Bab 14

1240 Kata
Berhentilah berpura-pura sempurna di depan dia yang tahu kelemahanmu tetapi masih setia menemani setiap langkahmu. "Sorry, Hid. Tadi gue enggak tahu kalau lo sembunyiin masalah ibu lo dari Kiki," ucap Barra ketika mereka kembali ke kamar hotel. Senyuman yang Wahid berikan memberikan arti lain pada Barra. Laki-laki itu hanya diam. Kecewa atas kebodohannya sendiri karena tidak bisa menjaga ucapannya. Sungguh dia sama sekali tidak tahu jika semua itu harus dirahasiakan. Dan kini dia menyesal telah membuat perasaan Kiki terluka atas kebodohannya. "Santai aja, Bar. Gue juga enggak tahu kalau nyokap gue lakukan semua hal itu. Dia pikir gue bakalan senang. Gue bakalan bahagia. Ternyata enggak. Dia ingin yang terbaik buat gue, Bar. Tapi gue rasa caranya salah. Dan parahnya lagi gue udah jauh lebih salah. Gue maki-maki nyokap gue hanya karena perkara itu. Gue cuma takut Kiki merasakan seperti apa yang Farah rasakan dulu. Padahal Kiki—" "Kiki bukan siapa-siapa lo?" potong Barra cepat. "Iya. Kiki bukan siapa-siapa gue," jawab Wahid melirih. Tubuhnya langsung berbaring di atas tempat tidur kamar hotel itu setelah membuka pakaian bagian atasnya. Pandangannya kosong menatap langit-langit kamar hotel yang minim cahaya. Barra yang sedang duduk di salah satu sofa hanya bisa melihat kegundahan dari sahabatnya. Dia ingin menasihati Wahid atas apa yang telah terjadi. Tetapi Barra masih merasa tidak bisa melakukannya. Dalam keadaan tertekan dengan segala macam masalah, biasanya manusia paling enggan mendapatkan ceramah tentang kehidupan. Barra pun sama seperti itu. Karena itu dia lebih baik menjadi pendengar yang baik untuk Wahid. "Sholat dulu, Hid. Baru molor," ucap Barra sebelum melangkah pergi keluar kamar hotel. Wahid tak langsung menanggapinya. Dia hanya menikmati ketenangan ini. Mencoba mengerti hatinya yang terus saja bergejolak entah karena apa. Pikirannya menghakimi dirinya sendiri, karena beberapa waktu ini ia sungguh kelewatan atas perbuatannya sendiri. Mulai dari menyakiti perasaan Kiki hingga perasaan perempuan yang telah melahirkannya. "Gue cuma enggak mau lo jadi pelarian, Ki."   ***   Tubuh Kiki langsung menjaga jarak saat tahu siapa yang tengah duduk menunggunya di depan rumah kost di mana dirinya tinggal. Sedikit banyak kebodohan yang dulu dia pernah lakukan muncul dipermukaan. Hanya demi keinginan sama seperti yang lain, Kiki merendahkan dirinya sebagai seorang perempuan. Mengemis cinta kepada laki-laki yang pernah menjadi seniornya di kampusnya. Tetapi untungnya Kiki memiliki sahabat seperti Nada. Yang selalu mengingatkannya ketika ia salah mengambil jalan hidup. "Mas Gilang," panggil Kiki. Laki-laki yang dipanggil Gilang itu mendongak sambil memamerkan senyum indah. Wajahnya tak berubah menurut Kiki. Tiga tahun tak melihatnya semua seolah sama. Tetapi tampilan laki-laki itu tidak seperti sebelumnya. Dia lebih berwibawa sesuai dengan usianya kini yang tak muda lagi. "Apa kabar, Ki?" tegurnya sopan. "Lama enggak ketemu banyak yang berubah ternyata," ucapnya melihat Kiki yang kini sudah berhijab. Kiki turut melihat hijab yang dipandang oleh Gilang, lalu kemudian dia tersenyum. "Siapa sih Mas yang mau hidupnya gitu-gitu aja?" "Iya. Itu yang seharusnya dipikirkan oleh manusia." "Mas juga berubah. Enggak kayak kamus KUHP lagi mukanya," goda Kiki mengingat sindiran Nada kepada laki-laki itu dulu. "Ah, iya. Sahabatmu itu apa kabarnya? Setidaknya dari kata-katanya buat mas banyak bercermin. Memang terkadang manusia perlu di komentari pedas untuk bisa berubah," ucap Gilang tak berhenti tersenyum. "Sudah mau tidur, Ki? Mas mau bicara sesuatu." Kiki menggeleng, dia memilih duduk di kursi satunya yang dibatasi meja kecil pada teras rumah kost tersebut. "Mas mau bicara apa?" "Mas mau minta maaf soal waktu itu." "Itu udah lama, Mas. Kiki juga udah lupa. Lagi pula Kiki yang seharusnya minta maaf. Enggak seharusnya Kiki mohon-mohon Mas untuk menjadi pacar Kiki dulu. Yah, namanya juga masih labil, Mas. Lihat teman lain sudah begini dan begitu, rasanya ada iri di hati. Ingin juga seperti mereka. Padahal Tuhan sudah menuliskan jalan hidup manusia masing-masing. Untuk apa iri dengan orang lain. Karena nantinya