Bab 8

1415 Kata
Kesedihan dalam hidup seiring waktu akan pergi berlalu. Namun kebahagiaan akan setia menunggu sampai kau sendiri yang menjemputnya. "Aaaaarrggghhh," teriak Wahid kencang di dalam kamar mandi tempat mereka bermain bola tadi. Dengan segenap perasaan kesal yang dia rasa, Wahid menatap lekat-lekat dirinya di dalam cermin sambil terus menyurakan pertanyaan apa yang salah dengan dirinya ini? Dia akui dirinya memang belum bisa sepenuhnya melupakan kisah cinta pertama yang begitu menyakitkan menurut versinya itu. Lalu apa harus orang lain menghakiminya dengan seenak hati? Padahal dia sudah berusaha untuk tidak mengusik tentang kisah masa lalunya tersebut. Namun selama dia masih beredar di sana, Wahid akan terus dibayangi oleh kehidupan perempuan itu. Bukannya Wahid tidak sadar, atau tidak melihat, sejak pertandingan dimulai tadi Farah benar-benar mencuri perhatiannya. Menggunakan pakaian putih yang terkesan santai di mata Wahid, sangat cocok untuk Farah. Ditambah lagi seorang balita kecil dalam pelukan Farah semakin menambah kecantikan dari ibu satu anak itu. "Sial!!" kesal Wahid pada dirinya sendiri. Berulang kali dia mencuci mukanya, berharap pikiran tentang Farah akan hilang. Ternyata senyuman manis dari perempuan itu terus saja melekat. Menghantui kehidupannya terus menerus. Ingin sekali Wahid memaki kepadaNya, mengapa memberikan cobaan seberat ini. Namun lagi-lagi Wahid ingat nasihat dari ibunya, Umi. Cobaan terberatmu adalah dirimu sendiri. Ya, Wahid sadar semua ini perkara dirinya sendiri. Hatinya, kelakuannya yang sebenarnya tidak pernah sadar diri bahwa hidup terus berputar. Dan perempuan itu tidak mungkin akan menjadi miliknya setelah dinikahi oleh sepupunya sendiri, Syafiq. Wahid pun cukup sadar untuk menjadi perusak hubungan rumah tangga orang lain adalah perbuatan tidak baik. Lantas apa lagi yang membuat dirinya terus terperangkap seperti ini? "Hei, son." Wahid melihat wajah ayahnya dari pantulan cermin di hadapannya. Wajah yang sempat membuatnya kesal karena sering kali membuat ibunya menangis, kini terlihat begitu khawatir. "Are you okay?" Dalam satu tarikan napas, Wahid mengangguk. Dia merasakan bahunya dirangkul oleh Hans sambil keduanya menatap diri masing-masing ke arah cermin. Cara mereka menatap benar-benar mirip. Kedua manik matanya yang begitu serupa. Namun bedanya senyuman Wahid begitu manis, semanis senyuman Umi yang sering kali hilang karena merasakan pedih atas kehidupan keluarganya. "Ayah tahu ucapan Shaka terlalu kasar untukmu. Karena dia tidak tahu hal apa saja yang telah kamu lakukan untuk hidupmu, son." "Shaka benar, Yah. Apa yang Shaka katakan semuanya benar. Wahid saja yang enggak bisa menerima semuanya." "Setidaknya kamu sudah berusaha, Nak. Kamu tahu ada manusia yang diuji namun dia enggan berusaha dan memilih pasrah akan keadaan. Tetapi dirimu tidak. Kamu marah mendengar kata-kata Shaka tadi karena kamu yang paling tahu seperti apa keadaanmu sekarang ini. Sekarang ayah cuma bisa berkata satu hal. Jangan sampai kamu rela hidupmu diremehkan oleh dirimu sendiri. Lakukan yang terbaik. Di bawah langit yang luas ini, tidak ada hal yang mustahil untuk diraih. Tinggal bagaimana kita yang melakukannya saja," nasihat Hans sambil menatap cermin tersebut. Seakan-akan kalimat yang dia katakan tidak hanya untuk Wahid, putra tunggalnya. Melainkan untuk dirinya sendiri. Sekilas Wahid melihat senyum pedih ayahnya pada pantulan cermin. Tatapannya kosong dengan pikiran entah ke mana. "Yah," panggil Wahid. "Jangan pernah takut dibenci oleh semua orang karena sebuah kesalahan dalam hidupmu, Nak. Tetapi takutlah menjadi pembenci atas hal yang tidak pernah orang lain lakukan. Ayahmu ini bukan orang baik, tapi—" jedanya menatap Wahid yang berada di sampingnya. "Tapi yang ayah inginkan putra ayah satu-satunya menjadi yang terbaik." Keduanya sama-sama terdiam saling pandang dengan berbagai perasaan terasa di hati. Kini Wahid tahu mengapa ibunya tetap setia kepada ayahnya walau sudah berkali-kali tersakiti. Karena dari pancaran kedua manik matanya ada perasaan cinta yang tulus di sana. "Terima kasih, Yah."   ***   "Hid," kejar Shaka ketika melihat Wahid ingin masuk ke dalam mobilnya. Pakaian sepupunya itu telah berganti rapi sehingga membuat Shaka menebak Wahid sudah akan pergi dari tempat ini. "Sorry masalah tadi. Gue keterlaluan." Dari kedua matanya, Wahid melihat ada Imam yang berdiri sambil melipat kedua tangannya tak jauh dari mereka. Wahid tahu pasti pamannya itu sudah menasihati Shaka dengan segala kalimat ajaib yang dia miliki. Hingga Shaka berhasil dengan mudah luluh memohon maaf kepada Wahid. "Iya, enggak papa." "Tapi gue serius masalah tadi. Jangan egois sama diri lo sendiri," bisik Shaka agar tidak terdengar oleh Ayahnya. "Intinya gue mohon maaf sebesar-besarnya, Hid. Jangan karena satu kesalahan, kekeluargaan kita hancur," suaranya cukup kencang supaya Ayahnya mendengar kalimat permohonan maafnya. Wahid tersenyum melihat tingkah sepupunya ini. Seburuk-buruknya Shaka, dia tetap keluarganya. Dan Wahid sadar Shaka mengatakan hal yang benar. "Iya, gue maafin. Gue mau balik duluan." "Lo enggak ikut kita makan-makan? Soalnya pada mau ngerencanain ke Malang untuk lahiran Nada, lo enggak ikut?" "Nanti kalau Nada lahir gue pasti ke sana. Gue ada urusan." "Urusan apaan lo minggu-minggu begini? Kencan satu malam ya lo," selidik Shaka curiga. "Iya kencan. Udah ah, Bang, lo buang-buang waktu gue aja," ucap Wahid meninggalkan Shaka yang terkaget-kaget mendengarkan ucapannya. "Hid. Mainnya yang aman!!!" teriaknya sambil menatap mobil Wahid melaju dengan kencang. Seketika bibir Shaka menampilkan tawa gelinya. Apanya yang main aman? Memangnya Wahid mau kencan gaya apa sekarang ini? Dari kaca spionnya Wahid tersenyum melihat ekspresi kaget Shaka. Biarkan sepupunya itu mengambil pemikiran sendiri tentang kencan yang dia katakan. Yang jelas dia sudah tidak seperti itu lagi.   ***   "Ki. Tunggu dong, gue lihat ada yang bagus tuh di sana. Kita ke sana ya, please," pinta Nada hingga membuat Kiki kesal. Sore ini dia memang diminta menemani Nada untuk membeli beberapa perlengkapan bayi. Namun rasanya semua benda sudah Nada beli tetapi masih aja ada yang kurang menurut sahabatnya ini. Hingga ingin sekali Kiki berkomentar kasar kepada Nada. Pantas saja tadi ketika Agam ingin menemani, Nada melarangnya dengan alasan girls time. Dan ternyata seperti inilah girls time versi Nada. Menghabiskan uang suami yang sudah susah payah ia cari untuk menghidupi Nada. "Nad, udah kali. Uang suami lo habis baru tahu rasa lo," gerutu Kiki. "Ini pakai uang gue kok." "Tapi kan uang lo dari suami lo juga," sahut Kiki menyadarkan sahabatnya itu. Nada terhenti sejenak. Menatap Kiki tidak suka. "Sorry ya Ki, walau mas Agam enggak kasih gue uang. Gue punya uang tabungan sendiri kok. Jadi enggak penting-penting banget uang dari mas Agam. Lagi pula menafkahi istri emang udah kewajiban suami, terus apalagi yang salah?" ucap Nada sombong. Kiki tak mampu melawannya. Dia hanya bisa beristighfar dalam hati. Memang dia belum menikah saat ini. Namun jangan sampai ketika dia telah menikah nanti malah bersikap seperti Nada yang tidak mengerti arti mensyukuri. Kiki tahu Nada tidak pernah merasakan susahnya mencari pekerjaan, dan mendapatkan uang yang halal. Namun Kiki tahu sahabatnya ini hanya sedang khilaf saja melihat beberapa perlengkapan bayi yang kemungkinan besar memang dia butuhkan. "Nad," panggil Kiki pelan. "Gue enggak bermaksud menggurui lo atau bergaya sok bijak. Tapi, Nad. Ini gue bicara sebagai sahabat lo, Nad. Di dunia ini yang hidup bukan hanya lo, keluarga lo, atau gue. Ada banyak Nad yang hidup dalam kekurangan. Kalau pandangan kita terus ke atas mencari-cari hal apa yang kurang untuk hidup kita, pasti banyak kurangnya. Apalagi jika dibandingkan dengan hidup orang lain. Kadang pun gue sering kali melihat ke atas, merasa iri dengan lo yang sudah berkecukupan dalam segala hal tapi masih sering kali merasa kurang. Sedangkan hidup gue, hidup kedua orangtua gue di kampung masih sangat-sangat sederhana. Di sini gue bisa pegang hp cukup mewah walau enggak ada apa-apanya dengan hp lo. Sedangkan ibu gue di kampung, pikirannya cuma satu, cuma kepikiran punya nasi serta lauk pauk aja enggak sehari-harinya. Kadang gue takut Nad, lingkungan membuat gue khilaf. Padahal pondasi gue enggak kuat. Gue baru mulai kerja, tapi lingkungan membuat gue gila. Gue jadi mau beli ini, gue jadi mau belanja itu. Padahal gaji pertama gue niatnya buat orang tua gue." "Maksud lo, Ki?" potong Nada mencoba mencari kesimpulannya. "Gue enggak tahu harus bilang apa. Gue cuma mau lo bersyukur atas apa yang lo punya saat ini. Karena diluar sana banyak orang yang menginginkan apa yang lo miliki saat ini. Termasuk gue. Gue juga mau punya keluarga kaya kayak keluarga lo, punya suami, sebentar lagi punya anak. Tapi gue tahu, suatu saat gue pasti pun merasakannya mungkin dengan cara berbeda. Dan sekarang gue hanya harus bersyukur. Lo mau kan kita bersyukur sama-sama, Sahabat?" ucap Kiki penuh permohonan. Nada yang melihatnya, lama terdiam. Lalu merangkul sahabatnya itu dengan perasaan haru. "Gue beruntung punya satu sahabat kayak lo, Ki." "Sama-sama, Nad. Gue juga beruntung punya sahabat kayak lo," ucap Kiki yang dibalas tawa oleh Nada. "Tapi ngomong-ngomong sejak kapan lo jadi bijak, Ki?" "Sejak—" jawaban Kiki terputus karena ada panggilan masuk dari ponselnya hingga membuat Nada penasaran. "Cieeeeeee ... ABANG WAHID CALLING."  ----- Continue.. Ciee... yang masih nungguin
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN