Tidak ada gunanya perasaan cinta kita ini. Bila kita hanya saling bercerita tanpa kau bantu aku mewujudkannya menjadi sebuah realita. Antara perasaan senang, gemas dan haru meliputi hati Kiki. Entah bagaimana bisa dia mau-mau saja mengikuti Wahid hingga ke sini. Sampai laki-laki itu rela memesankan sebuah kamar di sampingnya. Kiki tidak berani mengambil kesimpulan begitu cepat bila Wahid memang benar-benar telah berubah. Namun dari gelagat yang laki-laki itu ciptakan, semua terasa sangat berbeda. Tatapan itu seakan meyakinkan Kiki bila ia memang telah benar-benar serius akan keputusannya tadi. Keputusan yang Wahid bisikan kepada Kiki di dalam lift. Sungguh, semua ini terasa seperti mimpi. Dia yang telah pasrah akan perasaan ini, akhirnya menemukan titik terang kembali. Seolah-olah Tuha