pun Kiki bisa merasakan hal yang sama. Hanya jalannya saja yang berbeda. Benar enggak, Mas?" "Haha ... iya, kamu benar. Pikiranmu jauh lebih dewasa sekarang ini," tawa Gilang mendengar penjelasan Kiki. "Ibuku pernah bilang, Mas. Manusia itu enggak ada yang bodoh. Cuma malas saja. Dan kalau Kiki bisa mengurangi rasa malas itu, Kiki bisa lebih pintar dari sebelumnya. Dulu Kiki bukannya bodoh melakukan tindakan aneh itu. Kiki hanya kurang paham hal negatif apa yang terjadi ke depannya." "Iya. Mas juga salah. Mau-maunya aja kamu paksa untuk jadi pacar. Padahal waktu itu mas sibuk banget. Mau lulus bukannya pikirkan skripsi malahan pacaran sama kamu," tawanya geli. "Ah, itu kan hanya masa lalu. Yang terkadang lucu juga kalau diceritakan kembali," gumam Kiki sambil merentangkan kedua tangannya ke atas. Tubuhnya lelah. Namun hatinya lebih lelah. Dia boleh saja duduk bersama Gilang, mantan pacarnya ketika kuliah dulu. Tetapi hati dan pikirannya sibuk memikirkan yang jauh di sana. "Benar. Semua itu hanya masa lalu. Tetapi ... jika mas mengajakmu untuk membangun masa depan, apa kamu mau?" tanya Gilang tiba-tiba. Gerakan melemaskan otot-ototnya terhenti. Kiki melirik bingung ke arah Gilang yang tersenyum sambil menundukkan kepala. "Mas Gilang ngomong apa barusan? Kiki enggak salah dengar, kan? Kok rasanya aneh ya." "Mungkin bagimu ini terkesan aneh. Tapi setelah mas sibuk pergi ke sana ke sini, membangun sebuah mimpi. Nyatanya mimpiku masih tertinggal di sini, Ki. Kalau bukan karena ada perasaan, mas pun dulu enggak akan mau membantumu menjadi kekasih. Kamu itu lucu, Ki. Kamu itu beda dari perempuan lain. Kamu itu ya kamu. enggak pernah jadi orang lain. Mas sering dengar banyak gosip buruk tentangmu yang berteman dengan sahabatmu itu. Tapi mas lihat kamu enggak pernah terpengaruh. Karena itu mas rasa memang kamu perempuan yang pantas untuk dibahagiakan." Tanpa bisa berkata-kata, Kiki memaksakan senyumnya. Dia pikir kalimat ini akan dia dengar pertama dan terakhir kali dari laki-laki yang hatinya pilih. Namun ternyata tidak. Harapan yang selalu dia buat tak pernah sama dengan kenyataan. Bahkan tanpa bermaksud menolak, Kiki hanya mampu diam. Sesekali ada pikiran inilah saatnya dia bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ada laki-laki yang mau membimbingnya dan membangun indahnya mahligai rumah tangga bersama. Tetapi mengapa semakin pikiran itu muncul, hatinya semakin menolak. "Tiga tahun enggak ketemu, Kiki jadi takut tiba-tiba Mas Gilang ngomong begini," ringisnya bingung. "Maaf kalau mas buat kamu takut." “Enggak perlu minta maaf kali, Mas. Mungkin karena pernah ada jarak di antara kita, jadi timbul perasaan seperti ketakutan tadi. Tapi—makasih, Mas. Makasih udah berkata demikian. Makasih udah mau mengajak Kiki untuk membangun masa depan. Mas orang pertama yang harusnya Kiki puji. Karena dulu Mas pernah mengajarkan hal yang menyakitkan di mata Kiki dan Nada. Lalu kini Mas dengan begitu baiknya bisa datang kembali menjanjikan kebahagiaan. Bukan maksudnya Kiki enggak percaya berkata begini. Tapi—maaf Mas, Kiki masih ragu." "Kamu ragu mas enggak bisa menjadi suami yang baik?" "Bukan. Tapi Kiki ragu akan menyakiti, Mas." "Menyakiti, Mas. Kenapa? Apa sudah ada laki-laki lain yang kamu cintai?" "Tidak. Kiki enggak pantes bicara cinta tentang laki-laki yang bahkan merasa malu karena Kiki cintai," ucapnya menunduk pilu. Gilang terdiam memandang wajah sedih Kiki. Begitu pun dengan seseorang yang entah sejak kapan berdiri di dalam pekatnya malam, sambil memandang lekat wajah Kiki dan wajah laki-laki yang sibuk mencuri pandang pada perempuan itu. "Untuk yang kedua kalinya, gue gagal," gumamnya sebelum pergi. Pergi kabur dari kenyataan pedihnya hidup menurut versinya. Padahal Tuhan sudah menyiapkan indahnya kisah bila sedikit saja dia masih setia berjuang di sana. "Tapi Kiki enggak akan pernah mundur, Mas. Mungkin sekarang dia hanya ingin Kiki menjadi sahabatnya untuk mengingatkan. Suatu saat nanti, Kiki akan menjadi sahabat sehidup sematinya yang bisa membantunya segala hal. Tidak terkecuali masalah hatinya yang masih dia balut erat dengan luka didalamnya." ----- Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN