Bab 4

1252 Kata
Sesuatu yang kotor bukan berarti murah. Dan yang murahan bukan berarti palsu Suasana gelap menyambut Wahid saat ia tiba di rumah kedua orangtuanya. Suara hening seolah sudah menjadi temannya sehari-hari. Bahkan sejak ia tahu bagaimana buruknya kisah kedua orangtuanya dulu, Wahid mencoba memahami keadaan keluarganya ini. Mungkin inilah yang terkadang membuatnya malas untuk pulang ke rumah. Dan bahkan lebih senang menghabiskan waktunya lebih lama di kantor atau bersama teman serta sepupunya yang lain. Karena jika ia sendiri di rumah, pikiran buruk langsung berputar dalam otaknya. Bagaimana bisa ayahnya setega itu melakukan hal di luar logika kepada ibunya dulu. Hingga meninggalkan bekas luka yang Wahid yakin tak akan pernah hilang. Walau ibunya selalu berkata semua telah baik-baik saja, tetapi sebagai seorang anak, Wahid bisa merasakan betapa pedih perasaan ibunya itu. "Bang Wahid sudah pulang?" tegur salah satu pengurus rumah yang kebetulan sudah sejak lama mengabdi dalam keluarga ini. "Iya, Bi. Saya ke atas dulu," ucapnya sopan. Disetiap langkah yang Wahid lakukan seolah kenangan terus saja mengikutinya. Hingga ia merasa bisa melihat wujud masa kecilnya dulu tengah mengintip pertengkaran kedua orangtuanya sering kali terjadi. Beberapa kali Wahid menggelengkan kepalanya, mencoba menghapus kenangan pahit itu. Namun ia tidak mampu. Baik buruknya sebuah kenangan yang pernah terjadi tidak akan mungkin ia hapus dalam ingatannya. Kenangan itu akan terus ada. Baik itu memberikan arti sebuah kebahagiaan atau sebuah kesakitan yang tak ada obatnya. Baru saja Wahid ingin melepas lelahnya sejenak, ponselnya kembali berbunyi. Ada sebuah pesan dari Barra di sana. Barra yang sudah lama sekali tidak pernah bertemu dengannya memintanya untuk datang ke rumahnya ketika Wahid memiliki waktu. Sejenak senyum pahit lagi-lagi datang menghampiri. Mendatangi Barra sama saja menimbulkan perasaan iri di hatinya. Melihat tingkah menggemaskan putra dari sahabatnya itu sungguh sangat menyesakkan. Semuanya kini sudah berubah. Kedua sahabatnya sudah bahagia dengan keluarga kecil mereka. Sedangkan Wahid? Di usianya yang sudah cukup dewasa untuk berumah tangga dia masih ragu. Bahkan menjurus ke arah takut. Takut bila ia akan berubah seperti monster layaknya sang ayah yang menyakiti ibunya. Namun sampai detik ini perasaan cinta yang tertanam di hatinya tak pernah hilang. Dan itu hanya untuk perempuan yang bahkan tidak berhak dia pikirkan sedikitpun. Di tengah minimnya sinar cahaya ruangan kamar itu, kedua sudut bibir Wahid tersenyum miris. Nyatanya hijrah menjadi lebih baik tidak semudah yang dibayangkan. Karena sampai sekarang ini dia masih kalah. Bukan karena ilmu agamanya rendah. Tidak. Wahid tidak seburuk itu. Melainkan Wahid kalah dengan hatinya sendiri. Hati yang sulit mengerti untuk melepaskan pedih. Sekuat apapun ia belajar ilmu agama, sesering apapun dia menghafal ayat-ayat Al-Qur'an, ternyata dia masih tetap tak mampu. Mungkin ilmu ikhlasnya masih begitu rendah. Hingga tak mengerti artinya mencintai dalam kepedihan. "Gagal bukan berarti berakhir, kan?" gumam Wahid pada dirinya sendiri. "Karena kematian tidak menghentikan apapun," sambungnya sebelum memilih mengabaikan perasaan tak menentu dalam hatinya sendiri.   ***   "Ya ampun, syaratnya enggak ada yang lebih mudah apa?" ucap Kiki dengan pandangan yang tak lepas dari arah laptopnya. Sesekali dia mendesah, dengan keningnya berkerut dalam. Lalu setelahnya menggerutu kembali karena semua persyaratan dalam melamar pekerjaan tak ada yang sesuai dengan dirinya. "Kurang ajar orang-orang ini. Hidup di desa aja standar pengalamannya sok-sok kayak di kota. Terus kapan gue kerjanya kalau begini," ungkapnya dengan frustasi. Banyak memang yang mencantumkan kriteria fresh graduate akan diterima. Namun dengan syarat-syarat yang dilampirkan lainnya membuat orang-orang yang baru lulus seperti Kiki akan mundur kembali. Pengalamannya belum banyak. Dan kemampuannya tidak ada. Sungguh Kiki menyesal ketika kuliah dulu yang ia ingat hanya memandang ikan setiap hari. Karena sekarang yang lulusan seperti Kiki lebih banyak melamar bukan pada jalurnya. "Sarjana perikanan kerja di bank, sarjana pertanian kerja di bank, sarjana pertambangan kerja di bank. Terus siapa yang akan mengajarkan ke penerus-penerus selanjutnya tentang ilmu-ilmu bermanfaat yang didapat dalam kampus? Dih, lama-lama miris juga ya sama manusia sekarang. Hanya demi uang semua dilakukan. Bahkan kerja bukan pada jurusannya pun dikerjakan. Padahal kemampuannya aja enggak ada. Eh, gue doang kayaknya yang enggak ada ilmunya. Yang lain kayaknya punya," gerutu Kiki seorang diri. Setelah berulang kali mencari-cari pada alamat web yang menyediakan lowongan pekerjaan, akhirnya Kiki menyerah. Tiba-tiba saja senyum miris di bibirnya muncul. Bila Tuhan tidak mengijinkannya bekerja dalam perusahaan, apa Tuhan masih tak mengijinkannya bekerja menjadi ibu rumah tangga? Sering kali Kiki merasa iri melihat semua teman-temannya sudah berumah tangga dengan sempurna. Sedangkan ia masih begini-begini saja. Berkeliling ke sana ke sini demi sebuah pekerjaan yang hanya menguntungkan dunianya. Tidak dengan akhirat. "Katanya mau hijrah malah mikirin kawin!!" kesalnya pada diri sendiri. Berulang kali Kiki memukul kepalanya, mengenyahkan pikiran itu dalam otaknya. Tidak, belum sekarang dia berumah tangga. Dia masih ingin membahagiakan orang tuanya yang sudah menyekolahkannya dengan susah payah. Kiki memang bukan terlahir dari keluarga kaya raya. Dia hanya anak seorang pedagang makanan ternak yang untungnya tidak seberapa. Sering kali ayahnya bekerja sampingan sebagai kuli bangunan hanya demi memberikan uang jajan untuk Kiki. Lantas apa pantas Kiki tak bersemangat menebus semua jerih payah orang tuanya? "Insha Allah bisa menjadi perempuan kaya di tahun depan. Bukan cuma kaya harta tapi kaya cinta," gumamnya sambil memikirkan wajah dingin seseorang yang terus saja menghantuinya.   ***   "Pagi, Sayang. Ibu enggak tahu kamu pulang kemarin," ucap Umi yang baru saja memasuki ruangan kerja putranya itu. Wahid tak menanggapinya, saat tahu ibunya yang muncul dari balik pintu kerjanya mendadak mood baiknya langsung menghilang. "Hei. enggak kangen sama ibu?" senyum Umi tanpa henti. "Bu, Wahid lagi banyak kerjaan. Apa Ibu—" "Pekerjaan enggak akan mati kalau enggak kamu perhatikan. Tapi kalau ibu, ibu akan semakin tua lalu pergi selamanya kalau kamu diamkan begini." "Enggak usah mulai drama, Bu." Seketika Umi tertawa geli. Mendekati Wahid, putra satu-satunya, lalu mencubit pipi Wahid gemas. "Duh anak ibu ngambek mulu sekarang. Ibunya ditinggal-tinggal tanpa kabar. Sekarang udah balik, ibunya dicuekin." "Bu." "Iya, Sayang. Malu ya ibu cubit-cubit gini pipinya?" tawa Umi. Wahid menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu memandang ibunya yang tak tidak pernah berubah. Masih cantik seperti sebelum-sebelumnya. Memiliki wajah mungil dengan postur tubuh tak begitu besar, membuat Umi tidak sama sekali terlihat tua. "Awas naksir ibu kalau tatap begitu." "Naksir?" "Iya. Ibu kan masih cantik jadi banyak yang naksir pasti." "Wahid enggak suka Ibu cantik. Wahid cuma suka Ibu sehat terus seperti sekarang." "Kalau kamu pulang juga ibu sehat," sahut Umi mengusap rambut Wahid seperti bocah kecil. "Nada baik-baik aja kan di Malang? Rencananya dia mau melahirkan di mana?" "Enggak tahu, Bu. Wahid enggak tanya masalah itu." "Terus kamu ngapain ke Malang kemarin kalau enggak perhatiin Nada?" tanya Umi mulai curiga. Dapat Umi lihat ekspresi wajah Wahid mulai berubah aneh. Dengan sebelah tangannya Wahid melonggarkan ikatan dasinya tersebut, lalu berdeham sejenak. "Bu." "Kenapa?" goda Umi hingga membuat kedua pipi Wahid memerah. "Wahid banyak kerjaan, Bu. Ibu bisa—" "Bisa kok. Kapan emang kamu mau melamar perempuanmu itu?" tanya Umi hingga membuat kedua mulut Wahid terbuka lebar. "Kamu bisa menutupi perasaanmu dari semua orang. Tapi enggak dari ibu. Jadi kapan dikenali sama ibu?" Sebuah pertanyaan yang Umi ajukan kepada Wahid benar-benar membuatnya bungkam. Ia tidak berani bertanya pada dirinya sendiri mengapa ibunya bisa berkata demikian. Yang jelas debaran jantungnya semakin tak menentu dan kedua pipinya terasa panas. Ada apa dengannya? "Mungkin saat ini kamu masih bingung hingga membungkam. Namun harusnya kamu tahu, Sayang, ada hal yang tak bisa diartikan dengan diam. Seperti cinta," ucap Umi sembari memberikan sebuah kecupan di kepala Wahid. "Jika ibu tidak ada disaat kamu ingin mengadu. Masih ada Dia yang selalu setia mendengarkan segalanya." Melihat kepergiaan ibunya dengan ekpresi menahan pedih, Wahid bisa menyimpulkan sendiri betapa tersiksanya ibunya itu yang terus mencoba bahagia hanya demi dirinya seorang. ----- Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN