Masalah akan selesai jika kita saling berbicara bukan saling membicarakan.
"Ya Tuhan. Nada, lo tahu enggak sih apa yang barusan gue lihat?" teriak Kiki dari sebrang panggilan teleponnya.
"Apaan?" sahut Nada setengah mengantuk.
"Ada Bang Wahid di kantor gue?" histerisnya semakin menjadi.
Kiki benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa ada Wahid di dalam kantor tempat dia bekerja. Bahkan di hari pertama bekerja sudah dikejutkan dengan hal demikian. Lalu kejadian apalagi selanjutnya yang harus dia lihat.
Semalam ketika bertemu Wahid di kontrakan Nada, tidak sedikitpun Kiki curiga jika kantor yang Wahid bicarakan adalah kantor yang di mana tempat Kiki akan mulai bekerja.
Dan Kiki merasa semua ini seperti sebuah takdir. Takdir dirinya dan Wahid.
Rasanya begitu aneh ketika dari sekian banyak perusahaan di Indonesia, kenapa harus di tempat Wahid dirinya diterima bekerja. Apa mungkin ada campur tangan Tuhan di sana. Ataukah ada hal lain yang Kiki tidak ketahui.
"Serius lo?" tanya Nada seakan tak percaya.
Untung saja Agam sedang keluar mencari sarapan pagi untuknya. Jika Agam dengar dia teriak-teriak seperti ini entah ceramah apalagi yang akan suaminya itu bacakan untuk Nada.
"Iya, serius gue. Sumpah ya. Kalau jodoh emang enggak ke mana," tawa Kiki kencang.
"PD banget lo. Siapa bilang Bang Wahid jodoh lo? Jodoh orang lo akuin aja. Sebelum ijab terucap mah, Bang Wahid masih bebas."
"Ih Nada kok lo enggak dukung gue banget sih."
"Dukung apa? Emang lo beneran cinta sama dia? Kalau cuma main-main mending jangan deh. Bang Wahid pernah patah hati. Nanti kalau lo buat dia untuk jadi mainan doang, didoain enggak laku-laku loh baru deh tahu rasa. Gue tahu karakter lo, Ki. Lo masih belum mau serius," ucap Nada dengan segudang kalimat sok tahunya.
Sambil memandang pantulan dirinya pada cermin, Kiki mencibir. "Ah, lo enggak cocok jadi istri jaksa. Yang namanya jaksa itu mau berbicara punya bukti dulu. Lah kalau lo, lo nuduh dulu baru deh cari-cari bukti sebagai alasan dari tuduhan lo."
"Kan gue istri jaksa. Bukan jaksanya. Lagian kenapa jadi bahas gue. Ini kan bahas tentang Bang Wahid. Tapi kok ngomong-ngomong gue enggak tahu apa-apa ya kalau bang Wahid buka kantor cabang di Malang. Tumben grup keluarga gue enggak update."
"Lo udah dikeluarin dari grup kali. Makanya enggak update. Ya udah gue kerja lagi. Siapa tahu bisa menarik perhatian cowok-cowok di kantor ini. Jangan molor mulu lo, Nad."
"Insaf, Ki."
"Nanti aja kalau udah ada imamnya baru insaf. Dah Nada. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
Selepas mematikan sambungan telepon itu, Kiki tersenyum bahagia. Merasa bersyukur masih diberikan rezeki sahabat seperti sosok Nada. Yang kadang bisa membuatnya kesal. Namun sering kali membuatnya bahagia. Dan bersama Nada, Kiki tumbuh sembari menciptakan cerita bahagia. Bukan malah saling menceritakan satu sama lain ke semuanya.
***
Rasa kecewa datang menghampiri Kiki saat ini. Ketika Wahid tak terlihat lagi di kedua matanya membuat Kiki bertanya-tanya, ke mana perginya laki-laki itu. Padahal mereka ada di dalam satu gedung yang sama, namun rasanya seperti tercipta jarak di antara keduanya.
Bahkan sampai siang pun, Kiki belum mendengar kabarnya sedikitpun.
Saat waktu dzuhur tiba, semua pegawai di sana berlomba-lomba bergerak ke kantin kantor yang berada di lobby bawah kantor tersebut. Sedangkan yang dikerjakan Kiki berbeda dengan yang lainnya.
Langkah Kiki bertolak belakang, dia bergerak menuju salah satu mushola yang memang dibuat di belakang gedung kantor ini.
Bagi Kiki waktu untuk jam makan siang masih begitu banyak sehingga ia bisa menundanya. Sedangkan waktu untuk sholat sangat sedikit. Ia bahkan tidak tahu kapan ajal akan menjemputnya jika harus menunda-nunda untuk melakukan panggilan sholat tersebut.
Jika berbicara mengenai panggilan sholat, Kiki jadi ingat cerita yang pernah Nada bicarakan kepadanya. Sahabatnya itu pernah diberitahu oleh ibunya bagaimana kondisi kalau manusia sering menunda panggilan dalam sholat.
Sama halnya seperti penumpang dalam angkutan umum. Semakin mengulur waktu dalam melakukan sholat, maka posisimu semakin tak aman. Bisa jadi kamu bergelayutan atau bahkan terseret oleh angkutan umum tersebut. Namun bila setelah mendengar adzan kamu langsung melakukannya, maka posisimu jauh lebih baik dan lebih nyaman. Kamu akan mendapat tempat terbaik dan tidak berdesak-desakan yakni di samping supir angkut yang akan membawamu sampai ke tujuan.
