Bab 19

1072 Kata
Harusnya kamu tahu, selalu ada alasan kenapa orang-orang saling dipertemukan di dunia. Kiki tersenyum ceria saat tiba di rumah keluarganya di desa Kasembon, Malang. Jaraknya dari pusat kota Malang memang agak jauh karena dipisahkan oleh kota Batu lebih dulu. Namun bukan berarti Kiki tidak bisa kembali ke rumah di mana dia dibesarkan. Hanya bermodal tas ransel kecil, Kiki terus saja memamerkan senyum bahagianya. Sudah hampir satu tahun dia tidak pulang ke sini. Ibu dan bapaknya sudah berulang kali memintanya pulang. Namun karena beberapa waktu lalu ia sibuk mencari pekerjaan, akhirnya waktu kepulangannya menjadi tertunda. Tetapi sekarang tidak ada lagi alasannya untuk menunda-nunda. Dia ingin memulainya dari awal dengan mengikhlaskan segala rasa sakit di hatinya. "Bu," panggil Kiki kencang. Seorang perempuan paruh baya keluar dari rumah sederhana itu. Dia menatap Kiki tak percaya lalu berjalan cepat menuju ke arah Kiki. "Kowe lapo muleh ora ngomong?" "Badhe ndamel Ibu kejutan," cengir Kiki sambil duduk di kursi rotan di depan rumahnya. Gadis itu mulai melepaskan sepatu kets yang dia pakai dengan masih setia ditemani sang ibu yang merasa bahagia ketika putrinya kembali pulang. "Bapak nyang endi?" "Iseh nyang kebon.  Panen jeruk gawe di dol menyang pasar sesuk." "Oh," Kiki mengangguk paham atas penjelasan ibunya. Sejak dulu ayahnya memang suka sekali membantu juragan-juragan di desa ini yang memiliki kebun luas. Kadang kerap kali beberapa persen hasil dari kegigihan ayahnya menjual ke pasar, pemilik kebun itu akan membagi hasilnya kepada ayahnya. Tidak hanya uang yang kadang ayahnya dapatkan, bahkan beras serta beberapa kebutuhan pokok bisa menjadi bayaran atas kerja keras yang telah ia lakukan. Kadang pula bila waktu panen belum tiba, ayahnya akan bekerja menjadi tukang ojek dadakan dengan motor butut yang dimiliki sejak dulu. Ojek yang ayahnya lakukan bukan hanya mengangkut orang-orang. Tetapi juga terkadang hewan ternak atau bahkan rumput untuk makanan hewan. Apapun akan dilakukan ayahnya demi menghidupi keluarga kecilnya. Tentu saja dengan cara yang halal. Dan cara bertahan hidup itu yang selalu Kiki terapkan dalam hidupnya. Jalan hidupnya pun tak semulus paha-paha super model yang sibuk berlenggak lenggok. Kiki diterima menjadi mahasiswi di Universitas Brawijaya saja benar-benar tak terpikirkan olehnya. Mendapatkan beasiswa atas prestasinya benar-benar terus dia perjuangkan untuk dapat meraih sukses. Bahkan dulu pertama-tama dirinya kuliah di sana, dia pernah tidak makan dalam dua hari berturut-turut demi menghemat ongkos yang dibekalkan oleh kedua orangtuanya. Dia juga pernah mengutang pada salah satu warung makan yang berada di dekat kampusnya itu karena sudah tidak sanggup lagi menahan lapar. Untung saja dia bisa mengenal Nada. Sosok sahabat terbaik yang dia miliki. Nada tak pernah perhitungan padanya. Walau memang terkadang sikap Nada menyebalkan, tetapi Kiki tetap menyayanginya. Nada bagai pelita bagi kehidupan gelap Kiki. Dia tak ragu-ragu menyisihkan sebagian uang jajannya untuk membantu Kiki ketika gadis itu belum mendapatkan kiriman uang dari keluarganya. "Kowe wes mangan?" "Wes, Bu." "Yowes, kowe istirahat kunu loh." "Enggeh, Bu." Sambil menyandang tasnya, Kiki berjalan masuk ke dalam bilik ruang tamu yang posisinya masih sama seperti setahun lalu. Tak ada yang berubah. Sama seperti kehidupannya. Seharusnya Kiki sadar atas kehidupannya selama ini. Tidak mungkin gadis biasa sepertinya bisa mendapatkan sosok laki-laki yang luar biasa seperti Wahid.   ***   Selepas sholat magrib, Kiki keluar kamar. Langkahnya terhenti kala mendengar ayahnya tengah berbicara dengan seseorang di luar sana yang terdengar begitu serius. Dengan rasa penasaran tinggi, Kiki mencoba mengintip siapa lawan bicara ayahnya. Namanya mas Bimo. Dulu sewaktu SMA, Kiki pernah satu sekolah dengan laki-laki ini. Ia tahu seperti apa karakter Bimo, yang paling suka dibanggakan oleh orang lain. Karena itu dia malas terlalu dekat dengan Bimo. "Ki, ambilkan Ayah kopi. Dan satu lagi untuk Bimo," ucap sang Ayah seakan tahu Kiki sedang mengintip mereka. Dengan rasa malas Kiki coba memenuhi semua perintah sang ayah. Jujur saja dia paling malas bila disuruh akting menjadi perempuan baik-baik di depan lawan jenis seperti sekarang ini. Menyajikan kopi sambil tersipu malu-malu adalah bukan gayanya sama sekali. Tetapi mau bagaimana lagi, kini dia sedang di rumah. Dan dia harus mematuhi segala perintah yang diterapkan dalam rumahnya. "Loh Kiki sedang di rumah?" ucap Bimo berbasa basi. "Iya, Mas. Sejauh-jauhnya aku pergi, ini tetap rumah aku toh." "Ah, iya sih. Tapi gimana kuliahmu? Apa sudah selesai? Udah dapat kerja belum? Kalau belum ikut mas aja gimana? Kebetulan mas buka pabrik baru di kota. Yah dengan modal kecil-kecilan memang. Tapi mas butuh mahasiswa yang baru lulus sepertimu. Pasti memiliki banyak ide yang cermelang." "Tuh, Ki. Mau tidak? Nak Bimo ini orangnya pekerja keras loh. Ayah saja bangga sama dia," ucap sang ayah sampai Kiki merasa mual. "Biasa aja kok, Pak. Cuma kecil-kecilan." Sambil meletakkan dua cangkir kopi, Kiki meringis kesal. "Enggak deh Mas makasih. Kiki udah keterima di perusahaan otomotif aja langsung Kiki lepas. Apalagi cuma kerja di pabrik yang gajinya enggak seberapa. Capek doang Mas." "Hust, kok kamu ngomongnya gitu?" "Kiki ngomong apa adanya, Yah. Kemarin Kiki baru mengundurkan diri dari perusahaan otomotif yang baru buka cabang di Malang. Ayah tahu enggak salah satu kantor pusatnya di mana? Di Jerman. Kiki aja bingung kalau Kiki disuruh pindah ke Jerman gimana cara sosialisasinya. Karena itu Kiki resign. Padahal Ayah tahu enggak, gajinya ... beuuhh ... bisa kali buka pabrik-pabrik kecil di desa ini," sindir Kiki pedas. Entah dari mana dia belajar cara membalas lawan bicara dengan cara begitu kasar. Yang jelas dia benci karakter-karakter seperti Bimo dalam dunia ini. Mendengar penuturan Kiki, ayahnya merasa tidak enak melihat ekspresi Bimo yang telah berubah aneh. Dia tahu Kiki telah salah melakukan semua ini. Namun ayahnya mencoba untuk tenang dalam menanggapi segala keadaan. "Ah, pantas kamu enggak pulang-pulang. Sampai lupa orang tuamu," skakmat Bimo atas semua sindiran Kiki. "Iya, kalau itu aku telah akui salah dalam bertindak. Aku lupa, dan terlalu sibuk mengejar dunia. Padahal hidup tidak hanya di dunia. Karena itu sekarang aku ingin mencoba memperbaiki segalanya. Membahagiakan kedua orangtua tidak hanya dengan harta, Mas. Tapi dengan kehadiran kita dan cinta itu lebih berarti untuk mereka," tutup Kiki sebelum undur diri untuk masuk ke dalam. Di hatinya tercuat rasa sakit yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Ternyata kemarin-kemarin dia terlalu sibuk bergelut dengan masalah Wahid. Padahal banyak hal penting yang seharusnya ia pikirkan. Salah satunya kebahagiaan orangtuanya sendiri. "Kowe kenapa, Ki?" tanya ibunya yang melihat Kiki berlinang air mata. "Maafin Kiki, Bu. Kiki terlalu sibuk mencintai dia yang sama sekali enggak cinta sama Kiki. Padahal di sini, di rumah ini ada Ibu sam Ayah yang setiap detik mencintai Kiki." "Dia siapa?" "Dia, laki-laki yang Kiki harapkan menjadi imam Kiki untuk masa depan." ----- continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN