Sabar itu menyakitkan, diam itu adalah sebuah penyiksaan batin dan berbicarapun merupakan sebuah kesia-siaan jika berhubungan denganmu.
Di depan ruang tindakan, langkah Wahid memelan, melihat Kiki yang sedang menundukkan kepala di atas kursi tunggu rumah sakit Islam itu. Ada perasaan sedih ketika Wahid tahu Kiki sedang gelisah seperti sekarang ini. Karena dia sesungguhnya ingin menjadi sandaran untuk Kiki, namun apalah daya dia masih belum yakin akan keputusan hatinya.
Untuk itu sampai detik ini Wahid lebih memilih menghindar dari Kiki. Dia takut tanpa sadar dirinya memanfaatkan gadis baik ini untuk kepentingannya sendiri.
"Ki," panggil Wahid.
Kiki mendongakkan kepala, memandang Wahid sambil memaksakan kedua sudut bibirnya tertarik lebar. Ada perasaan tenang yang perlahan mulai Kiki rasakan ketika dia tidak sendiri saat keadaan genting sepertu sekarang.
"Nada di dalam," lirihnya pelan.
"Sudah lahir anaknya?"
Kepala gadis itu langsung menggeleng cepat. "Belum. Dokter bilang ini baru gejala mulas-mulas normal yang biasa dirasakan ibu hamil," jawab Kiki dalam ekspresi datar.
"Ya Tuhan, gue pikir udah lahiran," keluh Wahid yang merasa lagi-lagi dibohongi oleh semua kepanikan yang terjadi. "Terus tadi apa-apaan sih lo kirim pesan kayak gitu. Gue kan jadi mikir Nada kenapa-kenapa," keluh Wahid melirik Kiki yang kembali diam membisu.
"Maaf," sahut Kiki lemah. "Maaf udah buat Bang Wahid salah tangkap masalah pesan itu. Sekali lagi Kiki minta maaf."
Tanpa bermaksud sombong, Kiki langsung berjalan pergi meninggalkan Wahid yang kebingung seorang diri melihat reaksi aneh yang Kiki berikan kepadanya.
Dalam hati, Wahid sibuk berpikir atas perubahan sikap yang Kiki lakukan. Tidak biasanya Kiki bersikap seperti ini kepadanya.
"Ki," panggil Wahid merasa tidak terima diacuhkan.
"Apa lagi, Bang?" tanya Kiki bingung karena langkahnya dihadang oleh Wahid.
"Lo kenapa lagi, hah?"
"Gue? Lo tanya gue kenapa, Bang?" ulang Kiki dengan tangan yang menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, lo kenapa? Gue ngomong baik-baik tapi sikap lo aneh begitu. Diajak bicara baik-baik malah pergi. Sekarang kenapa lagi? Ah, gue tahu, lo enggak mau pacar lo salah paham kan kalau lo masih sibuk ngobrol sama gue?" sindir Wahid dengan nada suara mengejek.
"Pacar?" ulang Kiki.
"Udahlah, dari awal gue juga tahu perempuan kayak lo itu emang enggak pantas untuk diseriuskan!!" ucap Wahid kejam.
Kiki bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, mengapa tiba-tiba saja Wahid bicara seperti ini? Apa lagi salahnya? Bukankah dia tidak melakukan kesalahan apapun juga kepada laki-laki ini. Atau ada hal lain yang tanpa sadar Kiki lakukan dan membuat Wahid salah berpikir tentang dirinya?
"Sekarang gue mau bilang, selamat Ki. Lo perempuan terhebat yang pernah gue kenal. Lo pasang wajah polos, dan membuat semua orang percaya. Lo bergaya seperti perempuan alim, yang ternyata lo gunain untuk nipu orang. Harusnya gue sadar dari dulu tentang hal ini. Tapi—"
"CUKUPPPP!!!!!" Teriak Kiki sambil menutup kedua telinganya. "LO SADAR ENGGAK SIH APA YANG LO BILANG, BANG? SADAR ENGGAK LO!!! SEMUA KALIMAT LO ITU TUDUHAN YANG ENGGAK BERALASAN. DAN ITU NAMANYA FITNAH!!!!"
"Gue tahu Bang, gue enggak pantas untuk suka sama lo. Lo itu terlalu jauh untuk gue capai. Tapi bukan berarti lo berhak berpikir negatif sama gue. Apa salah gue, Bang? Apa yang pernah gue lakuin sampai lo berpikir jahat begitu ke gue? Kenapa semua kebaikan yang gue kasih ke lo, buat lo jadi salah arti begini. Gue serius Bang, gue tulus bantu lo sebagai sahabat, sebagai teman, sebagai seorang adik ke kakaknya. Walau itu artinya bohongin perasaan gue sendiri, gue enggak masalah, Bang. Yang penting gue bisa bantu lo semaksimal yang gue bisa. Tapi gue enggak sangka ini balasan yang lo kasih. Sekali pun gue enggak pernah sindir tentang masa lalu lo, Bang. Tapi kenapa lo selalu nilai gue dari masa lalu gue?"
Napas Kiki tak beraturan setelah mengeluarkan semua perasaan sakit di hatinya. Dia kini memang tak menitikan air mata. Namun yang tidak Wahid ketahui, laki-laki itu telah sukses melukai hati terdalam seorang perempuan.
Bahkan perempuan yang tak pernah Wahid ketahui jika suatu saat nanti mungkin saja Kiki adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan untuknya.
"Dan satu hal lagi, Bang. Gue minta lo ke sini bukan untuk gue kok. Tapi untuk Nada, sepupu lo. Jadi enggak perlu berpikir negatif lagi ke gue. Gue juga orangnya sadar diri. Kalau lo enggak mau kenapa gue paksa. Benar kan yang gue lakuin, Bang?" lirihnya pelan.
Kiki sedikit menundukkan badannya sebelum berjalan melewati tubuh Wahid yang terus saja diam setelah mendengarkan semua jerit hati Kiki.
***
"Sialan, kita kena tipu lagi!!!" amuk Shaka jengkel kepada para sepupunya.
Setelah dua jam menerima pesan dari Wahid, semuanya kini sudah berada di Malang. Bahkan, Fatah, Ayah dari Nada, masih sibuk dalam melakukan pengecekan perkembangan persalinan yang akan dilakukan oleh anak perempuannya itu.
"Ya udahlah, Bang. Anggap aja kita liburan ke sini," ucap Barra yang sibuk menggendong bayi laki-laki dengan kedua tangannya.
"Liburan, liburan!!! Enggak tahu apa si Nada, kalau Abang sepupu tampannya ini sibuk!!!"
"Preeettt!!!"
"Eh, bocah. Anak kecil ikut campur lagi," pukul Shaka pada kening Rafif yang sibuk bermain game di ponselnya.
"Bang Shaka."
"Apa sih, Dek? Rafif adekmu itu yang enggak tahu diri,"
"Tapi Naya enggak suka Bang Shaka nakalin Rafif. Naya bilangin Ayah," ancam Kanaya, adik ketiga Shaka.
Shaka yang diancam oleh adiknya sendiri hanya bisa berekspresi kesal. Dia menggerutu sambil menyeruput minuman dingin yang dia pesan.
"Eh, ngomong-ngomong si Wahid mana, Bar?"
"Gue juga belum lihat, Bang. Dia masih di Malang kok. Tapi kok enggak ada di sini?" sahut Barra sambil celingukan ke kiri dan kanan.
Rumah sakit Islam tempat di mana Nada dirawat memang cukup ramai. Bukan hanya ramai akan pasien, tetapi ramai orang-orang yang mengatar pasien dalam berobat. Tak terkecuali semua keluarga Al kahfi.
Saat tahu Nada mau melahirkan, seluruh orang heboh. Bahkan Fatah yang sedang berada di rumah sakit, langsung memutuskan pergi lebih dulu tanpa menunggu yang lainnya.
Pernah trauma sampai tiga kali rasanya inilah yang membuat Fatah tak bisa tinggal diam ketika mendapatkan kabar Nada akan melahirkan. Karena itu seluruh keluarga memakluminya.
"Apa dia menghindar karena ada Farah di sini?" selidik Shaka curiga.
Laki-laki itu memandang ke arah meja sebelah di mana ada Farah, Bitha dan Rara yang sedang sibuk menyantap makanan tanpa ingin diganggu oleh putra dan putri mereka.
Sedangkan Shaka, Barra dan Syafiq yang kini bertugas menjaga buah hati mereka masing-masing.
Jika Syafiq sibuk mengikuti setiap langkah putrinya yang kelewat aktif, maka Shaka menepuk-nepuk punggung putrinya yang sudah tertidur lelap dalam pelukannya.
"Gue rasa bukan," jawab Barra.
"Masa? Emang dia udah move on?" tanya Shaka dengan nada curiga.
"Udah," sahut Wahid yang tiba-tiba saja datang. Dia memilih duduk di samping Shaka, lalu mencubit pipi Kanaya yang sibuk mengetik sesuatu dengan ponselnya. "Helo ... Broo," tegur Wahid pada Rafif yang tersenyum ke arahnya.
"Dari mana aja lo, Hid? Hilang-hilangan mulu. Sengaja ya biar dicari?" celetuk Shaka.
"Gue baru datang dari kantor," jawabnya penuh kebohongan.
Wahid menunduk untuk mencium putri Shaka yang tertidur pulas. Sesekali dia menggesekkan hidungnya pada kulit lembut balita itu.
"Eh, anak gue masih kecil. Jangan dijadiin lampiasan napsu lo."
"Pelit banget lo, Bang."
"Dia khawatir, Hid. Anaknya diikutin kucing garong kayak lo," sahut Barra dengan tawa gelinya.
"Harusnya gue bawain cermin ya, biar Bang Shaka juga sadar diri. Dulu dia juga kayak kucing garong, curi-curi pandang sama Rara," balas Wahid dengan maksud menggoda Shaka.
Tetapi karena otak licik Shaka yang kelewat pintar, laki-laki itu membalasnya tanpa diduga-duga oleh Wahid.
"Masih mending gue kucing garong. Berani kelihatan belangnya. Lah kalau lo, kelihatan aja alim. Kelihatan aja sempurna. Tapi kenyataannya enggak. Semacam jeritan hati seorang istri. Bilangnya enggak papa dikasih uang belanja dikit, besoknya kita enggak dimasakin apa-apa dengan alasan uang belanja udah habis."
"Hahahahaa. Curhatan lo bagus banget, Bang," seru Barra sambil melirik Bitha yang mendelik padanya.
"Loh, benerkan apa yang gue bilang. Kalau prinsip yang gue pegang sama Rara. Enggak suka ngomong, kurang ngomong, lebih ngomong, salah ngomong, udah melakukan hal benar pun harus ngomong. Karena apa? Kunci keberhasilan dalam sebuah kehidupan adalah komunikasi yang baik. Enggak hanya sama istri, enggak hanya sama keluarga, tapi juga sama semua orang. Dan lo harus tahu, salah-salah dalam komunikasi bisa memunculkan pikiran negatif yang enggak sesuai kenyataan."
Wahid memikirkan segala nasihat yang Shaka ucapkan. Semua yang dikatakan sepupunya itu benar. Bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya ini bukan karena kesalahan siapapun. Tetapi kesalahan karena kurangnya komunikasi. Dan baru saja dia telah menyakiti hati seseorang hanya karena dugaannya sendiri.
"Hid, lo mau ke mana?" tanya Shaka karena Wahid tiba-tiba saja berdiri.
"Melakukan apa yang lo bilang barusan, Bang."
"Bagus ... bagus. Coba dari dulu lo berguru sama gue. Bisa-bisa yang nikah sama Farah itu lo, bukan Bang Syafiq."
"Hmmm ... hm," tegur Syafiq yang datang bersama putri kecil dalam gendongannya.
"Peace, Bang," cengir Shaka salah tingkah.
------
Continue