“Lama.”
Aira mengerucutkan bibirnya, menatap sebal Zidan. Ini hari Senin dan dia paling benci hari itu. Entah kenapa, dia memang benci saja dengan hari itu. Hari Senin dan Rabu. Dia benci dengan hari itu. Bukan hanya karena harus upacara di hari Senin, namun karena mata pelajarannya juga. Sejak dia duduk di bangku SMA. Pelajaran di hari Senin dan Rabu tak pernah bisa bersahabat dengannya.
“Buruan ...”
Zidan memijit pelan keningnya, dia terkadang bingung sendiri dengan Aira. Bagaimana mungkin perempuan itu bisa pergi sekolah dengan rol rambut yang masih melekat di rambutnya.
“Itu maksudnya apa sih, Ra? Rambut Lo mau diapain?”
Aira menyentuh roll rambutnya, tersenyum kemudian menjawab. “Gue mau coba di roll, supaya ikal gitu rambut gue. Kan bagus.”
“Kata siapa?”
“Orang-orang.”
Huh. Zidan menghela napas kasar. Dia beranjak dari motornya kemudian menghampiri perempuan itu. Tangannya terulur melepas rol rambut tersebut satu persatu. Aira diam sejenak, memperhatikan apa yang dilakukan Zidan padanya.
“Ih .. jangan!”
“Jadi, Lo mau kelihatan jelek?”
Aira diam, dia diam-diam tersenyum. “Berarti kalau gak di roll, cantik?” tanya Aira mencoba memancing Zidan mengatakan kalau dirinya cantik.
Namun, Zidan tetap Zidan. Dia masih saja diam. Dia masih berusaha melepaskan roll rambut tersebut satu persatu dalam diam.
“Mending gini.” ucap Zidan, dia menarik tangan Aira kemudian meletakkan roll rambut tersebut di tangan perempuan itu.
“Cantik begini jadinya?”
Lagi, Zidan hanya diam, menatap lekat Aira yang masih menunggu jawabannya. Tak penting sebenarnya pertanyaan itu. Karena semua orang sudah mengakui kecantikan seorang Aira. Namun, Aira butuh pengakuan itu dari Zidan. Karena hanya lelaki itu lah yang enggan memberikan pernyataan itu.
“Zidan, Aira. Kok belum berangkat sih? Ini udah siang sayang ...”
Mereka menoleh, mendapati bunda Zidan yang berdiri diambang pintu hendak menghampiri mereka.
“Eh, iya Bun. Ini berangkat kok.”
“Kita berangkat, ya Ibun ...”
“Hati-hati ...”
***
“Gara-gara Lo nih!”
“Kok gue sih? Ya, Lo lah! Kalau aja Lo gak mempermasalahkan rambut gue, kita gak akan telat.”
Zidan hanya diam, berdebat dengan Aira memang tak akan pernah membuatnya menang, semakin diladeni semakin menjadi-jadi. Jadi, lebih baik diam.
“Zi ... Gue takut di hukum.” ucap Aira pelan, dia mengendap-endap bersama Zidan menyusuri koridor sekolah. Suara kepala sekolah yang tengah berpidato terdengar jelas di telinga mereka. Itu artinya upacara sudah di mulai sejak tadi.
Zidan menghentikan langkahnya, dia menoleh pada Aira yang menatapnya bingung. “Masukin tas Lo ke tas gue.”
“Hah?”
Zidan tak menjawab, dia langsung saja memasukkan tas Aira ke dalam tasnya. Satu hal yang justru membuat Aira bingung sekaligus tertawa pelan.
“Zi, Lo niat sekolah gak sih. Tas kok kosong banget, cuma satu buku lagi.” Ucap Aira, dia menahan tawanya.
“Gue udah pinter.”
“Sombong ...”
“Ini tas Lo isinya apa sih? Berat banget.” keluh Zidan, dia susah payah memasukkan tas Aira kedalam tasnya yang pada akhirnya masuk juga.
“Buku-buku lah, sama roll rambut tadi, sama sisir, alat makeup gue. Terus—”
“Niat sekolah atau buka salon?”
Aira mengerucutkan bibirnya, dia menatap sebal Zidan dengan tawanya. “Sekolah, tapi buka salon juga. Lumayan, nambah uang jajan.”
Zidan berdecak, menggeleng tak percaya.
”Udah, ah. Jadi, ini gimana?” tanya Aira, dia tak mau kalah harus di hukum, meskipun dia memang salah.
“Lo ke ruang kesehatan aja. Bilang sakit. Nanti, gue alaihi Pak Su'i supaya gak merhatiin lo.”
Aira terdiam, dia nampak berpikir. “Nanti, Lo dong yang dihukum?” tukas Aira, dia menatap tak suka Zidan.
“Gakpapa,”
“Tapi ...”
“Lo mau di hukum juga?”
“Gak mau!”
“Ya udah.”
Aira mengangguk, dia segera membalikkan tubuhnya berniat pergi ke lorong menuju ruang kesehatan. Sesekali dia melirik pada Zidan yang ternyata masih memperhatikannya. Ucapan terimakasih terlontar dari mulutnya, bukan suara hanya gerakan mulut yang langsung dipahami Zidan. Dan, Zidan hanya mengangguk dengan senyum tipisnya.
“Zidan! Kamu terlambat lagi!”
Dan, setelahnya Aira bergegas pergi menuku ruang kesehatan.
***
“Ai, Lo mau kemana?” tanya Jihan, teman satu kelasnya yang kebetulan juga dekat dengannya. Tapi, tidak dengan Zidan.
Dia segera membereskan buku asal, mengejar Aira yang sudah pergi begitu saja saat guru mata pelajaran mengakhiri jam belajar bersamaan dengan bel istirahat yang berbunyi.
“Lo buru-buru banget sih! Orang istirahat baru juga!” tukas Jihan, dia sudah berdiri di samping Aira yang tengah mengantri minuman.
“Iya, sorry. Soalnya gue harus beli minuman, urgent banget!”
“Lo haus banget gitu?”
“Bukan gue, tapi, dia.”
Jihan menatap arah pandangan Aira. Aira menatap Zidan yang masih berdiri di lapangan tengah melakukan hukuman karena keterlambatannya, keterlambatan mereka seharusnya.
“Ya ampun ... Lo perhatian banget sih sama Zidan. Udah kayak pacar aja.”
Aira terdiam, tak menanggapinya bagaimana. Itu sudah biasa. Orang-orang menganggap mereka sepasang kekasih, berpacaran. Padahal, mereka hanya teman. Tak lebih. Mungkin.
“Dia begitu karena gue. Seharusnya kita berdua yang dihukum, tapi justru dia bantu gue supaya gak kena hukuman.”
“Sweet banget sih persahabatan kalian.”
Aira bergidik geli mendengar dan melihat ekspresi Jihan saat berucap demikian.
“Neng, ini minumannya.”
Aira menoleh, segera menerima minuman jus segar pesanannya untuk diberikan pada Zidan. Setelah membayar dan mengucap terimakasih, dia bergegas menghampiri Zidan. Meninggalkan Jihan yang hanya bisa tersenyum sambil menggeleng tak percaya.
“Udah kayak pacar aja perhatiannya.”
***
“Zi!”
Zidan melirik sekilas Aira yang tengah berjalan menghampirinya, dia tak terlalu bagaimana menanggapinya.
“Nih, di minum dulu. Pasti haus ya.” ucap Aira, dia menyodorkan sedotan yang sudah terhubung dengan minuman tersebut. Dia menyuapinya.
Dan, tentu saja. Pemandangan ini menjadi pemandangan utama yang dilihat para siswa siswi sekolah mereka. Ditambah, ini jam istirahat.
“Thanks.” ucap Zidan, tenggorokannya sudah segar sekarang. “Udah, sana!” usir Zidan.
“Lo mau dibawa in makanan gak?”
“Gak.”
“Cemilan?”
“Gak.”
“Terus, mau apa dong?”
“Lo pergi, makan. Asam lambung Lo bisa naik kalau telat makan, bisa ribet nantinya. Dan, gue gak mau itu terjadi.” ucap Zidan datar yang justru membentuk senyuman dibibir Aira.
“Zi, makasih ya.”
“Hm.”
Aira pergi meninggalkan Zidan yang kini kembali fokus pada bendera yang dikibarkan di tiang bendera. Tadi fokusnya terbagi pada Aira karena kedatangan perempuan itu, namun kini tidak. Bahkan, dia tak lagi memperdulikan sekitar, tak sedikitpun peduli dengan perempuan yang terang-terangan memperhatikannya.
***
“Ya ampun ... Udah kayak pacaran aja.”
Aira mencebik, dia duduk di hadapan Jihan yang sering menggodanya. “Apaan sih, Han! Orang gue sama Zidan tuh sahabatan.” elak Aira, dia tersenyum menatap makanan yang sudah tersaji dihadapannya. “Thank you ya, Han.” lanjut Aira, menunjuk siomay yang dipesankan Jihan untuknya.
“Sahabat apa sahabat ...”
”Mulai deh ...”
Jihan terkekeh, dia menikmati siomaynya. Dia juga memesankan Aira siomay pula beserta dua jus jeruk untuk mereka. Melihat Aira dan Zidan menurutnya tak seperti seorang sahabat, namun seperti sepasang kekasih saja.
“Ai, Lo pernah gak sih mikir kalau Lo jadian sama Zidan?”
Aira menghentikan suapannya, dia terdiam sejenak kemudian terkekeh pelan. “Enggak lah. Lagian, Zidan mana suka sama gue.”
“Emang Lo tahu, kalau Zidan itu suka atau enggak sama Lo?”
Aira mengangguk, dia menyeruput jus jeruknya. “Tipe Zidan tuh, cewek nya kalem dan nurut.” Ucap Aira, dia ingat betul ucapan Zidan waktu itu. “Sama cantik deh!” lanjut Aira cepat.
“Oh ya?”
“Iya, serius. Dia sendiri yang bilang sama gue. Dan, Lo pikir cewek ribet, jelek, dan selalu menentang dia kayak gue bisa buat dia suka? Ya, enggaklah!” tukas Aira, dia tersenyum kembali.
Jihan mengerutkan keningnya, dia tak percaya begitu saja apa yang diucapkan Aira. “Tapi, kok gue gak percaya ya?”
“Dih, dibilangin juga!”
“Terus, tipe dia siapa contohnya? Emang ada cewek yang di deketin Zidan selain Lo selama ini? Gak ada woy ...”
Aira terdiam seketika, benar juga. Zidan memberitahu nya semua tipe perempuan lelaki itu, tapi tak pernah sekalipun memberitahunya siapa perempuan itu. Dan, ucapan Jihan benar. Selama ini dia tak pernah melihat Zidan dekat dengan perempuan manapun. Ada sih, dia. Dan, mungkin Jihan. Itupun karena mereka satu kelas dan sering terlibat dalam kegiatan bersama.
Jihan tersenyum lebar, dia rasa Aira sudah terhasut ucapannya.
“Bener kan?”
Aira tersadar, dia menggeleng keras. “Enggak, ah! Zidan sama gue cuma sahabatan. Udah, titik!”
Huh!
****