Mengikhlaskanmu pergi bukan berarti aku melupakanmu dalam doa.
Memulai sesuatu yang sudah lama sekali tidak dilakukan memang terasa begitu berat. Ada saja hambatan serta bisikan setan yang menyuruh untuk tidak menjalankannya. Seperti halnya yang Kiki lakukan.
Bunyi alarm berkali-kali sungguh tidak membangunkannya. Padahal sebelum tidur dia sudah berniat akan melakukan sholat tahajud disepertiga malam lalu kemudian dilanjutkan sahur agar puasa sunnahnya besok lancar.
Tetapi rencana sering kali tak pernah sesuai keinginan. Hingga akhirnya Kiki harus menelan kekecewaan. Dia tidak mampu terbangun disepertiga malam, bahkan dia lupa untuk sahur tadi malam.
"Ugghh ... gue udah laper aja jam segini," gumam Kiki sambil melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul 09.00 pagi.
Kepalanya menyandar pada meja dengan pikiran terbang entah ke mana. Padahal hari ini kegiatannya sangat banyak sekali. Mengirimkan beberapa berkas lamaran ke kantor-kantor setempat pasti akan menguras tenaga. Namun karena efek puasa tanpa sahurnya membuat Kiki malas sekali bergerak.
Bahkan meraih ponselnya yang bergetar karena adanya sebuah panggilan harus Kiki usahakan mati-matian.
"Ihh, siapa lagi coba telepon-telepon?" gerutunya kesal.
"Halo."
"Iya saya, Kiki."
"Apa? Panggilan interview? Kapan, Mbak?"
"Lusa? Di mana?" Tanya Kiki sambil berusaha mencatat semua alamat yang diinformasikan oleh si penelepon tersebut.
"Oke. Mbak. Saya pasti akan datang. Terima kasih," tutup Kiki dengan perasaan senang.
Akhirnya. Begitu batinnya. Setelah puluhan berkas lamaran ia kirimkan, baik yang melalui pos atau online, kini akhirnya hasilnya mulai terlihat. Ada panggilan di sebuah perusahan otomotif yang Kiki merasa lupa pernah melamar di sana.
"Ya Allah, emang benar deh orang sabar pasti jalan menuju keberhasilannya panjang lebar," tawanya sembari membaca ulang alamat tersebut.
Kali ini dia berjanji tidak boleh gagal lagi. Setidaknya pekerjaan apapun akan Kiki lakukan demi mendapatkan sebuah pengalaman dalam bekerja.
***
"Gue minta ke rumah, lo malah ngajakin ketemu di sini," gumam Barra sambil menyeruput kopi panasnya. Di hadapannya nampak terlihat Wahid yang tengah tersenyum dengan secangkir teh panas di depannya.
Sebelum makan siang tadi Wahid memang sengaja menghubungi Barra untuk bertemu di sebuah cafe. Ia berkata ada banyak hal yang ingin Wahid ceritakan kepada sahabatnya itu. Namun sudah hampir setengah jam Barra duduk di hadapan Wahid, laki-laki itu sama sekali belum memulai ceritanya.
"Lo ke rumah gue aja lah kalau mau cerita. Bitha juga sibuk sama anak gue. Jadi enggak akan dengerin cerita lo."
"Gue enggak mau ganggu lo, Bar."
"Ganggu apaan sih? Lo masih aja mikir begitu. Kayak baru kenal gue aja. Kita temanan udah hampir 7 tahun. Masih aja kaku begini sikap lo," sindir Barra diikuti dengan tawa geli dari Wahid.
"Oke. Nanti gue main kalau lo maksa begini."
"Najis banget lo. Katanya tadi ada yang mau lo ceritain. Apaan? Kepo gue lama-lama."
Wahid menarik napas dalam. Menyandarkan punggungnya pada kursi kayu cafe tersebut. Lalu memandang dengan tenang kepulan asap dari cangkir tehnya.
Sebenarnya banyak hal yang ingin sekali dia ceritakan kepada sahabatnya ini. Akan tetapi mengapa bibirnya seolah terkunci rapat.
"Hid," tegur Barra. "Ngomong kali. Ngeri kesambet gue."
"Gue bingung harus ngomong dari mana."
"Soal?" Tanya Barra yang kurang mengerti.
"Semuanya. Terlalu ribet dan terlalu berat," ungkap Wahid.
"Kalau berat berbagi sama gue, sama Agam juga bisa kan. Jangan lo panggul sendiri. Kita ini sahabat lo. Sedih lo berarti sedih kita juga. Sakit lo berarti sakit kita juga. Jangan mulai kayak Agam deh lo, apa-apa dibuat ribet."
Lama Barra menunggu tanggapan dari Wahid atas ucapannya. Namun Wahid seakan larut sendiri dalam pikirannya hingga Barra merasa ada banyak hal yang sedang Wahid pikirkan secara bersamaan.
"Hid," panggil Barra sekali lagi. "Apa ini berhubungan dengan masa lalu?" tanyanya pelan.
Anggukan kepala dari Wahid menjawab rasa penasaran Barra. Dulu ketika di Jerman, mereka bertiga selalu saling menguatkan ketika kelemahan datang menyerang. Dan kini walau mereka sudah berpindah negara, semua akan terus sama.
"Kalau lo enggak bisa berkata-kata lagi, menangis adalah cara terampuh untuk mengurangi beban pikiran. Menangislah dalam sujud lo, ceritakan semua kepadaNya. Karena menurut gue menangis karena dosa enggak masalah," nasihat Barra yang dibalas tatapan masam dari Wahid.
"Sampai kapan gue begini, Bar?"
"Sampai lo mengerti bila ikhlas merelakan bukan berarti harus melupakan."
"Dia udah bahagia. Dan gue enggak pernah sedetikpun melupakan dia," lirih Wahid dengan kedua bahunya meluruh lemah.
"Dia bukan jodoh lo, Hid. Tapi enggak berarti juga lo benci dia. Lo benci kebahagiaan dia. Karena kalau lo sampai begitu, itu tandanya selama ini perasaan cinta lo cuma napsu. Bukan diiringi perasaan cinta yang ikhlas. Meski dia enggak nikah sama Bang Syafiq pun, Farah sejatinya bukan milik lo. Dia makhluk ciptaanNya. Dan semua yang bernyawa pasti akan kembali kepadaNya. Di dunia ini lo hanya bisa meminjam Farah untuk lo cintai. Bukan untuk lo miliki," sebuah tepukan pada bahu kiri Wahid membuat ia semakin yakin apa yang dikatakan Barra semuanya benar.
Farah bukan perempuan yang diciptakan untuk menemaninya di dunia. Lantas apalagi yang harus dia sedihkan?
***
Tak henti-hentinya Kiki tersenyum sembari membaca balasan chat dari sosok laki-laki yang begitu ia rindukan. Dalam chat tersebut Kiki memberitahukan kepadanya mengenai panggilan untuk interview yang akan dia lakukan. Dan dengan bahagianya Kiki menerima saran-saran yang sosok itu ajarkan mengenai mekanisme dalam interview tersebut.
"Aduuhh ... kok dia pakai telepon segala sih?" Jerit Kiki bahagia saat panggilan tersebut masuk ke dalam ponselnya.
"Assalamu'alaikum," suara salam dengan nada suara berat yang pertama kali Kiki dengar saat mengangkatnya.
"Wa'alaikumsalam. Kok ditelepon sih?"
"Gue enggak boleh telepon?"
"Bu ... bukan gitu. Kan gue mau kayak orang-orang yang lain. Ponselnya bunyi terus karena ada pesan masuk."
"Emang ponsel lo enggak pernah bunyi?"
"Bunyi sih, tapi—dari operator semua!!!" jawabnya jengkel.
Suara gelak tawa turut meramaikan percakapan tersebut. Hingga Kiki merasa jarak tak pernah memisahkan mereka sampai kapanpun.
"Kalau gitu mulai besok gue kirim pesan ke ponsel lo, gimana?"
"Serius, Bang Wahid?"
"Iya. Kan lo yang bilang ponsel lo sepi."
"Ya ampun, mimpi apa gue semalam?" ucap Kiki bahagia.
Sebelah tangannya menepuk-nepuk di mana debaran jantungnya semakin tak menentu. Kiki sadar atas apa yang ia lakukan kini benar-benar tidak pantas dilakukan oleh seorang muslimah. Namun manusia mana dizaman sekarang ini yang bisa menyampingkan ego demi satu kata, keimanan?
"Good luck untuk interviewnya. Semoga kali ini lancar. Dan memang di sana rezeki lo untuk ke depannya. Kalau pun belum saatnya, enggak perlu berkecil hati. Masih banyak cara menuju sukses," nasihat Wahid yang begitu patuh Kiki dengarkan.
Dulu sering kali Kiki tertawakan ketika ia melihat orang lain berhijrah demi satu kata, cinta. Tetapi sekarang ini ia merasa tengah melakukannya. Menuruti semua kata-kata dari laki-laki yang sangat-sangat tidak seharusnya ia cintai.
"Ki, lo dengar gue kan?" Tanya Wahid memastikan.
"Akh, iya Bang. Gue dengar."
"Emang gue ngomong apa tadi?"
"Anu—itu," suara Kiki mulai gelisah. Jelas saja dia bingung apa yang harus dijawab atas pertanyaan Wahid. Karena sejak mendengar suara Wahid, pikirannya entah terbang pergi ke mana.
"Jangan melamun terus, Ki."
"Iya, Bang."
"Eggak baik,"
"Iya, Bang. Terus yang baik apa?"
"Yang baik itu ...."
"Melamar ya Bang?"
"Kiki.....!!"
"Hahahaa ... becanda, Bang. Serius banget. enggak tahu apa kalau gue gugup buat tes lusa. Takut enggak lulus lagi. Padahal kelulusan bukan berarti menentukan ke depannya orang itu bisa bekerja dengan baik kan?" Cerita Kiki.
"Lo benar, Ki. Tapi apapun yang terjadi nanti, lo setidaknya udah mencoba."
"Kok jadi semangat gini ya," tawa Kiki bahagia.
"Sebagai seorang sahabat, kakak laki-laki serta saudara sesama muslim, enggak ada salahnya gue kasih semangat untuk lo," balas Wahid sama bahagianya.
"Sahabat?" Lirih Kiki. "Kakak laki-laki?" Sambungnya bagai bisikan.
"Ngomong apa, Ki?"
"Enggak ada, Bang."
Terdengar suara desahan napas pasrah dari ujung panggilannya. Kiki memang telah salah berharap pada laki-laki ini hingga ia merasakan sakit akibat luka yang Kiki buat sendiri.
"Ki...."
"Iya, Bang."
"Jangan terlalu rumit memikirkan segalanya, Ki."
"Enggak kebalik ya, Bang?" tanya Kiki balik kepada Wahid.
"Kebalik?"
"Iya. Abang yang buat semuanya menjadi rumit. Padahal katanya hidup dan cinta itu lebih nikmat yang sederhana. Tetapi dari sebuah kesederhanaan pun belum tentu bisa hidup dan bisa memiliki cinta,"
"Lalu apa hubungannya sama gue?"
"Karena...."
Layar di ponsel Kiki tiba-tiba saja menghitam sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Ternyata dia lupa mengisi baterai ponselnya tersebut. Tetapi ada untungnya juga baterai ponselnya rendah. Karena hampir saja dia mengungkapkan segala perasaan di hatinya kepada laki-laki yang bahkan belum tentu menjadi jodohnya.
"Sesuatu yang nyata belum tentu terlihat. Kayak gue di mata lo, Bang," gumamnya seorang diri.
-----
Continue
Mau pesan bukunya?