Karena saya rasa masih kurang keuangan saya, maka saya mendaftar menjadi guru sekolah Minggu, tidak tanggung -tanggung, saya langsung mendaftar di dua gereja sekaligus dan semuanya menerima saya dengan senang hati. Satu di gereja Injili dan yang ke dua di gereja kharismatic, sangat kecil juga uang transpor yang di berikan kepada kami tapi itupun sudah sangat membantu keuangan saya. Di gereja Injili saya ketemu dengan sponsor yang berhati malaikat namanya opa Anton Ludong, beliau sudah sangat tua,tapi semangat hidupnya luar biasa dan sangat membuat saya terkagum -kagum. beliau berkomitmen dengan setia mengantarkan kami ke tempat pelayanan yang terpencil demi menjangkau anak- anak di pinggiran kota, setiap Minggu sore. Beliau juga memberi kami uang jajan sehabis pelayanan dan menraktir kami denfan makanan enak di restauran. Itu tidak kepada kami saja, beliau sering melakukan itu kepada seluruh jemaat sehabis ibadah. Bagi kami yang hendak pulang liburan tapi tidak punya ongkos, beliaulah yang selalu membantu kami dalam hal tersebut. Pokoknya bagi kami beliau adalah dewa penolong dalam setiap kesesakan. Pernah suatu kali handpone saya rusak dan tidak bisa di hubungi, beliaulah yang memberi saya uang untuk servis saya punya handpone. Dari beliau saya melihat manusia berhati malaikat, karunia memberi itu lekat pada beliau. Banyak orang yang lebih pandai intelektualnya, banyak juga yang lebih kaya dari opa Anton Ludong, tapi tidak bisa mengalahkan kemurahan hati beliau. Sungguh opa Anton adalah orang baik,jujur dan rendah hati, bagiku beliau adalah profesor keteladanan. Tidak sekalipun saya dengar beliau mempermalukan ataupun mengungkit jasa- jasa yang pernah beliau kasih ke orang - orang yang pernah di bantunya, betul - betul beliau adalah pelaku firman Tuhan,beliau adalah surat Kristus yang terbuka itu, saya sungguh terinspirasi dengan beliau. Namanya akan selalu harum, namanya akan selalu di kenang. Beliau memberi kami makan saat kami kelaparan,memberi kami minum saat kami kehausan, memberi semangat di tengah - tengah kerasnya kehidupan. Sekarang beliau sudah tidak ada,beliau sudah di panggil Tuhan, tapi namanya tidak akan pernah mati, akan selalu hidup di hati kami, kiranya kita di pertemukan di Yerusalem Baru opa Anton Ludong