Dari semua sikapmu membuatku mengerti bahwa sesuatu yang berada di Bumi tidak akan mungkin dapat menyentuh indahnya langit.
Seperti halnya orang gila pada umumnya, Kiki tertawa-tawa geli di depan layar monitornya. Sambil memikirkan segala kebodohan yang tadi dia lakukan di depan umum, sesekali dia terkikik geli, kadang juga dia cemberut. Pikirnya pantas saja Wahid berkata demikian, dirinya juga yang tidak tahu situasi serta kondisi.
Tidak seharusnya Kiki berusaha akrab dengan Wahid pada jam kantor seperti tadi. Karena seperti yang Kiki ketahui, hubungan spesial antara bos dan bawahan hanya ada di dalam sebuah cerita. Sedangkan mereka tidak. Ini dunia nyata. Dunia tempat di mana Kiki harus berpikir cerdas dalam berprilaku.
"Ki, balik kali udah sore. Mentang-mentang anak baru, harus loyalitas tanpa batas dulu ya biar dilirik si bos," seru para senior yang melewati meja kerja Kiki.
"Duluan aja, Pak. Saya mau sholat magrib di sini dulu," jawab Kiki sambil melambaikan tangannya.
Sungguh dia berusaha semaksimal mungkin meminimalisir rasa sakit atas jawaban Wahid tadi. Bahkan ia terus saja mendoktrin otaknya bila semua yang dilakukan Wahid adalah sebuah kebenaran. Sehingga tidak perlu ada yang tangisi.
Namun tetap saja tawanya hanya sebuah topeng untuk menutupi luka hatinya. Sesekali sudut bibirnya ingin meringis pedih. Tetapi terus saja Kiki tahan sebisa mungkin. Baginya luka karena cinta tidak perlu didramatisir. Apalagi menjadi konsumsi semua orang di seluruh media sosial. Tidak. Kiki tidak sebodoh itu.
Bagi Kiki untuk apa semua orang tahu luka hatinya, sedangkan Tuhan saja yang Maha Pencipta segalanya tidak pernah mendramatisir rasa sakit karena dilupakan oleh umatnya. Lalu apa Kiki pantas melakukan yang bahkan Tuhan tidak lakukan? Lagi pula otak Kiki terus berpikir cerdik, memangnya kenapa bila Wahid menyakiti perasaannya? Toh, dia tetap cinta dengan laki-laki itu.
Harusnya Kiki lebih banyak belajar dari kisah Fatimah dan Ali. Buktinya keduanya bisa bahagia walau semuanya diawali dengan cinta dalam doa.
Kiki tersadar dari lamunannya karena mendengar telepon dari sahabatnya, Nada. Gadis itu langsung tersenyum. Merapikan meja kerjanya, lalu berjalan ke masjid.
"Assalamu'alaikum, Nad."
"Kikiii ... Gue disuruh balik ke Jakarta. Padahal gue cinta banget tinggal di sini. Kenapa sih orangtua gue enggak ngertiin gue banget," keluhnya panjang lebar.
"Sabar. Jangan teriak-teriak begitu. Mungkin mereka pikir ini jalan yang terbaik untuk lo. Ambil sisi positifnya aja."
"Ah, lo kalau nasihatin orang emang paling bisa. Coba lo kalau di posisi gue gimana?"
"Gue akan turuti ke mana pun suami gue pergi,"
"Kan lo belum punya suami. Gimana sih, Ki?" tanya Nada bingung.
Kiki sejenak tertawa. Membuka sepatunya lalu duduk pada undakan tangga masjid. Sesekali dia membayangkan ekspresi kesal sahabatnya itu.
"Tadi bukannya lo yang tanya gimana kalau gue jadi lo. Terus sekarang lo yang pusing, kalau gue belum punya suami. Makanya cariin gue suami deh biar lo enggak pusing-pusing."
"Ada tuh ... Rafif. Eh jangan deh. Kalau sama Rafif lo bisa garing abis. Dia tuh kebanyakan diem. Dan anehnya dia cuma cerita sama buku diary nya. Gue heran sama sepupu gue yang itu. Kok bisa ya dia terlahir aneh begitu,"
"Hust!!! Kok lo jadi ngomongin keburukan orang."
"Hehehe ... keceplosan, Ki. Terus gimana dong?"
"Lo diskusi sama mas Agam lah gimana baiknya. Karena mas Agam rela pindah tugas ke Malang cuma demi lo. Terus gue juga pengen lo benar-benar tanya sama bokap lo, apa benar-benar enggak papa lo ke Jakarta dalam keadaan hamil besar begini?"
"Iya juga sih."
"Udah kan. Ketemu solusinya?"
"Makasih ya, Ki."
"Sama-sama Nada."
"Ki," panggil Nada pelan.
"Iya, Nad."
"Kalau lo butuh tempat cerita, gue selalu ada kok," ucapnya membuat Kiki terdiam. "Mungkin lo bisa bohongi gue, Ki. Tapi perasaan gue selalu tahu lo lagi enggak baik. Masa cuma gue yang selalu repotin lo. Lo bisa kok repotin gue. Walau gue lagi hamil besar begini. Tapi hati gue masih cukup empuk buat tempat lo cerita."
Kiki menahan isak tangisnya dengan sebelah tangan menutup mulutnya. Rasanya ucapan Nada begitu sederhana. Bahkan terkesan biasa saja. Tetapi caranya dia mengerti Kiki sangat luar biasa.
"Nad,"
"Kita sahabat kan, Ki? Eh salah, gue maunya saudara sama lo. Jadi kalau ada apa-apa lo jangan ragu-ragu. Tahu enggak kenapa gue enggak mau balik ke Jakarta, karena gue khawatir sama lo, Ki. Di Jakarta gue bisa kumpul sama semua keluarga gue. Tapi gue bakalan ngerasa kehilangan sahabat rasa keluarga kayak lo."
Saat air mata Kiki sudah tidak mampu terbendung lagi, seseorang menyodorkan sapu tangannya kepada Kiki.
Kepala Kiki sontak mendongak, menatap wajah laki-laki yang sejak tadi membuat hatinya galau.
"Lo boleh nangis sekarang. Tapi setelahnya lo harus senyum lebih indah dari sebelumnya."
Tepat setelah kalimat Wahid selesai, air mata Kiki langsung membasahi kedua pipinya. Dia sungguh tidak mengerti sikap dari Wahid. Kadang laki-laki itu terasa begitu dekat. Namun kadang dia begitu jauh seperti langit di angkasa.
"Bagaimana caranya menggapai sesuatu yang jauh dan begitu tinggi, Bang?" tanya Kiki dengan isak.
Sambungan ponselnya kepada Nada belum juga ditutup. Bahkan Kiki biarkan Nada menunggu karena ia ingin mendengar jawaban dari Wahid saat ini juga.
Wahid membuang pandangannya saat Kiki menatapnya dengan berlinang air mata.
"Hanya satu yang bisa lo lakukan. Berdoalah."
"Doa?" ulang Kiki.
"Doa bisa sampai ke mana pun tanpa mengenal jarak dan waktu. Bahkan doa bisa menggapai apa saja yang lo pikir enggak mungkin. Kelihatan mudah. Tapi sering kali kita lupakan."
"Kalau begitu—" gantung Kiki. "Tolong ajarin gue berdoa yang baik supaya bisa ikhlas mencintai tanpa dicintai kembali."
***
Wahid mendorong pintu kamar hotel itu dengan begitu kencang hingga sosok yang berada di dalamnya merasa aneh atas tingkah Wahid.
Laki-laki itu ingin mengeluarkan segala makian yang ada di hatinya. Tetapi ia tidak bisa. Apalagi ada tatapan sayang yang teramat besar dari sosok itu kepadanya.
"Ada apa, Sayang?"
"Bu, Wahid bilang jangan ikut campur apapun masalah pribadi Wahid. Ibu ingat terakhir kali Ibu ikut campur? Wahid ribut dengan bang Syafiq. Sekarang apalagi akibat dari campur tangan Ibu?"
"Kamu itu ngomong apa?"
"Ibu kan yang masukin Kiki ke kantor kita? Dari mana Ibu tahu masalah ini? Dari mana Ibu kenal dia?" tanya Wahid masih menggunakan nada suara yang sama.
Umi menarik napas dalam, sebelum menenangkan putranya. Dulu dia memang pernah melakukan kesalahan karena tidak merestui hubungan putranya dengan perempuan yang dicintai Wahid. Dan sekarang ini ia bermaksud ingin menebusnya. Tetapi sepertinya Wahid gagal memahami. Tanpa bertanya lebih dulu, putranya itu memaki dirinya yang sudah berusaha melakukan yang terbaik.
Perlahan perasaan sedih terasa di hatinya. Dulu dia sering kali membangkang kepada orangtuanya. Lalu sekarang apakah perbuatan Wahid adalah balasan atas sikapnya dulu.
"Bu, Wahid mohon jangan usik dia. Jangan jadikan dia Farah-Farah yang lainnya, Bu. Wahid enggak memiliki hubungan apapun sama dia. Dia teman Nada, Bu. Dia sahabat Nada. Kalau Ibu menyakitinya bukan hanya Wahid yang terluka, tapi Nada juga."
"Kenapa kamu berpikir begitu, Sayang? Ibu enggak..."
"Apapun maksud Ibu, tolong jangan dekati Kiki. Karena dia bukan siapa-siapa Wahid."
"Wahid," panggil Umi saat Wahid akan melangkah pergi.
"Wahid tahu Ibu pernah terluka. Tetapi dari semua sikap Ibu membuat Wahid percaya bila Ibu memang pantas disakiti."
Untuk yang kedua kalinya, putranya sendiri salah mengartikan segala sikap yang telah Umi lakukan untuknya.
"Kamu salah, Nak. Sejak Farah sampai Kiki, apapun yang ibu lakukan semata-mata ingin kamu bahagia. Dan tidak merasakan sakit seperti ibu," gumam Umi seorang diri. Karena Wahid bergegas pergi tanpa memandang Ibunya sedikitpun.
----
Continue..