01. Lo itu berharga [1]

1618 Kata
“Lo itu berharga bagi gue. Sedikit sih. Tapi, gak apa. Lama-lama jadi bukit. Itu artinya Lo benar-benar berharga buat gue.” *** “Zidan ...” Zidan yang tengah berkutat dengan angka-angka yang menunjukkan persentase kenaikan cafe nya mengabaikan panggilan itu. Dia sudah hapal betul dengan suara itu. Tak perlu menjawab atau apa, pemilik suara itu pasti akan langsung menghampirinya. Bruk! Pintu kamar Zidan terbuka dengan keras begitu saja, menampilkan seorang remaja perempuan seumurannya yang mengenakan jeans dan crop top yang dibalut dengan jaket denim serta rambut panjang lurus yang dibiarkan terurai begitu saja. Tengah menatap kesal padanya. “Zidan, ih ... Di panggil juga!” Dia adalah Putri Humaira, perempuan yang akrab dipanggil Aira. Sahabatnya yang kebetulan juga satu perumahan, satu kelas dan sebangku dengannya. Entah kedepannya akan bagaimana. Apa mungkin mereka juga akan jadi satu keluarga? Entah. Aira memutar bola matanya jengah, dia menghampiri Zidan yang sama sekali tak menoleh padanya. Zidan fokus pada layar komputernya yang entah menunjukkan apa, dia tak paham. “Zidan ... Ih ...” Aira mendengus kesal, dia duduk di atas meja tepat disamping komputer Zidan. Tangannya menarik-narik lengan lelaki itu, terus berusaha membuat lelaki itu memberikannya atensi. “Zidan ...” Zidan menghela napas pelan, dia menatap malas Aira. “Apa sih, Ra?” Zidan menatap malas Aira. Aira mencebik, dia menunjuk dirinya sendiri. “Perhatiin gue kenapa! Lo mah, fokus sama komputer Lo mulu!” “Gue kerja ini!” “Ya, gue pengen diperhatiin juga. Masa Lo perhatiannya sama komputer terus, sama sahabat Lo yang cantik jelita ini kapan coba!?” Zidan berdecak dalam hati. Dia memilih mengakhiri pekerjaannya sekarang juga. Percuma di lanjut kalau Aira sudah seperti ini. Dia bersandar pada kursi, memutarnya pelan dan menatap Aira dengan tatapan datar seperti biasa. Dia memperhatikan penampilan perempuan itu. Selalu, cantik seperti biasa. Namun, dia tak pernah mengatakannya. Cukup hatinya saja yang berucap demikian. “Jadi?” Zidan menaikkan sebelah alisnya, dia bersikap seolah-olah tak tertarik dengan apa yang akan dilakukan Aira. Padahal sebenarnya, dia sangat tertarik, apalagi melihat penampilan cantik perempuan itu. Aira tersenyum senang saat atensi lelaki itu kini tertuju padanya. Dia beranjak berdiri, memutar tubuh pelan seolah tengah menunjukkan diri. “Gimana? Cantik, gak?” Aira tersenyum, menunjukkan deretan giginya, sengaja dia mengibaskan rambut panjang terurai nya. “Kenapa emangnya?” Aira mengerucutkan bibirnya. Selalu seperti ini. Jika ditanya sesuatu mengenai dirinya, pasti Zidan akan balik bertanya. Padahal jawaban atas pertanyaannya sangatlah mudah. Iya atau tidak. Se-simple itu. Tapi, Zidan bersikap seolah itu adalah pertanyaan yang sulit jawabannya. “Ya ampun .. Lo tinggal jawab. Iya atau enggak. Simple!” “Ya, kenapa dulu?” Huh. Zidan ini susah sekali memuji dirinya. “Gue mau jalan sama Raka. Jadi, menurut Lo penampilan gue, oke atau enggak buat jalan sama dia?” Tatapan Zidan semakin datar pada Aira setelah perempuan itu mengatakan maksudnya. Dia tak suka kalau perempuan itu sudah membahas laki-laki lain, meskipun ketidaksukaannya tidak pernah dia katakan secara langsung. Tapi, seharusnya Aira paham atas semua tindakannya selama ini juga jika perempuan itu membicarakan lelaki lain. Zidan beranjak dari kursinya, berjalan santai keluar dari kamar yang membuat Aira kesal dibuatnya. “Ih ... Zi, kok pergi sih!” tukas Aira kesal, dia langsung mengejar langkah Zidan yang kini sudah menuruni anak tangga entah menuju kemana. “Gue haus.” “Ya, jawab dulu dong!” Zidan mengabaikannya. Dia terus berjalan tanpa peduli dengan Aira yang mengejar langkahnya. Dia menuju dapur, ke lemari es kemudian mengeluarkan botol kaca berisi jus yang biasa disiapkan bunda. Dia menuangkan jus tersebut kedalam gelas kemudian meneguknya, tak mempedulikan Aira yang kini sudah duduk di kursi bar menunggu jawabannya. “Jadi, cantik atau enggak?” Zidan menatap Aira, dia meletakkan gelas yang tinggal berisi jus beberapa teguk lagi.“Emangnya lo mau ngapain jalan sama dia?” tanya Zidan. Aira menggeleng. “Gak tahu. Jalan aja mungkin.” jawab Aira, dia mengendikan bahunya. “Tapi, firasat gue mengatakan kalau Raka mau nembak gue. Ya, secara di sekolah atau pun enggak dia mepet gue mulu.” lanjut Aira begitu polosnya. “Dan, Lo?" Aira mengerutkan keningnya, dia menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. “Gue? Maksudnya?” tanya Aira. “Dan, Lo bakal terima kalau dia bener-bener nembak Lo?” Aira tersenyum lebar, di mengetuk-ngetuk dagunya dan terdiam, seolah tengah berpikir keras untuk jawaban atas pertanyaan Zidan. Zidan memutar bola matanya jengah, keterdiaman perempuan itu menjawab semuanya. Dia meneguk sisa jus di gelasnya hingga tandas kemudian melenggang pergi meninggalkan Aira yang bingung dengan kepergian lelaki itu. “Zidan, Lo mau kemana?” “Lo jelek.” “Hah?! Zidan ... Nyebelin!” *** Hari weekend biasanya digunakannya untuk pergi ke cafe, sekedar melihat-lihat dan memantau bagaimana perkembangan cafe yang dirintisnya sejak dia duduk di kelas 3 SMP. Sekarang dia sudah duduk di kelas 2 SMA, itu artinya kurang lebih selama 2 tahun sudah dia merintis bisnis ini. Cafenya awalnya hanyalah sebuah tongkrongan keliling menggunakan mobil yang dipinjamkan Ayahnya. Namun, lama kelamaan akhirnya dia bisa menyewa sebuah kedai kecil Ya sekarang sudah menjadi miliknya. Meskipun kecil, dia tetap bersyukur. Ya, setidaknya dia tak mengontrak lagi untuk bisnisnya ini. Untuk modal, dia menggunakan tabungan sekolahnya dengan sedikit bantuan dari sang ayah tentunya. “Bang, mau kemana?” Zidan berpapasan dengan bundanya yang baru saja selesai dengan urusan ibu-ibu komplek yang entah apa. Dia tersenyum, segera menyalami bundanya. “Aku pergi ke cafe, ya Bun. Mau ngecek keadaan di cafe.” “Oh, yaudah. Sendirian aja?” “Iya, emangnya sama siapa lagi?” “Aira gak di ajak?” “Malas.” Bunda tersenyum. “Ya udah, hati-hati, ya. Bawa mobil atau motor?” “Motor aja.” “Jangan ngebut-ngebutan.” “Siap! Assalamualaikum.” Zidan sudah mengendari motornya, namun laju motornya berhenti seketika saat seseorang berdiri di ambang pintu gerbang rumah disebelahnya. “Ngapain Lo disini? Bukannya Lo bilang mau jalan?” Aira, perempuan itu menunjukkan wajah masamnya. “Gak jadi.” ketus Aira yang membuat Zidan tak kuasa bersorak dalam hati. Zidan senang, namun dia berusaha tetap bersikap datar, berbeda dengan hatinya yang sudah berbunga-bunga. Dia senang, sekali. Akhirnya perempuan itu tak melanjutkan rencananya. Entah apa yang menjadi alasan perempuan itu membatalkan itu semua, dia tak peduli. Yang terpenting baginya kini adalah perempuan itu tak jadi pergi. “Oh.” balasnya singkat, dia hendak kembali melajukan motornya namun di urungkan saat Aira menahannya. “Zidan mau kemana?” “Cafe.” “Ikut.” “Jangan.” “Ih ... Ikut ...” “No.” Aira menghentakkan kakinya kesal, dia menatap Zidan dengan bibir mengerucut kesal. “Pokoknya ikut! Lo harus tanggung jawab dong! Gue gak jadi pergi ketemu Raka itu semua karena Lo!” “Kok gue sih? Gue ngapain emang?” “Ya, kalau aja Lo bilang gue cantik. Mungkin sekarang gue udah pergi sama Raka. Tapi ... Karena Lo bilang gue jelek, gue batalin pertemuan kita. Gue kan insecure. Gue kan gak mau, rencana Raka nembak gue gagal cuma karena gue jelek.” Zidan menunduk, mengulum senyumnya. Ternyata karena komentarnya Aira membatalkan rencananya. Syukur lah, berarti dia lebih berarti untuk perempuan itu. “Ya udah, naik!” “Jadi, boleh ikut?” Zidan hanya berdehem, sedangkan Aira tersenyum lebar. “Ya udah, bentar! Ambil tas dulu.” Hm. *** “Silahkan ...” Diam-diam Zidan memperhatikan, diam-diam bibirnya selalu membentuk senyuman setiap kali melihat bagaimana cerianya Aira melayani pengunjung di cafe nya. Meskipun terkadang dia kesal saat ada yang justru mengambil kesempatan untuk berdekatan dengan perempuan itu. Aira itu cantik, sangat cantik bahkan menurut nya. Lesung pipi perempuan itu, t**i lalat di dagu, bibir kecil yang selalu merah merona dan sedikit sifat kekanakannya. Perempuan dengan senyum manis itu selalu saja bisa mengimbanginya yang datar dan kurang peduli dengan sekitar. Dia suka Aira. Iya, dia suka. Entah bagaimana ceritanya. Yang jelas, dekat dengan Aira sejak kecil membuatnya tak sadar kapan dan bagaimana rasa itu bisa tumbuh. Saat ini sih baru suka, tapi dia percaya rasa suka itu akan berubah jadi cinta. “Ya ampun bos ... Suka, ya bilang! Jangan diam-diam mulu. Di Pepet orang baru tahu rasa deh.” Senyum tipis di bibir Zidan seketika hilang mendengar ucapan itu. Sudah berkali-kali dia tertangkap basah oleh karyawannya yang merupakan seorang mahasiswa. Dia lebih tua, namun tak bersikap senioritas terhadapnya yang masih duduk di bangku SMA. Mungkin karena posisi Zidan yang merupakan seorang bos disini. “Apaan sih Lo, bang! Siapa juga yang suka.” elak Zidan, dia berusaha mengalihkan atensinya. Kevin, seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri yang kebetulan terletak tak jauh dari cafe milik Zidan ini. Jadi, pas sekali. Cafe Zidan memang menargetkan para mahasiswa untuk jadi sasarannya. Tempatnya yang cozy, makannya yang enak serta kekinian bisa membuat siapa saja betah di sini. Ngerjain tugas, oke. Pacaran, mantap banget. Pokoknya, cafe Zidan ini pas lah. Oh, iya. Namanya ZaN cafe. “Ya elah, masih aja bohong sama gue.” “Siapa juga yang bohong, bang? Orang benar. Lagipula, Aira itu sahabat gue. Gak mungkin lah lebih.” Kevin tersenyum lebar, dari nada dan gaya bicara nya saja dia sudah bisa menebak. Kalau sebenarnya Zidan itu mengharapkan status lebih dari sekedar sahabat. “Lo pernah dengar gak sih? Kalau sebenarnya hubungan pertemanan antara cewek dan cowok itu, gak akan murni cuma sekedar teman. Pasti ada rasa lain di situ. Entah di Lo atau di si Aira nya. Dan, Lo percaya itu 'kan?” tanya Kevin, dia menaikkan sebelah alisnya tersenyum menggoda pada Zidan yang kini gelagapan. Zidan berdecak, dia beranjak cepat dari duduknya. “Apaan, sih! Lagian itu cuma katanya kan? Jadi, belum tentu benar.” elak Zidan, dia beranjak pergi meninggalkan Kevin yang terkekeh di tepat. “Jutaan orang udah membuktikan!” “Bodo amat.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN