Terkadang aku lebih memilih diam dari pada menjelaskan semuanya. Karena terasa lebih menyakitkan bila dirinya bisa mendengar tetapi tetap tidak bisa mengerti diri ini.
Setelah penolakan hati yang Kiki lakukan, Wahid memilih untuk menjaga jarak dengan gadis itu. Dia tahu baik dirinya ataupun Kiki sama-sama butuh waktu untuk berpikir dan bertindak menjadi lebih baik. Karena itu, Wahid sengaja kembali ke Jakarta dan meninggalkan Kiki di Malang bersama dengan keegoisan gadis itu karena tak mau mendengar permohonan maafnya.
Namun tak pernah terpikir oleh Wahid sebelumnya, pergi menjauh dari Kiki adalah hal yang paling menyakitkan. Pikirannya menjadi tidak fokus hingga semua pekerjaannya terbengkalai.
Baru ini Wahid rasakan bila efek yang ditimbulkan Kiki begitu besar. Dulu ketika ia dan Farah memilih berpisah, dia tidak sebegini hancur. Namun saat ini Wahid merasa seperti bukan dirinya sendiri. Bahkan pikiran buruknya mulai merajai dirinya sendiri. Dan memilih untuk melalaikan ibadah.
Pikirnya, untuk apa dia terus beribadah kepadaNya bila masalah terus kunjung datang tanpa solusi yang Dia berikan.
"Hei, kok baru bangun?" tegur Umi melihat Wahid yang baru turun dari kamarnya.
Tidak seperti biasanya Wahid begini. Biasanya di hari senin yang penuh dengan aktifitas, Wahid selalu tampil semangat dalam menjalankan segala aktifitasnya. Tetapi hanya wajah kusut yang Umi lihat dari ekspresi Wahid pagi ini.
"Iya, Bu. Enggak enak badan," jawabnya ringkas.
Wahid mencuri pandang ke seluruh sudut rumah. Mencari di mana keberadaan ayahnya yang dikategorikan memiliki kesibukan melebihi sang paman, Fatah. Dan sampai pandangannya kembali menatap ibunya, Wahid tidak melihat keberadaan ayahnya di sini.
"Ayahmu ada urusan pagi-pagi tadi," jawab Umi seakan mengetahui isi pikiran anaknya.
Kini Wahid sudah besar, sudah bisa membedakan mana drama dan mana kenyataan. Dimana kehidupan rumah tangga Umi dan Hans memang tidak sedang baik-baik saja.
"Hm," sahut Wahid pendek.
"Kamu mau ibu ambilin obat?"
"Enggak usah, Bu. Wahid mau istirahat aja hari ini."
Dengan pandangan curiga, Umi tersenyum memandang gerak gerik Wahid. Ia tahu sejak kembalinya Wahid dari Malang, anaknya itu terlihat aneh. Sering tidak fokus, dan kondisi tubuhnya semakin melamah.
Tanpa perlu Umi tanya, sebagai seorang ibu yang sayang sekali kepada putra tunggalnya, ia yakin pasti putranya ini ada masalah percintaan dengan gadis itu.
Gadis yang kebetulan pernah dia bantu untuk masuk ke dalam kantor cabang yang berada di Malang. Namun entah mengapa gadis itu langsung memilih keluar ketika dia tahu ada yang membantunya masuk ke sana.
"Ada banyak masalah di kantor?"
"Hm, enggak."
"Ya sudah hari ini istirahat saja. Nanti ibu siapkan obat sama makanan buatmu."
"Enggak perlu, Bu."
"Loh kenapa? Udah enggak mau disiapin sama ibunya lagi? Apa mau ganti, disiapin sama istri sekarang?" godanya sambil menahan senyum.
Wahid mengusap wajahnya lelah. Dia sangat tahu karakter ibunya. Dan ibunya tidak akan berhenti menggoda sampai Wahid menjelaskan semuanya kepada Umi.
"Tahun ini usiamu 27 tahun. Dan tahun ini pula ibu rasa kamu sudah pantas membina rumah tangga. Ibu tahu banyak hal yang kamu pikirkan sebelum bergerak menuju hal seperti itu. Namun masalah tidak akan selesai hanya dengan dipikirkan. Kamu perlu melakukan tindakan untuk menyelesaikan semua masalahmu. Termasuk masalah hatimu."
"Wahid, anakku. Hidup dan masalah itu selalu berjalan beriringan. Ketika kamu tidak ingin mendapatkan masalah, sama saja kamu lebih memilih untuk menyerah dalam kehidupan. Dan ... ibu selalu bilang kepadamu, Tuhan mencintai kita dengan cara memberikan kita teguran. Teguran untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Seharusnya kamu paham tentang hal itu. Jangan karena Tuhan sedang mengujimu, lantas kamu menyerah. Meninggalkan Dia karena menurutmu Dia telah menyakitimu. Tidak Nak, bukan begitu caranya hidup sebagai umatNya. Dia mencintaimu tanpa pernah ada waktu untuk berhenti memikirkanmu. Seperti ibu dan ayahmu yang selalu mencintaimu. Mungkin cara kami berbeda, tidak seperti orang tua lainnya. Tapi kami, baik ayah ataupun ibu, tidak ada satu pun yang ingin kamu terluka."
Mendengar ucapan Umi, Wahid hanya bisa tersenyum pedih. Dia tahu sekali seperti apa perjuangan ibunya untuk memberikan kebahagiaan kepadanya. Tetapi sungguh Wahid tidak ingin seperti itu. Wahid tidak ingin diperlakukan berlebihan. Wahid ingin seperti sepupunya yang lain. Yang bisa berkembang sesuai dengan kemampuannya sendiri. Sedangkan dia?
Dia terlalu dimanjakan sejak lahir. Semua yang dia mau, selalu diberikan. Namun beginilah bentuk akhirnya. Wahid terlalu pengecut. Bahkan untuk menghadapi kenyataan saja dia tidak bisa.
Kenyataan bila mana perempuan pertama yang dia cintai sudah dimiliki oleh orang lain. Dan bahkan kini menyusul perempuan lainnya yang akan pergi dari kehidupannya.
Lantas apa seperti ini maksud dari memberikan kebahagiaan yang kedua orangtuanya berikan?
Dia sama sekali tidak bahagia. Dia hanya seperti boneka yang diperlakukan untuk bahagia sesuai keinginan pemainnya.
"Wahid."
"Bu. Sekali saja jangan ikut campur semua masalahku. Biarkan aku yang menyelesaikannya sendiri."
Kemarahan laki-laki itu sebisa mungkin ia tahan. Wahid tidak ingin kembali menyesal karena menyakiti perasaan ibunya.
"Bu...."
"Ibu bukan maksud untuk ikut campur," ucap Umi sembari membalas tatapan kedua mata Wahid. "Ibu hanya takut kehilangan. Seperti kamu takut kehilangan orang-orang yang kamu cintai. Seperti itulah yang ibu rasakan. Setiap malam ibu selalu berdoa semoga kamu selalu dilindungi olehNya. Setiap malam ibu tak henti-hentinya memohon, jika Dia bisa menukar semua kebahagiaanku, ibu rela memberikannya kepadamu. Jika kamu merasa ibu tidak mengerti perasaanmu, kamu salah, Nak. Sebelum kamu pernah merasakan kehilangan perempuan yang kamu cinta, ibu telah lebih dulu merasakan kehilangan darah daging ibu sendiri. Ibu pernah hampir gila karena merasakan keterpurukan. Dan ibu sama sekali tidak mau kamu merasakan hal yang sama. Cukup ibu yang merasakan. Cukup ibu yang menderita. Jangan kamu Nak," isak Umi terbata-bata dengan linangan air mata.
Wahid bergerak perlahan, menarik ibunya ke dalam pelukannya yang telah menangis meraung-raung. Ada rasa kesal, benci dan juga rasa sedih melihat penderitaan yang ibunya rasakan. Dan bila dibandingkan kepada dirinya, semua masalah yang dia rasakan adalah atas kesalahannya sendiri. Tidak seperti yang ibunya rasakan.
"Bu."
"Ibu mohon Nak, bukan sebuah kebahagiaan yang membuat kita bersyukur atas hidup ini. Namun—karena kita bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan membuat kita bisa merasakan kebahagiaan," ucap Umi sembari mendongak, menatap wajah putranya yang terlihat begitu menyedihkan.
"Mungkin kamu menyesal memiliki ibu serta ayah yang bertindak sesuka hati agar supaya kamu bahagia. Tetapi syukuri lah, Nak. Syukuri apa yang telah kamu miliki saat ini."
"Bu." Peluk Wahid begitu erat kepada tubuh Umi. "Kamu adalah Ibu terbaik yang kumiliki. Kamu perempuan hebat, Bu. Wahid bahagia menjadi anak Ibu. Wahid bersyukur karena Tuhan mengijinkan Wahid menjadi anak Ibu."
Dalam hati Wahid membenarkan segala ucapan ibunya tadi. Bahwa dia harus bersyukur atas apa yang dia miliki saat ini. Dan mulailah untuk ikhlas menerima semua kenyataan hidup bila perempuan itu tidak akan pernah menjadi miliknya.
"Terima kasih, Bu. Untuk segalanya."
Dari arah pintu masuk, Hans melihat moment mengharukan antara istrinya dan juga putranya. Dia bersyukur atas nikmat bahagia yang masih bisa dirasakan oleh keluarganya walau dirinya pernah melakukan kesalahan.
-----
continue...
Yang mau versi cetak, langsung hubungi aku aja ya