Bab 13

1256 Kata
Masalah ini bukan hanya tentangmu atau tentangku. Melainkan semua ini tentang hati kita yang masih sama-sama bisu bersuara mengenai perkara cinta. Ajang curahan hati Kiki dan Nada terputus dikarenakan para laki-laki yang mereka bicarakan tiba-tiba saja datang dalam keadaan tidak baik. Apalagi Kiki yang melihat sudut bibir Wahid membengkak dan ada darah kering di sana membuatnya berpikir yang tidak-tidak. "Ya Tuhan, kalian? Abis ngapain?" seru Nada kebingungan. Di belakangnya ada Kiki yang terus saja mencuri pandang pada sosok Wahid yang hanya bisa diam membisu. "Mau jadi pahlawan kesiangan? Ya ampun, Mas Agam. Pahlawan yang Nada cinta itu bukan masalah pamer otot aja. Tapi bisa bawa perempuannya ke surga. Itu baru pahlawan. Lah, kalian ini apa?" tunjuknya satu-satu. "Kak Barra juga? Ketahuan kak Bitha baru tahu rasa deh. Pasti diceramahin deh sama kak Bitha." Dalam ringisan Barra hanya bisa mengekspresikan permohonan maaf. "Gue juga enggak mau begini, Nad. Tapi ada yang gulat tadi. Jadi deh gue kena bagian juga buat pisahin," jelasnya. Agam tak menjawab apapun. Laki-laki itu langsung masuk ke dalam kamar, antara ingin menghindar dari pembahasan ini atau ingin membersihkan diri. Sedangkan Wahid berjalan masuk ke arah toilet tanpa melihat Kiki yang benar-benar khawatir kepadanya. "Nad, please jangan bilang Bitha." "Kak Barra aneh banget. Terbang dari Jakarta ke sini cuma demi pisahin orang yang berantem? Terus yang pada berantem juga enggak punya pikiran. Udah pada tua juga masih aja adu otot," ucap Nada dengan suara kencang. Dia kesal setengah mati melihat tingkah ketiga laki-laki yang bahkan usianya jauh diatasnya bersikap kekanak-kanakan. "Maafin Kak Barra, mas Agam sama bang Wahid ya," ucap Barra. Kiki yang tak konsen mendengar cerita Barra langsung berjalan menuju toilet di mana Wahid berada. Menunggu Wahid di depan pintu toilet dengan perasaan tak menentu. Ketika pintu itu terbuka, Wahid terlihat kaget ada wajah Kiki di depannya. Menatapnya penuh pengharapan untuk dijelaskan atas semua masalah ini. "Kenapa lagi sih, Bang?" tanya Kiki sambil mengekori Wahid. "Enggak papa." "Jelek banget sikap lo kalau begini," makinya sambil memberikan tisu untuk Wahid mengeringkan wajahnya. "Iya gue tahu." "Udah deh ngomong aja. Ada apa sebenarnya? Lo enggak masuk kerja karena gue enggak masuk juga atau karena apa? Eh lo kan bos jadi bebas. Sedangkan gue? Gue yang kebangetan," tawa Kiki. Ia duduk di samping Wahid yang sibuk mengusapkan luka di sudut bibirnya dengan tisu. Sesekali laki-laki itu mengiris merasakan perih atas luka tersebut. "Nih, obatin. Nanti dilihat Ammah gue yang diomelin," suara Nada sambil memberikan saleb kepada Wahid. Kiki terus memerhatikan gerak gerik Wahid yang lebih banyak diam kali ini. Bahkan Wahid tak meminta bantuan apapun kepada Kiki ketika dia mengobati lukanya. "Bang, kita sahabat kan?" "Kenapa tanya begitu?" liriknya sekilas. "Enggak papa. Gue cuma mau pastiin lagi aja. Takutnya gue bukan sahabat lo," suara Kiki pelan. "Sahabat itu kan saling bantu ya, Bang. Saling mengingatkan, saling berbagi. Apa gue salah untuk selalu ingatkan lo, Bang? Gue enggak tahu masalah lo apa. Dan enggak maksa buat dikasih tahu juga sama lo. Tapi masih ada Tuhan, Bang. Yang bisa jadi tempat curahan hati lo kalau lo punya masalah. Tuhan enggak bakalan ember dan cerita ke mana-mana lagi. Bahkan Dia juga bisa kasih solusi yang pasti. Jadi gue mohon, Bang—" "Enggak usah ingetin gue, Ki." "Lo marah kalau gue ingetin?" tanya Kiki sambil memandang wajah Wahid yang penuh luka. "Gue malu," jawabnya membalas tatapan Kiki. "Malu?" "Iya. Seharusnya gue yang ingatkan lo jadi lebih baik. Seharusnya gue yang bimbing lo. Tapi ini kebalik. Dan itu yang buat gue malu." Dengan kedua manik mata yang berkaca-kaca, Kiki tertawa pedih. "Ya udah kita sama-sama saling mengingatkan, gimana? Saling bimbing? Mau enggak, Bang?" "Nggak mau!!!" seru Nada yang ternyata dari tadi mencuri dengar. "Minta akad langsung, Ki. Percuma kalau cuma saling bimbing dan saling mengingatkan. Tanpa akad, kurang pahalanya." "Nad, lo ganggu banget sih." "Lagian lo berdua pacaran di depan pintu kontrakan gue. Digrebek hansip baru tahu rasa lo." "Nada, mulut lo yaaa...." Wahid yang tadinya duduk di samping Kiki mulai bergerak. Menjauhi gadis itu yang terus saja berputar-putar dalam kepalanya. "Kan, kan, ah, si Nada bikin jengkel aja," sembur Kiki kesal. "Gimana, Bang? Mau enggak?" "Mau apa sih, Ki?" goda Barra dengan secangkir kopi di tangannya. "Bukannya lo udah kerja ya, kok malah di sini?" "Bosnya aja ada di sini," jawab Kiki asal. "Jadi benar lo masuk perusahaan Wahid? Gue pikir gosip doang tante Umi masukin lo ke sana," "Ma ... maksudnya?" tanya Kiki bingung. Dia mencuri lihat ke arah Wahid yang turut membawa kopi di gelas. "Hid, bener kan? Nyokap lo sengaja masukin Kiki di sana?" tanya Barra memastikan. "Tanya aja langsung ke dia." Barra tidak jadi melanjutkan ucapannya. Apalagi saat melihat wajah Wahid tidak menampilkan ekspresi bahagia, membuatnya memilih bungkam. "Jadi gue diterima bukan karena otak gue?" cicit Kiki pada hatinya sendiri. Sekali lagi fakta menyakitkan muncul ke permukaan. Bukan hanya Wahid yang membuat perasaannya tak menentu. Tetapi jalan hidupnya yang lain juga membuatnya tidak yakin untuk tetap kuat dalam masalah ini.   ***   Dalam pekatnya malam Kiki menangis tanpa suara. Air matanya terus saja mengalir tetapi dia sebisa mungkin menahan diri untuk tidak meraung-raung karena masalah ini. Jujur saja dia tidak dapat menerima takdirnya yang menyakitkan ini. Mungkin bila cintanya tak terbalas itu adalah kesalahannya. Yang menanam bibit cinta di luar pernikahan. Tetapi perkara pekerjaan apa harus dirinya diterima karena bantuan dari orang dalam. Apalagi yang membantunya adalah perempuan yang menjadi ibu dari laki-laki yang ia cintai. Benar-benar menyakitkan. Hatinya jauh lebih sakit dari sebelumnya. Dia awalnya sudah terlalu percaya diri karena bisa keterima di perusahaan besar atas kemampuan otaknya sendiri. Tetapi kenyataannya tidak. Dia dibantu oleh orang lain. Memalukan sekali. Percuma kedua orangtuanya bekerja membanting tulang untuk menyekolahkan Kiki sampai sarjana. Tetapi ketika lulus dan mencari pekerjaan, Kiki malah dibantu oleh orang lain. Ini sama saja menipu semua orang menurutnya. Dengan perasaan sakitnya, Kiki mengirimkan surat pengunduran diri melalui email pribadi ke email perusahaan tempatnya bekerja. Dia rasanya tidak pantas berada di sana. Dia ingin bekerja atas kemampuan dirinya sendiri. Bukan dibantu oleh orang lain. "Sekali lagi takdir tidak pernah sesuai dengan harapan," gumamnya sambil melemparkan ponselnya jauh-jauh. Mungkin beberapa saat dia hanya bisa diam. Tak ingin mencampuri urusan apapun. Termasuk urusan dengan laki-laki yang berhasil mencuri perasaannya. Ketika kedua matanya baru saja ingin terpejam, suara ketukan di pintu kamar kost Kiki terdengar. Kiki yakin pasti yang mengetuknya adalah salah satu teman kost di rumah besar ini. Jika dia boleh membandingkan, lebih baik Kiki bermain dekat dengan Nada dibanding dengan perempuan-perempuan yang merupakan satu tempat kost dengannya. Bukan karena apa dan kenapa dia berpikir seperti itu. Bagi Kiki, Nada memang tak sempurna. Sama sepertinya. Tetapi Nada tidak membalut ketidak sempurnaan itu dalam sebuah kebohongan hanya demi penilaian baik orang lain. Sedangkan perempuan-perempuan di sini semuanya sama. Sama-sama bersikap baik hanya demi sebuah pujian. "Kenapa?" tanya Kiki malas setelah membuka pintu kamarnya. "Ada yang cariin lo." "Siapa?" "Cowok." Ekspresi Kiki berubah bingung. Laki-laki datang ke kost'an perempuan? Untuk apa? Sebelum menemui tamunya itu, Kiki menilai penampilannya sendiri di cermin. Apa layak untuk bertemu dengan orang lain. Memang yang Kiki pakai baju yang sederhana, tetapi sudah mewakili kewajibannya sebagai seorang muslim. Karena bagi Kiki, pakaian mahal percuma kalau aurat dibagi ke mana-mana. Lebih baik berpakaian seperti dirinya ini. Tak memancing napsu siapapun ketika melihatnya. Sejenak langkah Kiki terhenti saat melihat sosok laki-laki itu duduk di kursi depan rumah kost ini. Wajahnya tak terlihat karena Kiki datang dari arah belakangnya. Dalam hati Kiki terus bertanya, kira-kira siapa dia? Lalu saat namanya dipanggil oleh orang itu, barulah Kiki sadar siapa laki-laki ini. "Kiki." ----- Continue Yakin masih enggak mau beli bukunya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN