Bab 15

1267 Kata
Tolong ijinkan aku untuk mencintaimu. Bukan untuk sehidup semati. Melainkan cinta sehidup sesurga nanti. Dua hari tanpa kejelasan membuat Kiki bingung harus melakukan apa. Setelah pertemuannya terakhir di kontrakan Nada, Wahid menghilang tanpa jejak. Bahkan ketika ia bertanya kepada Nada di mana sepupunya itu, Nada sama sekali tidak tahu. Terakhir dia bertemu pun malam, dihari yang sama Kiki bertemu dengan Wahid. Lalu ke mana perginya Wahid kini? Biasanya sehari sekali Wahid pasti mengirimkannya pesan singkat. Walau isinya hanya sebatas mengingatkan untuk sholat, Kiki sudah begitu bahagia. Tetapi kini Wahid terasa menjauhinya. Entah apa perasaan Kiki saja, ia merasa seakan-akan melakukan kesalahan terhadap laki-laki itu. Namun ia tidak tahu apa kesalahannya. Hingga Kiki rasanya gemas sendiri atas segala sikap Wahid kepadanya. "Bang, lo di mana sih?" gumam Kiki sambil memeluk ponselnya. "Lo tuh bukan tipikal laki-laki pendiam. Tapi lo tuh tertutup banget kalau ada masalah. Susah banget buat lo untuk cerita semuanya ke gue. Gue kan juga mau berbagi sama lo, Bang. Gue mau jadi tempat sampah segala curahan hati lo," ucap Kiki melirih. Bahkan dua hari lalu Kiki rela menolak ajakan Gilang untuk membangun masa depan hanya demi ingin memperjuangkan perasaannya kepada Wahid. Tetapi mana? Mana laki-laki yang kini ia perjuangkan. Keberadaannya saja sama sekali tidak jelas di mana. Lalu apalagi yang harus Kiki perbuat? Dalam keadaan bingung dan merasa serba salah, Kiki memutuskan untuk mengadu kepadaNya. Dia yang Maha Mengetahui lagi Maha Pendengar yang diminta hambaNya pasti akan memberikan Kiki sedikit jalan atas apa yang akan ia lakukan ke depannya. Jujur saja di sepanjang usianya, masih bisa terhitung berapa kali dia melakukan sholat dhuha seperti yang akan dia lakukan kini. Lalu apa mungkin Tuhan masih mau mendengarkan curahan hatinya? Dia bukanlah umat yang sempurna. Dia bahkan masih seringnya mengabaikan panggilan diwaktu sholat tiba. Tetapi sekarang ini ketika ia merasakan banyak sekali masalah dalam hidupnya, barulah Kiki memohon ampun kepada Tuhan. Memang bukan hal baru lagi prilaku manusia seperti Kiki di jaman modern seperti sekarang ini. Yang lebih men-Tuhankan segala hal tentang dunia dibandingkan akhirat. Padahal hidup di dunia hanyalah sementara. Sambil menahan isak tangisnya, Kiki memulai sholat dhuhanya dengan khusuk. Dia malu. Dia takut dan khawatir Tuhan tidak menerima ibadahnya yang selalu datang hanya ketika banyak masalah. Namun Kiki terus melakukan hal yang terbaik. Dia tidak akan tahu hasilnya bila tidak dicoba. Saat salam terakhir, panggilan ponselnya terdengar. Ada nama Nada tertera pada layar ponselnya. "Assalamu'alaikum, Nad." "Wa'alaikumsalam, Ki. Ke kontrakan ya sekarang. Soalnya ... soalnya," ucap Nada sambil merintih sakit. "Lo kenapa, Nad? Hei ... jangan buat gue khawatir." "Perut gue mules, Ki. Mas Agam udah gue suruh pulang. Lagi di jalan katanya. Lo bantu gue, Ki. Di sini—" "Ya udah. Tunggu gue ke sana sekarang," putus Kiki cepat. Setelah melipat mukena yang baru saja dia pakai, Kiki melirik sekilas bentuk hijabnya pada cermin. Ketika posisinya dalam keadaan baik, Kiki langsung segera bergegas ke kontarakan Nada yang jaraknya hanya 5 menit dalam berjalan kaki. "Nad ... Nada," panggil Kiki dari luar kontrakan tersebut. Perempuan itu segera masuk ke dalam yang kebetulan pintunya tidak dikunci. Dari apa yang Kiki lihat, kontrakan tersebut begitu berantakan. Entah Nada habis melakukan apa, semua baju serta beberapa bekas makanan berserakan di mana-mana. "Ki," rintih Nada dari dalam kamar. "Nad, lo enggak papa?" "Perut gue mules." "Yuk ke rumah sakit sekarang." "Ini belum mau keluar, kan? Duh gue bisa di amuk ayah kalau sampai lahiran di sini," ucapnya sedikit terisak. Bibir Nada yang sudah pucat membuat Kiki semakin kebingungan. Dia memapah tubuh Nada keluar kamar, lalu membawa tas hitam besar yang memang sudah disiapkan perempuan itu seminggu lalu. Niat Nada akhir minggu besok dia balik ke Jakarta untuk proses melahirkan. Karena rekomendasi dari dokter, waktu kelahirannya masih dua minggu lagi. Dan dokter masih menyarankan dia melakukan perjalanan udara. Apalagi Fatah, sang ayah sekaligus dokter pribadi Nada, yang akan menemaninya selama perjalanan pulang ke Jakarta. Tetapi siapa yang sangka jika perut Nada mendadak mulas seperti ingin buang air besar tetapi sakitnya lebih dasyat. "Ki, bisa enggak sih gue sekarang naik pesawat ke Jakarta?" "Lo gila? Mau lahiran malah minta naik pesawat. Mikir dulu Nad sebelum bicara," sembur Kiki kesal. Nada terkekeh geli. Sambil menarik napas ia melirik Kiki yang wajahnya semakin khawatir. Berulang kali gadis itu melihat jam di ponselnya. "Lama banget mas Agam." "Enggak tahu, ahh...." "Ehh, tahan Nad, duh gue parno. Serius. Gimana kalau lo lahiran sekarang dan gue enggak tahu apa-apa," panik Kiki. Jemari tangannya refleks menekan beberapa kombinasi nomor yang dia ingat, lalu menunggu jawaban panggilan itu. Tapi sayangnya berulang kali Kiki lakukan nomor tersebut tidak menjawabnya. "Telepon siapa, Ki? Mas Agam ya. Kok lo berani-berani telepon mas Agam sih," gerutu Nada ditengah kesakitannya. "Lo itu, Nad. Udah mau lahiran masih mikir yang enggak-enggak. Siapa sih yang telepon mas Agam? Gue tuh cari alternatif lain. Lo malah tuduh gue begitu." "Hahaha. Kan siapa tahu, Ki. Jaman sekarang ngakunya sahabat, tapi kebanyakan berbagi pasangan. Kan gue enggak mau yang kayak gitu." "Otak lo harus dicuci kayaknya, Nad. Pikiran lo enggak pernah baik," kesal Kiki setengah mati. "Ya maaf deh. Terus kalau bukan hubungi mas Agam, lo hubungi si—aaarrggg ... sakitttt...." "Tahan Nad. Please tahan," ucap Kiki gemetaran. "Sumpah gue takut. Gue enggak tega lihat lo kesakitan gini. Muka lo udah pucat banget gitu, Nad. Kenapa mas Agam lama banget sih?" "Eh kok lo yang nangis?" suara Nada ikut bingung melihat reaksi berlebihan dari Kiki. Kiki tak peduli pertanyaan terakhir Nada. Dia mengirimkan pesan singkat kepada seseorang dengan penuh pengharapan tinggi. Sekali ini saja tolong datang padaku, bukan untukku tetapi untuk sepupumu, Nada.   ***   Wahid nampak kaget membaca ada banyak panggilan tak terjawab dari perempuan yang sudah dua hari ini dia hindari. Awalnya Wahid ingin mengabaikan panggilan dari perempuan itu. Akan tetapi setelah melihat pesan singkat yang dikirimkan oleh Kiki, kedua langkah kaki Wahid terpaku. Pikiran buruk langsung menghantuinya. Ada apalagi kali ini? Saat ia mencoba menghubungi balik Kiki, ponsel tersebut berada di luar jangkauan. Ingin sekali Wahid mengamuk atas provider yang dipakai oleh Kiki. Bisa-bisanya perempuan itu memakai provider yang sinyalnya hanya muncul seperti orang puasa sunnah. Senin dan kamis. Wahid paham mengapa Kiki memakai provider itu untuk mengisi ponselnya. Tetapi ya Tuhan, disaat genting seperti ini bisa-bisanya sinyal itu tidak bisa dihubungi. "Aaarrgghhh ... dasar bodoh!!! Selalu membuat orang khawatir," amuknya kesal. Untung saja posisi Wahid masih berada di Malang dalam mengurusi cabang perusahaannya yang baru dibuka. Bayangkan saja jika dia sudah di Jakarta dan dapat pesan seperti ini lagi, tidak kebayang akan seperti apa kacaunya dia. Ketika mobil Wahid tiba di depan kontrakan Nada, laki-laki itu merasa kontrakan tersebut cukup sepi dibanding biasanya. Berulang kali dia melirik ke sekitar untuk bertanya ke mana perginya Nada. Tetapi karena tidak ada orang, Wahid mencoba menghubungi sahabatnya, Agam. "Assalamu'alaikum, Gam. Lo di mana?" "Wa'alaikumsalam, gue lagi di RSIA Muhammadiyah," "RSIA? Nada melahirkan?" tanya Wahid panik. "Dia m—" "Gue ke sana sekarang, Gam." potong Wahid cepat. Sebelum bergerak menuju ke sana, Wahid langsung menginfokan di grup keluarga Al Kahfi tentang kondisi Nada saat ini. *Wahid Siaga!!! Nada lahir.. *Abizar Komando ... Komando ... Nada emang udah lahir dari 23 tahun yang lalu. JJ *Bitha Serius Nada lahiran? Kalau Ayah Fatah tahu bisa ngamuk tuh.. *Abizar Kok cucu lahir malah ngamuk? Aneh. Nanti bisa-bisa cucunya masuk lagi ke dalam anu (?) *Bitha Enggak lucu *Ra" Enggak lucu(2) *Naya Nggak lucu(3) *R_Fif Bang Shaka Enggak penting banget komentarnya *Abizar Fix!! Besok grup ini gue bubarin. Pada enggak kompak sama gue. *Bitha kenapa enggak sekarang aja bubarinnya? Pakai tunggu besok segala. *Abizar Kalau sekarang, nanti Bang Syafiq enggak baca. Kan nggak seru kalau dia belum panik *Bitha Sepupu DURHAKA!!!! ----- Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN