Banyak orang berkata bila menunggu itu adalah hal yang membosankan. Namun menurutku bukan berarti berpindah hati adalah hal yang menyenangkan.
Sudah yang kesekian kalinya Kiki mengusap air mata yang menetes di kedua pipinya. Kiki bahkan tak peduli ditatap aneh oleh orang-orang dalam angkot yang sama dengannya. Karena saat ini hatinya sudah begitu hancur akibat semua sikap serta ucapan yang Wahid berikan kepadanya.
Dia juga tak menyangka Wahid akan bersikap sejahat itu padanya. Walau sudah seribu kali Kiki mengingat apa saja sikap yang ia tunjukkan kepada Wahid, tidak ada satu kejadian pun yang Kiki pikir adalah sebuah kesalahan darinya.
Selama mengenal Wahid hingga detik ini, ia selalu bersikap begitu baik. Bahkan Kiki telah yakin memberikan hatinya kepada sosok laki-laki yang belum menjadi mahramnya itu. Tetapi inilah balasan yang Kiki dapatkan atas semua kebaikannya. Ibarat sebuah pribahasa yang mendunia, air s**u dibalas dengan air tuba. Begitulah kurang lebih penggambaran atas sikap jahat Wahid padanya.
Tanpa hati dan pikiran jernih, Wahid rela melontarkan segala pemikiran bodohnya tanpa sebuah alasan yang jelas.
"Apa sih salah gue, Bang?" gumam Kiki sambil terus menatap ke arah kaca belakang mobil angkutan umum yang ia tumpangi.
Pandangan gadis itu terus saja kosong dengan pikiran yang sibuk mengartikan segala sikap Wahid. Bahkan karena tidak menyadari, kampus di mana tempat Kiki akan turun sampai terlewat oleh angkutan itu.
"Bang, kiri bang," ucap Kiki tiba-tiba ketika melihat logo restaurant siap saji yang kebetulan berada dekat dengan kampusnya.
Bibir Kiki mengerucut kesal, akibat memikirkan Wahid sejak tadi, posisi ia turun angkutan umum harus lebih jauh dari yang seharusnya. Dan bahkan karena tubuh serta pikirannya sedang tidak sejalan, Kiki yang harus membayar angkutan saja harus berlama-lama mencari uang recehan didalam tas kecil yang dia bawa.
"Ish ... mana lagi uangnya?" gerutu Kiki kesal dengan tangan yang sibuk mencari-cari uang di dalam tasnya.
Biasanya memang kebanyakan orang akan mengalami hal yang sama seperti Kiki. Ketika banyak masalah dan membuat pikiran menjadi tidak fokus, semua yang dilakukan terasa begitu sulit. Padahal karena pikiran kita saja yang membuatanya sulit.
Setelah membayar angkutan yang dia tumpangi, Kiki berjalan gontai menuju restaurant siap saji yang tidak jauh dari posisinya saat ini.
Perutnya memang tidak merasakan lapar sama sekali. Tetapi dia juga tidak mau sakit karena belum mengkonsumsi apapun. Untuk itu dia berniat membeli makanan sebelum kembali ke rumah kost yang ia tempati.
"Kiki."
"Mas Gilang."
Laki-laki yang dipanggil Gilang itu nampak tersenyum, bergerak mendekati Kiki yang berdiri diam diposisinya. "Habis dari mana?"
"Itu ... tadi habis dari rumah sakit. Bawa Nada yang mau lahiran."
"Nada mau lahiran?"
"Iya. Tapi kayaknya belum lahir juga anaknya. Karena itu gue pulang dulu. Mau bersih-bersih, baru nanti ke sana lagi," jelas Kiki. Gadis itu memaksakan senyuman di kedua sudut bibirnya. Namun sayangnya yang terlihat oleh Gilang seperti ringisan kesakitan. "Mas Gilang lagi ngapain di sini?"
"Ah, itu. Kebetulan lewat sini, belum makan siang, ya udah jadi mampir. Inget dulu waktu masih kuliah, suka makan di sini. Biasalah mahasiswa selalu cari keuntungan lebih. Perut kenyang, tugas lancar. Karena free wifi gratisan," bisik Gilang dengan tawa gelinya.
"Mas Gilang bisa aja. Emang sekarang masih cari yang gratisan?"
"Sekarang mas bukan cari yang gratisan lagi. Tapi cari istri," jawabnya seolah menyindir Kiki yang wajahnya tiba-tiba memerah seperti tomat.
"Hm ... hmm. Kok gatel ya tenggorokan tiba-tiba."
"Jangan diambil pusing. Anggap saja mas bercanda tadi."
"Ah, iya Mas."
"Ya sudah, mas pergi dulu ya. Kalau kamu enggak sibuk sabtu besok bisa temani mas?"
"Temani ke mana?"
"Keliling kota Malang. Karena hari minggunya mas harus pergi lagi," ucapnya penuh penekanan disetiap katanya.
Dari lirikan kedua matanya, Gilang bisa melihat penolakan dari pancaran sinar mata Kiki. Tetapi Gilang mencoba tidak peduli akan hal itu. Yang terpenting baginya, sebelum ijab kobul terlaksana, Kiki masih bisa mengubah pilihan hatinya.
Karena itulah, Gilang berusaha mengubah penilaian Kiki untuknya. Dia pernah menjadi bodoh, dia pernah melakukan kesalahan, namun tak ada salahnya dia diberikan kesempatan yang sama seperti yang lainnya.
"Bagaimana?"
"Insha Allah ya, Mas. Soalnya sabtu Kiki juga mau balik ke rumah. Udah kangen ibu sama bapak," jawab Kiki ragu-ragu.
Kiki pikir Gilang akan marah atau kesal mendengar jawabannya. Nyatanya reaksi Gilang berbeda. Dan itulah yang membuat Kiki berpikir curiga. Apa Gilang benar-benar sudah berubah atau semua ini hanya pura-pura saja?
"Kalau begitu hubungi mas jika kamu bisa."
Sepeninggal kepergian Gilang, Kiki tertawa atas pengandaian yang dilakukan pikirannya sendiri. Bagaimana bisa dia membayangkan Wahid seperti Gilang di masa yang akan datang. Yang mampu merubah segala bentuk sikap menjengkelkannya menjadi sikap laki-laki baik dan bertanggung jawab.
Bahkan jika Wahid mampu seperti itu, Kiki bersedia menunggu selama apapun waktu yang laki-laki itu butuhkan. Karena yang terpenting, Wahid bisa mencintainya dengan sepenuh hati.
***
Mengendarai kendaraan dengan pikiran kosong bukan sesuatu hal baik untuk dilakukan. Seperti yang kini dilakukan oleh Wahid.
Mobil yang dia kendarai hampir dua kali menabrak mobil di depannya karena fokus laki-laki itu dalam berkendara sama sekali tidak ada. Otak cerdas yang selama ini menjadi andalannya sedang sibuk memikirkan perempuan yang tak sengaja dia sakiti.
"Sial," umpat Wahid dengan sebuah pukulan pada bagian stir mobilnya.
Keadaan jalanan yang macet parah membuatnya bergerak lambat dalam mencari keberadaan Kiki.
Tujuan utama yang akan Wahid datangi hanya tertuju pada rumah kost yang Kiki tempati. Karena menurut versi Wahid, Kiki bukan tipikal perempuan yang bisa kabur-kaburan ke sana ke sini ketika memiliki masalah. Ia yakin Kiki akan memikirkan semua masalah itu di tempat ternyaman yang dia miliki. Dan itu hanya ada di rumah kostnya.
Untuk itu tanpa ragu Wahid mengarahkan mobilnya ke sana. Tetapi sayangnya ketika sampai di sana, gadis itu ternyata belum tiba.
"Lo di mana sih, Ki?" ucap Wahid kebingungan.
Wahid tahu mungkin kata maaf yang akan dia ucapkan kepada Kiki tidak berdampak apapun pada rasa sakit yang gadis itu rasakan. Namun setidaknya Wahid telah berusaha. Bukankah ibunya selalu mengajarkan bila Tuhan selalu menilai umatnya dari usaha yang mereka lakukan. Apalagi usaha dengan nilai positif. Karena itu walau sebenci apapun Kiki padanya, dia tetap akan memohon maaf kepada perempuan itu.
"Bang Wahid," panggil Kiki yang baru saja tiba di depan rumah kostnya.
Gadis itu nampak bingung melihat kedatangan Wahid di rumah kostnya ini. Entah apa yang ada dipikiran laki-laki itu, apalagi setelah menuduhnya habis-habisan, kini mengapa bisa Wahid berdiri di depannya tanpa perasaan malu sedikitpun.
"Ada perlu apalagi sih, Bang?" tanya Kiki jutek karena berusaha melindungi hatinya dari rasa sakit yang mendalam.
"Ki."
"Kiki...."
"Iya, Bang. Kenapa lagi? Abang mau marah-marah lagi? Atau sekarang udah nyesel setelah sadar kalau marah-marah yang Bang Wahid lakukan enggak bermanfaat!!"
"Bukan begitu, Ki."
"Terus apa? Sumpah Kiki bingung mau Abang apa? Kalau Abang enggak suka jadi sahabat Kiki, jadi Abang Kiki, ya udah. Kiki enggak maksa. Tapi Kiki mohon Bang, jangan tuduh Kiki kayak tadi. Kiki memang belum sempurna. Tapi Kiki enggak seburuk apa yang Abang pikirkan. Tolong, Bang. Kiki mohon jangan mencampur adukkan semua masalah yang terjadi. Kiki bingung jadinya karena semua sikap yang Abang punya langsung berubah drastis," ungkapnya setengah menjerit.
"Iya, gue tahu. Karena itu gue...."
"Enggak perlu minta maaf, Bang. Karena luka yang timbul di dalam hati, enggak akan sembuh dengan sebuah kata maaf!!" ucapnya begitu tegas hingga Wahid hanya bisa diam membisu di tempatnya.
Sekali lagi, dia mengalami hal yang sama. Menyakiti hati perempuan yang tulus mencintainya.
"Maaf karena gue terlalu takut untuk belajar mencintai lo, Ki."
------
Continue..
Lanjut lagi enggak?