Penjelasan itu terkesan sederhana. Tetapi tidak akan bermakna kalau tidak dijalankan.
Sambil tersenyum-senyum mengingat hal itu, Kiki tak sengaja berselisih jalan dengan seseorang yang ia rasa begitu familiar.
"Bang Wahid," panggil Kiki sambil menengok ke belakang.
Wahid yang tengah sibuk dengan ponselnya terlihat kaget, lalu kemudian tersenyum saat tahu siapa yang memanggilnya.
Pada ekspresi wajah itu tidak ada pertanyaan sedikitpun mengapa Kiki bisa ada di sini. Ia seolah tahu akan bertemu perempuan itu di kantor ini.
"Bang Wahid udah sholat?"
"Alhamdulillah udah."
"Oh," sahut Kiki singkat. Dia bingung harus berbicara apalagi setelah kejadian semalam membuatnya jatuh terlalu dalam atas semua pengharapan yang dia rasakan.
"Gue ke sana dulu ya," ucap Wahid cepat, kemudian berlalu meninggalkan Kiki yang bahkan belum berucap apapun atas kalimatnya barusan.
"Jangan berharap lebih, Ki. Kalau enggak mau sakit hati."
***
Kiki tertawa bahagia bersama teman-teman barunya di dalam kantin kantor tersebut. Walau begitu kedua manik matanya tak bisa lepas dari seseorang yang bahkan terlihat mengabaikannya sejak tadi.
Ia tahu apa yang dia lakukan adalah hal yang percuma. Namun dalam hati Kiki percaya. Apa yang telah dia kerjakan adalah hal baik. Dia juga tidak menipu hatinya sendiri kalau ada sesuatu rasa pada sosok laki-laki yang sedang duduk tak jauh darinya saat ini. Tetapi untuk akhir dari kisah baik ini ia serahkan kepadaNya. Sadar atau tidak, Kiki yakin masih panjang jalan kehidupan yang harus ia lalui.
Dan sekarang setahap demi setahap sudah Kiki lakukan. Ia telah berusaha untuk membantu kedua orangnya dalam segi ekonomi. Sedangkan untuk perkara hatinya, Kiki yakin akan indah pada waktunya.
Yang terpenting dia tidak membenci. Tidak memaksa. Atau bahkan tidak membohongi siapapun.
"Ki, barusan ada yang bisik-bisik sama gue. Katanya lo udah punya pacar belum. Mau dikenalin enggak sama seseorang. Dijamin sholeh deh," ucap seorang senior yang sudah berusia lanjut.
"Gimana Ki? Sama yang sholeh mau?"
Kiki ikut tersenyum mendengar godaan seperti itu. Biasanya jika ia berdua dengan Nada, maka godaan tersebut hanya akan tertuju pada Nada yang paras cantiknya jauh sekali dari Kiki. Akan tetapi karena saat ini ia sendiri, maka godaan tersebut tertuju kepadanya.
Dan ternyata menurut Kiki digoda seperti ini tidak enak sama sekali. Namun yang dia bingungkan kenapa diluaran sana banyak sekali gadis-gadis yang terobsesi untuk digoda oleh banyak laki-laki.
"Jawab dong Ki, jangan malu-malu."
"Aku itu enggak—"
Baru saja Kiki ingin menjawabnya, kalimatnya terhenti akibat dari sosok Wahid yang baru saja berdiri dari kursinya lalu berjalan pergi melewati tempat di mana Kiki berada.
Bukan kepergian Wahid yang membuat Kiki kecewa. Tetapi laki-laki itu bahkan tak melihat ke arahnya sedikitpun.
"Kok enggak dilanjut jawabannya?"
"Maaf, aku enggak mau pacaran," jawabnya singkat.
Lalu dengan langkah terburu-buru Kiki berjalan mengikuti sosok Wahid di depannya.
"Bang,"
"Bang Wahid," panggil Kiki kencang.
Beberapa orang yang berjalan dengan Wahid menghentikan langkahnya. Dan semuanya kompak melihat siapa yang memanggil Wahid dengan bahasa tidak formal tersebut.
Dengan ekspresi malas, Wahid memerhatikan Kiki yang sibuk mengatur napasnya.
"Lo kenapa sih, Bang?" tanya Kiki tanpa tahu situasi. "Dari semalam ya tampang lo udah enggak enak begini. Terus sekarang juga. Emang gue salah ya, Bang? Kalau salah itu ngomong. Jangan pergi-pergi begini. Capek tahu enggak ngejarnya."
"Bapak kenal dengan dia?"
"Ya jelas kenal dong. Enggak mungkin kalau enggak kenal saya berani ngomong begini, iya kan Bang?" tanya Kiki penuh pengharapan.
"Iya. Saya kenal dia. Dia sama seperti yang lain. Salah satu pegawai kita, kan?" ucap Wahid yang langsung mematahkan senyum Kiki.
Bibir Kiki bergetar melihat satu demi satu orang-orang di samping Wahid mencibirnya.
Sambil memelintir ujung kemejanya, Kiki masih berusaha untuk tersenyum. Kalimat Wahid memang tidak membentak. Tidak juga berkata kasar. Tetapi saat mengartikannya mengapa begitu sakit.
----
Continue