi dia mencoba untuk mengendalikan diri dan tidak gegabah mengambil segala keputusan yang ada. Lagi pula Kiki perempuan baik yang tidak seharusnya menjadi alasannya untuknya mencoba mengikhlaskan masa lalu. Karena sebuah hubungan yang masih berlandaskan dengan masa lalu tidak akan pernah berakhir indah. Untuk itu Wahid mencoba bersabar. Lebih baik menyelesaikan perkara hatinya lebih dulu barulah memulainya dengan hal baik. Namun ketika Wahid masih sibuk melamun, suara panggilan masuk dari ponselnya menghentikan lamunannya. Ada nama Kiki tertera di layar. Sejenak Wahid tersenyum, sebelum mengangkat panggilan itu. "Assalamu'alaikum, Bang." "Wa'alaikumsalam." "Kok jawabnya cuma begitu aja sih? Kan ada pertanyaan lainnya. Kok enggak Abang jawab?" sindir Kiki mengenai kapan dia bisa menjadi istri yang baik. Diposisinya, Wahid cuma menahan gelak tawa. Dia membayangkan wajah kesal Kiki karena dibalas dengan singkat olehnya. "Pertanyaan yang mana?" "Loh, emang Abang enggak baca?" "Tentang?" "Kapan Kiki bisa jadi istri yang baik?" "Hahaha. Lo salah tanya orang, Ki. Gue bukan peramal. Mana gue tahu masalah itu. Lagi juga katanya niat lo itu mau bahagiain orangtua lo. Tapi kenapa ini berubah tujuan? Fokus satu-satu dulu, Ki. Bahagiakan orang tua lo dulu selagi lo bisa dan lo mampu. Apalagi waktu bersama dengan mereka itu enggak bisa ditebak. Bisa masih sangat panjang, bisa dalam sekejab habis. Jadi saran gue, selagi masih muda kenapa lo enggak berusaha membuat beban mereka lebih ringan." "Duh mulai deh ceramahnya. Iya Bang. Ini kan gue kerja. Nanti gaji pertama gue traktir lo deh, kan udah doain gue. Lo ke sini ya. Kita makan-makan bareng Nada sama Agam juga. Yah tapi makan-makannya paling di angkringan. Gue enggak mampu kalau di restaurant. Lo enggak papa, kan?" "Iya. Nanti gue ke sana. Yang penting sekarang fokus pada tujuan utama lo dulu," nasihat Wahid yang dimengerti oleh Kiki. "Siap, Bang." "Bang," panggil Kiki lagi. "Iya," "Gue senang bisa kenal dan temanan sama lo. Lo sahabat, kakak sekaligus seseorang yang bantu gue. Bantu meluruskan niat gue yang sering melenceng ke mana-mana," tawanya geli. Di sini Wahid mengangguk setuju. Baginya memang begitulah gunanya sahabat. Bukan hanya ketika senang mereka ada, namun ketika susah pun selalu setia. Bahkan selalu mendoakan tanpa mengenal jeda. "Gue putus dulu ya, Bang. Mau sholat Ashar. Abang jangan lupa sholat juga. Dah." Ketika panggilan itu terputus, senyum di bibir Wahid tak kunjung sirna. Mendengar betapa bahagianya Kiki di sana, membuat doa dan puasanya tidak sia-sia. "Tetap semangat, Ki."   ***   "Yaaakk ... terusss ... ayoo ... ayooo," seru Bitha sambil berteriak, mengibarkan bendera layaknya pendukung setia. Di sampingnya ada Rara yang tak kalah hebohnya. Mendukung suaminya, Shaka yang tengah berjuang di lapangan hijau. Kegiatan seperti ini memang sering kali dijadikan agenda rutin oleh keluarga Al Kahfi. Selain menyambung tali silahturahim, berolah raga juga bisa menyehatkan tubuh dan pikiran. Tidak hanya usia muda saja yang turut serta di sini, melainkan para orang tua yang dulunya adalah primadona ikut bertanding melawan anak-anak mereka. "Hid, yang bener dong mainnya!!!" teriak Shaka kencang. Wahid tersenyum miris sambil mengacak-acak rambutnya. Dia tahu ini adalah keteledoran dia. Membiarkan bola bulat itu menggelinding dengan santainya masuk ke dalam gawang yang kebetulan di jaga oleh Rafif, adik terkecil Shaka. "Lo itu kapten. Tapi mengatur diri sendiri aja enggak bisa," ucap Syafiq sambil memukul bahu Wahid. Dengan menahan rasa kesal bercampur kecewa, Wahid mulai kembali mengatur strategi di otaknya. Kali ini dia tidak boleh kalah dalam serangan para ayah yang usianya tidak muda lagi namun masih bisa melawan para anak muda. "Hid ... Hid. Oper ke gue," teriak Shaka yang sedang bebas tanpa penjagaan lawan. Namun yang dilakukan Wahid seolah tidak peduli. Dia terus saja menggocek sang paman, Imam, di lapangan hijau itu tanpa perlu repot-repot membaginya ke Shaka. "Hidddd, Gue kosong," teriak Syafiq di depan gawang. "Hiidddd...." Beberapa teriakan tersebut bagaikan angin lalu. Dengan cukup kuat Wahid mencoba menendangnya ke arah gawang dan nyatanya gagal. Bola tersebut terbang melambung jauh di atas mistar gawang. Dan para ayah tersebut bersorak karena gawangnya tidak jadi kebobolan oleh anak-anak mereka. "Begoooo!!!!" sembur Shaka kesal. "Lo kan tadi lihat, gue sama Syafiq kosong. Tapi masih aja egois!! Cckckkk, pantes lo enggak nikah-nikah, Hid. Mana ada perempuan yang betah sama laki-laki egois kayak lo," geram Shaka. "Wahiidddddd!!!" teriak Hans yang melihat anaknya tersebut menarik leher baju Shaka kuat-kuat. Di dekatnya Syafiq mencoba melerai keduanya. Namun yang ada pukulan tersebut dengan mudahnya melayang ke arah wajah Shaka. "Shakaaaa," teriak Imam yang mencoba menarik putranya dari cengkraman Wahid. "Berhenti. Berhentiii!!" teriak Adit yang ikut membantu memisahkan. "Kalian kenapa? Ini game. Kenapa dalam satu tim masih aja ribut?" suara Fatah kali ini yang turut serta menanyakan sebab akibat keributan ini. Dalam pelukan Hans, Wahid masih mencoba mengendalikan amarahnya. Menurutnya Shaka sudah keterlaluan dalam berbicara. Menghubung-hubungkan permainan ini dengan masalah percintaannya. "Wahid, jawab. Ada apa sebenarnya?" tanya Imam tegas. Wahid tak kunjung membuka suaranya. Dia mendorong pelukan Hans, lalu berjalan meninggalkan semuanya dan keluar dari lapangan. Umi dan lainnya yang baru saja ingin mendatangi mereka, menghentikan langkahnya. Hatinya seketika sakit ketika melihat wajah putranya memerah. Entah menahan marah, atau menahan air mata. "Ada apa, Ka? Kalian kenapa?" "Percuma juga Shaka cerita. Wahidnya aja yang baperan. Lagian udah jelas-jelas Shaka sama Syafiq kosong di sana, dia malah egois. Yang namanya sepak bola itu main tim. Bukan sendiri-sendiri." "Lo juga salah, Ka. Lo nyindir masalah perempuan ke dia," suara Syafiq di antara mereka semua. "Gue cuma bicara fakta, Bang. Dia enggak akan bisa menikah kalau dia sendiri masih egois sama dirinya. Dia sibuk memikirkan hatinya sendiri. Padahal ada hati orang lain yang terluka sama sikapnya!!!" "SHAKA!!!" bentak Imam. "Jangan sibuk menghakimi orang lain," "Shaka bicara fakta, Yah." "Cukup, Ka. Jangan dilanjutkan lagi." Di tengah keributan tersebut, Hans mencoba mengerti. Dia mulai bergerak mencari di mana keberadaan Wahid, namun langkahnya dihentikan oleh Umi. "Biar aku aja, Bang," suaranya. "Aku ibunya, Insha Allah aku lebih bisa memahami hatinya." "Kita bisa sama-sama memahami hatinya," suara Hans yang diterima Umi dengan baik. Keduanya paham sejak awal isi pernikahan mereka tak sempurna. Sampai-sampai ketidak sempurnaan itu tak sengaja terbawa dalam mendidik Wahid. Putra sematawayang mereka. ---- Continue Ada yang masih nungguin?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN